Bab 4 Pekerjaan yang Dijanjikan

1401 Words
Tante Rahma tertawa pelan, lalu menggeleng. “Lain kali jangan begitu. Kamu itu masih muda, harus jaga kesehatan tubuhmu. Jangan mentang-mentang kuat, terus jadi abai,” “Iya, Tante,” jawab Ella ringan. Diam-diam Ella menghembuskan napas panjang. 'Syukurlah,' pikirnya. Susi nggak bahas soal biaya di depan Tante. Ia tahu, Tante Rahma tipe ibu yang akan langsung merasa bersalah. Yang akan menyalahkan dirinya sendiri. Yang akan berpikir lebih baik tidak dioperasi daripada merepotkan orang lain. Dan Ella tidak ingin itu. Waktu berjalan lebih tenang dari yang ia bayangkan. Susi sibuk menghabiskan ayam goreng madunya sampai jari-jarinya mengilap. Tante Rahma makan pelan-pelan, tapi terlihat menikmati setiap suapan. Ella senang melihatnya. Dia lebih bersemangat melihat binar di mata Tante Rahma, tanda semangat hidup yang tak pernah pudar. Beberapa menit kemudian, Ella melirik jam di ponselnya. “Sus, Tante, aku pamit dulu, ya,” katanya lembut. “Aku ada kelas malam.” “Oh iya,” jawab Susi cepat. “Hati-hati.” Ella merapikan selimut Tante Rahma. “Tante istirahat yang banyak. Jangan mikirin apa-apa.” Tante Rahma menggenggam tangan Ella. “Terima kasih, El. Kamu baik sekali.” Ella tersenyum, kali ini agak kaku. “Doain aku lulus kuliah aja, Tante. Biar bisa cari kerja yang lebih baik.” "Amin. Insya Allah Tante selalu doain kamu," balas Tante Rahma bersemangat, walaupun suaranya masih lemah. Ella menjabat dan mencium tangan wanita lembut dan baik hati yang sekarang tampak ringkih itu. Ia lalu melangkah keluar dari ruang rawat. Baru beberapa langkah di koridor, langkah kaki kecil menyusulnya. “El.” Ella menoleh. Susi berdiri di belakangnya, ekspresinya sudah tidak seceria tadi. Wajahnya kembali serius, matanya sedikit sembab, seolah senyum barusan hanyalah jeda singkat dari kenyataan. “Ada apa?” tanya Ella, meski sebenarnya ia sudah tahu. Susi menelan ludah. “Soal biaya itu—” Ella mengangkat tangan pelan, menghentikannya. “Tenang. Aku bilang kan? Aku udah nemuin jalan keluarnya.” Susi menatapnya lama. “Beneran?” Ella mengangguk, meski dadanya berdebar. “Beneran. Percaya sama aku.” Ella tersenyum kecil, senyum yang berusaha tampak ringan. “Nanti aja aku cerita. Kalau udah berhasil.” “Ella, kamu—” “Percaya sama aku,” potong Ella pelan. “Aku janji, Tante Rahma bakal dioperasi.” Susi menatapnya lama. Ada ragu, ada harap, ada rasa bersalah yang menumpuk di matanya. “Makasih…” bisiknya akhirnya. “Aku nggak tahu harus bilang apa lagi.” Ella menggeleng. “Nggak usah bilang apa-apa. Kamu jaga Tante aja yang baik.” Mereka berpelukan singkat. Susi menahan isaknya di bahu Ella. Saat akhirnya melangkah pergi, Ella tidak menoleh lagi. Hatinya berat untuk pergi, namun perjuangan untuk masa depan masih harus dilanjutkan. Ia berjalan menyusuri lorong rumah sakit dengan langkah cepat, seolah jika melambat, keberaniannya akan runtuh. Di luar, udara malam terasa lebih dingin. Ella berhenti sejenak, menengadah, lalu memejamkan mata. Ponselnya terasa berat di saku jaket. Ia menunggu, dengan doa, dan harap yang terus bergetar dalam dadanya. ** Sudah lewat jam sembilan malam ketika Ella melangkah keluar dari gedung fakultas. Lampu-lampu kampus menyala temaram, halaman mulai lengang, hanya tersisa beberapa mahasiswa yang masih berkutat dengan laptop dan kopi dingin. Ella menghela napas panjang sambil merapikan tas selempang di pundaknya. Kelas malam selalu menguras tenaga, tapi malam ini pikirannya jauh lebih lelah daripada tubuhnya. Tangannya refleks merogoh ponsel. Begitu layar menyala, jantungnya langsung mencelos. Dua panggilan tak terjawab. Nama yang tertera membuat dadanya mengencang. Vina. “Ya Allah…” gumam Ella pelan. Ini telepon yang sejak sore membuatnya gelisah. Telepon yang ia tunggu-tunggu. Tanpa ragu lagi, Ella langsung menekan tombol panggil, jarinya sedikit gemetar. Tak sampai tiga dering, panggilan itu diangkat. “Kenapa baru nelpon balik, El?” tanya Vina langsung, tanpa basa-basi. “Maaf, Vin. Aku baru kelar kuliah. HP-ku disilent, takut dimarahi dosen.” jawab Ella tergesa. “Ada apa?” Di seberang sana, Vina terdengar menarik napas singkat, lalu berkata dengan nada yang membuat jantung Ella berdegup lebih kencang. “Kamu dapat kerjaan malam ini.” Ella berhenti melangkah. “Malam… ini?” ulangnya, hampir berbisik. “Iya. Kebetulan ada orang yang butuh teman untuk bersantai. Kamu masih mau, kan?” Beberapa detik berlalu tanpa suara. Ella bisa mendengar detak jantungnya sendiri, cepat dan tak beraturan. Ini cepat sekali… Tapi bukankah ini yang aku mau? “Iya,” jawab Ella akhirnya, suaranya pelan tapi tegas. “Aku mau.” “Oke.” Nada Vina langsung berubah ringan. “Sekarang kamu di mana?” “Masih di kampus.” “Oke, aku jemput. Tapi dengar ya,” suara Vina terdengar lebih serius, “kamu nggak bisa datang dengan baju kayak sekarang.” Ella menunduk, menatap dirinya sendiri—jeans pudar, kaus longgar, jaket tipis yang sudah sering ia pakai mengajar dan mengantar makanan. “Iya sih…” gumamnya kikuk. “Kita mampir dulu ke kosanku. Kamu harus dandan. Pakai baju yang pantas,” lanjut Vina. “Santai aja, El. Aku yang atur semuanya.” Ella menggigit bibirnya. “Vin… aku belum pernah ke bar,” katanya jujur. “Aku nggak tahu harus gimana.” Terdengar tawa kecil dari seberang. “Justru itu kenapa kamu laku. Eh, maksudku, langsung dapat kerjaan.” kata Vina ringan. “Pengusaha kaya ini nggak mau perempuan yang udah biasa berkunjung ke sana. Tapi jangan khawatir. Kamu tinggal ikutin aku.” Ikutin aku. Kalimat itu bergaung di kepala Ella, membuat perutnya terasa sedikit melilit. “Oke,” jawabnya akhirnya. “Aku nunggu di gerbang kampus.” “Sepuluh menit lagi aku sampai.” Panggilan terputus. Ella masih berdiri di tempatnya, ponsel di tangan, menatap kosong ke depan. Angin malam menyapu wajahnya, membawa hawa dingin yang membuatnya sedikit menggigil—entah karena cuaca, atau karena perasaan yang mulai bercampur aduk. ‘Malam ini… benar-benar malam ini.’ Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri. ‘Ini cuma menemani minum,’ yakinnya dalam hati. Cuma sebentar. Setelah itu, Tante Rahma bisa dioperasi. Bayangan wajah pucat wanita itu di ranjang rumah sakit muncul jelas di benaknya. Senyum Susi yang berusaha tegar. Tangisan yang ia tahan. Uang itu terasa semakin nyata… dan semakin dekat. Beberapa menit kemudian, ada sepeda motor berhenti di tepi jalan. Vina melambaikan tangan dengan senyum lebar. “Ayo, El!” serunya. “Malam ini nasib kamu akan berubah.” Ella melangkah mendekat, jantungnya masih berdebar. Ia mengenakan helm yang disodorkan Vina, lalu duduk di belakangnya. Motor melaju membelah jalanan kota yang mulai ramai oleh lampu malam. Ella menatap ke depan, memeluk tasnya erat. Semoga ini benar-benar jalan keluar… Motor Vina berhenti di depan sebuah rumah kos bertingkat dua, bangunannya biasa saja, tapi tampak lebih hidup dibanding kos-kosan di sekitar kampus Ella. Musik pelan terdengar dari salah satu jendela lantai atas. “Ayo turun, El,” kata Vina sambil melepas helm. “Kosanku di atas.” Ella menurut. Begitu kakinya menapak, rasa gugup yang sejak tadi ia tahan mulai naik ke tenggorokan. Tangannya refleks merapikan jaket tipisnya, seolah kain itu bisa melindunginya dari sesuatu yang belum ia pahami sepenuhnya. Di dalam kamar kos Vina, lampu terang langsung menyilaukan mata Ella. Kamar itu tidak besar, tapi jauh lebih “hidup” dibanding kamarnya sendiri—ada cermin tinggi di sudut, rak sepatu dengan beberapa hak tinggi, dan gantungan baju penuh dress yang belum pernah Ella pakai seumur hidupnya. Vina meletakkan tasnya, lalu menatap Ella dari ujung kepala sampai kaki. “Oke,” katanya sambil mengangguk-angguk. “Kita mulai.” “Mulai… apa?” Ella bertanya polos. “Dandannya, El,” jawab Vina sambil tertawa kecil. “Tenang aja. Aku nggak bakal ngubah kamu jadi orang lain. Cuma… versi kamu yang lebih pantas buat malam ini.” Ella tersenyum kaku. “Aku takut kelihatan aneh,” gumamnya. “Justru kamu nggak boleh kelihatan aneh,” balas Vina cepat. “Kamu harus kelihatan… alami.” Vina menarik Ella ke depan cermin. Untuk sesaat, Ella menatap bayangannya sendiri. Rambutnya masih sedikit berantakan karena helm, wajahnya polos tanpa riasan, dan mata besarnya tampak lelah setelah seharian beraktivitas. Vina membuka lemari dan mengeluarkan sebuah gaun sederhana berwarna krem muda. Potongannya tidak terbuka, tidak mencolok, tapi lembut dan jatuh pas di badan. “Pakai ini,” katanya. “Ini cocok sama kamu.” Ella menerima gaun itu dengan ragu. “Ini… aman, kan?” tanyanya pelan. Vina menoleh, ekspresinya sekilas berubah serius. “El, dengerin aku. Kamu nggak akan disuruh aneh-aneh. Aku ada di sana. Kalau kamu nggak nyaman, kita cabut.” Jawaban itu sedikit menenangkan, meski kegelisahan di d@da Ella belum sepenuhnya pergi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD