12

1377 Words
Ujian telah berakhir, wisuda tinggal menghitung hari, namun sebelum hari kelulusan itu datang sekolah mengadakan acara tamasya untuk hari ini. Yaitu berkunjung ke Dufan, meskipun hampir semuanya sudah pernah pergi kesana, namun tetap hal tersebut tidak mempengaruhi antusias murid-murid. Satria sebenarnya tidak mau ikut, ia lebih memilih belajar di rumah di bandingkan mengikuti kegiatan yang ramai. Namun karena orangtuanya sudah membayar acara tersebut diawal dan ia juga masih ingin memantau kepengurusan Osis yang baru dimana anggota Osis bertugas mengkoordinator para siswa disana, mau tidak mau Satria harus ikut untuk memantau juniornya terakhir kali.  “Sat, mau snack kentang enggak?”Tanya Putri sambil menyodorkan bungkusan snack pada Satria begitu mereka duduk di bis. “Enggak makasih,”Tolak Satria tanpa melirik Putri. “Lo udah berapa kali ke dufan Sat? Gue hampir tiap bulan kesana, sebenarnya gue males ikut tapi liat lo ikut gue juga ikut. Apalagi kita Osis." “Sorry, ini bangku 12D kan?" Mata Satria dengan cepat menatap arah suara. Hatinya berdetak cepat melihat Raina yang kini berdiri di pinggir kursi mereka yang memang satu bangku untuk 3 orang. “Iya. Lo disini juga?”Tanya Putri menggeser duduknya memberikan tempat untuk Raina. “Iya." Satria menatap Raina lekat. Hatinya begitu bahagia karena Raina ikut kegiatan ini, padahal sebelumnya Satria tidak melihat nama Raina di daftar. Satria bersyukur karena ikut kegiatan tamasya ini. “Mau snack?”Tawar Putri. “Boleh, thanks ya.”Ucap Raina mengambil beberapa snack dari bingkisan yang di bawa Putri dan memakannya. Satria melirik Raina kembali. Ia berpikir bagaimana caranya Raina bisa duduk di sampingnya. Posisinya yang diujung terhalang oleh Putri yang duduk ditengah. “Putri,”Panggil Satria. Putri yang merasa di panggil Satria beringsut mendekat Satria dengan semangat. “Kenapa Sat?" “Saya pusing duduk di ujung, bisa tukeran saya yang ditengah?”Tanya Satria pelan. “Tuker sama aku aja, aku mau duduk dekat jendela,”Sergah Raina yang mendengarnya. Satria mengangguk dan berpindah ke tengah sehingga otomatis Putri menggeser ke ujung. Diam-diam Satria tersenyum karena ini pertama kalinya Satria duduk begitu dekat dengan Raina. “Kepala lo sakit Sat? Mau minum obat?”Tanya Putri khawatir. “Enggak usah,”Jawab Satria. “Kalau ada apa-apa bilang sama gue ya," Satria mengangguk dan kembali melirik Raina yang kini tengah fokus menatap pemandangan dari jendela. Hati Satria kecewa karena Raina sepertinya tidak menganggapnya ada. Disaat perempuan lain sibuk mencari perhatiannya, Raina selalu terlihat tidak peduli. Apakah bagi Raina, dirinya tidak tampan? Atau Raina sudah memiliki laki-laki yang ia suka? Memikirkan pertanyaan yang terakhir membuat Satria tidak suka. Siapapun orang yang akan mengambil Raina darinya, maka Satria pastikan itu adalah musuh. “Eh, kesayangan gue duduk di sini. Pantasan dari tadi gue cariin lo enggak ketemu,”Ucap Christin dari belakang, melirik Satria sekilas. “Gue kan telat daftar, jadi duduk sama kelas lain!”Jawab Raina terdengar jengkel. “Mau duduk sama gue enggak? Si Yoan pindah ke belakang sama cowonya." Mendengar tawaran Christin, Satria menutup matanya berpura-pura untuk tidur. Tidak akan ia biarkan Raina pergi dari sebelahnya. “Boleh deh. Hmm permisi mau numpang lewat bentar,”Pinta Raina sambil menepuk pundak Satria pelan. Satria merasa geli disentuh Raina dan itu membangunkan gairah dari dalam dirinya. Satria berusaha mengacuhkannya dan tetap pura-pura tidur. “Tin, enggak bangun ketos nya gimana ya?" “Oh, hmm.. Mau gue yang bangunin?”Tawar Utin. Sebenarnya Utin tahu jika Satria hanya berpura-pura tidur, ia ingin membiarkan sahabatnya duduk di situ namun entah mengapa radar melindungi sahabatnya meningkat. Satria entah mengapa membuatnya merasa tidak tenang.  “Eh apaan sih lo? Jangan ganggu Satria deh! Dia lagi sakit, biarin dia tidur. Dan lo, sabar dikit duduk disini, ketahuan guru lo pindah mau lo di marahin?”Sewot Putri dan itu membuat Satria senang. “Yaudah deh, gue duduk di sini aja Tin.”Ucap Raina pelan. ... “Alhamdulillah akhirnya kesampaian juga kesini!”Pekik Raina begitu turun dari bis. “Jadi, lo gimana bisa ikut acara ini, Na? Katanya duitnya enggak ada.”Tanya Christin merangkul sahabatnya. “Gue bantu-bantu cuci piring di rumah tetangga gue yang lagi butuh ART. Lumayanlah! Tapi gue enggak bisa jajan atau beli oleh-oleh soalnya enggak bawa bekal." “Teu kudu lah yang penting mah mainnya kan makan udah di urus dari sekolah. Lo kalau mau jajan bilang aja entar gue traktir dan lagi gue bawa cemilan banyak," Raina mengangguk. “Gimana.. Gimana.. Lo happy enggak duduk sebelahan sama pangeran lo?”Tanya Christin berbisik di telinga Raina. “Ihh... pangeran lo kali! Tapi Happy sama gugup jadinya gue liat jendela mulu dan lagi dia sama Putri kayaknya lengket banget. Satria sama sekali enggak ngelirik atau sekedar nanya sama gue. Yah resiko kagum sama pangeran mah, gue kan cuma remah ranginang enggak dianggap.”Cengir Raina. “Oh gitu. Eh Na, kalau.. Kalau.. Enggak jadi deh! Kita harus senang-senang hari ini ya, moment terakhir kita nih sebagai anak SMA." “Iya! Yuk ah cus kita main. Naik kora-kora dulu." Tidak jauh dari tempat Raina, Satria terus menatap Raina yang sedang asyik berbicara dengan Christin. Samar-samar Satria dapat menangkap pembicaraan Raina yang ternyata harus mencuci piring dulu agar bisa ikut kegiatan ini. Andaikan Raina sudah jadi miliknya, pasti Satria tidak akan sungkan membiayai apapun yang diinginkan Raina. “Sat, ayo main!”Putri merangkul lengannya pada Satria dan menarik Satria menuju area permainan. Entah berapa jam mereka bermain dengan antusias, berbagai macam wahana telah mereka ikuti. Diantara wajah antusiasme murid, hanya Satria yang tidak terlalu menunjukkan keminatannya pada wahana. Matanya terus melirik Raina yang kini tengah bercanda dengan teman sekelasnya. “Na, posenya nya mana? Gue rekam nih buat kenang-kenangan. Yang lain udah soalnya!”Ucap laki-laki bertubuh keras bernama Rizal. Satria menatap Raina yang kini tertawa lepas dan tanpa malu memajukan bibirnya seakan-akan mengecup di hadapan camera. Jantungnya berdegup kencang karena melihat Raina yang begitu menggemaskan. Satria tidak sanggup menahan keinginannya untuk membawa Raina. Ia membutuhkan seseorang untuk meluapkan perasaannya. “Sat, kenapa? Kok pucat?”Tanya Putri khawatir. Satria menatap Putri, menimbang apakah Putri bisa menjadi penyalur keinginannya. Mata Satria kembali melirik Raina yang kini tengah bercanda lagi dengan teman-temannya yang sebagian laki-laki. Satria dilema, ia merasakan gairah dan amarah. “Sat?”Tanya Putri khawatir. Satria tidak sanggup berpikir lagi. Mengikuti naluri, Satria menarik Putri ke tempat yang lebih sepi dan menciumnya dengan kasar. Putri yang awalnya terkejut berbalik menjadi bahagia karena Satria menciumnya. Tanpa ragu Putri mencium Satria.  Setelah kejadian itu Satria kembali bersikap dingin terhadap Putri dan Putri sendiri merasa tidak keberatan. Ia merasa selangkah lebih dekat dengan Satria, meskipun Putri tau jika Satria tidak mencintainya. Ketika Satria tengah memantau juniornya yang kini tengah sibuk memberikan konsumsi pada murid lainnya, Satria mendengar suara blitz kamera yang mengarah padanya. Satria dengan cepat menatap orang yang kini tengah memotretnya. Ia terkejut karena Raina lah yang tengah memegang Hp yang sepertinya milik temannya. Satria tau karena Raina masih menggunakan HP jadul. Raina yang ditatap Satria menjadi salah tingkah dan dengan cepat memberikan HP tersebut pada temannya. Bibirnya mengerucut menahan malu. Ketika perjalanan pulang, kesempatan besar untuk Satria menatap Raina yang kini tengah tertidur pulas disebelahnya. Menatap sekelilingnya yang sama tengah tertidur, Satria dengan perlahan menyentuh tangan Raina. Matanya sibuk mengamati segala detail milik Raina. Raina hangat dan lembut. Satria mengecup kening Raina pelan, meresapi harum Raina untuk ia ingat. Lalu, sebelum ia bangun Satria segera mengambil satu bingkisan oleh-oleh yang ia beli untuk Raina. Dengan hati-hati Satria memasukkan bingkisan itu ke dalam tas Raina. Satria tau Raina tidak membeli apapun tadi ketika bis mereka singgah di tempat oleh-oleh. “My wife.. Raina,”Bisik Satria kembali mengecup kening Raina. ... “Neng, ini kok ada bingkisan oleh-oleh didalam tas kamu?”Tanya Ibu ketika membereskan tas Raina. Raina mendekati Ibu dan mengamati bingkisan yang dipegang Ibu. “Lah darimana ya Bu? Perasaan Raina enggak beli apa-apa kan enggak bawa uang." “Tapi ini ada di tas kamu, terus ada tulisannya nih. Untuk Raina,”Tunjuk Ibu pada note kecil yang tertempel di plastik. “Dari siapa ya Bu? Guru gitu? Tapi masa langsung masukin gitu ya?" “Mungkin Neng lupa masukin,Neng kan cepet lupaan. Alhamdulillah rezeki!" Raina menatap bingung Ibunya yang kini sibuk membuka bingkisan. “Lupa kali ya.”Bisik Raina pada dirinya sendiri.  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD