29

994 Words

         “Satria, please jangan gini! Buka pintunya, Sat?!” teriakku memanggil Satria yang mengurung dirinya sepulang dari rumah sakit.             Tidak terdengar suara dari dalam kamar, hanya bantingan barang pecah yang terdengar dilantai membuatku semakin cemas. “Pak, enggak ada kunci cadangan? Saya khawatir Satria kenapa-napa."             Pak Cucu menatap cemas. “Enggak ada Bu, hanya kamar pribadi Bapa yang enggak dibuat kunci cadangannya."             Aku mendesah frustasi. Pintu kamar tidak bisa didobrak karena kokohnya pintu dan Satria sama sekali tidak membalas panggilanku. “Satria, buka pintunya please.  Ayo kita bicara, Sat.” gumamku menahan tangis.               Menempelkan daun telinga pada pintu, samar-samar aku bisa mendengar suara tangis dari bibir Satria yang membuatk

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD