SELAMAT MEMBACA
***
Rumana yang sedang asik menikmati acara televisi sore itu tiba-tiba di panggil oleh Rinjani yang sedang berada di dapur. Mau tidak mau, Rumana harus meninggalkan acara televisinya dan datang kedapur.
“Kenapa Bun?” tanya Rumana saat melihat bundanya tengah membuat minum yang entah untuk siapa.
“Ruma sibuk tidak, Bunda mau minta tolong.” Ucap Rinjani masih dengan kegiatannya mengaduk minuman yang dia buat didalam gelas.
“Tidak. Minta tolong apa Bun?” Rumana menggeleng mengatakan bahwa dirinya tidak sibuk sama sekali. Sejak kapan pengangguran itu sibuk.
“Ini tolong antarkan minuman kedepan. Bunda sedang masak ini,” Rinjani memberikan nampan berisi lima gelas teh itu pada Rumana. Rumana pun menerimanya.
“Bude kemana Bun?” tanya Rumana ketika hanya melihat bundanya sendirian di dapur. Padahal biasanya ada nenek dan bude rewang yang membantu.
“Bude pergi tadi sama Nenek. Sudah antarkan dulu ini, ada Mas Rhandra di luar.”
Rumana hanya mengangguk, lalu keluar membawa minuman di tangannya. Sebenarnya siapa tamunya sore-sore begini. Spesial sekali, harus bundanya sendiri yang membuatkan minum.
Baru kakinya sampai di ruang tamu, Ruma bisa mendengar obrolan kakaknya dengan beberapa orang di teras samping.
Rumana langsung menuju teras samping, untuk mengantarkan minuman.
“Minumnya Mas?” ucap Rumana saat meletakkan minuman yang dia bawa keatas meja.
Ternyata ada lima orang orang yang sedang duduk di teras samping rumahnya. Pantas saja suara mereka terdengar ramai sekali tadi. Ada mas nya, ada pak lurah, ada tetangganya dan dua pemuda yang terlihat lebih muda yang Rumana tidak mengenalnya dan tidak pernah melihatnya.
“Terimakasih Mbak,” ucap salah satu dari dua pemuda yang Rumana tidak kenal itu. Rumana hanya mengangguk sambil tersenyum sopan.
“Aduh, kok repot-repot sih Dek. Dek Ruma sehat?” Laki-laki yang duduk di sebelah kakakya itu bertanya pada Ruma. Ruma ingat itu adalah tetangganya, yang kalau tidak salah namanya Benu. Rumahnya agak jauh dan mereka jarang bertemu. Dulu hanya bertemu jika ada acara karang taruna desa.
“Tidak repot Mas. Alhamdulillah sehat,” jawab Rumana dengan sopan.
“Alhamdulillah jika memang sehat. Nanti kalau merasa tidak sehat, langsung hubungi Mas Benu ya.” Ucap laki-laki itu dengan cengiran konyolnya.
Rhandra langsung memukul pelan kepala temannya itu dengan kesal. Untuk apa juga adiknya harus menghubungi dia jika tidak sehat sedangkan di rumahnya saja ada tiga dokter.
Rumana tidak menjawab, dia hanya tersenyum. Tau jika ucapan laki-laki itu hanya candaan biasa.
“Sudah Ruma masuk sana, jangan disini lama-lama. Tidak aman untuk kamu,” ucap Rhandra pada Rumana.
Rumana langsung bergegas pergi, tidak ada juga rencana untuk berlama-lama disana.
Siapa juga yang mau berlama-lama, guman Rumana didalam hati.
Rumana kembali kedapur untuk mengantar kan nampan.
“Itu siapa tamunya Mas Rhandra Bun, Ruma tidak pernah lihat.” Ucap Rumana, bertanya pada bundanya. Yang dia maksud tentu saja dua orang pemuda asing tadi.
“Mahasiswa KKN yang akan datang minggu depan.” Jawab Rinjani.
“Mau ada yang KKN memangnya?”
“Iya. Setiap tahun kan memang ada.”
“Terus ngapain datangnya kesini, tidak kerumah Pak RT atau Pak Lurah saja?”
“Sudah itu. Kan tadi di luar Ruma lihat ada Pak Lurah.”
“Maksud Ruma itu, kenapa kesini? Memang ada urusannya sama kita?”
“Tidak ada. Kata Mas Rhandra itu mereka habis meninjau rumah yang akan di gunakan menginap. Rumah kita yang biasanya itu. Kebetulan atapnya sedang di perbaiki, jadi sama Ayah suruh kesini dulu ngobrol santai sekalian istirahat. Pokoknya begitu, sudah kenapa Ruma tanya-tanya?” Rinjani yang sedang memasak merasa terganggu dengan pertanyaan putrinya yang tidak habis-habis.
"Lalu sekarang Ayah dimana Bun?" Rumana merasa sejak tadi siang tidak melihat ayahnya.
"Di rumah sana. Kan ngawasin orang perbaiki atap rumah."
"Ruma mau ke Ayah ya Bun."
"Ayah sibuk jangan kesana. Kamu nanti cuma gangguin."
"Tidak, Ruma cuma lihat dari jauh."
"Yasudah terserah. Itu camilan, tolong bawa sekalian keluar." Rinjani menunjuk beberapa toples camilan yang sudah dia siapkan di atas meja untuk suguhan tamu-tamu di luar. Rumana langsung mengambilnya, setelah itu dia keluar dari dapur. Dia ingin pergi menyusul ayahnya.
“Camilannya Mas,” ucap Rumana sambil meletakkan camilan yang dia bawa keatas meja. Setelahnya dia pergi begitu saja dari sana.
"Mau kemana Ruma?" Tanya Rhandra saat melihat adiknya ingin keluar.
"Cari ayah." Jawab Rumana. Bahkan dia tidak menoleh saat menjawab pertanyaan Rhandra.
Rumana langsung bergegas pergi kerumah keluarganya yang katanya sedang di perbaiki itu. Tidak jauh dari rumahnya, sehingga dia memutuskan untuk jalan kaki saja. Sekalian jalan-jalan sore.
Sampai di sana, Rumana melihat ayahnya di depan rumah sambil mengamati para perkerja. Entah apa yang ayahmya lakukan, dia seperti tidak melakukan apapun. Bukankah lebih baik pulang jika seperti itu.
"Ayah," panggil Rumana.
Rama langsung menoleh, dia melihat putrinya datang. Pertanyaannya, mau apa putrinya datang kesana.
"Mau apa kesini?" Tanya Rama.
"Tidak mau apa-apa. Cuma mau lihat saja." Jawab Rumana. Dirinya ikut memperhatikan para pekerja yang tengah ada di atap.
"Sana pulang jangan disini. Bahaya," ucap Rama lagi.
Banyak paku dan pecahan genting disana. Takut, jika sampai melukai putrinya.
"Ruma tidak kesana-sana kok, cuma disini saja." Jawab Rumana lagi.
"Yasudah, tetap disini saja. Jangan kesana-sana. Bahaya, Ayah mau kedalam dulu. Mau lihat pekerjaan di dalam, sudah sore ini."
"Iya."
"Kalau sudah puas lihat-lihatnya. Langsung pulang."
"Iya."
Akhirnya Rama meninggalkan putrinya sendirian di sana. Rumana pun hanya berdiri di depan rumah tanpa mendekat lagi. Mengingat pesan ayahnya.
“Ngapunten, amit nggih Mbak.” (Maaf, permisi ya Mbak) Rumana refleks menggeser badannya karena ada pekerja yang sedang mendorong gerobah berisi genting yang terlihat sangat berat.
“Nggih Pak,” ucap Rumana lagi.
Dia memberikan jalan pada pekerja itu. Rumana berjalan ketempat yang sekiranya tidak mengganggu jalan. Namun karena tidak memperhatikan jalan, dia tidak melihat jika ternyata kakinya menginjak sebuah paku.
Rumana meringis merasakan sakit di kakinya. Bahkan paku yang tertancap di kayu panjang itu terlihat menembus sendalnya. Dengan perlahan dia menarik kakinya sambil terus menahan sakit. Tidak mencari ayahnya, dia langsung pulang begitu saja. Karena jelas saja kalau sampai ayahnya tau, sudah pasti dia akan dapat omelan karena sudah di pesan hati-hati disana.
***
Rumana pulang dengan sedikit pincang, tadi belum sakit. Kenapa sekarang mulai terasa sakit. Kakinya yang tadi menginjak paku, mulai terasa cenut-cenut.
Rhandra yang melihat adiknya pulang dengan setengah pincang langsung berlari menghampirinya.
"Ruma kenapa?" Tanya Rhandra langsung. Dia menuntun dan membantu adiknya untuk duduk di teras.
"Kenapa kakinya?" Tanya Rhandra lalu dia menaikkan satu kaki Rumana ke atas lututnya dan memeriksanya.
“Nginjak paku," jawab Rumana pelan.
"Paku dimana? Memangnya kamu ngapain di sana tadi? Tidak pakai sandal?" Tanya Rhandra beruntun.
Dia melihat bekas tusukan paku di telapak kaki adiknya dan meninggalkan bekas karat di sana.
"Ya pakai, tapi tembus." Rumana memperlihatkan bekas paku yang menembus sandalnya.
"Ayo bangun dulu, di cuci kakinya di kran." Rhandra ingin membantu Rumana untuk berdiri dan mencuci kakinya. Tapi tangannya langsung di tampik oleh Rumana.
"Tidak mau Mas," Rumana menggeleng. Senut-senut di kakinya semakin terasa dan dia tidak mau berjalan. Takut jika akan semakin sakit.
"Ayo cuci dulu. Nanti infeksi, ini ada bekas karatnya."
Rhandra tetap memaksa adiknya untuk mencuci kaki di kran air.
"Pegang selangnya begini, Mas ambil obat didalam." Rhandra menyerahkan selang air ke tangan Rumana. Sedangkan dia sendiri langsung masuk kedalam rumah untuk mencari obat.
Benu, Rudi dan dua orang lainnya hanya melihat hal tersebut tanpa mengatakan apapun. Tidak ada yang bisa mereka lakukan.
Namun, Rudi beriniatif memegang selang air untuk mencuci kaki Rumana ketika gadis itu tidak mau memegangnya. Terlihat sekali, jika gadis itu menangis. Mungkin merasakan sakit di kakinya.
“Memangnya Dek Ruma tidak lihat ada paku, sampai bisa di injak.” Guman Rudi pelan. Tidak berniat bertanya, dia hanya menyuarakan isi fikirannya.
“Kalau lihat mana mungkin di injak. Memangnya bodoh, tidak tau kalau menginjak paku itu sakit.” Jawab Rumana dengan pelan namun ketus.
Entah ucapannya di dengar oleh tiga orang di belakang mereka atau tidak. Tapi yang jelas, Rudi mendengarnya. Dia hanya diam, tidak lagi bertanya. Karena tidak mau menambah sakit di kaki gadis itu.
“Kenapa bisa nginjak paku Ruma?” Tanya Rinjani dengan paniknya. Dia datang bersama Rhandra dan kotak P3K di tangannya.
“Tidak tau Bun.” Ucap Rumana dengan pelan.
“Besar pasti ini tadi pakunya. Terus berkarat, ini kalau tidak segera di obati bisa tetanus.” Ucap Rinjani. Saat memeriksa kaki Rumana.
“Ayo masuk, Bunda obatin terus minum obat biar tidak infeksi.” Rinjani ingin membantu putrinya untuk berdiri. Namun Rumana menggeleng.
“Sakit Bunda. Cenut-cenut.” Rengek Rumana dengan mata berkaca-kaca. Anggap dirinya berlebihan karena hanya tertusuk paku sampai seperti itu. Tapi jujur ini rasanya benar-benar sakit.
“Angkat adiknya bawa kedalam Mas,” Rinjani memerintahkan Rhandra untuk mengangkat Rumana.
Rhandra pun dengan sigap mengangkat tubuh adiknya masuk kedalam rumah. Jika tidak begitu yang ada kakinya akan semakin bengkak dan lukanya akan menjadi serius. Mungkin bagi sebagian orang tentancap paku itu bukan luka serius, padahal semua luka yang di akibatkan oleh benda tajam apalagi yang kotor itu tidak bisa di sepelekan. Harus di tangani dengan sigap dan tepat untuk meminimalisir resiko setelahnya.
* * *