Pertemuan dengan Dimas Saputra
Brian dan Brandon memilih tempat pertemuan yang aman sebuah kafe kecil di daerah Blok M, yang selalu ramai oleh mahasiswa dan pekerja kantoran.
Dimas Saputra datang tepat waktu. Pria itu mengenakan jaket kulit lusuh dan membawa laptop di ranselnya. Matanya tajam, penuh kewaspadaan, seolah selalu siap menghadapi sesuatu yang berbahaya.
Dimas duduk di depan mereka dan langsung ke inti pembicaraan.
“Kasih gue sesuatu yang cukup buat gue tertarik,” katanya sambil menyilangkan tangan.
Brian menyodorkan sebuah flash drive. “Di dalam ada laporan keuangan perusahaan-perusahaan fiktif yang terhubung ke Dirjen Pajak. Nama yang paling sering muncul? Ardy Suryacipta.”
Dimas mengambil flash drive itu tanpa membuka laptopnya. “Lu tahu kalau informasi kayak gini bisa bikin orang ‘menghilang’?”
Brandon tertawa kecil. “Itu sebabnya kita nyari orang yang nggak gampang diancam.”
Dimas tersenyum miring. “Gue bukan nggak bisa diancam. Gue cuma nggak gampang dibuat takut.”
Dia memasukkan flash drive itu ke saku jaketnya. “Gue bakal periksa ini. Kalau valid, gue bisa mulai menulis. Tapi gue butuh sesuatu yang lebih besar dari sekadar laporan keuangan.”
Brian mengangguk. “Kami punya seseorang dari dalam. Pegawai pajak yang bisa bersaksi.”
Mata Dimas menyipit. “Siapa?”
Brian dan Brandon saling bertukar pandang.
“Bayu Rinaldi.”
Dimas terdiam sejenak. Lalu dia bersandar ke kursinya. “Kalau Bayu yang bicara, ini bakal meledak besar.”
Brandon mengangguk. “Masalahnya, kita nggak tahu dia ada di mana.”
Dimas mengetuk-ngetukkan jarinya ke meja, berpikir. “Kalau Bayu menghilang, ada dua kemungkinan: dia kabur, atau dia dibungkam.’”
Brian mengepalkan tangannya di atas meja. Mereka harus menemukan Bayu sebelum orang lain menemukannya lebih dulu.
Setelah pertemuan dengan Dimas, Brian dan Brandon langsung bergerak.
Mereka mulai dari tempat terakhir Bayu terlihat di kantornya Dirjen Pajak.
Namun, ketika Brian mencoba bertanya ke beberapa pegawai di sana, jawaban yang mereka dapat hampir selalu sama:
“Bayu? Dia sudah lama nggak masuk kantor.”
Seorang staf wanita bahkan berbisik, “Dia mengajukan cuti panjang. Katanya mau pindah kerja, tapi nggak ada yang tahu dia ke mana.”
Brandon mengernyit. “Ini makin aneh.”
Brian menatap gedung tinggi di depan mereka. “Kalau Bayu memang punya bukti, pasti ada yang nggak mau dia bicara.”
…
Brian dan Brandon tahu mencari Bayu Rinaldi bukan perkara mudah. Jika dia sengaja menghilang, mereka harus berpikir seperti orang yang sedang bersembunyi.
Langkah pertama, Brian mencoba melacak jejak digital Bayu. Dia menghubungi seorang kenalan, Rico, mantan hacker yang sekarang bekerja sebagai analis data di sebuah perusahaan teknologi.
Mereka bertemu di sebuah warnet di daerah Senayan. Rico, pria berkacamata dengan hoodie hitam, menatap layar komputer dengan fokus.
“Gue bakal coba cek pergerakan terakhir Bayu. Tapi kalau dia beneran pintar, dia pasti sudah hapus semua jejak.”
Rico mulai mengetik cepat.
Hasilnya?
- Akun media sosial Bayu tidak aktif selama tiga bulan terakhir.
- Tidak ada transaksi kartu kredit dalam dua bulan terakhir.
- Tidak ada aktivitas ponsel, nomornya sudah tidak terdaftar di jaringan operator.
Brandon bersandar ke kursi. “Gila. Orang ini bener-bener menghilang.”
Brian menatap layar. “Atau seseorang sengaja menghapusnya.”
…
Rumah Bayu berada di sebuah kompleks perumahan sederhana di Depok. Brian dan Brandon datang malam hari untuk menghindari perhatian.
Tapi begitu mereka tiba, ada sesuatu yang terasa janggal.
Pintu rumah terkunci, lampu-lampu mati, dan halaman depan tampak tidak terawat. Seperti rumah yang sudah lama tidak dihuni.
Seorang tetangga ibu-ibu paruh baya keluar dari rumah sebelah dan menatap mereka curiga.
“Mencari Pak Bayu?”
Brian mengangguk. “Iya, Bu. Apa dia masih tinggal di sini?”
Wanita itu menggeleng. “Dia sudah pergi sejak sebulan lalu. Katanya dapat pekerjaan di luar kota. Tapi aneh, karena dia pergi begitu saja tanpa pamit sama siapa pun.”
Brandon bertanya, “Ada yang datang ke rumah ini sebelum dia pergi?”
Wanita itu berpikir sejenak, lalu berbisik, “Ada. Beberapa orang. Mereka pakai jas dan mobil hitam.”
Brian dan Brandon saling berpandangan. Orang-orang itu pasti bukan teman biasa.
…
Karena tidak bisa masuk secara legal, mereka memutuskan untuk mengambil risiko.
Brandon mencongkel jendela samping, lalu menyelinap masuk. Brian menyusul.
Di dalam, rumah itu tampak berantakan. Tidak ada tanda-tanda perlawanan, tapi beberapa laci terbuka dan dokumen berserakan di lantai.
Seseorang sudah menggeledah tempat ini.
Brian berjalan ke ruang kerja Bayu. Dia menyapu pandangannya ke rak buku, meja, dan komputer yang sudah tidak ada di tempatnya.
Tapi kemudian, matanya tertuju pada satu hal.
Di bawah meja, ada secarik kertas yang terlipat rapi.
Brian mengambilnya dan membaca tulisan tangan yang tergesa-gesa:
“Jika sesuatu terjadi padaku, cari R.H. di Senopati. Dia tahu semuanya.”
Brandon membaca catatan itu dan mendecak. “Siapa R.H.?”
Brian menggenggam kertas itu erat. Mereka punya petunjuk baru. Dan mungkin, harapan baru untuk menemukan Bayu Rinaldi.
…
Brian dan Brandon kembali ke apartemen Brian untuk membahas catatan misterius itu.
“R.H. di Senopati… Ini pasti inisial seseorang,” ujar Brandon sambil membaca ulang catatan itu.
Brian menyalakan laptopnya dan mulai mencari kemungkinan nama yang cocok dengan inisial R.H. di daerah Senopati.
Hasil pencarian awal mereka menemukan beberapa kemungkinan:
• Rayhan Hakim – seorang pengusaha restoran di Senopati
• Rama Hidayat – mantan pejabat yang pernah bekerja di Dirjen Pajak
• Rizky Hanafiah – seorang pengacara yang pernah menangani kasus pajak besar
Brandon menghela napas. “Terlalu banyak kemungkinan. Kita butuh sesuatu yang lebih spesifik.”
Brian memutuskan untuk menghubungi seorang informan di kepolisian, Letnan Surya, yang sering menangani kasus korupsi.
Mereka bertemu di sebuah warung kopi kecil yang jauh dari keramaian.
Surya menghela napas begitu mendengar nama Bayu Rinaldi. “Kasus ini berbahaya, Brian. Banyak yang mau nutup mulut orang-orang yang tahu terlalu banyak.”
Brian mengeluarkan catatan yang mereka temukan di rumah Bayu. “Kami perlu tahu siapa R.H. di Senopati.”
Surya mengangkat alisnya. “R.H.? Gue cuma tahu satu orang yang cocok.”
Brian dan Brandon menunggu dengan tegang.
“Rendi Hartawan.”
Surya melanjutkan, “Rendi dulu auditor pajak di Kemenkeu. Dia dikenal jujur, tapi tiba-tiba keluar dari pekerjaannya lima tahun lalu dan menghilang dari publik.”
Brandon menyipitkan mata. “Menghilang?”
Surya mengangguk. “Beberapa tahun lalu, dia dapat bukti kuat tentang praktik pencucian uang yang melibatkan pejabat tinggi. Tapi sebelum dia bisa buka suara, dia mundur dan pergi entah ke mana. Sejak itu, namanya nggak pernah terdengar lagi.”
Brian berpikir keras. Jika Bayu Rinaldi menyebut nama Rendi Hartawan, berarti pria itu masih ada dan mungkin menyimpan rahasia besar.
Brandon bertanya, “Kalau dia di Senopati, kita bisa mulai dari mana?”
Surya mengeluarkan selembar kertas dan menuliskan sebuah alamat.
“Ini apartemen lama Rendi. Kalau dia masih di Jakarta, kemungkinan besar dia tinggal di sana.”
Malam itu, Brian dan Brandon menuju apartemen yang dimaksud Surya. Lokasinya ada di Senopati, sebuah bangunan tua yang terlihat tidak begitu terawat.
Mereka mengetuk pintu nomor 805. Tidak ada jawaban.
Brandon mencoba mengetuk lagi, kali ini lebih keras. Tetap tidak ada jawaban.
Namun, saat Brian menyentuh gagang pintu, dia menyadari sesuatu. Pintunya tidak terkunci.
Dia menatap Brandon. Keduanya paham bahwa ini bisa menjadi jebakan.
Perlahan, Brian mendorong pintu dan masuk ke dalam.
Ruangan itu gelap, dengan tirai tertutup rapat. Begitu lampu dinyalakan, mereka terkejut.
Apartemen itu kosong, tapi ada tanda-tanda seseorang pernah tinggal di sana belum lama ini.
Brandon berjalan ke meja dan melihat sesuatu yang membuatnya mengernyit. Ada secangkir kopi yang masih hangat.
Brian menoleh ke arah kamar mandi yang pintunya sedikit terbuka. Dia menarik napas dalam dan mendorong pintu itu perlahan.
Di dalam, ada seorang pria yang terduduk di lantai, tangan dan kakinya terikat, mulutnya disumpal kain.
Matanya membelalak ketakutan saat melihat Brian dan Brandon.
Rendi Hartawan telah ditemukan. Tapi seseorang sudah lebih dulu menemukannya.