"Kamu gila, Nur. Jangan libatkan Tuan Gibran dalam masalah ini. Kamu hanya akan dibuat malu karena Tuan Gibran pasti akan patuh pada apapun keputusan Nyonya Cindy!" tengking suamiku.
"Kita lihat nanti, aku atau Nyonya Cindymu yang akan dipercayanya!"
Aku pergi keluar kamar karena sudah tak mau meneruskan pertengkaranku dan suamiku. Bisa gila aku jika terus-terusan meladeninya.
"Nur, aku belum selesai ngomong. Mau kemana kamu?"
Suamiku mengejarku lalu menahanku agar tidak pergi.
"Minggir, Mas. Enggak ada yang perlu kita bahas lagi. Aku tetap menolak pergi dari rumah ini."
"Tapi ini perintah Nyonya Cindy. Jadi mau tak mau kamu harus segera meninggalkan tempat ini."
Suamiku kemudian menyeretku masuk ke dalam kamar, "Aku bantu kamu berkemas."
"Enggak, Mas. Lepaskan!" Aku terus memberontak. Aku tak bisa disingkirkan begitu saja dari rumah ini. Aku tak mau mereka berdua secepat ini menang.
"Kamu jangan membantah lagi!" Suamiku menjambakku sangat keras aku sampai berteriak kesakitan.
"Mas, tolong Mas lepaskan! Sakit sekali...!"
Suamiku tak menggubris rengekanku, dia makin menjadi menyakitiku.
"Gimana rasanya jadi pembangkang? Kamu pikir aku akan diam saja melihat kelakuanmu yang makin hari makin kurang*jar!" sembari terus menjambak suamiku terus melontarkan kalimat-kalimat kejamnya.
"Mas tolong lepaskan, sakit!"
Suamiku tetap tak mendengar rintihan sakitku. Hatinya sudah benar-benar mati.
"Lepaskan Nur atau saya telepon polisi sekarang, War!"
Pak Joko datang tepat waktu. Namun sayang ancaman Pak Joko tak membuat suamiku langsung melepaskanku. Ditariknya makin keras rambutku. Aku mencoba melepaskan tangannya dari rambutku tapi tidak bisa.
"Jangan ikut campur urusan keluarga saya, Pak. Pergi!" Bukannya takut, suamiku justru mengusir Pak Joko. Dia sudah benar-benar kehilangan kesadarannya sampai berani membentak dan mengusir lelaki yang umurnya jauh lebih tua darinya.
"Saya tak mau pergi sebelum kamu lepaskan, Nur. Kamu ini enggak punya perasaan, ya. Istrimu lagi hamil anakmu. Kamu jangan menyiksanya seperti ini. Kasian dia!"
Nasehat Pak Joko sama sekali tak didengar suamiku, dia justru semakin keras menjambakku.
"Mas sakit! Tolong lepaskan aku!" aku kembali merintih kesakitan sembari memohon minta dilepaskan.
"Tidak akan kulepaskan kamu sebelum kamu setuju akan keluar dari rumah ini!" ucap suamiku.
"Anwar, saya sudah rekam semua perlakuanmu pada istrimu. Kalau kamu enggak lepaskan Nur, jangan salahkan saya kalau detik ini juga saya laporkan kamu ke polisi!" ancam lagi Pak Joko. Suamiku akhirnya mau melepaskan jambakannya. Kali ini aku sangat berterima kasih pada Pak Joko. Karenanya aku selamat dari amukan Mas Anwar.
"Kalau Pak Joko enggak mau saya nyiksa dia, tolong bujuk dia untuk pergi berkemas dan meninggalkan rumah ini. Nyonya Cindy bilang sudah tak mau melihat Nur di sini lagi. Kalau saya gagal mengusirnya, saya yang kena hukum!" ucap suamiku. Wajahnya terlihat begitu frustasi karena gagal menyingkirkanku.
"Kesalahan apa yang sudah di buat Nur sampai istri saya memaksa kamu untuk mengusirnya!" Tiba-tiba kami semua dikejutkan dengan kedatangan Tuan Gibran. Bukankah dia tengah sibuk mengurus bisnisnya di luar kota. Kenapa tiba-tiba dia muncul di sini?
"Tuan Gibran? Kenapa Anda tiba-tiba ada di sini?" tanya suamiku dengan raut wajah panik. Penyelamatku datang. Kepulangan Tuan Gibran ke rumah ini setidaknya membuatku aman untuk beberapa saat. Nyonya Cindy dan suamiku tidak akan bisa menindasku lagi apalagi mengusirku.
"Aku pulang karena mendengar istriku masuk rumah sakit. Kenapa aku merasa kamu sepertinya tidak suka melihat kepulanganku yang tiba-tiba ini?" tanya Tuan Gibran pada suamiku. Tatapan Tuan Gibran terlihat aneh saat menatap suamiku.
"Bukan Tuan, Anda jangan salah paham. Saya hanya terkejut saja dengan kepulangan mendadak Anda. Biasanya Anda selalu memberitahu saya jika akan pulang." jawab suamiku dengan suara bergetar.
"Kalau saya pulang kasih tahu kamu, saya tidak akan pernah tahu sikap asli kamu. Istrimu tengah mengandung, tapi kamu tega sekali menyiksanya seperti tadi."
Jadi Tuan Gibran sudah ada sedari tadi? Tapi kenapa yang menolongku Pak Joko bukan dia. Kalau dari awal suamiku tahu ada Tuan Gibran pasti dia takan berani menyiksaku seperti tadi.
"Saya bukan menyiksa dia, Tuan. Saya hanya memberi hukuman pada dia karena gara-gara dia, Nyonya masuk rumah sakit."
"Gara-gara dia istri saya masuk rumah sakit? Maksudmu?" tanya kemudian Tuan Gibran.
"Nur memasukan sesuatu di kuah empek-empek yang diberikan Nyonya Cindy, Tuan. Gara-gara itulah istri Anda sakit perut dan di bawa ke rumah sakit," jawab suamiku.
"Tuan, jangan dengarkan suami saya. Saya sama sekali tidak melakukan apapun pada Nyonya."
Aku mencoba menyangkal tuduhan suamiku di hadapan Tuan Gibran. Aku tahu aku salah, tapi aku berbuat jahat pada Nyonya Cindy karena punya alasan yang kuat. Istri mana yang akan diam saja melihat dengan mata kepalanya sendiri perselingkuhan suami dan Nyonyanya. Aku manusia biasa yang punya kesabaran terbatas. Sakit perut Nyonya Cindy tak seberapa jika dibandingkan dengan sakit hatiku karena perselingkuhannya dan suamiku.
"Nur, jangan terus menyangkal. Kalau kamu tak melakukannya tak mungkin Nyonya sampai di rawat di rumah sakit!" Suamiku terlihat sangat emosi saat mengucapkannya. Semoga Tuan Gibran tak terpengaruh dengan ucapan lelaki itu. Aku tak mau disingkirkan dari rumah ini. Kasihan Tuan Gibran, dia suami yang sangat baik. Aku harus berhasil lebih dulu membongkar perselingkuhan istrinya dan suamiku, baru aku bisa tenang meninggalkan rumah ini.
"Anwar, apa kamu punya bukti kalau istrimu benar-benar memasukan sesuatu ke kuah empek-empek yang istriku makan?" tanya Tuan Gibran kemudian.
"Tidak, Tuan. Tapi meskipun begitu saya yakin kalau dia benar-benar melakukannya." balas suamiku.
"Kamu tidak punya bukti, bahkan kamu juga tidak melihatnya dengan mata kepalamu sendiri kalau dia yang melakukannya. Tapi anehnya kenapa kamu yakin sekali saat menuduhnya?"
Pertanyaan yang bagus. Kata-kata Tuan Gibran membuat suamiku terlihat putus asa.
"Tuan, enggak ada orang lain lagi yang menyentuh empek-empek itu selain istri saya. Tolong percaya pada saya kali saja!"
Tuan Gibran menghela nafas panjang mendengar ucapan suamiku.
"Tuduhanmu ngawur, Anwar. Istrimu selama ini baik sekali saat melayani istriku. Jangankan menyakiti sampai istriku masuk rumah sakit, mengumpat istrikupun dia tak pernah lakukan. Lagian dia tak punya motif mencelakai istriku jadi sampai kapanpun aku takan percaya tuduhanmu yang tak masuk akal itu."
Aku bersyukur sekali Tuan Gibran ternyata lebih mempercayaiku dibanding suamiku. Suamiku terlihat tak terima tapi tak ada lagi yang bisa dilakukannya sekarang. Dia diam dan pasrah sembari menyembunyikan wajah kecewanya.
"Nur, tanganku sudah gatal sekali ingin segera menyeret suamimu ke jeruji besi karena sudah menganiayamu. Tapi karena aku masih memikirkan keadaanmu yang tengah hamil anaknya, aku serahkan segala keputusan padamu. Kamu mau membawa kasus ini ke jalur hukum ataupun tidak, semua terserah kamu!"
Tuan Gibran pergi setelah mengucapkan kalimat barusan. Pak Joko juga sama. Suamiku buru-buru mendekat dan berlutut di depanku.
"Istriku, tolong aku. Aku tahu aku sudah keterlaluan, tapi kali ini saja ampunilah aku. Aku janji tidak akan melakukan hal ini lagi!" ucap suamiku sembari memeluk kedua kakiku. Haruskah aku memaafkan suamiku setelah semua yang dilakukannya padaku?