ENAM PULUH SEMBILAN: KENAPA??!

1047 Words
"Kenapa diem?! Hmm? Baru kepikiran sekarang kalau April bisa aja diembat cowok lain?! Mendadak nggak rela?! Hmm?! Kenapa nggak jawab?! Makanya kalau di kasih kesempatan tuh dimanfaatin yang bener!" Mei sudah kerasukan medusa. Kesalnya sudah mentok sampai ke ubun - ubun sampai dia bingung sendiri harus melampiaskannya kepada Jun bagaimana lagi agar dia lega. Di depannya Jun diam, menunduk kalah. "Tapi kan April Nggak bilang apa - apa, masa gue harus make a move duluan?" Ya Tuhan yang maha pengasih dan maha penyayang berikanlah kesabaran yang besar dan kelapangan hati seluaa samudra bagi Mei. Doa itu terucap otomatis dalam bisikan. Sungguh! Dia kira Jun itu gentle. Nggak cemen. Bahkan Mei pernah membayangkan kalau cowok idamannya itu ya yang seperti Jun ini. Tapi kenapa sekarang Jun seperti ini?! Aduh, kasihan April dunia akhirat kalau Aprilnya harus berurusan dengan Jun. Mei menggeleng tak habis pikir. Kemudian dia menepuk pundak Jun. Menatap mata pemuda yang terlihat agak putus asa itu tepat di matanya. "Gue mohon banget, Bang. Jangan deketin April lagi. Gue berubah pikiran, nggak mau lo jadi adik ipar gue. Gue nggak rela April nelangsa kedepannya." ucap Mei sungguh - sungguh. "Si*lan lo! Lo kira gue apaan bikin April nelangsa!" sembur Jun tak terima. Tapi Mei tetap menggeleng tak setuju. "Lo nggak konsisten Mei. Gue udah putusin Fran, udah nggak jajan di luar, udah mau puasa aampe puncaknya gue semalem pusing sendiri dikerjain April, dan lo malah nggak ngebolehin gue deket sama April? Setelah semua yang gue lakuin?!" "Lah kok lo pamrih?!" Gantian Mei yang sewot. "Gue larang lo sama Fran buat kebaikan diri lo sendiri. Biar nggak kena drama dia yang suka bikin pusing tujuh keliling!" Mei berapi - api menjelaskan. Beberapa orang yang kebetulan lewat di jalanan depan rumahnya sampai terang - terangan menengok ke arah mereka. "Gue nggak ngebolehin lo jajan juga buat lo sendiri! Biar lo nggak kena PMS - Penyakit Menular Se*sual. Lo harus puasa karena lo nggak ada pasangan! Bukan karena setelah lo lakuin itu semua lo bisa dapetin April! Sama sekali nggak ada hubungannya! Kalo lo nggak mau, nggak terima, sono, lo ulangin lagi aja. Jun kicep diaumin Mei. Nggak keras sampaibikon para tetangga mendadak berkumpul layaknya massa penonton dangdut Pantura, tapi tetep aja. Kalau sampai kedengaran orang lain ya malu. Kemudian dia teringat sesuatu. "Fran nggak selebay itu, kok." Katanya yang langsung membuat Mei megap - megap seperti habis kena serangan jantung. "Lo kena pelet si Fran apa gimana sik, bisa - bisanya!" "Enak aja pelet! Etapi gue serius, Mei. Dia gue putusin minggu lalu. Gue udah nggak sama dia buat… lo tau kan, udah mau sebulan ini. Dan dia diem aja. Ngibungin gue lagi aja nggak." Mei merotasi bola matanya kesal. Nggak habis pikir aja, masa buat hal yang udah jelas begitu, Jun nggak bisa nangkep sih?! "Ya udah kalau dia nggak drama dan lo ngerasa cocok sama dia, lo balikan aja sono sama dia! Tapi inget, kalo ada apa - apa jangan cari gue. Dan satu lagi, jangan deket - deket April! Minggir sana, ih! Gue mau mandi!" *** Percakapannya dengan Mei pagi tadi mau nggak mau jadi bikin Jun kepikiran. Apalagi April seperti mencuekinya. Sebenarnya April biasa saja sih, nggak menghindari Jun dan sebagainya. Tapi perasaannya saja atau April sedang mengerjakan sesuatu yang nggak dia tahu? April jadi luar biasa sibuk. Hampir selalu on phone, pamit ke ruangan Pak Ano atau ke ruangan GM, dan sebagainya. Jun jadi merasa gabut. Hari ini dia sengaja ambil break. Seharusnya ada inspeksi lagi, kalau kemarin survey lokasi, sekarang survey vendor EO nya. Tapi dia berkilah ini bisa dilakukan via email dan telepon. Jadi nggak perlu keluar kantor. "Baik, Pak. Segera ke sana." Dia sedikit tersentak mendengar suara April yang berbicara dengan seseorang di telepon. Kan, teleponan terus dia. Tapi Jun nggak bisa melarang karena dia teleponan pakai telepon kantor, yang berarti telepon tersebut adalah urusan pekerjaan. "Pak Jun, permisi mau turun ke Pak Ano, sekalian mau istirahat makan siang." Pamitnya. "Eh bentar." April yang sudah hendak beranjak duduk lagi di kursinya. Menatap Jun dengan pandangan bertanya. Jun yang awalnya asal panggil saja sekarang jadi kikuk sendiri. Apaan coba sok panggil - panggil tadi? Dia mau apa? "Sini bentar." Jun menunjuk pada kursi yang ada di depannya. Dengan pandangan masih heran, April menurut. "Ya Pak?" Jun malah kesal luar biasa karena April terus saja memanggilnya 'Pak'. Seolah - olah sengaja menciptakan jarak di antara mereka. Jun sama sekali nggak suka dengan fakta ini. Biar apa coba, manggil Pak? "Lo mau makan siang di mana? Sama siapa? Makan siang sama gue aja, ya?" Tanyanya beruntun dalam satu tarikan nafas. Rasanya dia grogi luar biasa. Rasa groginya sudah nyaris sama seperti kalau dia sedang menembak April. Dan rasa deg - degannya sekarang menunggu jawaban April pun terasa lebay tapi nyata. "Eh…. Pak, eh maksud gue… gue udah janjian makan siang sama orang lain di rooftop." April meringis menjawab pertanyaan Jun. Badan Jun langsung lemas seketika seperti ada jarum kecil tak kasat mata barusan menusuknya. Kok sakit, rasanya kayak habis ditolak. Ditolak dalam konteks yang lain. Tapi kali ini Jun nggak boleh menyerah. Meskipun dia dan April seperti sudah baik - baik saja, tapi menyimpan kesalahpahaman hanya seperti mengabaikan luka. Lama - lama dia akan semakin parah dan semakin sakit. "Sama siapa?" "E… sama Septi, sama Novi," Jun hampir menghela nafas lega saat semua nama yang disebut April adalah nama karyawan cewek di kantor ini. ".... Sama Janu juga." Seandainya kursinya mendadak anjlok dan dia terjengkang jatuh, rasanya pasti tak akan semenyakitkan dan semenyedihkan ini. "Janu?!" April mengangguk. "Sebenarnya lo ada hubungan apa sih, sama dia?!" Lagi - lagi Jun menyesal karena nggak bisa mengerem mulutnya. Wajah April seketika berubah datar. Ekspresi wajah yang ditampilkannya saat dia menarik diri secara emosional. Jun beg*!! Jun memaki dalam hati. Ingin rasanya dia menendang dirinya sendiri kalau saja dia tau caranya. Cepat - cepat dia mencondongkan diri ke depan dengan kedua tangan terulur ke depan. "Sorry. Gue kelewatan. Sorry." Katanya. "Nggak papa. Lo boleh lunch sama dia. Tapi nanti sore pulang sama gue, ya? Please?" April diam lama. Jun sedikit senang karena nggak langsung ditolak. Setidaknya April mempertimbangkan permintaannya. "Kenapa?" "We need to talk, April." "Tentang?" "Tentang kita." PS: Gimana week end kaliaaaaan? Semoga menyenangkan yaaa maaf, aku batu update hihihi enjoy semuanyaaaa
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD