Brian tidak tertarik membahas rekaman CCTV itu lebih jauh.
Mungkin memang ada sesuatu yang disembunyikan Mahendra. Tapi sekarang, itu bukan prioritasnya.
Kasus pencucian uang di Dirjen Pajak masih menjadi tugas utamanya. Dan Ardy Suryacipta adalah kunci utama untuk membongkar semuanya.
Brian duduk di depan laptopnya, mengamati data transaksi yang baru saja ia dapatkan.
Brandon berdiri di belakangnya, melipat tangan. “Ini data dari server internal Dirjen Pajak. Gue berhasil nge-c***k sebagian, tapi masih banyak yang terenkripsi.”
Brian menggerakkan mouse, membuka beberapa file. “Gue cuma butuh satu nama.”
Nama yang bisa menghubungkan semuanya rekening fiktif, perusahaan cangkang, aliran dana mencurigakan.
Brandon mengetik cepat di laptopnya sendiri. “Gue coba lacak pola transfernya. Kalau ini pencucian uang, pasti ada pola yang berulang.”
Brian mengangguk. Dia sudah cukup lama bekerja di bidang ini untuk tahu bahwa uang kotor selalu meninggalkan jejak.
Mereka bekerja dalam diam selama hampir satu jam sebelum akhirnya Brandon bersuara, “Gue dapet sesuatu.”
Dia membalikkan layar laptopnya ke arah Brian.
“Perusahaan cangkang yang dipakai buat nyuci uang ini terdaftar atas nama PT Surya Abadi, tapi pemilik sebenarnya tersembunyi di balik dua lapisan perusahaan lain.”
Brian menyipitkan mata, membaca lebih lanjut. “Dan siapa pemilik akhirnya?”
Brandon mengetik lagi, lalu menunjuk satu nama di layar.
Ardy Suryacipta.
Brian mengepalkan tangannya. Jadi benar, Ardy adalah dalang di balik pencucian uang ini.
Brandon meliriknya. “Jadi langkah kita selanjutnya?”
Brian mengembuskan napas panjang. “Gue butuh lebih banyak bukti sebelum nyamperin dia.”
Karena ini bukan sekadar menangkap Ardy. Ini tentang menjatuhkan seluruh jaringan di belakangnya.
…
Brian menelusuri dokumen yang baru saja ia dapatkan. Angka-angka di laporan transaksi itu tidak masuk akal.
“Don, lihat ini.”
Brandon berjalan mendekat, membaca layar laptop Brian. Ada puluhan transfer dalam jumlah besar ke rekening pribadi Ardy Suryacipta.
“Apa ini bonus tahunan?” Brandon menyindir.
Brian menggeleng. “Nggak mungkin. Ini gratifikasi.”
Brandon menyipitkan mata. “Dari siapa?”
Brian membuka satu folder lain. “Gue baru nemuin beberapa transaksi yang mengarah ke pengusaha properti, kontraktor proyek pemerintah, sama perusahaan ekspor-impor.”
Brandon bersiul pelan. “Jadi Ardy nggak cuma nyuci uang. Dia juga terima suap.”
Brian mengangguk. “Ini lebih besar dari yang gue kira.”
Brandon menatap layar laptopnya sendiri. “Gue coba cocokin data ini sama proyek-proyek yang pernah ditangani Dirjen Pajak.”
Brian mengembuskan napas panjang. Jika Ardy benar-benar terlibat dalam gratifikasi skala besar, ini bisa menjatuhkan lebih dari satu nama besar.
…
Setelah beberapa jam menyelidiki, Brian akhirnya menemukan pola transaksi yang mencurigakan. Setiap kali ada proyek besar yang melibatkan perusahaan tertentu, ada uang dalam jumlah besar yang masuk ke rekening Ardy.
Brandon menunjuk layar. “Lihat ini. Setiap kali perusahaan-perusahaan ini menang tender, selalu ada transfer ke rekening Ardy beberapa hari sebelumnya.”
Brian mengetukkan jarinya ke meja. “Itu artinya Ardy jual beli proyek.”
Brandon menghela napas. “Lo bisa buktiin ini di pengadilan?”
Brian terdiam sejenak. Gratifikasi adalah kejahatan yang sulit dibuktikan jika tidak ada bukti langsung.
“Tapi kalau kita bisa temuin salah satu pemberi suapnya, kita bisa pakai dia sebagai saksi,” kata Brian akhirnya.
Brandon menatapnya serius. “Lo ada kandidat?”
Brian mengangguk. “Ada satu nama yang sering muncul dalam transaksi ini. Daniel Ong.”
Brandon mengerutkan kening. “Pengusaha ekspor-impor?”
“Ya. Dan kalau gue nggak salah ingat, dia pernah terlibat dalam kasus serupa beberapa tahun lalu.”
Brandon tersenyum miring. “Bagus. Kalau dia udah pernah main kotor, berarti kita bisa tekan dia.”
Brian menutup laptopnya. “Ayo kita temui Daniel.”
Karena kalau ada seseorang yang bisa membongkar Ardy, itu adalah orang yang pernah menyuapnya.
…
Brian menutup teleponnya dengan ekspresi datar.
Brandon mengangkat alis. “Jadi?”
“Daniel Ong sedang di luar negeri.”
Brandon menghela napas. “Jadi kita kehilangan saksi utama?”
Brian menggeleng. “Bukan kehilangan. Cuma harus cari cara lain.”
Dia kembali duduk, membuka laptopnya. Daniel mungkin tidak bisa ditemui langsung, tapi jejak transaksinya masih ada.
Brandon mendekat. “Kita cari bukti lain?”
Brian mengangguk. “Kalau kita nggak bisa dapet kesaksian Daniel, kita cari jejak uangnya.”
…
Mereka menelusuri kembali laporan keuangan perusahaan Daniel Ong.
Brian mengetik cepat, membuka beberapa dokumen transaksi bank. “Gue masih yakin ada sesuatu yang bisa kita pakai.”
Brandon menunjuk salah satu catatan transfer. “Lihat ini. Daniel mengirim sejumlah besar uang ke sebuah rekening di dalam negeri, tepat sebelum Ardy menerima dana.”
Brian memperbesar layar. “Atas nama PT Nusantara Sukses.”
Brandon berpikir sejenak. “Perusahaan itu terdengar familiar.”
Brian mengetik nama itu di database perusahaan nasional. Beberapa detik kemudian, muncul profil perusahaan.
PT Nusantara Sukses terdaftar sebagai perusahaan jasa konsultasi bisnis.
Brandon menyipitkan mata. “Jasa konsultasi? Serius? Kedengeran kayak perusahaan cangkang.”
Brian mengangguk. Perusahaan fiktif sering digunakan untuk mencuci uang atau menyamarkan aliran dana ilegal.
Dia terus membaca. “Dan lihat siapa pemiliknya.”
Brandon membaca nama yang tertera di layar.
“Hendra Surya.”
Brandon terdiam sesaat, lalu menatap Brian. “Jangan bilang ini ada hubungannya sama Ardy Suryacipta?”
Brian menyeringai. “Kita selidiki lebih lanjut.”
…
Brian mulai mencari informasi tentang Hendra Surya.
Dalam waktu singkat, dia menemukan sesuatu yang menarik.
“Hendra ini bukan orang sembarangan. Dia mantan pegawai Dirjen Pajak.”
Brandon bersiul pelan. “Kalau gitu, dia kemungkinan orang kepercayaan Ardy.”
Brian mengangguk. “Dan dia masih ada di Indonesia.”
Brandon tersenyum miring. “Jadi kita harus nemuin dia?”
Brian menutup laptopnya. “Ya.”
Karena jika Daniel Ong tidak bisa dihubungi, maka Hendra Surya adalah kunci mereka yang berikutnya.
…
Brian menyesap kopi hitamnya sambil membaca ulang data tentang Hendra Surya.
Pria itu adalah mantan pegawai Dirjen Pajak, kini menjalankan perusahaan konsultasi bisnis yang diduga menjadi perantara aliran uang haram dari Daniel Ong ke Ardy Suryacipta.
Brandon bersandar di meja kerja. “Dia tinggal di mana sekarang?”
Brian mengetik cepat, lalu membaca hasil pencariannya. “Apartemen mewah di Jakarta Selatan. Penthouse lantai 25.”
Brandon menyeringai. “Orang yang punya ‘konsultan bisnis’ tapi bisa beli penthouse? Pasti duitnya bersih.”
Brian mendengus. “Kita harus pastiin dulu sebelum bergerak.”
Brandon menatapnya serius. “Lo mau ketemu dia langsung?”
Brian mengangguk. “Ya. Tapi kita harus hati-hati. Kalau dia tahu kita menyelidiki ini, dia bisa kabur.”
Brandon menimbang sejenak. “Gue bisa masuk ke sistem keamanan apartemen itu. Kalau lo mau, gue bisa matiin CCTV beberapa menit.”
Brian berpikir. Dia lebih suka mendekati target dengan cara halus, bukan menyerbu langsung.
“Ada cara lain?”
Brandon mengetuk meja, berpikir. Lalu dia tersenyum. “Gue bisa nyamar jadi kurir.”
Brian menatapnya skeptis. “Lo serius?”
Brandon mengangkat bahu. “Lebih gampang masuk ke gedung apartemen kalau lo kelihatan nggak mencurigakan.”
Brian mempertimbangkannya. Itu bukan ide buruk.
“Baiklah. Kita coba.”
…
Beberapa jam kemudian, Brian berdiri di seberang gedung apartemen mewah itu, mengamati Brandon yang mengenakan seragam kurir fiktif.
Brandon membawa paket kecil dan berjalan ke resepsionis dengan percaya diri. Sikapnya benar-benar seperti kurir sungguhan.
Brian mengamati dari jauh. Jika mereka bisa masuk tanpa ribut-ribut, mereka akan punya kesempatan untuk berbicara dengan
Hendra Surya langsung.
Tapi sesuatu tidak beres.
Brandon sudah berbicara dengan resepsionis selama lebih dari tiga menit.
Brian melihat ekspresi tegang di wajah rekannya.
Lalu Brandon kembali dengan wajah serius.
“Gawat.”
Brian menyipitkan mata. “Kenapa?”
Brandon menatapnya.
“Hendra Surya sudah kabur sejak dua hari lalu.”