Tangan Ella mencengkeram ponsel lebih erat.
“Jangan nangis, Sus,” ucapnya cepat, meski dadanya ikut sesak. “Jangan nangis, ya. Nanti aku cari cara.”
“Gimana caranya, El?” suara Susi terdengar putus asa. “Aku… aku nggak tahu harus ke siapa lagi.” terdengar isak perlahan.
Ella menutup mata. Menarik napas dalam-dalam, lalu menguatkan Susi.
"Udah nggak usah nangis, nanti aku pikirin caranya. Kamu fokus aja jagain Ibu."
"Tapi, El.."
“Udah, Sus. Nggak usah panik, kasihan Ibu lihat kamu begitu. Pokoknya aku bakal berusaha.”
Ella berusaha meyakinkan Susi agar sahabatnya itu bisa tenang, walaupun ia sendiri bingung dari mana mendapatkan uang sebanyak itu.
Panggilan berakhir.
Ella menurunkan ponsel perlahan. Tangannya gemetar. Ia membuka amplop gaji itu sepenuhnya. Menatap isinya. Lembar-lembar uang yang tadi terasa cukup, kini terlihat begitu kecil. Tidak ada artinya.
‘Empat puluh juta… Bahkan separuhnya pun aku nggak punya.’
Pikirannya langsung melompat ke satu kemungkinan.
Kas bon.
Ella segera putar balik. Ia kembali ke restoran, melangkah cepat menuju ruang administrasi. Dadanya berdebar. Harapan kecil menyala, meski ia tahu peluangnya tipis.
“Mbak,” sapanya pada staf administrasi yang masih membereskan berkas. “Aku mau tanya soal kas bon.”
Wanita itu mendongak. “Kas bon lagi?”
“Iya, Mbak. Mendesak,” jawab Ella, berusaha tersenyum meski bibirnya terasa kaku.
Staf itu membuka catatan. Menghela napas. “Bulan ini sudah banyak yang ngajuin, El. Manajemen ngebatasin. Kamu juga kemarin kan sudah ambil?”
Ella mengangguk pelan. “Iya… tapi ini darurat, Mbak. Ibuku sakit.”
Wanita itu menatap Ella sejenak, raut wajahnya melunak, lalu menggeleng pelan. “Maaf ya. Beneran nggak bisa. Kalau aku paksain, aku yang kena.”
Kalimat itu seperti pintu yang tertutup keras di depan hidungnya.
“Oh… iya, Mbak. Nggak apa-apa,” ucap Ella akhirnya, berusaha tenang, meski tenggorokannya terasa tercekat.
Ia melangkah keluar dengan kaki terasa berat.
Di parkiran, Ella duduk di atas motornya tanpa menyalakan mesin. Amplop gaji masih di tangannya. Ponselnya terasa dingin di telapak tangan.
‘Cari cara… cari cara gimana, Ella?’
Jual motor? Nggak cukup.
Kerja lembur? Butuh waktu dan dia juga harus kuliah.
Pinjam? Ke siapa?
Langit sore yang tadinya terasa indah kini tampak pucat dan jauh.
Ella menunduk. Menelan saliva. Untuk pertama kalinya sejak ayahnya meninggal, rasa takut itu datang lagi— takut kehilangan orang yang ia sayangi, tanpa bisa berbuat apa-apa.
Ella duduk di atas motor tuanya. Mesin mati, tapi tangannya masih menggenggam setang, seolah kalau dilepas, semua yang menahannya tetap berdiri akan runtuh bersamaan.
Pinjam uang…
‘Ke siapa lagi aku bisa pinjam uang?’
Nama seseorang muncul di kepalanya.
Bu Maya.
Ibu kepala playgroup tempat Ella mengajar setiap pagi.
Ella menegakkan punggungnya sedikit. Wajah lembut Bu Maya terbayang—wanita paruh baya dengan senyum tenang, selalu memanggilnya “Nak Ella”, selalu memuji kesabarannya menghadapi anak-anak.
‘Bu Maya baik… Tapi aku cuma guru honorer. Mana mungkin beliau percaya minjamin uang sebanyak itu.’
Ella membayangkan dirinya duduk di ruang tamu rumah Bu Maya, menunduk, memainkan ujung baju, lalu berkata dengan suara gemetar, “Bu, boleh pinjam uang?”
Dadanya langsung terasa sesak.
Paling juga cuma bisa pinjam beberapa juta.
Ella teringat Deril, pacarnya. Ia mempertimbangkan untuk meminta bantuannya. Namun, dia menggeleng cepat. Deril juga bekerja di restoran, walaupun bukan kurir, tapi dia pasti tidak bisa membantunya mencari uang sebanyak itu.
Tidak ada jalan.
Ella menghela napas panjang. Untuk hidup mandiri, ia sudah memaksa dirinya bekerja dua kali lebih keras—mengajar pagi hari, mengantar pesanan sampai sore. Tapi tetap saja, hidup seperti ini tidak memberi ruang untuk angka sebesar empat puluh juta.
Ella masih duduk diam di atas motornya di parkiran, menunduk, menimbang-nimbang hidupnya sendiri.
Pagi hari ia mengajar di playgroup kecil, menjadi Bunda Ella yang disukai anak-anak. Siang sampai sore ia mengantar makanan. Malamnya, ia duduk di bangku kelas Fakultas Psikologi—kelas malam, dengan keringanan biaya dari kampus. Itu satu-satunya alasan ia masih berani bermimpi tentang masa depan.
Tapi malam ini, mimpi terasa terlalu jauh.
“Ella?”
Suara itu membuatnya menoleh cepat. Ternyata rekan kerjanya, sesama kurir.
Vina berdiri di sampingnya, masih mengenakan jaket kurir, helm tergantung di lengan. Rambutnya diikat asal, wajahnya tampak santai seperti biasa.
“Kok bengong?” tanya Vina sambil menyenggol bahu Ella ringan. “Biasanya kamu paling ribut habis dapet gaji.”
Ella tersenyum kecil, senyum yang dipaksakan. “Hehe… lagi mikir aja.”
Vina menatapnya lebih saksama. “Mikir apa? Mukamu kelihatan pucat.”
Ella ragu sejenak. Dari semua karyawan, memang Vinalah yang paling sering mengobrol dengannya. Mereka sering satu shift, sering saling menunggu saat hujan, sering patungan beli minum.
Cerita dikit nggak apa-apa kali ya…
Ella menarik napas. “Ibunya Susi harus operasi.”
“Oh.” Alis Vina terangkat. “Serius?”
“Iya. Biayanya mahal banget,” ucap Ella lirih. “Aku lagi… bingung.”
Vina bersiul pelan. “Berapa?”
“Empat puluh juta.”
Vina terdiam beberapa detik. Lalu tertawa kecil, bukan mengejek—lebih seperti heran. “Gila… Mahal banget, El. Kamu sama Susi bisa dapat duit sebanyak itu dari mana?”
Ella mengangguk. “Kamu benar. Mahal banget, tapi memang segitu biayanya. Aku kepikiran mau pinjam ke Bu Maya, kepala playgroup. Tapi… ya nggak mungkin juga dapet segitu.”
Vina menyandarkan punggung ke motor di sebelah mereka. Menyilangkan tangan. Tatapannya menyempit, seperti sedang menimbang sesuatu.
“Kalau aku bilang…” katanya pelan, “ada cara untuk dapet uang lebih cepat, kamu percaya nggak?”
Ella menoleh cepat. “Cara apa?” ekspresinya jelas, agak kurang percaya.
Vina tersenyum tipis. Bukan senyum ceria seperti biasa. Ada sesuatu yang berbeda.
“Kamu bisa dapat uang enam puluh juta.”
Napas Ella tertahan. “Hah?”
“Enam puluh juta rupiah,” ulang Vina, santai. “Sekali kerja.”
Kata itu menggema kuat di kepala Ella.
Enam puluh juta…
Sekali kerja…
“Vin…” Ella tertawa kecil, gugup. “Jangan bercanda.”
“Aku serius,” kata Vina cepat. “Nanti kamu kasih aku komisi sepuluh persen aja.”
“Sepuluh persen?” Ella mengerjap.
“Iya. Aku juga butuh duit, El.” Vina mengangkat bahu. “Sisanya buat kamu.”
Ella menelan ludah. “Memangnya kerja apa?”
Vina mendekat sedikit, menurunkan suara. “Temenin minum.”
D@da Ella langsung terasa dingin.
“Minum?” ulangnya pelan.
“Di bar.” Vina mengangguk. “Pengusaha-pengusaha kaya. Duit mereka nggak habis tujuh turunan.”
Ella refleks menggeleng. “Aku… aku nggak pernah ke bar.”
“Justru itu,” kata Vina cepat. “Kamu polos. Mereka suka yang kayak kamu.”
Kalimat itu membuat perut Ella bergejolak.
Polos…
Kenapa kedengarannya nggak enak ya?
“Kerjanya gimana emang?” tanya Ella hati-hati.
“Ya menuang minuman, nemenin karaoke,” jawab Vina ringan. “Ngobrol, ketawa, bikin mereka senang.”
Ella memeluk tas kecilnya erat. “Kedengarannya… gampang banget.”
“Iya emang,” kata Vina tanpa ragu. “Makanya bayarannya gede. Gede buat kita, kalau buat mereka mah, uang segitu cuman buat jajan, El,”
Ella terdiam. Angka itu kembali berputar di kepalanya. Kewaspadaannya runtuh.
‘Enam puluh juta. Aku kasih Vina sepuluh persen… Berarti aku pegang lima puluh empat juta. Cukup untuk biaya operasi Tante Rahma dan membiayai hal lainnya.’
“Kalau… kalau aku diminta ikut minum gimana?” tanya Ella akhirnya, suaranya kecil, rasa khawatir bercampur keinginan mendapatkan uang campur aduk.
Vina tersenyum cepat. “Ya nggak apa-apa.”
“Tapi aku nggak bisa minum alkohol…”
“Kamu bisa minta yang low alcohol,” potong Vina. “Atau pura-pura minum aja. Nggak ada yang maksa, yang penting kamu bisa bikin mereka senang.”
Ella menggigit bibir bawahnya.
Low alcohol… berarti tetap alkohol, kan?
Tapi cuma sedikit…
Dan cuma sekali…