Bab 10.Tim Forensik

1041 Words
KILAS BALIK SELESAI - Kembali Ke Waktu Sekarang Suasana apartemen Brian dipenuhi bau logam yang tajam. Lampu masih menyala redup, menerangi sosok pria yang tergeletak tak bernyawa di lantai. Mulutnya berbusa, matanya terbuka kosong. Brian berdiri di sudut ruangan, masih berusaha mencerna apa yang baru saja terjadi. Di hadapannya, mayat pria itu tergeletak dengan mulut berbusa karena sianida. Brian mengusap wajahnya, merasakan keringat dingin di pelipisnya. Dia tidak mengenal pria itu, tapi jelas ini bukan kebetulan. Seseorang mengirim pria ini untuk menghabisinya. Tapi sesuatu terjadi di luar rencana. Entah karena rasa bersalah, ketakutan, atau alasan lain yang Brian belum tahu, pria itu memilih mengakhiri hidupnya sendiri. … KEDATANGAN TIM FORENSIK Tak butuh waktu lama sebelum polisi dan tim forensik memenuhi apartemen Brian. Garis polisi dipasang, sementara petugas mulai mengumpulkan bukti. Seorang penyidik senior, Komisaris Danton, berdiri di tengah ruangan dengan ekspresi serius. Dia menatap Brian yang duduk di sofa dengan tangan terlipat. “Kau bisa jelaskan ini?” tanyanya. Brian menghela napas panjang. “Gue nggak kenal orang ini. Dia masuk ke apartemen gue, bawa pisau, lalu tiba-tiba menelan sianida dan mati di depan gue.” Danton menyipitkan mata. “Terlalu kebetulan, kan?” Brian hanya diam. Di sudut ruangan, tim forensik menemukan sesuatu. Sebuah rekaman CCTV internal. “Pak, kita dapat rekaman dari kamera di apartemen ini,” kata salah satu petugas. Danton mengambil flashdisk itu dan menatap Brian. “Kalau lo nggak bohong, lo nggak akan keberatan kita lihat ini, kan?” Brian menegakkan tubuhnya. “Silakan.” Tapi dalam hati, dia tahu… Seseorang pasti sudah menghapus jejak sebenarnya. Dan dia harus mencari tahu siapa yang ada di balik semua ini. … Komisaris Danton memasukkan flashdisk ke laptopnya. Semua mata tertuju pada layar. Rekaman CCTV apartemen Brian mulai diputar. Di layar, tampak Brian baru saja masuk ke apartemen, meletakkan jaketnya di sofa. Tak lama kemudian, seorang pria berbadan tegap masuk tanpa izin. “Siapa dia?” tanya salah satu petugas. Tak ada jawaban. Semua fokus melihat rekaman. Pria itu tampak berbicara dengan Brian, tapi tanpa suara di rekaman, mereka tidak bisa mendengar apa yang dikatakan. Lalu, momen yang mengejutkan terjadi. Pria itu mengambil sesuatu dari sakunya, membuka botol kecil, dan meneguk cairan di dalamnya. Beberapa detik kemudian, dia mulai kejang-kejang dan ambruk ke lantai. Selesai. Danton mengusap dagunya. “Sepertinya memang bunuh diri.” Salah satu petugas forensik menimpali, “Tapi kenapa dia datang ke sini dulu sebelum bunuh diri?” Brian menyandarkan tubuhnya ke sofa. Dia sudah mengira ini. Seseorang telah menghapus bagian penting dari rekaman itu. “Tidak ada suara di rekaman ini?” tanya Danton. Petugas forensik mencoba mengutak-atik file video. “Tidak ada, Pak. Seperti sudah dihapus dari sistem.” Danton mendengus. “Sial. Ada orang lain yang main di sini.” Dia lalu menatap Brian. “Siapa yang mengincarmu?” “Harusnya gue yang nanya, Pak,” kata Brian akhirnya. “Siapa yang cukup berkuasa buat ngehapus rekaman itu sebelum kita sempat lihat?” Danton terdiam. Dia juga tahu ini bukan sekadar kasus bunuh diri biasa. … Pukul dua dini hari. Brian mengenakan jaketnya, menyelipkan pistol ke pinggang, lalu keluar dari apartemen. Dia tidak bisa tinggal diam. Pesan misterius tadi jelas bukan kebetulan. Seseorang mengawasinya, seseorang yang tahu lebih banyak daripada yang dia sendiri pahami. Tapi sekarang pertanyaannya: apakah orang itu sekutu atau musuh? … JALANAN GELAP Brian mengendarai mobilnya ke pusat kota. Tujuannya satu: menemui seseorang yang bisa membantunya mengurai kekacauan ini. Brandon. Mantan rekannya di kepolisian yang sekarang bekerja di keamanan siber. Jika ada orang yang bisa melacak siapa yang menghapus rekaman CCTV itu, Brandon adalah orangnya. … TEMPAT PERTEMUAN Brian memarkir mobilnya di sebuah bar kecil di pinggiran kota. Tempat ini sepi, hanya ada beberapa pelanggan yang duduk sambil menikmati minuman mereka. Brandon sudah menunggunya di sudut ruangan. Pria itu mengenakan hoodie, terlihat seperti seseorang yang tidak ingin dikenali. Brian duduk di hadapannya. “Apa yang lu temukan?” tanya Brian tanpa basa-basi. Brandon mengeluarkan laptop dan menunjukkan layar. “Rekaman CCTV lo nggak cuma dihapus suaranya,” katanya pelan. “Ada seseorang yang masuk ke sistem apartemen lo dan menghapus log aktivitasnya.” Brian menyipitkan mata. “Maksud lo?” Brandon menatapnya serius. “Ini berarti… kita nggak cuma berurusan sama orang biasa. Ini kerjaan orang dalam.” Brian merasakan ketegangan merayapi tulang punggungnya. Orang dalam? Siapa yang cukup kuat untuk melakukan ini? Brandon melanjutkan, “Dan ada satu lagi…” Brian menahan napas. “Apa?” Brandon mengetik sesuatu di laptopnya. “Gue coba meretas balik sistem itu.” Dia menatap Brian. “Dan ternyata, sebelum rekaman CCTV lo dihapus, ada seseorang yang menyalinnya dulu.” Brian langsung tegang. “Siapa?” Brandon menghela napas. “Nama yang terdaftar… Mahendra Wijaya.” Dunia Brian seakan berhenti. Mahendra Wijaya. Wali Kota Jakarta Selatan. Ayah Gesi. … Brian menggenggam gelasnya erat. Nama itu masih menggema di kepalanya. Mahendra Wijaya. Sial. Jadi ini masih ada hubungannya dengan dia? Brandon memperhatikan ekspresi Brian yang berubah. “Gue nggak tahu kenapa nama dia ada di sistem, tapi ini jelas bukan kebetulan.” Brian mengusap wajahnya. “Lo bisa lacak lebih jauh?” Brandon menggeleng. “Gue udah coba, tapi aksesnya dikunci rapat. Kalau gue paksa masuk, bisa-bisa mereka tahu kita ngelacak.” Brian mengembuskan napas panjang. Ini jadi semakin rumit. Mahendra jelas punya kekuatan besar. Jika benar dia yang mengambil rekaman itu sebelum dihapus, berarti dia tahu sesuatu yang tidak boleh Brian lihat. Tapi kenapa? Apa hubungannya dengan pria yang bunuh diri di apartemennya? Brian meminum sisa kopinya. Dia harus mencari tahu sendiri. “Gue butuh nama,” kata Brian akhirnya. “Orang-orang terdekat Mahendra. Siapa yang bisa jadi perantara?” Brandon berpikir sejenak, lalu mengetik sesuatu di laptopnya. “Menantunya… Ardy Suryacipta.” Brian mendengus. “Lagi-lagi dia.” Ardy, suami Gesi. Pejabat di Dirjen Pajak yang terlibat dalam kasus pencucian uang yang sedang Brian selidiki. Sekarang semuanya terasa semakin jelas. Ini bukan kebetulan. Brian menatap Brandon. “Lo bisa cari tahu Ardy ada di mana sekarang?” Brandon tersenyum tipis. “Udah ketebak lo bakal nanya itu.” Dia mengetik cepat, lalu layar laptopnya menampilkan hasil pencarian. “Dia ada di sebuah vila di Puncak. Kayaknya lagi ngilang dari sorotan media.” Brian tersenyum dingin. “Bagus.” Dia bangkit dari kursinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD