Turun dari mobil Jun, April langsung bergegas masuk ke dalam restoran sambil menunduk. Langkahnya tiba - tiba berhenti saat dia menabrak seseorang.
“Maaf, maaf, saya… Bang Didit?”
“April?”
Kalau ada Bang Didit berarti ada juga… “Dek? Dek, lo kenapa?!” Nah berarti ada Mei.
Dan saat melihatnya, Mei langsung setengah histeris, mengguncang bahunya sambil bilang ‘ lo kenapa, lo kenapa. Memangnya dia kenapa?!
“April, lo nangis kenapa? Lo ke sini sama siapa?”
Eh? Dia nangis?!
April meraba pipinya yang basah tanpa dia sadari. Setelahnya, buru - buru dia mengusap wajahnya, menghilangkan jejak bahwa dia baru saja menangis. Tapi Mei bukan orang yang mudah melupakan sesuatu yang mengganggunya. Dia bahkan nggak akan segan untuk memaksa kalau dia nggak mendapat jawaban dari pertanyaannya.
“Kenapa lo?”
“Nggak papa, kok. Eh… gue ke sini sama Juni.” Mei menaikkan sebelah alisnya alisnya.
“Ya udah, lo ngantri depan Didit, biar dapet meja duluan.”
“Eh… kenapa nggak barenga aja?” April setengah protes saat ditempatkan di depan Didit.
Mei menggeleng. “No. Kami nggak mau ganggu ‘pembicaraan’ kalian. Ngomong - ngomog Bang Jun mana?”
“Pembicaraan apanya. Udah kelar kok tadi pas mau ke sini. Iya, Jun mana ya? Mungkin dia udah pulang duluan, Kak. Kalau gitu gue juga pulang aja…”
Kalimatnya terpotong saat mendadak seseorang menarik ekor kudanya pelan dari belakang.
“Jangan suka ambil kesimpulan sendiri untuk hal - hal yang berhubungan dengan orang lain, bisa, nggak, sih? Kebiasaan jelek!”
***
Mereka berempat berakhir dengan berada dalam satu meja. Jun tahu banget sih, ini maunya April. Jelas gadis itu nggak mau berada dalam satu ruangan dengannya hanya berdua saja. MeJun bisa ngapain dia, sih?!
Kalau bayangan Jun sih, dia bisa ngapain aja sama April. Tapi Jun masih waras, kok, buat nggak melakukan hal gila di ruang publik. Dia jago kok kalau di suruh jaim. Tapi kalau dilihat dalamnya, ya jangan kaget, bobrok luar biasa. Setidaknya, Jun masih mengakui itu. Dia nggak munafik.
Tapi gara - gara begini, suasananya jadi canggung banget. Kelihatan banget dari wajah pasangan yang satu lagi yang aslinya mereka nggak ingin berada di antara Jun dan April. Yang satu eneg, yang satunya lagi kebingungan nggak tau harus ngapain.
“Yang, mau nambah?” Suara Mei yang pecah karena sedari tadi hanya diam saja, memecah keheningan di antara mereka.
Di situasi biasa, ini lucu banget. Terutama Jun. Dia pasti sudah ngakak nggak tau malu kalau ada hal yang malu - maluin begitu. Tapi hari ini pengecualian. Malah, mungkin habis ini dia bisa sakit perut gara - gara gagal mencerna apa saja yang dimakannya hari ini. Tapi ya sudah, sudah terlanjur. Harus tetap dinikmati. Biar bagaimanapun, ini adalah momen langka.
Padahal baru beberapa minggu kemarin dia rumpi sama April buat gangguin Mei pacaran. Eh, kejadiannya kenapa harus hari ini? Pas suasana antara Jun dan April masih saling canggung? Definisi bahwa Tuhan memberikan apa yang kita butuhkan, bukan yang kita inginkan.
“Nggak, Beb. udah kenyang.”
“April mau nambah nggak?” Jun menyambar kesempatan. Selama bukan dia yang memecahkan kesunyian pertama kali, bodo amat.
Yang ditanya mendongak dari mangkuknya. Mereka sedang makan di restoran jepang. April makan Katsu don. Lebih pas lagi kalau dibilang April sedang ngaca di dasar mangkuk Katsu don, sih. Karena dari tadi, gadis itu nyaris nggak mengangkat kepalanya dari mangkok besar yang ada di depannya.
“Hah? Oh, nggak. Makasih.”
Astaga, April bilang makasih, sama dia. Mei aja sampai melotot begitu. Tapi masa udah, begitu saja? Coba lagi, lah.
“Es krim?”
Dalam keadaan normal, April nggak akan mungkin menolak es krim. Tapi sekarang…
“Nggak dulu, deh. Gue lagi dapet. Takut sakit perut.”
“Oh… oke.”
“Oke.” Didit ikut - ikutan menyahut yang membuatnya diganjar sodokan siku oleh Mei.
Ini sih bukan cuma canggung, tapi maha canggung.
“Kalian nggak mau pesen lagi? Minum?”
Mei dan Didit saling lihat - lihatan. Seperti mempertimbangkan sesuatu. Jun sudah tahu jawaban apa yang akan mereka berikan bahkan sebelum mereka berucap, jadi dia mengangguk dan mengangkat tangannya untuk memanggil waiters. Bayar! Pulang.
Tapi kenapa dia yang bayar? Nggak tau, kebiasaan. Kalau ada Mei dan April, dia kebiasaan bayarin. Bukan karena Jun berpikir mereka nggak bisa bayarin Jun, atau nggak bisa bayar sendiri, tapi… rasanya Jun selalu merasa bertanggung jawab kalau makan atau pergi - pergi sama mereka.
Setelahnya beres, mereka berempat beriringan keluar dari restoran. Mereka baru hendak berpamitan satu sama lain, April tetap sama Jun. Jun yang insist.
“Mending sama gue, congek, daripada jadi nyamuk sama kalian,” Begitu kata Jun.
“Ih bener, kan! Gue liatin dari tadi,. Ternyata beneran lo, Beb!”
***
April memperhatikan ekspresi wajah semua orang jadi menegang saat ada yang menepuk Jun dan menyapanya dengan riang. April mengenalinya sebagai Mbak - mbak yang pernah datang ke kantornya dulu dan nyaris bikin panggung dengan Jun dan Bu Sabrina di Lobby.
Pacar Jun?
“Kok lo nggak nyapa gue sih, Beb. Gue di dalem lagi sama temen - temen. Ikut masuk lagi, yuk. Mau gue kenalin nggak?”
Perempuan itu tadi sempat menyenggol April, membuat gadis itu sedikit terdorong menjauh. Dan sekarang sudah melendoti lengan Jun seperti monyet yang melendot di batang kayu. Jengah sebenarnya dengan pemandangan ini. Dalam keadaan biasa, dia akan biasa saja dan mengabaikan saja yang begini, Tapi hatinya sedang rapuh. Bahkan mendengar cara Mbak - mbak itu berbicara pada Jun saja dia sudah merasa nelangsa dan ingin menangis.
Aduh, tolongin April, dong. Seseorang, please culik April dari sana.
April nggak menyangka kalau doanya dikabulkan seketika itu juga. Mei langsung menyalak galak pada tamu tak diundang tersebut. Mendorongnya agar menjauh dari Jun dengan pandangan garang tak terima.
“Najis banget masuk sama lo. Sono ih, jangan pegang - pegang Bang Jun. Kesian nanti dia kudu mandi tujuh kali gara - gara lo pegang!”
“Lo! Sembarangan aja! Lo pikir gue anj*ng apa?!”
“Loh? Bukan? Gue kira satu spesies!”
“Mulut lo ya, Meita, beneran nggak ada sensornya! Gue udah sabarin…”
“Hahahaha kebalik blo*n! Gue yang nyabarin diri karena harus tahan menghirup udara yang sama dengan makhluk kaya lo!”
April sedikit panik karena mendadak Kakaknya dan perempuan pendatang baru yang nggak April tahu namanya itu mulai saling dorong - dorongan bahu, membuat para calon pelanggan resto yang tadinya antri ingin menunggu giliran masuk ke dalam jadi menoleh menonton mereka.
April hendak maju untuk melerai saat tangannya ditarik sesorang dan di bawa masuk lagi ke dalam mobil. Jun.
“Juni, kita harus tolongin Kaka!”
Cklek
April melotot saat menyadari Jun sudah mengunci semua pintu mobil dengan kunci central. “Buka, Jun. Kita harus nolongin, Kak Mei.”
“Nggak perlu. Ada Didit. Lo jangan ke mana - mana.”
Sesuatu dalam nada suara Jun yang nggak biasa membuat April berhenti mencoba membuka pintu dan berbalik menghadapnya, hanya untuk menemukan pria itu sudah berada dekat banget di belakangnya. Reflek, April meletakkan tangannya di d**a Jun, berniat mendorong Jun sedikit menjauh. Mereka terlalu dekat. Sampai - sampai April mendadak jadi sesak nafas. Matanya melihat mata Jun yang sedang terfokus ke bagian tertentu di wajahnya… bibir?
Tapi usahanya untuk mendorong Jun gagal saat Jun tiba - tiba beringsut lebih dekat, mencekal pergelangan tangannya, mengangkatnya ke atas sehingga menempel pada kaca pintu mobil. Dan merendahkan tubuhnya. Melenyapkan jarak di antara mereka.
PS:
Habis ini kalau masih ada yang bilang Vee pelit, nggak tau lagi lah aku, definisi nggak pelit menurut dia itu yang kaya gimana, hiks.
Ini bukan week end, dan aku kasih kalian double up loh huhuhu
Syelamat menikmatiii~