Brian duduk di dalam mobilnya, menatap pantulan wajahnya di kaca spion. Percakapan dengan Gesi tadi masih terngiang-ngiang di kepalanya.
“Terlambat, Brian. Lo harus berhenti mencari gue.”
Tapi Brian bukan tipe yang menyerah begitu saja.
Dia mengeluarkan ponselnya, membuka folder berisi semua informasi yang sudah dia kumpulkan tentang Ardy Suryacipta dan jaringan pencucian uang di Dirjen Pajak. Semua bukti ini cukup untuk menjerat Ardy, hanya butuh satu langkah terakhir.
Mereka butuh orang dalam.
Seseorang yang cukup dekat dengan Ardy untuk menjatuhkannya dari dalam.
Dan Brian tahu persis siapa orang itu.
…
Pertemuan dengan Brandon
Brandon menyesap kopinya, lalu menatap Brian dengan ekspresi serius.
“Lo mau nyuruh gue ngapain?”
Brian melemparkan sebuah amplop di atas meja kafe. Brandon mengambilnya, membuka isinya, lalu matanya menyipit saat melihat foto-foto dan dokumen di dalamnya.
“Ardy Suryacipta,” gumamnya. “Gue tahu dia kotor, tapi ini… gila.”
“Dia bukan cuma koruptor,” kata Brian pelan. “Dia juga punya hubungan dengan mafia. Dan sekarang, dia mau nikahin Gesi.”
Brandon menutup amplop itu dan menatap Brian lekat-lekat.
“Lo mau gue ngejebak dia?”
Brian mengangguk. “Lo masih punya akses ke jaringan keuangan Dirjen Pajak, kan? Gue butuh lo buat cari celah yang bisa kita gunakan buat menjatuhkan dia.”
Brandon mendecak. “Gue bisa coba, tapi ini berisiko. Ardy punya banyak koneksi di dalam. Lo sendiri? Lo mau ngapain?”
Brian menatap keluar jendela, melihat lalu lintas Jakarta yang ramai.
“Gue mau bikin dia kehilangan sesuatu yang paling dia butuhkan.”
Brandon mengernyit. “Maksud lo?”
Brian tersenyum dingin. “Gesi.”
…
Malam itu, Brian sudah siap di depan rumah mewah keluarga Wijaya di kawasan Menteng.
Dari informasi yang dia dapatkan, Gesi sekarang tinggal di sana, di bawah pengawasan ketat. Tidak ada yang bisa masuk atau keluar tanpa seizin Mahendra Wijaya.
Tapi Brian selalu punya cara.
Dia menekan tombol di earpiece-nya. “Brandon, lo di posisi?”
“Di seberang jalan,” suara Brandon terdengar di telinganya. “CCTV udah gue matiin selama sepuluh menit. Lo harus cepat.”
Brian menarik napas dalam.
Dia lompat melewati pagar belakang, mendarat tanpa suara di taman belakang rumah itu. Langkahnya cepat, melewati semak-semak dan menuju jendela kamar Gesi di lantai dua.
Dengan cekatan, dia memanjat pipa drainase dan sampai di balkon dalam hitungan detik.
Dari celah tirai, dia bisa melihat Gesi duduk di tepi ranjang, memandangi cincin pertunangannya dengan ekspresi kosong.
Brian mengetuk kaca jendela pelan.
Gesi tersentak dan langsung berdiri. Matanya melebar saat melihat sosok Brian di sana.
Dia buru-buru membuka jendela. “Brian, lo gila?”
“Ikut gue,” kata Brian tegas.
Gesi menatapnya dengan mata penuh emosi. “Gue nggak bisa.”
“Terserah lo mau bisa atau nggak,” Brian meraih tangannya. “Tapi gue nggak bakal biarin lo nikah sama b******n itu.”
Gesi terdiam.
Di luar, suara langkah kaki terdengar.
“Mereka datang,” bisik Gesi panik.
Brian mengencangkan genggamannya di tangan Gesi. “Pilihan lo, Ges. Lo ikut gue, atau lo tetap di sini dan jadi alat negosiasi buat bokap lo?”
Gesi menggigit bibirnya. Lalu, untuk pertama kalinya sejak lama, dia mengangguk.
“Oke.”
Brian menariknya keluar jendela, dan mereka berdua menghilang ke dalam kegelapan malam.
…
Angin malam menusuk kulit saat Brian dan Gesi berlari melintasi taman belakang rumah Mahendra Wijaya. Suara langkah kaki di dalam rumah semakin mendekat.
“Lapor, calon nyonya hilang!” suara seorang pengawal terdengar di radio komunikasi.
Brian menarik Gesi ke balik semak-semak. Gesi terengah-engah, matanya penuh ketakutan.
“Brian, ini gila…” bisiknya.
“Ssst… diem,” sahut Brian pelan.
Dua pria berbadan kekar berlari ke arah taman, menyorotkan senter ke sekeliling.
“Lo yakin dia ke arah sini?”
“Kalau bukan, dia pasti masih di dalam rumah.”
Brian melirik ke arah pagar belakang. Dua pengawal berjaga di sana.
Dia menekan tombol di earpiece-nya. “Brandon, ada cara keluar lain?”
Suara Brandon terdengar di telinganya. “Jalan belakang dijaga ketat. Tapi ada terowongan servis di sisi timur rumah, di balik gudang.”
Brian langsung menarik tangan Gesi. “Ikut gue.”
Mereka bergerak cepat, menempel ke bayangan pepohonan agar tidak terlihat. Sampai akhirnya mereka tiba di belakang gudang kecil.
Brian meraba-raba dindingnya dan menemukan pintu kecil yang hampir tersembunyi. Dia merusak kunci dengan obeng kecil yang selalu dia bawa.
Klik.
Pintu terbuka, memperlihatkan lorong sempit yang gelap.
“Masuk,” perintah Brian.
Gesi melangkah ragu-ragu ke dalam. Brian mengikutinya, lalu menutup pintu pelan.
Mereka berjalan dalam kegelapan, hanya diterangi lampu dari ponsel Brian.
“Nggak nyangka rumah bokap lo punya tempat kayak gini,” gumam Brian.
“Bokap gue paranoid,” Gesi berbisik. “Dia selalu punya jalur rahasia buat kabur kalau ada bahaya.”
Brian tersenyum kecil. Ironis. Sekarang dia yang menggunakan jalur itu untuk menculik putrinya sendiri.
Beberapa menit kemudian, mereka sampai di ujung lorong. Brian membuka pintu besi tua dengan hati-hati.
Di luar, mereka langsung disambut oleh suara mesin mobil menyala.
Brandon menunggu di dalam sedan hitam, kaca jendelanya terbuka.
“Masuk cepat!” katanya.
Brian dan Gesi buru-buru masuk, dan mobil langsung melaju ke jalan utama.
…
Brandon membawa mereka ke sebuah apartemen sewaan di daerah Tebet. Lokasinya tersembunyi, jauh dari radar Mahendra dan Ardy.
Begitu sampai, Gesi langsung duduk di sofa, masih terengah-engah.
Brandon menatapnya tajam. “Lo sadar apa yang baru aja lo lakuin?”
Gesi mengusap wajahnya. “Gue nggak tahu. Gue cuma… nggak mau hidup kayak gini.”
Brian berdiri di dekat jendela, mengamati jalanan di bawah. “Sekarang kita harus bikin rencana. Mahendra nggak bakal diem aja.
Begitu juga Ardy.”
Brandon mengangguk. “Gue bakal cari cara buat ngejebak Ardy dengan bukti pencucian uangnya. Tapi lo harus jaga Gesi. Kalau mereka nemuin kita duluan, habis sudah.”
Gesi menatap Brian dengan ekspresi serius. “Lo yakin ini keputusan yang benar?”
Brian menatapnya balik, lalu menjawab tanpa ragu.
“Kalau itu bisa menyelamatkan lo dari mereka, gue nggak peduli seberapa bahaya ini.”
…
Brian baru saja kembali dari balkon saat ponselnya bergetar. Nomor tidak dikenal.
Dia mengangkatnya.
“Jadi begini cara lo main, Brian?”
Suara berat yang sudah sangat familiar. Mahendra Wijaya.
Brian menggenggam ponsel lebih erat. “Gesi ada di tempat yang lebih aman sekarang.”
Mahendra tertawa kecil. “Aman? Lo pikir lo bisa ngelindungin dia dari gue? Lo lupa siapa gue, Brian?”
Brian melirik ke arah Gesi yang sedang duduk di sofa. Dia terlihat gelisah, seolah tahu siapa yang sedang menelepon Brian.
“Apa maunya lo?” Brian bertanya dengan nada dingin.
“Apa yang selalu gue mau,” jawab Mahendra. “Gesi kembali, dan lo keluar dari permainan ini sebelum semuanya jadi buruk buat lo.”
Brian mencengkeram rahangnya, mencoba menahan amarah. “Gue nggak bakal ninggalin Gesi di tangan Ardy.”
Mahendra mendecak pelan. “Lo pikir lo penyelamat, ya? Tapi lo nggak lebih dari pengganggu. Dan pengganggu harus disingkirkan.”
Sebuah pesan masuk ke ponsel Brian. Dia membukanya.
Foto dirinya dan Gesi diambil dari kejauhan, tepat di apartemen ini.
Mata Brian menyipit. Mereka sudah menemukan mereka.
“Gue kasih lo waktu enam jam,” lanjut Mahendra. “Kalau lo masih keras kepala, gue pastikan lo nggak akan punya tempat aman lagi di kota ini.”
Klik. Sambungan terputus.
Brian mengepalkan tangan.
Brandon yang duduk di meja kerja langsung tahu ada masalah. “Si tua itu tahu kita di sini?”
Brian mengangguk. “Kita harus pindah. Sekarang.”
Gesi menatap Brian dengan cemas. “Lo yakin kita bisa kabur?”
Brian menatapnya serius. “Kita nggak punya pilihan lain.”
Tapi sebelum mereka bisa bergerak, suara keras terdengar dari bawah. Deru mesin mobil dan langkah kaki yang tergesa-gesa.
Brandon mengintip dari jendela. “Mereka sudah di sini.”
Brian menarik napas dalam.
Mereka harus keluar. Dan mereka harus keluar sekarang.