Bab 9. Persimpangan Takdir

760 Words
Suara langkah kaki mendekat di lorong apartemen. Brian mengintip dari lubang pintu dan melihat tiga pria berbadan besar berpakaian hitam. “Gesi, kita harus pergi sekarang,” bisik Brian. Brandon membuka jendela balkon. “Kita bisa turun lewat tangga darurat.” Tanpa berpikir panjang, mereka bergerak. Brian menggenggam tangan Gesi erat saat mereka melewati balkon menuju tangga besi yang berkarat. Dari bawah, suara mobil terdengar. Mereka sudah mengepung tempat ini. Brandon mengeluarkan pistolnya. “Gue siapin jalan keluar. Lo bawa Gesi.” Brian mengangguk. Dia tahu Brandon akan menahan mereka cukup lama. Saat mereka turun ke lantai bawah, pintu apartemen mereka dihantam keras. Mereka masuk. Brandon menunggu di ambang pintu dengan pistol terangkat. Begitu seorang pria berbaju hitam muncul, Brandon menembak tanpa ragu. DOR! Brian dan Gesi sampai di gang belakang. Sebuah motor terparkir di sana. Brian segera naik dan menarik Gesi untuk duduk di belakangnya. “Pegangan yang kuat.” Gesi melingkarkan tangannya di pinggang Brian saat motor melaju kencang meninggalkan apartemen. Di belakang, Brandon masih bertahan. Tapi dia tahu ini mungkin pertempuran terakhirnya. ... Brian melajukan motornya ke jalan kecil, mencoba menghindari mobil-mobil pengejar. Tapi tak butuh waktu lama sebelum sebuah SUV hitam muncul di depan mereka, menghadang jalan. Dari dalam mobil, Mahendra Wijaya turun dengan tenang. Brian menghentikan motor dan menatap pria itu tajam. “Lo nggak bisa lari selamanya, Brian,” kata Mahendra. Gesi turun dari motor, berdiri di samping Brian. “Papa, biarin aku pergi!” Mahendra tertawa kecil. “Gesi, lo ini anak gue. Gue nggak bakal biarin lo ngancurin masa depan lo buat polisi sialan ini.” Brian melangkah maju. “Gue nggak akan ninggalin dia.” Mahendra menggeleng. “Lo nggak punya pilihan, Brian.” Dari belakang, terdengar suara langkah kaki. Orang-orang Mahendra mengepung mereka. Brian melihat ke sekeliling. Mereka terpojok. Gesi menggenggam tangan Brian. Mereka berdua tahu ini mungkin akhirnya. Mahendra menghela napas. “Gue akan kasih lo satu kesempatan terakhir. Pergi, Brian. Tinggalkan Gesi, dan lo bisa tetap hidup.” Brian menatap Gesi. Mata wanita itu basah. Tapi di dalamnya, ada tekad yang kuat. Brian menarik napas dalam. Lalu, dia berkata: “Gue lebih baik mati daripada ninggalin dia.” Mahendra menghela napas panjang. “Sayang sekali.” Dia memberi isyarat. Seseorang mengarahkan pistol ke kepala Brian. Gesi menjerit. BRAK! Suara tembakan menggema di gang sempit itu. Gesi menjerit, mengira Brian telah tertembak. Tapi saat dia membuka mata, bukan Brian yang jatuh, melainkan salah satu anak buah Mahendra. Dari arah belakang, Brandon muncul dengan pistol terangkat, asap masih mengepul dari moncongnya. “Maaf telat,” katanya sambil menembak lagi. DOR! Situasi langsung kacau. Brian menarik Gesi dan berlari ke arah motor yang masih menyala. “Cepat naik!” Tanpa ragu, Gesi naik ke belakang Brian. Motor melaju dengan kecepatan penuh, meninggalkan suara tembakan yang semakin jauh di belakang mereka. Mahendra melihat semua itu dengan wajah marah. Dia berbalik ke anak buahnya. “Kejar mereka! Jangan biarkan mereka lolos!” … Brian melajukan motornya melewati jalan-jalan kecil di Jakarta. Gesi memeluknya erat dari belakang. “Gue nggak percaya kita berhasil keluar dari sana,” bisik Gesi. “Belum,” jawab Brian. “Mahendra nggak akan diam saja.” Brandon mengikuti mereka dari belakang dengan mobil. Setelah memastikan tidak ada yang membuntuti, mereka berhenti di sebuah rumah aman di pinggiran kota. Saat Brian turun dari motor, tubuhnya limbung. Gesi langsung menangkapnya. “Brian!” Baru saat itu Gesi melihat darah merembes dari sisi perutnya. Brian tersenyum lemah. “Kayaknya gue kena.” Brandon membuka bagasi mobil dan mengambil kotak P3K. “Masuk ke dalam. Gue bakal nanganin ini.” … Dua bulan kemudian. Di dalam sebuah rumah mewah di Jakarta Selatan, Gesi duduk termenung di balkon kamarnya. Dari jendela, dia bisa melihat pemandangan kota yang ramai. Tapi semua terasa kosong. Dia seperti burung dalam sangkar emas. Dia telah dibawa pulang. Mahendra akhirnya menang. Setelah pengejaran panjang, dia berhasil menemukan dan menarik Gesi kembali ke dalam kehidupannya, sebuah kehidupan yang telah dia rancang sejak awal. Brian? Dia masih hidup. Tapi entah di mana. Mahendra memastikan Brian tidak bisa lagi mendekati Gesi. Tidak ada kabar, tidak ada pesan, tidak ada jejak. Gesi menggenggam liontin kecil di lehernya. Liontin yang diberikan Brian sebelum mereka berpisah paksa. Suara ketukan pintu membuatnya tersentak. Seorang pelayan masuk. “Nona, Tuan Mahendra ingin Anda bersiap untuk makan malam.” Gesi hanya mengangguk tanpa menjawab. Dia tahu, di luar kamar ini, dunia masih berjalan seperti biasa. Tapi hatinya telah berhenti di hari saat Brian menghilang dari hidupnya. Dan dia tidak tahu apakah dia masih punya harapan untuk bertemu kembali dengannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD