Bab 7. Malam Pertunangan

1205 Words
Brian menyalakan sebatang rokok, mengisapnya dalam-dalam, lalu membuang napas perlahan. Dia sudah terbiasa menghadapi risiko. Sebagai polisi, dia sering menangani kasus berat seperti obat-obatan terlarang, pembunuhan, kejahatan terorganisir. Tapi ini berbeda. Ini bukan sekadar kasus. Ini tentang Gesi. Dan kali ini, dia harus bertindak di luar aturan. … Brian kembali ke hotel Arya Grand keesokan paginya, berpakaian santai seolah hanya tamu biasa. Dia menyelinap ke lantai dua, memeriksa kamar 210 yang tadi malam menjadi saksi pertemuannya dengan Gesi. Sudah kosong. Tidak ada jejak apa pun. Namun, instingnya mengatakan sesuatu. Dia berjalan menyusuri lorong, lalu melihat sesuatu yang menarik perhatiannya. Sebuah kamera CCTV di sudut langit-langit. Jika dia bisa mendapatkan rekaman CCTV semalam, dia bisa tahu siapa saja yang datang ke kamar Gesi dan mungkin menemukan sesuatu yang bisa dia gunakan melawan Mahendra Wijaya. Brian turun ke area keamanan hotel, pura-pura bertanya pada resepsionis. “Gue kehilangan dompet di lantai dua tadi malam. Bisa bantu cek CCTV?” Petugas keamanan, seorang pria gemuk dengan wajah bosan, mengangguk. “Gue bisa cek. Lo inget jam berapa kira-kira?” Brian menahan senyum tipis. Semudah ini, huh? “Tengah malam,” jawabnya santai. Petugas itu mulai membuka rekaman di komputer. Brian memperhatikan layar dengan seksama. Tapi yang dia lihat membuat darahnya berdesir. Rekaman menunjukkan dua pria satpam masuk ke kamar Gesi. Lalu, beberapa menit kemudian, seorang pria lain menyusul. Bukan Mahendra Wijaya. Bukan seseorang yang Brian kenal. Pria itu mengenakan setelan mahal, berjalan dengan percaya diri, dan berbicara dengan satpam seolah dialah yang mengendalikan situasi. Brian menyipitkan mata. Siapa dia? “Bisa lo pause di situ?” tanya Brian. Petugas keamanan menghentikan rekaman tepat saat pria itu menoleh sedikit ke arah kamera. Wajahnya terlihat jelas. Brian tidak mengenalnya… tapi dia tahu ke mana harus mencari tahu. Dia segera keluar dari hotel, mengambil ponselnya, lalu menghubungi seseorang. Brandon. Seorang teman dan orang yang punya koneksi di dunia yang lebih gelap dari sekadar hukum. Brian butuh informasi. Dan dia akan mendapatkan jawabannya, malam ini juga. … Malam itu, Brian bertemu dengan Brandon di sebuah bar kecil di sudut kota. Brandon, pria berusia awal 30-an dengan jaket kulit dan ekspresi santai, sedang menyesap minumannya ketika Brian duduk di hadapannya. “Gue butuh bantuan lo,” kata Brian tanpa basa-basi. Brandon mengangkat alis. “Sejak kapan lo minta tolong sama gue?” Brian menaruh ponselnya di atas meja, menunjukkan tangkapan layar dari rekaman CCTV. “Lo kenal orang ini?” Brandon menyipitkan mata, lalu menghela napas panjang. “b******k,” gumamnya. Brian menegang. “Lo kenal dia?” Brandon mengangguk pelan. “Itu Ardy Suryacipta.” Brian menyipitkan mata. Nama itu terdengar familiar. “ASN, eselon 3 di Dirjen Pajak,” lanjut Brandon. “Tapi di balik layar, dia jauh lebih dari itu. Dia bagian dari jaringan pencucian uang yang udah bertahun-tahun jalan mulus tanpa tersentuh.” Brian mengepalkan rahangnya. “Lo yakin?” Brandon menyeringai. “Lo pikir kenapa dia nggak pernah ketangkep meskipun banyak laporan? Karena dia punya banyak koneksi. Salah satu yang paling kuat…” Brandon menatap Brian tajam. “Mahendra Wijaya.” Brian mengutuk dalam hati. Jadi ini bukan cuma tentang pajak atau pencucian uang biasa. Ini sudah menyentuh lingkaran kekuasaan. Dan kalau Ardy Suryacipta ada di sana malam itu, berarti Gesi juga ada di dalam pusaran ini. Entah sebagai korban… Atau sebagai bagian dari permainan. … Brian memandangi layar ponselnya dengan ekspresi dingin. Nama Ardy Suryacipta kini bukan hanya sekadar seorang pejabat eselon 3 di Dirjen Pajak, dia adalah tokoh kunci dalam jaringan pencucian uang yang melibatkan Mahendra Wijaya. Dan yang lebih membuat Brian muak… Orang itu akan menikahi Gesi. … Brian duduk di dalam mobilnya, mematikan rokok yang baru setengah dihisap. Tangannya menggenggam setir erat, seolah menahan diri agar tidak menghancurkan sesuatu. Dia sudah menyelidiki lebih jauh setelah pertemuannya dengan Brandon. Sebuah kabar tersiar di kalangan pejabat tinggi: Mahendra Wijaya telah menjodohkan putrinya dengan Ardy Suryacipta. Pertunangan mereka akan diumumkan minggu depan dalam acara tertutup di sebuah hotel mewah. Brian menutup matanya. Dulu, dia mencintai Gesi dengan seluruh hidupnya. Sekarang, perempuan itu akan menjadi istri dari pria yang terlibat dalam skandal. Sebuah kebetulan? Atau Gesi memang dikorbankan oleh ayahnya demi melindungi bisnis kotor mereka? Brian tak tahu mana yang lebih menyakitkan: Fakta bahwa Gesi bisa jadi bagian dari konspirasi ini… atau kenyataan bahwa dia akan segera menikah dengan pria lain. … MALAM PERTUNANGAN Brian menyusup ke Hotel Imperial, tempat acara pertunangan eksklusif itu berlangsung. Dia memakai setelan hitam, menyamar sebagai tamu. Ruangan ballroom penuh dengan pejabat tinggi, pengusaha, dan elite politik. Sebuah panggung besar berdiri di tengah, dengan hiasan bunga putih yang berlebihan. Di ujung ruangan, Mahendra Wijaya berdiri dengan senyum penuh wibawa, menerima ucapan selamat dari para tamu. Lalu matanya menangkap sosok itu. Gesi. Dia mengenakan gaun merah marun yang elegan, rambutnya ditata rapi. Wajahnya tetap cantik seperti dulu, tapi ada sesuatu yang berbeda. Matanya kosong. Seolah-olah dia hanya boneka yang dipajang dalam acara ini. Di sampingnya, Ardy Suryacipta berdiri dengan senyum percaya diri. Brian mengepalkan tangannya. Gesi benar-benar akan menikah dengan pria itu? Sesuatu dalam dirinya menolak percaya. Dia harus tahu apakah ini benar-benar pilihan Gesi… atau dia hanya dikorbankan dalam permainan politik ayahnya. … Brian menyusup ke belakang panggung, menunggu momen yang tepat. Ketika Gesi berjalan sendirian menuju balkon, dia segera menyusulnya. Gesi terkejut melihatnya. “Brian?” “Jangan teriak,” kata Brian cepat. “Gue cuma mau bicara.” Gesi menatapnya dengan tatapan yang sulit ditebak. “Kenapa lo di sini?” suaranya rendah. Brian menarik napas dalam. “Gue cuma mau tanya satu hal. Lo beneran mau nikah sama dia?” Gesi tidak langsung menjawab. Matanya bergerak gelisah, seolah mencari jawaban. Lalu dia tersenyum samar, senyum yang terasa dipaksakan. “Ini keputusan terbaik.” “Bullshit,” Brian menyela dingin. Gesi terdiam. “Lo tahu siapa Ardy, kan?” lanjut Brian. “Lo tahu bisnis kotor yang dia jalani? Ini bukan sekadar pernikahan, Ges. Ini transaksi.” Gesi membuang napas, seolah menahan emosi. “Bukan urusan lo, Brian.” “Tentu aja ini urusan gue!” suara Brian meninggi. “Gue nggak bakal diem aja liat lo dijual ke orang kayak dia!” Gesi menoleh tajam. “Dijual?” suaranya penuh kemarahan. “Gue bukan barang, Brian!” Brian mendekat. “Kalau lo bukan barang, kenapa lo nggak kabur?” Hening. Untuk sesaat, hanya suara musik ballroom yang terdengar dari kejauhan. Brian menatap mata Gesi, mencari kebenaran di dalamnya. Dan akhirnya, Gesi berbisik lirih, hampir tak terdengar: “Gue nggak bisa, Brian.” Jawaban itu lebih menyakitkan dari pukulan apa pun. Gesi tidak menyangkalnya. Dia tidak berkata bahwa dia mencintai Ardy. Dia hanya berkata tidak bisa. Brian menggertakkan giginya. “Kalau gitu, gue bakal cari cara supaya lo bisa.” Gesi menggeleng cepat. “Jangan, Brian. Lo nggak tahu seberapa besar taruhannya.” Brian menyentuh dagunya, memaksanya menatapnya. “Dengar gue, Ges. Kalau lo butuh bantuan, kasih gue tanda.” Gesi menatapnya lama. Lalu, dengan suara bergetar, dia berkata: “Terlambat, Brian. Lo harus berhenti mencari gue.” Dan sebelum Brian sempat menjawab, Gesi berbalik dan berjalan pergi menuju ke pesta yang bukan miliknya. Brian hanya bisa berdiri di sana, dengan amarah dan kebingungan berkecamuk di dadanya. Tapi satu hal sudah pasti: Gesi tidak bahagia. Dan dia tidak akan tinggal diam.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD