Bab 12. Mantan Dirjen Pajak

1318 Words
Brian meremas rahangnya. Hendra Surya sudah kabur. Brandon melipat tangan. “Dua hari lalu. Itu berarti dia tahu kita bakal datang.” Brian menggeleng. “Nggak mungkin. Kita baru nemuin namanya kemarin.” Brandon menyipitkan mata. “Atau ada orang lain yang kasih tahu dia.” Brian menghembuskan napas panjang. Jika ada kebocoran informasi, maka penyelidikan ini jauh lebih rumit dari dugaan mereka. Brandon bersandar di dinding apartemen. “Dia kabur ke mana?” Brian mengetik cepat di ponselnya, mengakses daftar penerbangan internasional. “Nggak ada catatan penerbangan atas nama Hendra Surya dalam dua hari terakhir.” Brandon menyeringai. “Jadi dia masih di Indonesia.” Brian menatapnya. “Atau dia pakai identitas palsu.” Brandon mengetuk dagunya. “Lo ada koneksi buat ngecek lebih dalam?” Brian mengangguk. “Gue bisa minta akses ke data imigrasi. Tapi butuh waktu.” Brandon mendesah. “Berarti kita harus cari dia dengan cara lama.” Brian menatap gedung apartemen di depan mereka. Seseorang pasti tahu ke mana Hendra pergi. … MENANYAI RESEPSIONIS Mereka kembali masuk ke lobi apartemen. Brian menunjukkan lencananya ke resepsionis. “Saya butuh informasi tentang penghuni penthouse, Hendra Surya.” Resepsionis itu tampak gugup. “Saya sudah bilang ke teman Anda, Pak. Pak Hendra meninggalkan apartemen dua hari lalu.” Brian menatapnya tajam. “Apakah dia bilang akan pergi lama?” Resepsionis ragu sejenak sebelum menjawab, “Dia terburu-buru. Bawa koper besar.” Brandon menambahkan, “Ada yang menjemputnya?” Resepsionis mengangguk. “Ya. Mobil hitam. Plat nomor B 1918 JX.” Brian segera mencatatnya. Brandon bersiul pelan. “Kita bisa cari tahu pemilik mobil itu.” Brian mengangguk. Ini mungkin petunjuk terakhir mereka. … Mereka kembali ke mobil Brian. Brandon langsung membuka laptopnya, meretas sistem pencarian kendaraan. “B 1918 JX….” Brandon mengetik cepat. Beberapa detik kemudian, data muncul. Brian membaca nama pemilik kendaraan itu. Hendra Surya sendiri. Brandon mengangkat alis. “Jadi dia kabur pakai mobilnya sendiri?” Brian berpikir. “Atau seseorang menjemputnya dengan mobil itu.” Brandon mengetuk layar laptopnya. “Gue coba cek rekaman CCTV jalanan. Mungkin kita bisa tahu ke mana mobil itu pergi.” Brian mengangguk. “Cepat.” Karena jika mereka tidak menemukan Hendra segera, dia bisa benar-benar menghilang. … Brian dan Brandon mengamati vila dari kejauhan. Penjagaannya terlalu ketat. Dua pria berbadan besar masih berjaga di depan gerbang, dan Brian bisa melihat beberapa kamera keamanan tersembunyi di sudut bangunan. Brandon menghela napas. “Gue rasa nggak mungkin kita masuk tanpa ketahuan.” Brian mengangguk. “Ini bukan cuma tempat persembunyian biasa. Ini markas.” Brandon menatapnya. “Kalau selevel ini, apa kita harus bawa nama besar?” Brian berpikir sejenak. Kasus ini sudah melibatkan pejabat tinggi, mungkin KPK juga sudah mulai mengendusnya. Dia meraih ponselnya, lalu menghubungi seorang kenalan di KPK. Alif. Seorang penyidik yang sudah lama dikenal Brian. Telepon tersambung, dan suara Alif terdengar di seberang. “Brian?” “Alif, lu pernah dengar nama Ardy Suryacipta?” tanya Brian langsung. Di seberang telepon, Alif terdiam beberapa detik. “Kenapa lu nanya?” Brian dan Brandon saling pandang. Respons itu sudah cukup menjadi jawaban. “Kami sedang menyelidiki pencucian uang di Dirjen Pajak,” kata Brian pelan. “Dan Ardy ada di dalamnya.” Alif menghela napas. “Lu mau jawaban jujur?” “Tentu.” “KPK udah lama mengawasi dia. Tapi ada banyak yang nutupin. Kalau lu punya bukti konkret, kasih ke kami.” Brian menggenggam ponselnya erat. Berarti KPK sudah tahu, tapi mereka belum bisa bertindak. Dia menatap vila di depan mereka. Mereka butuh bukti yang lebih besar. Brandon bersandar ke kursi mobil. “Jadi, kita cari cara lain?” Brian mengangguk. “Kita butuh kelemahan mereka.” Brandon menyeringai. “Kalau gitu, ayo cari tahu siapa tikus di dalam sarang.” … Brian menekan pedal gas, membawa mobil keluar dari daerah Puncak. Mereka tak bisa menembus Vila Matahari tanpa rencana yang matang. Brandon duduk di sampingnya, menatap jalanan dengan ekspresi serius. “Jadi, kita balik ke Jakarta?” Brian mengangguk. “Iya. Kita butuh lebih banyak persiapan. Nggak bisa gegabah.” Brandon menghela napas. “Setidaknya, sekarang kita tahu dia ada di sana.” Mobil melaju di jalanan yang mulai sepi. Udara pegunungan terasa dingin, tapi pikiran Brian jauh lebih dingin. Mereka tiba di Jakarta menjelang subuh. Brian langsung menuju apartemennya. Dia butuh istirahat sebelum menyusun rencana berikutnya. Sementara itu, Brandon akan menghubungi beberapa rekannya yang bisa membantu. Pertarungan ini belum selesai. Mereka baru mengumpulkan bidak di papan catur. … Brian menatap papan tulis di hadapannya. Garis-garis merah menghubungkan foto-foto yang tertempel di sana Ardy Suryacipta, Mahendra Wijaya, sejumlah pejabat Dirjen Pajak, dan beberapa nama lain yang belum mereka ketahui perannya. Brandon duduk di kursi sambil memainkan pulpen di tangannya. “Jadi, kita mau gempur mereka dari mana dulu?” Brian menatap foto Ardy. Bukti-bukti sudah mulai terkumpul, tapi mereka butuh lebih dari sekadar fakta di atas kertas. Mereka butuh tekanan publik. “Kita main propaganda,” kata Brian akhirnya. Brandon mengangkat alis. “Lu mau main media?” Brian mengangguk. “KPK nggak bisa bertindak kalau tekanan publiknya kurang. Kita buat publik buka mata.” Brandon menyeringai. “Gue suka idenya. Tapi gimana caranya?” Brian mengambil spidol dan menuliskan beberapa poin di papan: 1. Bocorkan skandal – Gunakan media anonim untuk menyebarkan informasi tanpa melibatkan diri langsung. 2. Gunakan whistleblower – Cari seseorang di dalam sistem yang bisa membocorkan lebih banyak bukti. 3. Manfaatkan media sosial – Bangun narasi dan buat publik menekan pemerintah. 4. Bikin kebocoran yang dikontrol – Jangan sebar semua bukti sekaligus, tapi buat berita berkembang perlahan. Brandon bersiul. “Ini bisa jadi kekacauan besar.” Brian menatapnya tajam. “Justru itu yang kita butuhkan.” Permainan propaganda dimulai. … Brian dan Brandon semakin dalam menyusun strategi mereka. Melawan Ardy Suryacipta dan Mahendra Wijaya bukan hanya soal mengumpulkan bukti hukum, tapi juga membangun tekanan publik. Mereka harus memainkan permainan ini dengan cerdik. 1. Membangun Narasi di Media Sosial Brian membuka laptopnya dan mulai membuat akun anonim di media sosial. Brandon menatap layar. “Lu yakin ini bakal efektif?” Brian mengetik cepat. “Orang lebih percaya sesuatu kalau mereka pikir itu bocoran dari orang dalam.” Dia menyiapkan beberapa unggahan awal: • “Ada dugaan aliran dana miliaran rupiah dari pengusaha ke pejabat pajak tingkat tinggi. Siapa yang diuntungkan?” • “Sebuah vila mewah di Puncak jadi tempat pertemuan rahasia beberapa pejabat dan pengusaha. Apa yang mereka sembunyikan?” • “Seorang whistleblower mengklaim ada praktik gratifikasi besar-besaran di Dirjen Pajak. Investigasi sedang berjalan!” Brandon menyeringai. “Lu lempar umpan, lihat siapa yang menggigit.” Brian mengangguk. “Begitu publik mulai bertanya, media bakal tertarik. Begitu media tertarik, KPK nggak punya pilihan selain bergerak.” 2. Menghubungi Wartawan Independen Media besar sering kali terpengaruh oleh kepentingan politik. Karena itu, Brian dan Brandon memilih menghubungi seorang jurnalis investigatif independen: Dimas Saputra. Dimas dikenal sebagai wartawan yang berani membongkar skandal besar. Brian mengirim pesan singkat: “Ada cerita besar yang bisa lu ungkap. Kasus pajak, pejabat eselon 3, dan aliran dana ke politikus. Lu tertarik?” Tak lama, Dimas membalas: “Kita ketemu. Kirim lokasi.” Brandon menatap Brian. “Kalau dia setuju buat angkat berita ini, tekanan publik bakal makin besar.” Brian mengangguk. Mereka butuh media sebagai alat. 3. Menghubungi Whistleblower: Bayu Rinaldi Brandon mengetuk meja. “Kita butuh orang dalam yang bisa ngomong.” Brian berpikir sejenak, lalu menyebut satu nama: “Bayu Rinaldi.” Bayu adalah pegawai di Dirjen Pajak yang dulu bekerja di bagian audit. Dia dikenal bersih dan jujur, sesuatu yang membuatnya tidak disukai oleh para pejabat korup di kantornya. Masalahnya, Bayu sudah beberapa bulan tidak aktif di media sosial dan jarang terlihat di publik. Brian mencoba menghubungi nomor lamanya, tapi tak tersambung. Brandon menatapnya. “Kalau dia menghilang, berarti dia tahu sesuatu yang besar.” Brian mengepalkan tangan. Mereka harus menemukan Bayu. Dia bisa menjadi kunci yang membuka semua rahasia.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD