Meminta Cerai

1034 Words
"Istriku, tolong aku. Aku tahu aku sudah keterlaluan, tapi kali ini saja ampunilah aku. Aku janji tidak akan melakukan hal ini lagi!" ucap suamiku sembari memeluk kedua kakiku. Haruskah aku memaafkan suamiku setelah semua yang dilakukannya padaku? "Mas, coba ingat-ingat perlakuanmu beberapa hari ini padaku. Apa seorang suami seperti kamu yang begitu kejam pada istrimu layak mendapat maaf?" Kuhempaskan tangannya yang menempel di kedua kakiku. Jijik sekali dengan sentuhannya. "Istriku, kamu tengah mengandung anakku kalau sampai aku di penjara apa kamu tak kasian dengan nasib calon bayi kita. Dia pasti akan sedih punya Ayah seorang narapidana!" Aku tertawa geli mendengar ucapan suamiku yang mendadak terdengar sangat bijak. Sejak kapan dia jadi begitu perhatian dengan nasib calon bayinya yang ada dalam kandunganku. Saat dia meniduri istri bosnya kemudian menganiayaku, dia sama sekali tak mempedulikan apapun. Kini karena takut di penjara dia menggunakan calon bayi kami untuk mendapat belas kasihan dariku. Lucu sekali bukan? "Aku sudah berusaha membujukmu tapi kamu malah tertawa. Apa menurutmu ini lucu?" tanya suamiku dengan wajah kesal. Wajahnya yang ditekuk seperti itu membuatku tertawa makin kencang. "Nur, jangan keterlaluan, ya! Biar gimanpun juga aku masih suamimu yang layak kamu hormati" marah suamiku. Aku mendekat ke arahnya yang masih pada posisi berlutut. "Kamu mau tahu kenapa aku tertawa?" Aku sedikit membungkuk dan mendekat ke telinganya. "Karena aku puas sekali melihatmu mengemis maaf dariku. Nyonyamu yang begitu kamu banggakan sama sekali tak berguna sekarang. Dia sama sekali tak bisa melakukan apa-apa padahal nasib sialmu datang demi membela dirinya." Suamiku tak terima karena aku menghina kekasih gelapnya. Namun karena ingin mendapatkan maafku dia mencoba menahan diri untuk tidak marah padaku. Wajahnya yang tertekan cukup menunjukan betapa sedang tersiksanya dia menahan emosi. "Kau bebas menghinaku Nur tapi tolong jangan bawa-bawa Nyonya Cindy. Dia sedang terbaring lemah di rumah sakit karena ulahmu. Kasihan sekali dia kalau masih dapat umpatan seperti itu darimu," Apa suamiku bilang tadi? Aku harus mengasihani wanita jahat itu? Cuih! Naj*s sekali. "Bukankah kamu sedang memohon maafku, Mas. Tapi kenapa kamu terus membela Nyonyamu di depanku. Ini membuat aku semakin yakin bahwa kau tak layak mendapat maafku!" tengkingku. Aku sudah tak bisa menahan diri untuk tidak memakinya. "Bukan begitu mkasudku, Nur. Tolong jangan salah paham. Aku hanya tak tega Nyonya Cindy yang masih sakit itu kamu bawa-bawa!" kata suamiku. Salah paham dia bilang? Dia sama sekali tak menyadari setiap kalimat yang keluar dari mulutnya hanya pembelaan untuk Nyonyanya. Segila itu dia terhadap Nyonyanya. Aku bukan tersentuh dengan penjelasannya malah makin muak. "Baiklah kalau kamu tak mau di penjara, aku akan mengabulkannya tapi dengan sebuah syarat!" ucapku kemudian. Suamiku langsung berdiri dengan ekpresi senang sekali. "Apapun syaratnya aku akan penuhi, Nur. Aku benar-benar berjanji padamu akan memperlakukanmu dengan baik seperti dulu!" Wajah suamiku terlihat berseri-seri. Dia pikir dia sudah mendapat maafku. "Bercerailah denganku dan segera tinggalkan rumah ini. Aku yang mencarikanmu pekerjaan ini jadi aku juga yang akan membuatmu kehilangannya!" Sebenarnya aku ingin sekali menjebloskan suamiku ke penjara. Namun aku juga bukan orang bersih. Aku yang membuat Nyonya Cindy terbaring sakit di rumah sakit. Jika polisi sampai mendapatkan bukti tentang kesalahanku, nasibku tidak akan lebih baik dengan suamiku. Kita berdua akan sama-sama mendekam di penjara. Karena alasan itulah aku lebih memilih bercerai dan menjauhkan suamiku dari selingkuhannya. "Syarat macam apa ini, Nur. Kamu itu lagi hamil bisa-bisanya minta cerai dariku!" pekik suamiku. Sebelumnya, dia pasti mengira aku takan pernah berani meminta cerai karena aku tengah hamil anaknya. Anggapannya salah besar. Aku sama sekali tak takut hidup sendiri, aku benar-benar tak tahan hidup dengan suami kejam sepertinya. Bahkan, menunggu sebentar saja untuk mungumpulkan bukti perselingkuhan suamiku dan Nyonyanya, aku sudah tak bisa. Menyelamatkan mentalku dari keadaan menyakitkan ini sekarang lebih utama bagiku. "Aku sudah enggak bisa hidup dengan suami yang terus membela wanita lain. Aku beri waktu kamu sejam dari sekarang untuk mengemasi baju-bajumu. Kalau dalam waktu sejam kamu tidak juga keluar dari sini, aku akan jebloskanmu ke jeruji besi!" ancamku. "Nur, aku mohon. Aku tidak mau bercerai denganmu juga meninggalkan rumah ini. Kamu tahu sendiri kan betapa miskinnya keluargaku. Mau makan apa aku setelah kehilangan pekerjaan ini?" mohon suamiku. Puas sekali rasanya melihatnya memohon seperti ini. Saat mengusirku beberapa menit lalu dia sama sekali tak pedulikan nasibku setelah aku keluar dari sini jadi aku tak perlu ambil pusing juga tentang nasibnya nanti. "Kamu masih bisa jual Iphone mahal pemberian Nyonya kebanggaanmu, Mas. Kalau kamu hemat, itu lebih dari cukup untuk biaya hidupmu selama setahun." Gegas aku pergi meninggalkan suamiku yang tengah putus asa itu. Aku berharap setelah hari ini dia berhenti menggangguku. Berpisah darinya menjadi satu-satunya jalan keluar dari semua masalah yang menyesakanku. Aku harap bisa mendapatkan kebahagiaan setelah perceraian ini. "Nur, gimana. Apa kamu sudah membuat keputusan hendak memenjarakan suamimu atau memaafkan dia?" tanya Tuan Gibran saat aku hendak menyapu ruang utama. Sepertinya dia sengaja menungguku untuk menanyakan hal ini. "Tidak keduanya, Tuan. Biar bagaimanapun juga dia Ayah dari anak yang saya kandung jadi saya tak tega membuatnya masuk penjara." "Lalu?" tanya lagi Tuan Gibran dengan raut wajah penasaran. "Saya meminta dia menceraikan saya dan segera pergi dari rumah ini. Saya tidak sanggup lagi hidup dengan orang kejam sepertinya." Tuan Gibran tersenyum mendengar jawabanku. "Kamu wanita baik. Tidak menjebloskan suamimu ke jeruji besi sudah sangat menunjukan kebesaran hatimu. Saya yakin suamimu cepat atau lambat akan menyesal sudah menyia-nyiakan istri sebaik kamu!" Tuan Gibran terlalu berlebihan dalam memujiku. Aku tidak melaporkan tentang penganiayaan suamiku terhadapku karena takut ikut masuk penjara. Bukan karena aku orang baik. "Sore ini kamu enggak usah masak atau ngelakuin pekerjaan apapun. Nanti biar aku suruh Pak Joko untuk membelikanmu makanan di luar saja. Kamu pasti masih terguncang kan karena masalah tadi. Jadi sekarang mending kamu istirahat di kamarmu saja." Tuan Gibran merebut sapu yang ada dalam genggamanku. "Tapi, Tuan. Ruangan ini begitu berantakan. Saya harus membersihkan dan membereskannya," Aku mencoba mengambil sapu itu kembali tapi tetap saja Tuan Gibran tak memberikannya. "Enggak apa-apa berantakan Nur. Enggak ada Nyonyamu juga. Udah istirahat saja sana, aku lihat kamu sangat pucat," ujar Tuan Gibran. "Terimakasih, Tuan. Anda baik sekali." ucapku penuh haru. "Enggak usah terimakasih, sudah sewajarnya saya melakukan ini. Owh, ya. Kalau suamimu sudah selesai berkemas, suruh dia menemui saya di sini!" lanjut Tuan Gibran. "Baik, Tuan. Saya akan sampaikan pada suami saya,"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD