Hari terbaik yang banyak di nanti para pelajar adalah kelulusan. Dimana status mereka sebagai siswa dan siswi berakhir dan siap melangkah ke dunia baru. Ada yang memilih untuk menempuh pendidikan sarjana, ada yang lebih memilih bekerja, bahkan tak sedikit yang langsung menikah setelah lulus SMA.
Hari ini adalah acara kelulusan yang diselenggakrakan di hotel Savoy Homan Bandung. Setiap siswi yang hadir tampil begitu prima. Gaun cantik serta make up yang digunakan membuat siswa yang melihat nya terpana. Bagaimana tidak, biasanya sehari-hari para siswi hanya berpenampilan seadanya layaknya pelajar, kini khusus acara spesial mereka menjelma menjadi angsa yang cantik.
Putri, gadis yang paling menonjol dan memiliki predikat murid tercantik ini sedari tadi menjadi pusat perhatian begitu sampai di ball room hotel. Gaun putih dan make up yang membuatnya semakin cantik membuat gadis yang berada di sekitarnya refleks mundur. Lebih baik menjauh daripada dianggap upik abu.
Putri tersenyum melihat Satria yang menggunakan jas begitu gagah dan mempesona. Jantung Putri berdebar begitu kecang ketika ia sudah berada di sebelah Satria yang sepertinya tidak menyadari keberadaannya.
”Hey,”Sapa Putri.
Satria menoleh dan tersenyum kecil. Putri sedikit kecewa karena sepertinya Satria tidak terlalu memperhatikan penampilannya.
“Enggak kerasa ya kita udah lulus SMA,”Ucap Putri sambil memainkan tangannya.
Satria mengangguk dan kembali menatap lurus. Entah mengapa Putri merasa Satria berbeda hari ini.
“Eh, itu Utin!”Seru Putri menunjuk Utin yang baru datang.
Satria melirik malas kearah Utin. Entah mengapa hari ini ia tidak semangat. Ia merasa bahwa hari kelulusan adalah bencana untuknya. Apalagi ini adalah hari terakhir dirinya bertemu Raina, karena besok ia sudah berangkat ke London.
Satria berdiri, berniat untuk jalan-jalan sebentar. Semoga moodnya bisa membaik.
“Mau kemana, Sat?”Tanya Putri melihat Satria berdiri.
“Keluar sebentar,"
“Mau gue temenin?"
Satria menggeleng dan segera pergi dari situ. Dengan langkah pelan ia berjalan menuju luar. Tidak ia hiraukan tatapan terpesona orang-orang sekitar yang menatapnya.
Satria menghentikan langkahnya begitu menatap gadis yang ia tunggu baru saja memasuki lobi hotel. Raina sendiri menghentikan langkahnya begitu menatap Satria yang kini tengah memperhatikannya.
Satria sering melihat gadis cantik, namun ini pertama kalinya ia terpesona oleh seorang gadis. Raina yang kini berdiri tidak jauh darinya menggunakan dress cantik berwarna oranye. Pandangan Satria menatap kaki Raina yang tampak indah dan jenjang. Ia tidak suka jika orang lain akan menatap sepasang kaki indah itu. Ingin rasanya Satria menyuruh Raina untuk pulang, agar tidak ada laki-laki lain yang akan melihat penampilan Raina yang begitu mempesona.
Raina tersenyum canggung karena merasa di perhatikan Satria. Ia berjalan terburu-buru melewati Satria yang masih berdiri ditempatnya. Raina mengusap dadanya pelan. Mencoba menenangkan jantungnya yang berdebar begitu cepat. Satria begitu tampan. Tidak! Satria memang tampan, tetapi melihat penampilannya yang menggunakan jas formal membuat ia berkali lipat tampan dan mempesona. Sungguh beruntung Putri karena bisa memiliki laki-laki luar biasa seperti Satria.
Raina menggelengkan kepala, berusaha mengenyahkan perasaan irinya. Ia harus sadar diri. Laki-laki seperti Satria pasti lebih menyukai gadis cantik, pintar dan kaya seperti Putri. Gadis sederhana sepertinya tentu saja akan menjadi deretan terakhir yang akan dilirik Satria.
Raina menyukai Satria bahkan lebih dari suka. Namun Raina selalu berusaha membatasi perasaannya agar tidak berkembang dan nantinya menghancurkan dirinya sendiri. Ia menyadari batasan dirinya yang akan terlihat berbeda jika bersama Satria. Karena itu, Raina selalu mengucapkan jika Putri adalah gadis yang tepat untuk Satria, karena dengan ia mengatakan seperti itu akan membuatnya mengubur perasaannya dalam-dalam.
...
Acara formal wisuda kini telah berubah menjadi party. Semua orang begitu menikmati sajian makanan dan acara musik yang diselenggakrakan. Beberapa orang bahkan kini tengah menari di dance floor yang sengaja di buat oleh panitia.
“Makan mulu lo, Na.”Ujar Utin mengamati Raina yang kini tengah menikmati zupa-zupa.
Raina nyengir. “Kapan lagi makan makanan hotel kayak gini, Tin."
“Dance yuk Na,"
“Gaya lo ngajak gue dance biasanya juga jaipongan,”Sindir Raina.
“Yah kali-kali Na! Yuk ah.”Ajak Utin.
“Enggak ah Tin, lo aja.”Tolak Raina.
“Enggak asyik ah lo, Na. Masa wisuda malah makan terus,”Protes Utin.
Raina hanya mengendikkan bahu dan kini berjalan menuju stan kue. Raina memakan cake dengan lahap tanpa menyadari jika sejak tadi sepasang mata mengawasinya dengan raut wajah geli.
...
“Putri, semoga lo sukses di London yaaa!!”Ucap Utin memeluk Putri ketika mantan anggota osis saling berpamitan.
“Thanks Utin, lo juga sukses ya kuliahnya, semoga lo bisa jadi bidan yang selalu bermanfaat buat orang-orang sekitar.”Balas Putri.
“Amin. Nanti kalau lo hamil, lo periksa di gue aja ya.”Goda Utin.
Putri tertawa mendengarnya, matanya menatap Raina si gadis mungil yang selalu berada di samping Utin. “Lo juga semoga sukses karirnya ya,"
Raina mengangguk. “Makasih, lo juga baik-baik di sana ya."
“Lo besok berangkat, Sat?”Tanya Utin.
“Iya,"
“Mereka berdua soulmate selalu ya Tin. SMA satu kelas mulu, lah kuliah juga bareng di luar negri. Semoga kalian balik cepat sebar undangan ya!”Ujar Farah menatap Putri dan Satria.
Putri merona. “Apaan sih lo,"
Utin terkekeh pelan dan melirik Satria yang kini menatap sahabatnya. Ia menghela napas pelan, sepertinya Satria memang mencintai sahabatnya. Entah bagaimana nasib kedua orang ini cukup membuat Utin penasaran. “Sat, hati-hati besok di jalan semoga sukses menuntut ilmu di sana."
Satria menatap Utin lama dan mengangguk.
“Di London udah masuk winter?”Tanya Raina tiba-tiba.
“Iya,”Jawab Satria cepat.
“Asyik ya, pengen deh lihat salju ya Tin."
Utin mengangguk. “Kan lo kerja di travel siapa tau bisa ke luar negri gratis, Na."
“Amin..makanya itu gue ngelamar kesana siapa tau rezeki gue bisa keluar negri gratis."
Utin tertawa melihat ekspresi Raina yang lucu. “Pulang sekarang?"
Raina mengangguk.
Utin berpamitan dan berpelukan kembali bersama teman-teman osisnya. Raina yang melihatnya ikut tersenyum. Ia berbeda dengan Utin yang supel dan aktif berorganisasi, berbeda dengan dirinya yang lebih memilih membantu Ibunya jualan dibandingkan ikut kegiatan sekolah. Meskipun begitu, ia menyukai masa SMA nya.
Raina tersentak kaget menyadari Satria yang berdiri bersisian dengannya cukup dekat. Raina diam-diam melirik Satria dari sudut matanya. Selagi ada kesempatan menikmati pemandangan indah nan rupawan disebelahnya, agar kelak ia bisa mengingat cinta pertamanya dan bisa menceritakannya kepada anak-anaknya kelak.
Raina cepat-cepat mengalihkan wajahnya ketika ia kedapatan tengah menatap Satria. Satria yang melihatnya tersenyum geli.
Gadis mungil di sebelahnya ini terlihat merona, mungkin ia malu karena ketahuan tengah menatapnya diam-diam.
Melihat Utin yang sudah selesai berpamitan dengan teman-temannya, Raina tersenyum mengangguk kepada Satria dan berjalan mendekati Utin.
Satria menatap punggung Raina dengan sendu. Entah kapan lagi ia bertemu dengan gadis mungil itu. Ia bertekad akan menyelesaikan kuliahnya secepat mungkin, bekerja dan datang melamar Raina.
Ya, iya akan melamar Raina.
Tidak peduli apakah nanti ia terlambat atau tidak.
Karena Satria yakin jika Raina adalah miliknya.. Pemilik hatinya.
Sampai berjumpa lagi, Raina.