03

2551 Words
"Terimakasih, untuk malam ini." Ucap Yongtae begitu mobilnya sampai di depan kediaman Han Rae. "Hmm, itu terdengar seperti aku baru saja melayani pelanggan." Balas Han Rae. "Pelanggan?" gumam Yongtae heran sambil menaikan salah satu alisnya. "Ck, lupakan. Jadi kira-kira kapan kita akan menikah?” tanya Han Rae. “Hoi, buru-buru sekali, baru juga sekali bertemu dengan orang tua ku. Bahkan sebelumnya kau selalu menolak rencana ku ini.” “Bukan begitu, aku rasa lebih cepat lebih baik. Kau bisa dapat keuntungan secepatnya, begitu juga dengan ku. Melihat rumah orang tua mu tadi, membuat ku jadi ingin tinggal di rumah yang nyaman dan layak secepatnya.” “Kalau masalah tempat tinggal, aku bisa penuhi sekarang, tidak perlu sampai kita benar-benar terikat kerja sama. Jujur saja, aku benar-benar kasihan melihat tempat tinggal mu. Ingat waktu mengantar ku tadi pagi? Aku tidak hanya membeli satu apartemen untuk ku sendiri, tapi gedung apartemen itu memang milik ku. Aku bisa suruh bawahan ku untuk menyiapkan satu unit untuk mu.” Mata Han Rae melebar. Ia menatap Yongtae dengan tatapan, antara percaya dan tidak. "Jadi aku bisa pindah sekarang?” tanya Han Rae. “Kalau kau memang mau pindah sekarang, ya bisa. Aku akan mengantar mu, tapi kau harus cepat membereskan barang mu.” Balas Yongtae. "Huwa, enaknya ya jadi orang kaya? Apa-apa mudah. Aku akan membereskan barang ku dengan cepat, barang ku tidak banyak kok." Kata Han Rae. “Oke, aku tunggu.” Ucap Yongtae. Han Rae buru-buru turun dari mobil Yongtae, dan bergegas ke rumahnya. Namun saat Han Rae yang baru memasuki rumahnya, ia terkejut saat melihat seorang pria bertubuh tegap dengan bahu lebarnya ada di dalam rumahnya. Ia tengah menikmati semangkuk ramen. Sadar dengan kehadiran Han Rae, pria itu langsung mendongakan kepalanya, ia terkejut melihat penampilan Han Rae sampai tersedak. "Uhuk! Kau habis apa?" tanya pria itu yang tak lain adalah Daniel. "Menjalani sebuah pekerjaan baru." Kata Han Rae sambil berjalan ke arah lemarinya. Ia mengambil koper yang berada di atas lemarinya, dan mulai memasukan baju-bajunya serta barang-barangnya yang tak banyak ke dalam koper. "Kau mau kemana?" tanya Daniel. "Aku mau pindah." Balas Han Rae. "Hah?" "Mau ikut? Aku akan pindah ke apartemen mewah." "Apa? Hah?" Daniel masih tidak percaya, dia pikir ada yang salah dengan pendengarannya. Apa-apaan ini? Batinnya. "Nanti aku jelaskan. Mau ikut tidak?" Daniel buru-buru menghabiskan ramennya, kemudian menganggukan kepalanya. ••• "Kenapa kau tiba-tiba membawa pria, dia siapa?" tanya Yongtae. "Dia sahabatku." Balas Han Rae. "Dia mau tinggal bersama denganmu?" "Aku tidak tahu," kata Han Rae sambil melirik Daniel minta jawaban. "Menginap. Aku hanya akan menginap, sambil minta penjelasan pada Han Rae apa yang sebenarnya terjadi. Aku punya rumah sendiri kok." Kata Daniel. "Oh, aku pikir kau akan tinggal bersama Han Rae. Aku tidak mau dimanfaatkan oleh pria muda, yang sehat." Kata Yongtae sambil mulai menjalankan mobilnya. Daniel berdecih. "Aku juga orang kaya, aku punya bengkel!" seru Daniel. "Lalu kenapa tidak membantu temanmu yang miskin itu?" tanya Yongtae dengan nada sinis. "Aku membantunya, dia bekerja di tempatku." "Shutttt sudah, jangan bertengkar." Lerai Han Rae yang malas mendengar Yongtae dan Daniel berdebat. Mobil mulai jalan, menjauhi rumah lama Han Rae. Han Rae tidak bisa menyembunyikan gurat senang di wajahnya, siapa yang menyangka dia akan tinggal di rumah layak dan bagus malam ini? Sama sekali tidak pernah terpikir di benak Han Rae dia punya kesempatan untuk itu. Sementara Daniel hanya diam sambil menatap keluar jendela, dia sebenarnya ingin tahu banyak tentang Yongtae. Tapi malas bertanya, dan dia meyakini ujung-ujungnya dirinya dan Yongtae hanya akan berdebat. Yongtae sepertinya tipe orang yang suka merendahkan orang lain. Terbukti dengan kata-katanya dipertemuan mereka tadi. Mereka akhirnya tiba di sebuah gedung apartemen yang berada di tempat elit. Selesai memarkirkan mobil, Yongtae, Han Rae dan Daniel turun dari mobil. Tanpa banyak berkata, Yongtae berjalan duluan, dan Han Rae mengikuti sambil menggeret kopernya, sedangkan Daniel membantu membawa barang Han Rae yang lain. Mereka pergi ke lantai delapan, dan berhenti di sebuah unit dengan nomor 303. Yongtae membukakan pintu, dan mempersilahkan Han Rae untuk masuk lebih dulu. Dengan tergopoh Han Rae memasuki tempat tinggal barunya, ia melongo dan menatap takjub apartemen yang didominasi warna putih, serta beberapa material terbuat dari kaca yang menambah kesan bersih dan mewah, tapi tidak berlebihan. Han Rae berlari ke arah sofa putih panjang yang mengisi ruang tamu, dan langsung menghempaskan tubuhnya disana. Tidak disangka, pertemuannya dengan Yongtae akan mengubah hidupnya secepat ini. "Istirahatlah, besok aku jemput untuk sarapan bersama dan membahas masalah pernikahan. Omong-omong aku tinggal di lantai 11, nomor 405." Ujar Yongtae, yang hanya dibalas acungan jempol oleh Han Rae. Saat akan pergi, Yongtae tak lupa memberi tatapan sinis pada Daniel, yang Daniel balas tak kalah sinis. Yongtae kemudian menjulurkan lidahnya meledek, dan Daniel membalasnya dengan menghentakan satu kaki sambil membuat gesture hendak meninju Yongtae, membuat Yongtae langsung berlari pergi. Han Rae yang melihat kejadian tadi hanya dapat menggelengkan kepalanya. 'Bocah.' Batin Han Rae. "Han Rae, sekarang jelaskan. Kau akan menikah dengan si cungkring itu?" ••• "Jadi ini disebut juga dengan pernikahan bisnis." Kata Han Rae menyudahi acaranya menjelaskan tentang hubungannya dengan Yongtae, pada Daniel. “Hei, kalian baru ketemu semalam, dan sudah menjalin kerja sama instens seperti ini?” respon Daniel. Salah satu alis Han Rae terangkat, ia menatap Daniel tidak mengerti. “Intens bagaimana?” tanya Han Rae. “Ini aneh tahu, kau tidak waspada sama sekali? Bahkan dia langsung memberi mu tempat tinggal, apa itu tidak gila? Mana ada orang yang dengan entengnya memberi mu pekerjaan seperti itu, sekaligus tempat tinggal mewah, gratis. Han Rae, ini gila, sungguh. Kalian berdua gila, kau dan si cungkring itu sama-sama gila. Astaga, aku tidak mengerti dengan jalan pikir kalian.” Celoteh Daniel. “Hei, aku dan Yongtae bukannya tidak membicarakan hal ini dengan matang. Sewa rumah ku kebetulan sudah berakhir hari ini, Ibu pemilik kontrakan juga sudah meminta uang sewanya tadi pagi, dan kebetulan Yongtae muncul di depan ku, memberi kesempatan menakjubkan seperti ini. Ini keberuntungan! Yongtae juga sangat butuh bantuan ku, karena orang tuanya terus bertanya kapan dia menikah. Kau tahu kan semenyebalkan apa pertanyaan itu? Kau sendiri mengalaminya. Jadi aku dan Yongtae di sini sama-sama menguntungkan.” Kata Han Rae. Daniel menghela napas. “Kenapa kau tidak minta bantuan ku? Kau bisa hutang, atau minta aku potong gaji mu untuk biaya sewa rumah.” “Yongtae menawarkan tempat tinggal yang jauhhhh lebih bagus, dan gratis.” Jawab Han Rae, yang membuat Daniel memasang ekspresi datar. “Pantas saja tadi pagi kau menolak uang yang aku berikan.” Kata Daniel. “Aku menolaknya bukan karena itu, tapi karena aku memang sportif tahu. Aku bahkan sebenarnya tidak menyangka rencana ku dengan Yongtae akan terlaksana secepat ini, harusnya aku belum menemui orang tuanya dan makan malam bersama, dan harusnya dia belum memberi ku apartemen ini, sebelum kita benar-benar menjalin kerja sama.” Kata Han Rae. “Semuanya terjadi dan berjalan sangat mendadak, karena situasinya.” "Sampai berapa lama pernikahan bisnis ini berlangsung?" tanya Daniel. "Aku tidak tahu, aku dan Yongtae belum membicarakan masalah itu." Balas Han Rae. "Ingat ya? Nanti itu kau menikahnya denganku." Kata Daniel. Han Rae berdecih. "Memangnya aku mau?" "Ya harus mau." Balas Daniel. "Cih. Sudahlah aku mau membersihkan diri dulu, kau bisa tidur atau melakukan apapun." Kata Han Rae sambil bergegas pergi dari ruang tamu, untuk mencari kamar mandi. Daniel mendengus, ia kemudian memilih membaringkan tubuhnya pada sofa panjang, menatap lampu-lampu kristal yang menggantung di langit-langit. Daniel merasa apa yang terjadi pada Han Rae sekarang sangat aneh, atau unik? Tapi Han Rae sepertinya malah menikmati semua ini. Padahal pernikahan kontrak seperti itu akan sangat beresiko. Mereka akan membohongi banyak orang, terutama orang tua Yongtae. Tidak kebayang bagaimana jadinya kalau sampai ketahuan. Yang lebih mengkhawatirkan, bagaimana kalau Yongtae dan Han Rae akan saling jatuh cinta? Ugh, itu kemungkinan yang paling mengerikan bagi Daniel. Daniel memejamkan matanya, sembari merapalkan doa di dalam hatinya, agar pemikirannya soal mereka akan jatuh cinta, tidak akan pernah terjadi. ••• Yongtae benar-benar menjemput Han Rae pagi-pagi. Padahal Han Rae baru bangun, dengan malas ia membukakan pintu. Masih sambil mengucek matanya, Han Rae menatap Yongtae yang tengah berdecak. "Kau baru bangun?" tanya Yongtae. "Menurut mu?" balas Han Rae. "Pantas saja kau miskin, bangun saja jam segini? Orang kaya bangun pagi kau tahu?" "Aku tidak tahu dan tidak mau tahu." Ucap Han Rae cuek. "Masih ada sahabatmu?" tanya Yongtae. "Iya, dia juga masih tidur. Kenapa, rindu?" Mata Yongtae langsung melotot. "Sembarangan. Aku hanya tidak habis pikir, kau pakai celana sependek itu, dan kaos oblong tanpa bra, sedangkan ada pria asing di rumahmu!" "Kenapa kau bisa tahu aku tidak pakai bra?" tanya Han Rae dengan cueknya. "Dasar tidak tahu malu." Cibir Yongtae. "Tapi kau suka dengan apa yang kau lihatkan? Dasar munafik." Yongtae kemudian menjitak kepala Han Rae tanpa ragu-ragu. “Tubuh mu itu berharga, dijaga. Jangan biarkan sembarangan pria melihatnya.” Kata Yongtae. Han Rae meringis sembari mengusapi kepalanya. “Memangnya kenapa sih?” “Hah, masak kau tidak mengerti sih? Bagaimana kalau ada seseorang yang tidak kau inginkan melihat mu begini, dan diam-diam dia berfantasi yang aneh-aneh tentang mu, memangnya kau mau seperti itu?” Han Rae mengusap tengkuknya, sembari merenggangkan otot bahunya. “Ya tidak mau sih.” “Kalau begitu mulai jaga tubuh mu dengan benar, itu berharga.” Kata Yongtae. Han Rae menatap Yongtae dengan tatapan tidak percaya. “Ck, gila, aku tidak menyangka kau bisa memberi perhatian seperti ini.” Yongtae melipat kedua tangannya di depan d**a.  "Sudahlah, mandi sekarang, aku tunggu. Kalau aku sampai telat ke kantor, itu salah mu.” Kata Yongtae sambil memasuki apartemen Han Rae tanpa permisi, yang membuat Han Rae bersungut. “Kau nyaman tinggal di sini?” tanya Yongtae sembari duduk pada sofa single, yang berada tepat di samping sofa panjang di mana Daniel tidur di sana. “Yah, tentu saja aku nyaman. Keren juga begitu pindah sudah ada perabotannya.” Balas Han Rae. “Perabotan apa? Aku baru minta bawahan ku untuk memasukan sofa dan kasur kok, selebihnya kau urus sendiri nanti.” Kata Yongtae. “Eumh, begitu yaa...” gumam Han Rae sembari menguap dan mengangkat kedua tangannya ke atas untuk merenggangkan otot-ototnya. “Ibu-Ibu pemilik kontrakan itu pasti terkejut melihat kau tidak ada di kontrakannya.” Kata Yongtae. “Tidak sopan juga kau main pergi tanpa pamit padanya.” Han Rae menggaruk kepalanya. “Tidak sopan ya? Tapi dia juga tidak pernah baik pada ku. Karena tahu aku sebatang kara, dia sering semena-mena pada ku. Yang membuat ku bisa tinggal di sana juga karena jaminan dari Daniel. Dia kan ragu aku bisa bayar uang sewa, jadi Daniel yang berusaha meyakinkannya, dan memastikan padanya kalau aku punya penghasilan.” “Menyebalkan juga yaa...” gumam Yongtae. “Memang,” balas Han Rae. “Terimakasih sudah memberi ku kesempatan untuk tinggal di sini, aku tidak sangka bisa tinggal di tempat seperti ini.” Yongtae tersenyum tipis. “Sama-sama, aku harap kau betah, dan bisa bekerja lebih baik untuk ku.” Han Rae mengacungkan ibu jari kanannya pada Yongtae, sembari berlalu ke kamarnya untuk mandi dan bersiap-siap pergi sarapan dengan Yongtae. Selagi menunggu Han Rae, Yongtae mencari-cari sesuatu yang bisa ia kerjakan. Sampai akhirnya matanya tertuju pada wajah Daniel. Ia terdiam sejenak untuk berpikir, sebelum akhirnya mengambil pulpen yang ada di saku jasnya, dan mulai menggoreskan ujung pulpennya di atas kulit wajah Daniel sambil menyeringai. Sesekali ia menutup mulutnya untuk menahan tawa. Iya tahu, kelakuannya ini tidak cocok dilakukan oleh orang dewasa sepertinya, punya jabatan tinggi, terlebih pada orang yang baru dia kenal. Tapi entah kenapa dia kesal saja melihat wajah ini. Tak lama Han Rae akhirnya selesai mandi dan bersiap-siap. Ia pun bergegas ke ruang tamu untuk menemui Yongtae. Keningnya mengkerut melihat wajah Daniel yang penuh coretan. Han Rae kemudian menatap Yongtae dengan mata melebar, dan ekspresi tidak percaya. "Apa yang kau lakukan?" tanya Han Rae dengan nada berbisik, agar tidak mengganggu tidur Daniel. Yongtae tidak menjawab, ia menyimpan pulpennya kembali pada saku jasnya, kemudian beranjak berdiri dari sofa sambil tersenyum, seolah-olah dia tidak melakukan apapun. "Ayo kita pergi." Ucap Yongtae sambil berjalan duluan. "Astaga..." gumam Han Rae sambil mengikuti langkah Yongtae. Ia masih tak percaya pria yang berjalan di depannya kini sudah melakukan hal kekanakan. "Daniel orang yang baru kau kenal, dan kau sudah menjailinya?" Yongtae menggendikan bahunya, tidak peduli. “Dia menyebalkan,” ucap Yongtae. “Astaga, tapikan kau tidak perlu melakukannya. Hah, kasihan Daniel.” Kata Han Rae. “Sedikit bersenang-senang, tidak apa-apalah.” Kata Yongtae sambil tertawa. Han Rae hanya bisa mendengus, sembari menggelengkan kepalanya. ••• Yongtae membawa Han Rae ke cafe yang berada tak jauh dari apartemen. Nuansa cafe yang serba putih dengan beberapa gambar cantik menghiasi dinding, membuat cafe terlihat elegan dan terasa nyaman. Yongtae memesan secangkir kopi s**u, dan waffle, sedangkan Han Rae memesan americano dan pancake. Padahal ia sudah minta nasi, tapi itu tidak ada dalam menu. "Aku biasa sarapan dengan nasi." Kata Han Rae sambil menusuk pancake yang baru ia potong menjadi bagian kecil. "Kenapa kau tidak pesan pasta?" tanya Yongtae. "Aku tidak suka." Balas Han Rae. "Kau bisa makan nasi di rumah." Kata Yongtae. "Belum ada makanan di rumahku." Kata Han Rae. "Ya tinggal belilah." Ucap Yongtae sambil memutar kedua bola matanya malas. "Jadi apa yang mau kau bicarakan soal pernikahan?" tanya Han Rae mengganti alih topik pembicaraan. "Kau ingin pernikahan dilaksanakan kapan?" tanya Yongtae. "Terserah kau saja, aku hanya iya-iya saja." Balas Han Rae. "Minggu depan, bagaimana? Apa itu terlalu cepat?" "Persiapannya bisa siap secepat itu? Aku memang ingin cepat-cepat sih, tapi minggu depan itu terlalu cepatkan?” Yongtae terdiam sejenak untuk berpikir, tapi ia kemudian menganggukan kepalanya. "Iya sih, yah paling lambat dua minggulah, pernikahan kita tidak perlu terlalu heboh, biasa saja." Kata Yongtae. “Padahalkan kau orang penting, memangnya orang-orang tidak nyinyir kalau pesta pernikahan mu biasa saja?” “Biasanya aku dengan mu jelas beda, hahaha.” Han Rae menatap datar Yongtae. “Mau aku tinju ya? Kau terlalu merendahkan ku tahu!” “Oke, maaf. Aku hanya bercanda. Yah intinya, kita bisa melaksakan pernikahan kita dengan cepat, asal ada uang, dan tidak banyak pilih-pilih.” Kening Han Rae mengernyit. “Tidak pilih-pilih bagaimana?” “Kan nanti kita harus memilih gedung, dekorasi, baju pengantin, desain undangan. Ahh, kalau dipikir-pikir butuh waktu lama sih untuk mempersiapkan itu semua.” Kata Yongtae sembari mengusap dagunya. “Benarkan, tidak bisa pernikahan kita dilaksakan dalam waktu sesingkat itu.” Balas Han Rae. “Mungkin sebulanan cukup. Seperti yang kau bilang, lebih cepat lebih baik.” Kata Yongtae, yang Han Rae balas dengan anggukan. “Nanti kalau kerja sama kita selesai, aku masih bisa tetap tinggal di apartemen itu kan?” tanya Han Rae. “Tentu saja, aku kan sudah memberikannya pada mu.” Han Rae bertepuk tangan senang. "Eum, lalu pernikahan ini rencananya akan berjalan berapa lama?” tanya Han Rae. “Oh iya, apa kau sudah buat kontraknya juga?” "Kita ke sini juga justru mau membicarakan perihal kontrak." Yongtae kemudian membuka tas kerjanya, dan mengambil sebuah map berwarna biru dari sana. Yongtae menyerahkannya pada Han Rae. "Baca dulu sebelum tanda tangan.” "Wah, dari kapan kau membuatnya? Kenapa tidak bicara dulu dengan ku sebelum buat kontrak? Harusnya kan kita berunding dulu sebelum kau buat kontraknya.” Kata Han Rae sembari membuka map berisi kontrak tersebut. "Aku membuatnya baru tadi malam. Aku langsung membuat kontrak ini tanpa runding dulu dengan mu, itu karena kemarin kau kan sudah bilang apa saja yang kau inginkan, dan tidak inginkan selama kerja sama ini berlangsung.” Tutur Yongtae. “Kalau memang ada syarat yang tidak kau setujui, bisa dicoret.” “Iya juga sih,” gumam Han Rae sembari menganggukan kepalanya, dan mulai membaca isi kontrak dengan teliti dan seksama. Pernikahan mereka akan berlangsung 6 bulan sampai 1 tahun, maksimal. Han Rae mendapat fasilitas tempat tinggal, dana untuk beli perabot, kendaraan serta kartu kredit, Han Rae juga akan mendapat uang bulanan, tidak ada hubungan badan, bebas melakukan apapun, tidak ada kewajiban untuk menjalani tugas sebagai istri/suami, bisa menjalani kehidupan sehari-hari seperti biasa. Dan di depan orang tua Yongtae, Han Rae harus berubah, dan berakting sebaik mungkin menjadi wanita anggun dan pasangan Yongtae, sebaik mungkin. Han Rae tanpa ragu menandatangi kontrak, karena Han Rae rasa tidak ada yang memberatkannya. "Aku rasa seharusnya ada satu persyaratan lagi." Celetuk Yongtae. "Apa itu?" tanya Han Rae. "Kita tidak boleh melibatkan perasaan, pernikahan ini benar-benar hanya bisnis." Balas Yongtae. Han Rae berdecih. "Yah, itu sih sudah jelas, tidak perlu kau beritahu.” "Ya, iya sih, aku tidak mungkin akan menyukai gadis seperti mu." Kata Yongtae. "Dan aku juga tidak akan jatuh cinta pada pria cungkring sepertimu." Yongtae seketika memicingkan matanya. "Cungkring katamu? Ototku sedang berkembang asal kau tahu." Han Rae tertawa kecil meremehkan, dan malah mengulurkan tangan kanannya pada Yongtae. "Jabat tangan untuk peresmian kita sebagai rekan bisnis." Ucap Han Rae. Yongtae pun menjabat tangan Han Rae. "Senang bekerja sama denganmu. Omong-omong tanganmu halus ya? Padahal pekerjaanmu kasar." Han Rae membalas perkataan Yongtae dengan menusuk tangan Yongtae menggunakan kuku ibu jarinya.[]
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD