SELAMAT MEMBACA
***
Sesampainya di rumah, Rudi langsung menyimpan motornya di garasi dan mengunci pintu. Dia menyalakkan lampu, sehingga rumahnya yang awalnya remang-remang itu langsung berubah terang benderang. Suasana sunyi menyambut kedatangannya.
Bagaimana tidak sunyi, di rumah besar peninggalan orang tuanya itu Rudi hanya tinggal seorang diri. Tidak ada yang menemani. Dulu dia tinggal bersama istri dan ibunya di rumah itu. Namun sejak ibunya meninggal dan dia bercerai dengan istrinya jadilah dia tinggal sendiri hingga sekarang. Rewang yang dia pekerjakan juga hanya datang di pagi hari dan akan pulang ketika sore.
Kring ... Kring ...
Tiba-tiba ponselnya berbunyi. Ada beberapa pesan yang masuk ke dalam grub pemuda olahraga yang isi anggotanya adalah 8 orang pemuda yang sering berolahraga bersama di balai desa. Bahkan 4R bersaudara juga termasuk anggota di dalamnya.
Saat di buka, Benu salah satu rekannya bermain badminton tadi yang mengirimkan gambar.
Dan saat di buka ternyata gambar Rumana yang tengah duduk bersama kedua kakaknya di pinggir lapangan tadi.
Benu: Anak gadis siapa ini, cantik sekali
Radin: Anaknya Ayah Rama dan Bunda Jani
Heru: Rumana??
Benu: Serius Rumana???
Benu: Kok makin cantik
Benu: Abang @Rhandra mau dong aku jadi adik iparmu
Rhandra: TIDAK ADA LOWONGAN ...
Pras: Mas Rhandra kapan ayah dan bunda ada di rumah. Ananda ingin datang sowan?
Raditya: Hoekkk
Radhika: Hoekkkkkkkkkkkkk
Rhandra: TIDAK MAU PUNYA IPAR ORANG SINI, MAHARNYA KECIL-KECIL
Heru: HAHAHAHA
Pras : WKWKWk :p
Rudi hanya tersenyum melihat obrolan absurd di dalam grubnya itu. Dia lalu menutup grubnya, tanpa ikut mambalasnya. Biar kan saja mereka ribut, dia yakin besok pagi ratusan pesan akan muncul di sana.
Namun, kembali Rudi membuka grubnya. Dia kembali pada bagian foto yang di unggah oleh Benu tadi. Rudi tersenyum getir mengamati gambar Rumana di sana.
Ingatannya kembali pada kejadian tujuh tahun yang lalu. Kejadian yang mungkin jika tidak terjadi, hubungan mereka akan lain cerita hari ini.
Flashback
7 tahun yang lalu ...
Rumana yang baru pulang dari acara perkumpulan karang taruna malam itu jalan dengan santainya seorang diri.
Ke empat kakaknya tidak ikut kumpulan malam itu. Rhandra dan Radhika sibuk dengan koas mereka. Dan kebetulan malam itu mereka sama-sama mendapatkan jadwal jaga malam. Sedangkan Radin dan Raditya tengah mengikuti acara Mapala di kampus. Katanya ada acara camping di Gunung Lawu. Jadi hanya Rumana sendiri lah yang pergi kumpulan malam itu.
Kebetulan kumpulan di laksanakan di rumah ketua karang taruna yang tak lain adalah Rudi.
"Dek Ruma..." panggil Rudi.
Rudi terlihat mengejar Rumana dari belakang.
"Kenapa Mas?" Tanya Rumana saat melihat Rudi mengejarnya.
"Kenapa pulang sendiri? Jalan kaki?"
"Iya. Tadi berangkatnya sama Nur. Tapi katanya dia mau ke alun-alun sama yang lainnya." Jawab Rumana.
"Kenapa tidak ikut?" Tanya Rudi.
"Mas-mas tidak ada. Bunda juga pasti tidak akan kasih izin." Jawab Rumana lagi dengan lesunya.
"Yasudah kalau begitu. Memang sudah malam ini, lebih baik langsung pulang. Ke alun-alun juga cari apa."
"Mas Rudi sendiri, kenapa ngikutin Ruma. Mau kemana?" Tanya Ruma ketika menyadari jika sejak tadi Rudi mengikutinya.
"Saya mau ke rumah Paklik, ada perlu tadi di suruh ibu. Sekalian saya temani Dek Ruma jalan." Jawab Rudi dengan sedikit gugup.
Rumana hanya mengangguk. Bagus juga jika dia ada teman pulang jadi tidak terlalu takut.
"Kenapa senyum-senyum sendiri?" Tanya Rudi saat melihat Rumana yang senyum-senyum sendiri.
"Tidak papa Mas," ucap Rumana dengan malunya.
"Sekolahnya sudah lulus ya, setelah ini mau lanjut dimana?"
"Disini saja Mas yang dekat. Nanti Kuliah baru ke kota."
"Alhamdulillah kalau begitu." Ucap Rudi dengan lega. Membuat Rumana kurang faham maksud syukur dari laki-laki itu.
"Kenapa Alhamdulillah?"
"Ya Alhamdulillah to, jadi Dek Ruma tidak perlu pergi jauh."
"Memang kenapa kalau pergi jauh?"
"Nanti saya rindu." Guman Rudi pelan.
Rumana yang mendengar jawaban tak terduga dari Rudi tanpa sadar menghentikan langkah kakinya.
"Memang kenapa harus rindu Ruma?"
"Tidak papa, tidak usah di bahas lagi."
"Kalau bicara yang jelas dong Mas, jadi laki-laki harus tegas." Ucap Rumana lagi. Dia melihat gelagat tidak biasa dari wajah Rudi.
Rumana kembali berjalan, meninggalkan Rudi yang masih terdiam.
"Dek Ruma..." panggil Rudi lagi. Dia mempercepat langkahnya mengejar Rumana.
"Maaf sebelumnya kalau saya lancang, saya menyukai Dek Ruma." Ucap Rudi langsung.
Rumana langsung menoleh, yang benar saja ucapan laki-laki di hadapannya itu.
"Serius??" Tanya Rumana lagi menyakinkan. Dia tidak peduli jika jawaban Rudi akan tidak seperti harapannya. Dia hanya menuntaskan penasaranya.
"Memangnya selama ini tidak faham? Maaf kalau saya lancang menyukai Dek Ruma. Mungkin saya terlalu tua untuk Dek Ruma, Dek Ruma bisa lupakan kata-kata saya barusan. Anggap saja tidak ..."
"Betulan Mas suka Ruma? Suka sebagai apa? Kalau hanya suka sebagai adik, Ruma tidak perlu. Mas Ruma sudah empat, tidak perlu Mas yang lain." Potong Rumana langsung. Ibaratnya sekarang, sudah basah lebih baik mandi sekalian. Jika jawabannya tidak sesuai harapan, mungkin dia akan malu.
Rudi hanya mengangguk sebagai jawaban. Bodoh sekali, mulutnya kelepasan bicara. Apa tidak bisa dia menunggu beberapa tahun lagi untuk mengatakannya. Setidaknya mungkin beberapa tahun lagi gadis di hadapannya akan faham maksud suka yang dia rasakan. Jika sekarang, bagaimana jika Rumana salah mengartikan rasa sukanya.
"Saya juga tidak butuh adik perempuan. Saya sudah nyaman jadi anak tunggal." Ucap Rudi dengan gugupnya. Bahkan tanpa sadar tangannya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Mas serius suka Ruma? Bukan sebagai adik? Sebagai perempuan?"
"Iya Dek." Jawab Rudi dengan seriusnya.
Rumana yang mendengar jawaban Rudi lalu tersenyum cerah. Dia lalu melanjutkan jalannya.
Rudi yang melihat respon Rumana kemudian bingung. Senyuman yang Rumana berikan, apakah bertanda dia juga menyukainya atau dia menolaknya dengan halus. Harus bagaimana Rudi mengartikannya, tapi dia terlalu malu untuk menanyakan kejelasannya.
Mereka sampai di depan rumah Rumana.
"Bagus lah kalau perasaan Ruma bersambut tidak bertepuk sebelah tangan." Ucap Rumana dengan santainya.
Rudi mengerutkan keningnya dengan bingung. Apa maksud gadis itu.
"Maaf, maksudnya bagaimana Dek?"
"Sekarang Ruma sedang tidak butuh pacar. Tapi nanti butuh suami. Sabar ya Mas, nanti kita menikah kalau Ruma sudah lulus kuliah. Tunggu Ruma tujuh tahun lagi. Sabar kan?" Ucap Rumana dengan tegas dan mantapnya tanpa sedikitpun keraguan terpancar dari wajahnya.
Seperti terhipnotis, Rudi pun mengangguk menjawab ucapan Rumana.
"Berapa tahun pun saya harus menunggu, saya janji akan menunggu Dek Ruma," jawab Rudi dengan tegas. Yang tentu saja jawaban Rudi tersebut membuat wajah Rumana berseri-seri.
"Ruma masuk dulu, terimkasih sudah di antarkan."
Rumana melambaikan tangannya kearah Rudi dengan ceria. Senyum tak lepas sedikitpun dari bibirnya.
Tanpa sadar, Rudi pun membalas lambaian tangan Rumana. Baru dia tersadar, apa yang baru di katakan gadis kecil itu. Apa sebuah janji pernikahan atau hanya sebuah bualan candaan.
Flashback off
Rudi mengingat kejadian di malam itu. Dia yang sudah menyatakan hatinya dan berjanji untuk menunggu gadis itu justru tiba-tiba menyebar undangan pernikahan tanpa penjelasan sedikitpun. Di saat itu, Rudi bahkan merasa tidak memiliki muka lagi di hadapan Rumana. Namun, mau bagaimana lagi dia juga tidak memiliki pilihan lain. Jujur jika mengingat masa-masa itu rasanya sangat berat untuk dia lalui. Namun, sekarang semuanya sudah kembali baik-baik saja. Hanya saja, mungkin perasaan Rumana yang sudah berubah padanya.
***
Rumana yang tidak bisa tidur tiba-tiba masuk kedalam kamar Rhandra. Mengganggu kakak laki-lakinya itu yang sedang membaca buku.
"Tadi katanya ngantuk, sudah pulang bukannya tidur malah kesini mau ngapain?" Tanya Rhandra saat melihat Rumana ada di kamarnya.
"Mau ngobrol sama Mas. Tidak bisa tidur." Ucap Rumana dengan santainya.
"Mas sibuk ini, tidak bisa di ganggu." Ucap Rhandra lagi sambil menunjukkan buku di tangannya. Namun, Rumana hanya diam tidak mengatakan apapun.
"Pak Lurah itu sampai sekarang belum menikah lagi ya Mas?" tanya Rumana tiba-tiba.
"Belum, memangnya kenapa? Tiba-tiba nanyain Mas Rudi." Rhandra yang awalnya fokus membaca buku lalu mengalihkan pandangannya. Dia menutup bukunya dan meletakkannya di atas nakas.
"Tidak papa, cuma penasaran saja. Tadi ketemu di balai desa, jadi tiba-tiba kepikiran."
Rhandra hanya mengangguk. Tidak merasa curiga sama sekali dengan pertanyaan tiba-tiba adiknya.
"Memangnya kenapa dulu cerainya Mas?" tanya Rumana dengan hati-hati. Sebenarnya takut dia bertanya seperti itu tapi rasa penasarannya lebih besar.
Rhandra sedikit berfikir, tapi kemudian membuang nafasnya dengan kasar.
"Tidak tau ya dulu itu kenapa."
"Masa tidak tau kan kalian teman dekat," cibir Rumana tidak percaya dengan kata-kata Rhandra.
"Iya teman tapi kan tidak semua di ceritakan Dek. Orang mereka juga dulu menikah tidak lama. Cuma berapa bulan begitu, tidak sampai setahun sudah pisah."
"Serius pernikahannya cuma sesingkat itu? Istrinya selingkuh? Atau Pak Lurah yang selingkuh?"
Tuk ...
Rhandra langsung menyentil bibir Rumana karena ucapan ngawurnya.
"Jangan sembarangan bicara Ruma, nanti jatuhnya fitnah." Rhandra memperingatkan adiknya itu agar tidak sembarangan bicara.
"Hisss Mas Rhandra, tidak asik di ajak ngobrol." Gerutu Rumana.
"Kamu itu bukan ngajakin ngobrol, tapi ngajakin gibah. Dosa Ruma," ucap Rhandra lagi.
"Yasudah kalau begitu. Ruma mau tidur." Rumana lalu pergi dari kamar Rhandra. Lebih baik pergi ke kamarnya sendiri untuk tidur.
***