BAB 5: BADMINTON DI BALAI DESA

1381 Words
SELAMAT MEMBACA *** Suasana makan malam keluarga Rama ramai seperti biasanya. Meja makan panjang itu penuh dengan anggota keluarga. Ada Lastri juga Rama dan Rinjani dan kelima putra putri mereka. Semuanya berkumpul untuk makan malam bersama. "Mas tadi pulang jam berapa?" tanya Rumana. Entah mas di sana merujuk pada siapa. Karena keempat kakaknya menoleh bersamaan. "Kok diam?" tanya Rumana ketika tidak ada yang menjawab. "Mas siapa yang kamu tanya?" sahut Radin di angguki oleh ketiga saudaranya. "Ya kalian berempat." Jawab Rumana dengan malas. Apa harus seperti itu di tegaskan. Bukankah memang keempat kakaknya tadi tidak ada di rumah sampai sore. Tapi ketika dia pulang dari jalan-jalan mereka sudah ada di rumah. "Tidak tau tadi jam berapa, orang kami pulang tidak lama kamu datang tadi." Kali ini Rhandra yang menjawab. "Kalian pulang sore terus," keluh Rumana. Keempat kakaknya itu benar-benar sibuk. Sampai-sampai mereka hanya punya waktu santai di saat hari libur dan malam hari. "Adiknya Mas yang cantik. Mas kasih tau kami ini kerja, kerjaan kami banyak. Tidak seperti Ruma yang pengangguran." Kali ini gantian Raditya yang menjawab. Jawaban Raditya mengundang gelak tawa para saudaranya yang lain. Namun Rumana yang mendengar ucapan Raditya hanya bisa berdecah kesal. Apa harus bawa-bawa kata pengangguran. "Ruma bukan pengangguran ya," sahut Rumana tidak terima di katakan pengangguran. "Tidak pengangguran itu seperti kami. Pagi pergi kerja, sore pulang, malam istirahat. Setiap bulan terima gaji." Radhika yang sejak tadi diam kali ini ikut menjawab pembelaan adiknya. Ucapan Radhika di sambut tawa oleh semua orang. Hal tersebut membuat Rumana diam tak berkutik. "Ayah, kasih tau mereka kalau Ruma ini bukan pengangguran." Rumana mencari pembelaan. Dia meminta bantuan pada ayahnya. Namun, Rama tidak mengatakan apapun dia hanya terkekeh pelan. "Sudah cepat habiskan makanan kalian, jangan bicara terus." Ucap Rinjani menengahi obrolan anak-anaknya. Merekapun kembali diam dan melanjutkan makan masing-masing. *** Setelah makan malam, Rumana bersama kedua orang tuanya duduk di teras depan mencari udara segar. "Ruma tadi sore ngapain di jembatan sama Mas Rudi?" Tanya Rama membuka obrolannya. Rinjani yang mendengar ucapan suaminya langsung menoleh kearah putrinya. "Ngobrol biasa Yah, kebetulan ketemu disana." Jawab Rumana dengan santainya. Karena memang dia jujur tentang apa yang dia katakan. "Memang Ruma sore tadi kemana saja?" Tanya Rinjani. "Jalan-jalan Bun keliling-keliling. Terus ketemu Pak Lurah di jembatan desa, ngobrol sebentar. Cuma nanyain kabar, terus Ayah datang." Rumana menjelaskan dengan rinci kegiatan jalan-jalan sorenya tadi. Rinjani yang mendengarnya pun mengangguk faham, dia tidak lagi bertanya. Tiba-tiba dari dalam rumah terdengar banyak langkah kaki dan suara orang berbicara. "Kalian mau kemana?" Tanya Rama melihat keempat putranya kompak sudah rapi sepertnya ingin pergi. Rhandra dan Radhika sudah memakai pakaian olahraga tidak lupa raket badminton tersampir di bahu mereka. Tapi Raditya dan Radin hanya mengenakan pakaian santai. "Ada janji mau main badminton di balai desa Yah," jawab Rhandra. "Terus kalian?" Tunjuk Rinjani pada Raditya dan Radin yang mengenakan pakaian santai tidak seperti ingin olahraga. "Kami mau nonton mas-mas main Bun," jawab Raditya. "Ikuttttt," ucap Rumana dengan antusianya. Rhandra, Radhika, Raditya dan Radin saling menoleh namun kemudian mengangguk. Percuma juga di larang, pasti akan merengek. Lebih baik di bawa saja. "Tapi nanti jangan minta pulang ya kalau belum selesai," ucap Radhika memperingatkan. Rumana langsung tersenyum dengan senang. "Iyaaa," jawab Rumana langsung. Akhirnya mereka berlima pergi menggunakan satu mobil. Setelah kepergian anak-anaknya yang tersisa hanya Rama dan Rinjani yang masih duduk santai di teras. "Kira-kira siapa yang akan kita nikahkan duluan ya Mas?" Tanya Rinjani tiba-tiba pada Rama. Rama terkekeh mendengar pertanyaan random istrinya. Tidak ada angin tidak ada hujan kenapa tiba-tiba membahas pernikahan anak-anaknya. "Kenapa Dek Jani tiba-tiba bertanya seperti itu, tumben?" "Penasaran saja, soalnya mereka sudah dewasa semua. Cepat sekali ya besarnya, perasaan baru kemarin Jani marahin karena mancing belut di sawah. Masa sekarang sudah dewasa semua. Pasti tidak lama lagi menikah, Jani penasaran siapa yang duluan." Rinjani terkekeh di akhir kalimatnya. Memang waktu berlalu begitu cepat. Benar-benar tak terasa sama sekali. "Rhandra atau Radhika kalau menurut Mas?" Tanya Rinjani lagi. Rama nampak sedikit berfikir. Namun buru-buru menggelang. "Kenapa hanya mereka berdua pilihannya, yang tiga tidak Dek Jani tanyakan?" "Karena mereka yang paling tua," jawab Rinjani tak yakin. "Tapi kalau firasat Mas sih, Ruma yang duluan." Kekeh Rama. Entah kenapa kalau memikirkan pernikahan, otaknya langsung membayangkan putri bungsunya yang akan duluan naik kepelaminan mendahului keempat kakaknya. Tapi tidak tau juga, dia hanya mengandalkan perasaanya saja. "Jangan dong Mas," ucap Rinjani setengah tidak terima. "Kenapa?" "Ruma masih muda. Baru 22 tahun, Jani saja dulu menikah 26 tahun." Ucap Rinjani. "Ya itukan Jani, ini yang sedang kita bahas Ruma. Beda lah," jawab Rama lagi. "Sudah lah Mas, jangan di bahas dulu. Biarkan saja nanti siapa yang membawa calon duluan dia yang kita nikahkan duluan.” “Ya memang begitu, kan Jani duluan yang membicarakan pernikahan mereka bukan Mas.” “Iya-iyaaa…” jawab Rinjani dengan malasnya. *** Mereka berlima sampai di gedung badminton desa. Rhandra dan Radhika langsung masuk kedalam. Meninggalkan ketiga adik mereka yang masih memilih berdiri di dekat mobil mengamati suasana sekeliling. Bukannya segera masuk, entah apa yang justru ingin mereka lakukan. "Mas beli jajan dulu Yuk." Rumana menunjuk kearah lapangan desa yang tidak jauh dari wilayah balai desa. Lapangan yang ramai penjual seperti biasanya. "Mau beli apa? Kan habis makan," tanya Radin. "Beli es atau camilan apa gitu," jawab Rumana. Akhirnya Raditya dan Radin membawa Rumana untuk membeli jajan seperti keinginannya. Setelah membeli satu gelas es teh dan beberapa bungkus makanan ringan mereka bertiga kembali masuk dalam gedung badminton. Mereka memilih duduk di samping lapangan memperhatikan kedua kakaknya yang kebetulan sedang bermain. "Mas kenapa tidak ikut main?" Bisik Rumana pada Radin yang tengah duduk di sebelahnya. "Malas, capek." Jawab Radin singkat. Rumana tidak lagi bicara. Dia terus mempehatikan Rhandra dan Radhika yang bermain. Rhandra melambaikan tangannya pada Rumana. Rumana pun membalas lambaian tangan kakaknya itu. "Kalian datang juga?" Raditya, Radin dan Rumana langsung menoleh saat mendengar suara orang bertanya. Ketika di toleh ternyata kepala desanya yang bertanya. Laki-laki itu berdiri dengan memegang botol minumnya. Sepertinya habis main atau mungkin menunggu giliran untuk main. Karena jika di lihat penampilannya malam ini jelas terlihat seperti orang yang akan berolahraga tidak seperti Ruma dan kedua kakaknya. “Mas Rudi, mau main badminton juga?” tanya Radin dengan ramahnya. “Sudah main tadi, sekarang sedang istirahat. Kalian bertiga ngapain disini?” Rudi mengambil kursi di sebelah Rumana. Karena kursi itu yang paling dekat dengan posisi berdirinya. “Kami cuma datang untuk menonton Mas,” Balas Raditya yang duduk di sebelah Radin. “Dek Ruma tidak mau main?” kali ini Rudi bertanya pada Rumana. Karena Rudi merasa gadis itu sejak tadi hanya diam. “Tidak Pak, cuma nonton.” Jawab Rumana dengan sopan. Rudi tidak lagi bertanya, dia hanya diam sambil menyaksikan rekan-rekannya yang tengah main. Dari tempatnya duduk, sesekali Rudi melirik kesebelahnya. Gadis itu duduk dengan tidak nyaman. Terlihat dari gerak geriknya, bahkan tangannya meremas gelas yang dia pegang. Rhandra dan Radhika yang baru selesai main, lalu mendatangi adik-adiknya di pinggir lapangan. “Sudah dapat jajan ya Ruma,” ucap Rhandra menggoda Rumana. Baru datang tapi dia sudah melihat beberapa bungkus jajanan dan minuman di dekat tempat duduk adik-adiknya. “Sudah selesai Mas?” tanya Radin pada kedua kakaknya itu. “Sudah, istirahat dulu gantian sama yang lain.” Radhika duduk selonjoran di bawah kaki Rumana. Rumana pun yang melihat hal tersebut membantu kakaknya untuk mengipasi wajahnya yang bercucuran keringat itu. “Pulang Yuk,” bisik Rumana lirih. “Tadi janjinya apa?” jawab Radhika pada Rumana. “Tapi ngantuk Mas,” rengek Rumana lagi. Sebenarnya tidak benar-benar ngantuk. Dia hanya merasa tidak nyaman disana. Sudah dia usahakan untuk santai tapi tetap saja dia merasa gugup dan tidak tenang. “Mas ayo pulang,” kali ini Rumana merengek pada Rhandra. Rhandra pun hanya bisa membuang nafasnya dengan pelan. Belum hilang lelahnya, adiknya sudah minta pulang. “Sebentar ya, biar hilang dulu keringatnya.” Jawab Rhandra. “Ngantuk, ayo pulang yokkk.” Rumana kembali merengek. Akhirnya tidak ada pilihan lain, Rhandra dan Radhika pun bangun dari duduknya. Dan mengajak adik-adiknya pulang. “Mas Rudi kami duluan ya, ada bocah yang sudah ngantuk.” Pamit Rhandra pada Rudi. “Iya, silahkan. Hati-hati di jalan.” Jawab Rudi. Rudi hanya melihat kepergian 5R bersaudara itu dalam diam. Entah kenapa dia merasa Rumana menghindarinya. Entah memang benar atau hanya perasaanya saja. Entahlah … ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD