"Sekali lagi aku mau tanya sama kamu, Nur. Kamu beneran enggak akan nyesel dengan keputusan ini? Aku cuma melakukan kesalahan kecil tapi kamu menghukumku seberat ini!" ucap suamiku sedih. Namun aku sama sekali tak iba dengan kondisinya. Kuabaikan begitu saja pertanyaannya.
"Kalau kamu sudah selesai berkemas pergilah menemui Tuan Gibran di ruangan utama. Beliau menunggumu di sana!" Aku berdiri diambang pintu kamar saat mengucapkannya. Sebelum lelaki itu keluar kamar aku tak berani masuk. Jujur aku masih trauma dengan perlakuan kasarnya beberapa saat lalu.
"Kamu enggak ngomong macem-macem sama Tuan Gibran, kan?" tanya suamiku dengan raut wajah khawatir. Mungkin dia takut aku mengadukan kedekatannya dan Nyonya pada Tuan Gibran jadi dia bereaksi sepanik ini.
"Ngomong macem-macem gimana maksudmu, Mas? Kan memang beliau sudah lihat sendiri gimana perlakuan kasarmu sama aku tadi." Aku pura-pura tak paham kemana arah bicaranya.
Suamiku terlihat lega setelah mendengarkan jawabanku. Bukan aku tak mau membongkar secepatnya perselingkuhannya dan Nyonya Cindy. Aku takut dituduh memfitnah Nyonya Cindy karena tak bisa memberikan bukti apapun pada Tuan Gibran.
"Kamu yang meminta cerai dariku, jadi aku tak sudi mengeluarkan uang sepeserpun untuk lahiran anak yang tengah kamu kandung. Aku harap kamu tahu malu dan jangan pernah mencoba meminta uang dariku,"
Aku tertawa dengan ucapan suamiku. Sanggup dia bicara hal tak manusiawi seperti itu. Kalau otaknya masih waras, dia akan malu mengucapkan hal tersebut.
"Kamu tenang saja, Mas. Aku masih sanggup kerja dan mengumpulkan uang untuk biaya lahiran anak ini. Daripada kamu buang waktu mikirin ini, mending kamu fokus cari kerja lagi. Ibumu yang mata duitan itu pasti akan mengomelimu setiap hari kalau kamu enggak menghasilkan uang lagi untuknya,"
Suamiku menggendong ranselnya kemudian mendekat ke arahku sembari berbisik, "Kamu pasti akan kaget dan sakit hati setelah aku kasih tahu satu rahasiaku padamu. Aku sudah punya wanita lain yang sangat cantik dan tentunya kayaraya. Wanita itu bilang tak perlu pusing memikirkan uang lagi meski aku tak bekerja. Dia akan menghidupiku dan keluargaku dengan uangnya,"
Suamiku hanya simpanan Nyonya Cindy, dia bisa sesombong itu karena hubungannya dan Nyonyanya belum terbongkar. Anggap saja hari ini dia beruntung karena masih bisa keluar dari rumah ini dengan selamat.
"Selamat bersenang-senang dengan selingkuhanmu kalau begitu. Aku sama sekali tak sakit hati mendengarnya. Aku justru berterima kasih pada wanita itu karena sudah membantuku memungut sampah yang tak berguna sepertimu!"
"Kamu!"
Suamiku sangat emosi dengan ucapanku, sayangnya dia tak bisa melampiaskannya. Selagi ada Tuan Gibran di rumah ini, dia tak bisa menyakitiku.
"Lihat, apa yang akan kulakukan padamu nanti setelah aku keluar dari rumah ini!" ancam suamiku kemudian pergi menemui Tuan Gibran di ruang utama. Karena penasaran dengan apa yang akan keduanya bicarakan jadi aku menyusul suamiku dan menguping pembicaraan keduanya.
Sampai di ruang utama aku melihat suamiku terkejut karena di sana bukan ada Tuan Gibran saja melainkan ada 5 orangnya yang berdiri di sampingnya. Ada apa ini sebenarnya?
"Tuan memanggil saya?" tanya suamiku dengan suara bergetar. Dilihatnya secara bergantian orang-orang yang berdiri di sekitar Tuan Gibran.
"Ya, aku menunggumu dari tadi. Duduklah!"
Suamiku meletakan ransel di sebelah sofa kemudian duduk di hadapan Tuan Gibran.
"Aku belum sempat menanyakan kabar istriku di rumah sakit karena sibuk mengurusi masalahmu dan istrimu tadi. Gimana keadaannya sekarang?" tanya Tuan Gibran kemudian.
"Keadaannya sudah sedikit membaik, Tuan." jawab suamiku. Suaranya masih terdengar gemetar. Setakut itu dia ternyata pada Tuan Gibran padahal beberapa saat lalu dia sempat sombong sekali saat memamerkan padaku kalau dia punya selingkuhan yang cantik dan kayaraya.
"Aku mau menjenguknya jadi tolong kamu teleponkan dia untukku. Tanya apa yang dibutuhkannya biar aku bawakan dari rumah," perintah Tuan Gibran. Aku terus menguping pembicaraan mereka dengan hati-hati agar tidak ketahuan.
"Tuan, kenapa Tuan tak menghubunginya sendiri. Saya segan karena sudah berhenti bekerja di sini,"
Segan? Pandai sekali suamiku beralasan. Padahal dia takut saja perselingkuhannya terbongkar.
"Aku lupa mencharger ponselku dari siang tadi jadi aku tak bisa menghubungi istriku. Jadi, apakah bisa kamu tolong aku sebelum meninggalkan rumah ini?"
Aneh, Tuan Gibran tak pernah lupa seperti ini. Ponselnya begitu penting baginya jadi sepertinya ucapannya barusan terdengar seperti mustahil. Apa sebenarnya yang sedang dia rencanakan?
Aku lihat suamiku dengan takut-takut mengambil ponselnya dari saku celananya.
"Ponselmu baru, War? Keren, baru kerja di sini beberapa bulan kamu sudah bisa membeli Iphone!"
Tunggu, suamiku saat itu bilang Nyonya Cindy membelikan Iphone ini atas saran Tuan Gibran, tapi kenyataannya Tuan Gibran sama sekali tak tahu tentang Iphone ini. Malam itu berani sekali dia menantangku untuk bertanya pada Tuan Gibran. Gila!
"Em, itu, Tuan. Ibu saya jual sawah dan saya dikasih uang untuk membeli ini. Kalau bukan karena dikasih uang sama ibu saya, saya mana mampu membeli ini," bohong suamiku. Sayang sekali Tuan Gibran sepertinya percaya begitu saja kebohongan suamiku.
"Kalau begitu cepat tolong hubungi istriku. Tanyakan padanya seperti apa yang aku perintahkan tadi!" ucap Tuan Gibran.
Suamiku kemudian membuka ponselnya menggunakan jarinya.
"Tolong nyalakan pengeras suaranya juga biar aku bisa ikut dengar!"
Meski terlihat begitu pucat dan ketakutan perselingkuhannya akan terbongkar, suamiku tetap mengikuti perintah Tuan Gibran.
[Hallo, Nyonya. Ini--]
Belum sempat melanjutkan ucapannya, perkataan suamiku langsung dipotong oleh Nyonya Cindy.
[Iya, sayang. Ada masalah apa lagi. Aku sudah bilang kan jangan khawatirkan soal uang meski kamu tak bekerja lagi di rumahku. Kamu boleh sesuka hatimu mengambil uang di kartu atm milikku yang ada sama kamu.]
Keren, aku tak perlu susah-susah mengumpulkan bukti perselingkuhan Mas Anwar dan Nyonya Cindy lagi. Apakah ini sebenarnya rencana Tuan Gibran untuk menjebak keduanya? Jangan-jangan Tuan Gibran sudah tahu kalau mereka berdua punya hubungan?
Tuan Gibran kemudian langsung merebut ponsel dari tangan Mas Anwar. Benar-benar pertunjukan yang sangat bagus.
[Sayang, kamu lupa ya kalau uang di kartu itu adalah pemberianku. Kenapa seenaknya kamu berikan pada lelaki lain tanpa sepengetahuanku?] ucap Tuan Gibran. Nada bicaranya tegas sekali. Suamiku terlihat begitu ketakutan apalagi Nyonya Cindy pasti lebih ketakutan lagi. Sayang sekali aku tak bisa melihat ekspresi wajahnya sekarang.
[Kamu salah paham, sayang. Aku bisa jelasin soal ini!] ucap Nyonya Cindy dari seberang telepon.
[Aku enggak butuh penjelasan apa-apa lagi. Kamu detik ini juga kuceraikan. Jangan pernah injakan kakimu lagi di rumah ini!] ucap Tuan Gibran kemudian membanting ponsel milik suamiku karena saking emosinya.
"Tuan, saya tahu Anda marah karena ini. Tapi seharusnya Anda tidak perlu sampai merusak ponsel saya. Harganya begitu mahal dan Anda harus menggantinya!"
Aku menepuk jidatku mendengar omongan suamiku. Dia bukannya malu karena perselingkuhannya terbongkar malah meminta Tuan Gibran ganti rugi karena sudah merusak ponsel yang sebenarnya dibeli dari uang Tuan Gibran sendiri.