“Pokoknya,” lanjut Vina, nada suaranya penuh bujukan, “kamu temenin tamu itu. Buat dia senang. Habis itu—” ia menjentikkan jari, “—tring tring. Uang masuk.”
Ella menunduk. Melihat ujung sepatunya sendiri. Jantungnya berdebar keras.
Ada sesuatu dalam dirinya yang berteriak jangan. Tapi ada suara lain—lebih kecil, lebih lelah, yang berbisik ini kesempatan.
‘Sekali aja, Ella. Habis itu hidup bisa sedikit lebih ringan, karena Tante Rahma sudah bisa dioperasi.’
Ella mengangkat wajahnya perlahan.
“Detailnya…” katanya ragu, “gimana?”
Senyum Vina melebar. Matanya berbinar, seolah baru saja membuka pintu yang sudah lama ia tunggu.
“Nanti aku jelasin,” katanya cepat. “Tenang aja. Aku nggak bakal nyeret kamu ke yang aneh-aneh.”
Ella mengangguk pelan. Ia menarik napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan. Ada getaran aneh di dadanya—campuran takut, berharap, dan sedikit bersemangat.
“Jadi…” Ella mengangkat wajahnya, menatap Vina dengan mata yang kini lebih terang dari sebelumnya. “Kapan aku bisa lakuin itu?”
Vina menoleh, sedikit terkejut melihat perubahan ekspresi Ella. “Kamu serius?”
Ella mengangguk cepat. “Iya. Aku butuh uang itu secepatnya, Vin.”
Tangannya mengepal di samping tubuhnya, seolah menahan gemetar.
“Tante Rahma harus dioperasi,” lanjut Ella, suaranya mulai bergetar, tapi ia memaksa dirinya tetap bicara. “Kalau nggak secepatnya, sakitnya bakal makin parah. Dokternya bilang nggak bisa nunggu lama.”
Nama itu—Tante Rahma—keluar begitu saja, penuh rasa sayang. Bukan sekadar ibu sahabatnya. Wanita itu adalah rumah, pelindung, orang pertama yang berkata “kamu nggak sendirian” saat Ella benar-benar sendirian.
Vina menghela napas pendek, lalu mengangguk-angguk. “Oke. Aku ngerti.”
Ia mengeluarkan ponsel dari saku jaketnya. Mengetuk layar beberapa kali, seolah mengecek pesan.
“Nanti aku telepon kamu,” kata Vina akhirnya. “Pastinya kapan.”
“Telepon?” Ella spontan mendekat setengah langkah. “Berarti… belum tentu hari ini?”
Vina meliriknya, lalu tersenyum tipis. “Bisa jadi hari ini. Bisa juga besok.”
Kalimat berikutnya diucapkan dengan nada ringan, tapi justru membuat jantung Ella berdegup lebih cepat.
“Pokoknya siap-siap aja. Siapa tahu malam ini.”
Malam ini…
Ella menelan ludah.
“Oh.” Hanya itu yang keluar dari bibirnya.
Vina memasukkan kembali ponselnya. “Sekarang kamu pulang dulu. Santai aja.”
“Santai?” Ella tersenyum kecil, getir.
“Iya,” kata Vina mantap. “Nggak usah kebanyakan mikir. Percaya deh, El—masalahmu udah dapat jalan keluarnya.”
Ia menepuk bahu Ella ringan, seperti biasanya. Tapi kali ini, sentuhan itu terasa jauh lebih berat.
Ella mengangguk pelan. “Iya… makasih, Vin.”
“Jaga HP kamu,” tambah Vina sambil tersenyum. “Jangan dimatikan.”
Ella membalas senyum itu, meski dadanya terasa sesak.
“Iya.”
Vina lalu melangkah pergi, motornya dinyalakan, suaranya menjauh di antara lalu lalang kendaraan.
Ella berdiri sendirian di parkiran yang mulai lengang. Lampu-lampu jalan satu per satu menyala, menandai datangnya malam.
Ia menurunkan pandangannya ke layar ponsel.
‘Siapa tahu malam ini.’
Kalimat itu berputar-putar di kepalanya.
Kalau malam ini… berarti cepat. Kalau cepat… Tante Rahma bisa diselamatkan.
Tapi kenapa jantungnya justru berdetak makin keras?
Ella memeluk tas kecilnya erat-erat, lalu mulai menstarter motor.
Ia melirik jam di ponsel. Masih ada waktu untuk pulang, makan, mandi, membelikan makanan untuk Susi dan Tante Rahma, lalu pergi ke kampur. Kuliahnya hari ini mulai jam setengah delapan sampai sepuluh malam. Kalau memang nanti harus ke bar—kalau memang—orang-orang ke sana juga biasanya setelah larut. Ia masih punya waktu.
Dengan keputusan kecil itu, Ella menghidupkan motor dan pulang ke rumah.
**
Ella melihat layar ponsel, belum ada info dari Vina.
‘Tenang, El. Kalau udah rejekimu, pasti gak bakalan kemana.’
Dia menghibur diri sendiri.
Sekarang fokus kuliah dulu.
Ella memacu motornya ke sebuah restoran sederhana tak jauh dari rumah sakit. Lampunya terang, aroma makanan hangat menyambut dari pintu yang terbuka setengah. Tanpa ragu, ia memesan.
“Satu bubur ayam spesial, ya, Pak,” ucapnya ceria. “Telurnya utuh.”
“Siap.”
“Terus ayam goreng madu satu. Yang banyak madunya,” tambahnya sambil tersenyum.
‘Ini kesukaan Susi,’ pikirnya sambil menunggu.
Kantong kertas hangat berpindah ke tangannya. Ella membayar, lalu menggenggamnya erat-erat seolah membawa sesuatu yang jauh lebih berharga dari sekadar makanan.
Koridor rumah sakit selalu punya bau khas—obat, cairan antiseptik, dan udara dingin yang membuat langkah terasa lebih pelan. Ella berjalan cepat, matanya mencari-cari sosok yang ia kenal.
“Susi!”
Susi yang duduk di bangku panjang langsung menoleh. Wajahnya yang tadi tegang seketika berubah.
“Ella!”
Ia berdiri hampir melompat, matanya langsung tertuju pada kantong di tangan Ella. “Itu…?”
“Bubur ayam buat Tante Rahma,” jawab Ella ringan. “Dan ayam madu buat kamu.”
Susi terdiam sesaat, lalu matanya berbinar seperti anak kecil.
“Kamu… kamu sempat-sempatnya,” katanya, suaranya bergetar antara tertawa dan menangis.
Ella terkekeh kecil. “Lah, masa datang jenguk dengan tangan kosong,”
Mereka masuk ke ruang perawatan. Tirai digeser perlahan.
Di ranjang, Tante Rahma terbaring dengan wajah pucat. Selang infus menempel di tangannya. Namun begitu melihat Ella, matanya langsung sedikit berbinar.
“Ella…” suaranya lemah, tapi hangat.
Ella mendekat cepat, meletakkan makanan di meja kecil, lalu menggenggam tangan wanita itu dengan lembut.
“Tante, aku bawain bubur ayam spesial,” katanya ceria. “Masih hangat.”
Tante Rahma tersenyum tipis. Anak ini… selalu datang dengan kehangatan, pikirnya. Meski tubuhnya lemah, hatinya terasa sedikit lebih ringan melihat wajah cerah Ella.
“Kamu boros-borosin uang aja, El,” ucap Tante Rahma pelan. “Harusnya ditabung buat masa depan kamu.”
Ella menggeleng cepat. “Ah, Tante. Masa depan bisa nunggu. Yang penting Tante semangat makannya biar cepat sembuh.”
Susi terkekeh kecil sambil duduk di sisi ranjang. “Iya, Bu. Makan yang banyak, ya."
Mata bulatnya berbinar menatap kotak nasinya. "Ayam madu ini enak banget, El,”
"Aku udah tahu, kamu pasti suka," balas Ella ceria, senang harapannya terkabul.
“Kalian berdua ini..." Tante Rahma menatap putrinya dan Ella sambil geleng-gelang kepala. Pipi pucatnya sedikit diwarnai semburat merah.
Ella tertawa kecil, menyendokkan bubur perlahan, meniupnya sedikit sebelum menyuapkan ke Tante Rahma.
“Pelan-pelan ya, Tante.”
‘Semoga Tante kuat… Semoga aku nggak terlambat.’
Tante Rahma menelan suapan itu, matanya terpejam sesaat.
“Enak,” gumamnya. “Hangat.”
Susi menikmati makanannya.
“Ini beneran bikin mood naik,” katanya, lalu menatap Ella. “Makasih, El.”
Ella tersenyum. “Makan yang banyak. Kamu butuh energi ekstra.”
“Kamu nggak makan, El?” Tante Rahma menoleh, memperhatikan Ella sejak tadi hanya berdiri. “Dari tadi cuma lihatin.”
Ella cepat menggeleng, senyumnya refleks muncul. “Udah makan kok, Tante. Di rumah tadi. Ini khusus buat Tante sama Susi.”
“Ah, bohong,” sela Susi sambil mengunyah. “Kalau Ella bilang udah makan, biasanya cuma minum air putih.”
Ella membolakan matanya ke arah Susi. “Heh.”