TUJUH PULUH : TENTANG KITA

1219 Words
"Tentang kita." Jun menjawab mantap. "Okay." Akhirnya jawaban final April yang dia tunggu - tunggu datang juga setelah gadis itu terdiam lama. Diucapkan setelah helaan nafas panjang. Jun senang luar biasa! Sekarang dia tinggal harus menyusun apa yang ingin dia katakan pada April. Untung di ruang kerjanya nggak dipasang CCTV. Kalau iya, pasti orang IT yang melihat ke ruang tersebut akan mengernyit heran melihat Jun yang awalnya tersenyum lebar kini sedang tertawa penuh kemenangan sendirian. April sendiri sudah keluar dari ruangan beberapa saat lalu. Entah masih di ruangan Pak Ano atau sudah ke rooftop untuk lunch bareng teman - temannya. Bareng Janu. Mengingat itu tawanya seketika terhenti, diganti prengutan dan cibiran tak suka. Perasaannya nggak enak kalau sudah menyangkut cowok yang lebih muda darinya itu. Secara umur, dia lebih dekat dengan April. Mungkin seumuran, atau bisa jadi lebih muda. Dan dia selalu dapat jatah jadi superhero buat April, sementara Jun yang selalu jadi Villain.  Bukannya dia nggak percaya diri dengan perasaan April untuknya. April naksir dia sejak lama, dan belum pernah luntur. Jadi kesempatannya pasti akan besar. Yang jadi masalah adalah kalau April mendadak menyerah. Saat seseorang menyerah, tak peduli perasaannya bersambut atau nggak, dia akan diam saja dan malah berpaling. Itu, Jun belum punya apapun untuk mengantisipasinya. Dia harus berpikir cepat. Setelah makan siang, dia hanya punya waktu sekitar satu - dua jam sebelum jam kantor berakhir.  Dering ponsel di atas meja kerjanya menyeretnya kembali ke keadaannya saat ini.  "Nomor nggak dikenal? Siapa?" Takut kalau ini adalah telepon dari salah satu vendor yang mungkin dikontaknya tadi, dia memutuskan untuk mengangkatnya. "Halo?" "Beb." "Siapa?" "Ih, lo kok gitu. Udah gue diblokir, sekarang dilupain juga?! Lo beneran udah nemu yang lain yang lebih enak dari gue?!" "Fran?" *** Jun belum menyiapkan apapun untuk dibicarakan ke April sampai jam mereka pulang. Gimana sempat?! Kalau dia digangguin terus oleh Fran?! Cewek itu benar - benar. Dia beli kartu baru berapa banyak, sih?! Jun sampai capek sendiri memblokir nomornya. Kenapa, sih, ada orang yang nggak mau terima kalau ada orang yang dulu dekat sama dia sekarang udah nggak tertarik lagi? Move on, dong! Cari yang lain, jangan reseh. You ruin others lives! Terus apa nanti yang akan dikatakannya pada April? Tenang, tenang. Sambil jalan aja. Yang penting sekarang step satu sudah clear. April sudah duduk anteng di kursi penumpang mobilnya, dan akan ikut ke mana pun dia akan pergi. Termasuk ke…. Nggak nggak nggak! Jun menonjoki dirinya sendiri di dalam kepalanya. Jun kurang ajar memang. Kenapa sih, otaknya kalau tentang April hampir selalu berakhir di selang*ngan? Tahan dulu!  Suasana mobil sunyi. April dengan kebisuannya, dan Jun yang sok fokus pad jalanan di depannya. Awkward. Tapi Jun masih bingung harus membuka pembahasannya dengan apa. Tapi dia beruntung, hari ini April nggak pakai parfum laknatnya yang bikin pusing itu. Dia aman. Sedikit. Padahal nggak perlu pakai parfum itu, kalau April mau, Jun bisa kok turuti apapun mau April. Di mana, berapa lama, mau yang bagaimana, full servis! Jun kan cowok serba bisa. Yang nggak bisa cuma satu saat ini. Menjadikan April milik Jun. Aduh, sad boy. “Lo udah, nggak papa, kan?” Akhirnya Jun menyerah dan membuka obrolan dengan sesuatu yang paling garing yang bisa dia comot dari kepalanya. April menoleh, sepertinya habis melamun, karena matanya masih agak kurang fokus saat dia menatap Jun. “Hmm?” “Yang semalem…” “Ah. Nggak papa. Bukan hal besar, kok. Udah biasa.” Entah apa motif April bilang begitu. Tapi Jun nggak suka. Dia jelas masih kepikiran dan masih sedih karena nggak dapet ijin. Jun paham banget, April bukan anak yang penuh tuntutan. Salahkan Mei memang. Kenapa juga April apes banget punya Kakak kayak Mei. Coba April jadi adiknya, pasti sudah dia sayang - sayang… Eh? Apa?! Astaga, jangan…. Jangan! Jangan sampe, ya Tuhan! Kalau April adiknya, dia… incest, dong?! Ih, nggak mau! Dosa besar! Jun membatin, sesaat dia lupa dengan hobinya sebagai penjahat kelamin. “Lo minta apa, sih? Kalau gue bisa, gue bantuin.” April memandangnya lagi. Kali ini agak lama. Jun pura - pura sok cool dan nggak tau kalau sedang dipandangi begitu. Tapi nggak bisa. Akhirnya dia menoleh. Membuat mereka bertatapan meskipun sebentar karena setelahnya April memalingkan pandangannya. “Nggak perlu, kok. Beneran gue nggak papa. Lo… mau ngomong apa ini?” “Tentang kita.” Jun mengulang jawabannya beberapa jam yang lalu seperti kaset rusak. “Tentang perasaan lo ke gue. Dan… perasaan gue ke lo.” *** April menunduk. Sebenarnya, dia grogi. Kalau dia bisa, dia ingin loncat - loncat sambil salto untuk menggambarkan bagaimana keadaan hatinya saat ini. Sama persis begitu. Tapi nggak bisa. Jadi dia, hanya diam. Pasang poker face, dan sok tenang, sambil meremati tangannya yang dibiarkan nggak ngapa - ngapain di pangkuannya. “Kenapa memangnya?” Jangan bilang apapun, please. Doanya dalam hati. Meskipun dia tau Jun nggak tertarik padanya. Tapi mendengar langsung dari orang yang bersangkutan bukanlah hal yang menyenangkan. Dia bisa jadi lebih hancur dari kemarin - kemarin.  April capek nangis. Sungguh. Nggak ada satu hal pun yang dia inginkan berakhir sesuai yang dia skenariokan. Dan selama ini dia hanya diam saja menerima. April berpikir, memangnya dia bisa apa selain menerima? Dia cuma manusia Ada kekuatan yang lebih besar yang mengatur alam semesta. Dia sudah berdoa dan sudah berusaha. Tapi hasilnya tak pernah sesuai. Padahal dia tidak berharap sesuatu yang besar. April cuma ingin diakui. Sekedar kalimat, ‘iya, itu yang juara kelas itu anak saya, April. Memang pinter anaknya. Kebanggaan keluarga.’ atau kalimat lain yang lebih sederhana seperti; ‘nggak papa, lo punya gue, nggak usah takut. Lo aman, kok.’ Atau yang lebih sederhana lagi. ‘Ini Mama tadi pas lewat lihat ini terus kepikiran April, jadi Mama beli, deh.  Bukan hal besar, kan? “Gue… tau sejak lo mulai kuliah.” Lima tahun lebih. Bahkan saat itu Jun masih berkencan dengan mantan pacarnya yang entah keberapa. April sudah malas menghitung deretan cewek Jun. Dan selama itu pula perlakuan Jun pada April masih tetap sama.  Hahahah, ya sudah, sih, Pril. Lagi - lagi, terima nasib aja. “Oh.” Hanya itu tanggapan April. Saking bingungnya harus berucap apa. “Mei yang kasih tau.” Ah, kirain April Jun peka dan tahu sendiri. April suka banget menilai Jun ketinggian. “Waktu itu gue nggak percaya. Tapi lihat lo yang selalu bete tiap kali gue punya gebetan baru… “ April meringis. Dia pun bingung kenapa malah meringis, bukannya mengganjar Jun dengan tonjokan. “Sori, gue kekanak - kanakan.” “Kenapa lo nggak pernah bilang, Pril?” April tertawa sekarang. Benar - benar tertawa sampai matanya basah lagi saking lebarnya dia mangap. Dia sampai nggak sadar kalau Jun sudah berhenti di depan salah satu resto. “Buat apa bilang?Biar lo bisa nolak gue? Jangan gitu lah. Kasihani gue sekali ini aja, okay. Gue cukup tau diri, kok. Gue sama sekali bukan tipe lo, makanya lo nggak tertarik sama sekali sama gue. Ibaratnya, gue nari - nari tela*jang di depan lo juga lo nggak bakalan kenapa - napa. Jadi buat apa gue bilang ke lo? Eh, ini udah sampai? Ya udah, gue turun duluan.” April benar - benar turun dari mobil. Meninggalkan Juni yang terdiam dian rahang kaki dan telapak tangan yang menggenggam kencang.  Cewek ini beneran, ya. Dia mau baikan lagi nggak, sih sebenarnya sama, Jun?! “If only you knew, Pril.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD