Sebelas tahun kemudian.
Setiap senja datang, Stella akan selalu duduk di teras. Menikmati senja yang indah namun menyakitkan. Ia benci senja, namun tetap saja ia menikmati keindahannya
Stella memejamkan matanya merasakan semilir angin yang menerpa ke wajahnya.
"...sampai matahari terbenam, papa akan datang lagi ke sini dan menjemput kamu."
Deg!
Mata Stella seketika terbuka kala ucapan papanya seperti kembali terdengar di telinganya.
Papanya berjanji untuk menjemputnya kala itu, namun itu hanyalah kebohongan belaka. Kalimat yang digunakan untuk mengelabui anak berusia empat tahun. Nyatanya, hari itu hingga kini papanya tak pernah datang. Sebelas tahun berlalu dan tidak pernah ada orang yang datang menjemputnya di tempat ini.
"Udah bahagia, Ma? Udah bahagia, Pa? Sekarang kalian gak perlu ribut lagi, Calya udah gak nyusahin kalian," gumam Stella dalam hatinya sambil menatap matahari terbenam di depannya.
Sejak hari di mana ayah Stella meninggalkan gadis itu di panti asuhan, sejak saat itu juga Stella selalu duduk di teras saat matahari terbenam. Saat belum mengerti, gadis kecil itu duduk di teras ketika senja datang bertujuan untuk menunggu ayahnya yang menjemputnya. Dulu ia berpikir ayahnya malu jika harus menjemputnya masuk ke dalam panti, jadi ia akan menunggu di luar. Namun, lama-lama dia mengerti. Ayahnya takkan pernah datang menjemputnya dengan kata lain dirinya 'dibuang'.
Saat mulai memasuki sekolah dasar, Riva mengganti nama Elvaretta Calya menjadi Stella Alsava. Tadinya ia tidak akan menggantinya, namun Riva begitu kesal dengan perbuatan ayah dari Stella yang membuang anak yang belum mengerti apa-apa itu di depan panti asuhannya tanpa sepatah katapun. Ia menyimpulkan jika orang tua Stella bukanlah orang tua yang baik dan dia tidak ingin Stella kembali meski itu orang tua kandungnya. Orang tuanya sangat tidak pantas memiliki anak sebaik dan secantik Stella.
"Lala, masuk yuk sayang. Udah mau malem, gak baik buat kesehatan apalagi kamu besok mulai masuk sekolah," ujar Riva dengan lembut.
Stella menoleh dan tersenyum. "Ayo bu, maaf ya Stella kalau udah duduk di sini sambil lihat matahari terbenam suka lupa waktu."
Riva hanya mengangguk dan tersenyum tipis. Ia tahu apa yang ada di isi hati Stella. Riva tidak bisa melarangnya, mau bagaimana pun luka di hati Stella akan sulit sembuh. Mungkin akan sembuh ketika ayahnya kembali datang dengan penjelasan mengapa ia meninggalkan Stella di depan teras itu sendirian. Setelah Stella bangkit dari duduknya dan berjalan masuk ke rumah, Riva menatap punggung Stella yang menjauh itu.
"Suatu saat kamu pasti akan mendapatkan kebahagiaan yang tiada tara, Stella. Tuhan gak akan membiarkan kamu sakit selamanya. Ibu percaya akan datang seseorang yang menyayangi kamu lebih-lebih dari ibu," gumam Riva pelan.
Pagi hari Stella sudah siap dengan seragam putih abunya. Ia mematut dirinya depan cermin. Ini merupakan hari pertamanya duduk di bangku SMA.
"Udah sebelas tahun berlalu dan gue berhasil tanpa mereka," gumam Stella sambil terkekeh.
Kemudian ia menyambar tas berwarna biru mudanya dan segera berlalu untuk sarapan bersama ibu dan tiga orang adiknya di panti. Di panti itu tinggal dihuni oleh lima orang, Riva, Stella dan tiga anak yang masih sekolah dasar. Dulu memang banyak tapi sudah ada beberapa pasangan suami istri yang mengadopsi anak-anak di sana. Hanya Stella yang tidak pernah mau diadopsi, meskipun banyak orang tua yang jatuh cinta dan ingin menjadikan Stella sebagai anak angkatnya. Namun Stella merasa trauma dengan orang tua dan selama di panti itu Stella merasa baik-baik saja diurus oleh Riva seorang diri. Baginya Ibu Riva adalah ibu terbaik, meskipun tidak ada ikatan darah antara dirinya dengan Riva.
"Morning Kak Lala," sapa seorang anak yang memakai seragam putih merah—Nadiya namanya.
"Hallo Nad..," sapa balik Stella dengan tersenyum.
"Kak Lala kok seragamnya ganti?" Tanya Nadiya polos.
"Hah? Ganti gimana?"
"Waktu itu roknya biru."
"Hahaha, kakak udah lulus SMP sayang. Jadi sekarang roknya warna abu-abu," jelas Stella agar Nadiya mengerti dan dibalas dengan anggukan sok paham dari anak tersebut.
"Bu, Lala berangkat dulu ya, udah setengah tujuh," pamit Lala pada Riva.
"Sarapannya habis? Bekalnya udah dibawa?" Tanya Riva memastikan.
"Udah ibu sayang."
"Ya udah hati-hati ya sayang."
"Siap, ibu ratu!"
Upacara akan dimulai pukul 06.45. Tetapi lima menit sebelum upacara dimulai Stella baru tiba. Ia tidak naik motor atau angkutan umum lainnya, melainkan ia berjalan kaki. Jarak dari panti ke sekolah hanyalah sepuluh menit, jadi Stella memilih berjalan kaki saja.
"Stop! Pakai dasi sama topinya sekarang," perintah seseorang yang tiba-tiba menghadang langkah Stella di gerbang. Stella menurut, ia membuka tasnya dan mengambil dasi serta topi di dalamnya lalu memakainya.
"Udah kak," ucap Stella.
"Udah tahu kelasnya?" Tanya senior itu lagi.
Stella hanya mengangguk.
"Ya udah, lo simpan tas dulu di aula dan langsung masuk barisan di mana kelas lo," ujarnya lagi.
Tanpa berkata apapun lagi Stella masuk ke dalam.
"Anjir, itu anak bisu apa gimana? Ngomongnya ngirit banget. Baru dia aja yang acuh sama ketua osis kita ini," ujar salah satu yang juga berjaga di depan gerbang.
"Berisik lo," protes sang ketua osis.
"Mana dia datang lima menit sebelum bel lagi," cibir seorang perempuan di sampingnya. Tapi si ketua osis tidak menanggapi. Baginya asal tidak lewat dari jam yang sudah ditentukan berarti aman.
Dialah Kalandra Rafardhan.
Upacara telah selesai semua murid telah masuk ke dalam kelas. Seperti halnya Stella, ia masuk di kelas X-2.
"Stella, lo duduk depan gue sini," teriak salah satu teman Stella yang dulu satu SMP dengannya—Tessa.
"Pengen belakang aja," tolak Stella.
"Ih udah penuh, pada gak mau di depan. Soalnya kelihatan banget sama guru," ujar Tessa.
"Kenapa enggak lo aja yang di depan?"
"Hehehehe gak ah, lo aja ya, elo kan pinter dari SMP rangking terus," ujar Tessa dengan cengiran khasnya.
"Hubungannya apa sama duduk di depan, Tess?"
"Ya ya gitulah pokoknya, lo pasti suka duduk di depan."
Stella berdecak lalu duduk di bangku terdepan yang berhadapan langsung dengan meja guru.
"Permisi, ini kelas X-2?" Tanya seorang siswa perempuan yang baru masuk.
"Iya," jawab Tessa.
"Di sini kosong?" Tanya siswa itu.
Stella hanya mengangguk.
"Boleh gue duduk di sini?" Izinnya.
"Boleh dong," jawab Stella ramah.
Gadis itu pun langsung duduk di sebelah Stella.
"Kenalin gue Radea, lo bisa panggil gue Dea," ujarnya sambil mengulurkan tangan. Stella menatap Radea sebentar lalu tersenyum dan menyambut uluran tangan teman barunya itu.
"Stella."