"Antar aku pulang dong." Pinta Yongtae sambil mengenakan jasnya.
Han Rae yang sedang mengenakan sepatunya seketika menatap sinis Yongtae. "Seenaknya menyuruhku."
"Aku korban tabrak mu loh. Lagian aku tidak tahu ini ada di mana, jadi sudah seharusnya kau mengantar ku.” Kata Yongtae.
Han Rae mendengus. Ia bergegas berdiri setelah selesai mengenakan sepatunya. “Oke, aku antar, tapi kau harus membayar ku.”
“Kau menjadikan diri mu Supir?”
“Aku hanya mencoba mengambil keuntungan.”
“Oke, aku akan bayar, mata duitan.”
“Aku hanya bersikap realistis.”
Han Rae pun bergegas ke motornya, sementara Yongtae baru keluar dari rumah kecil itu. Ia menatap Han Rae yang sudah naik ke atas motornya, dan sedang sibuk melepas kaitan helmnya. Padahal pintu rumahnya belum dikunci.
“Kau tidak mengunci pintu rumah mu dulu?” tanya Yongtae.
"Tidak ada barang berharga." Balas Han Rae yang sudah berada diatas motornya dan menyalakan mesinnya.
"Kau miskin, tapi bisa beli motor bagus ya?” komentar Yongtae, saat dia baru menyadari motor milik Han Rae itu bukan motor biasa.
"Oh, ini hasil aku menipu." Kata Han Rae blak-blak-an.
Salah satu alis Yongtae terangkat. Tanpa perlu Yongtae mengeluarkan suara lagi, Han Rae tahu Yongtae minta penjelasan.
"Aku waktu itu berteman dengan seorang pria di media sosial, dan janji mau bertemu kalau memberiku uang, dan yahh... begitu lah.” Cerita Han Rae singkat.
Yongtae menggelengkan kepalanya tidak percaya, gadis di depannya ternyata kriminal.
"Sudah berapa kali kau menjebak orang seperti itu?" tanya Yongtae.
"Sekali. Karena aku sangat ingin motor ini." Balas Han Rae. "Lagi pula orang yang aku tipu orang kaya, jadi ya tidak apa-apa."
"Tapi sama saja kau sudah mencuri."
Han Rae menggendikan bahunya. "Ayo, jadi mau aku antar pulang tidak?"
"Tapi nanti kau tidak akan merampok rumahku kan? Aku jadi takut." tanya Yongtae was-was.
Han Rae seketika tergelak. "Aku akan merampok hatimu."
Yongtae berdecih, kemudian bergidik. "Menjijikan."
"Kalau kau tidak mau diantar, ya sudah. Aku harus kerja."
"Iya, iya, aku mau."
Han Rae mulai menjalankan motornya menjauhi pekarangan rumah yang sempit setelah mengenakan helmnya. Baru Yongtae menyusul, dan duduk di jok belakangnya. Sesaat setelah ia menaiki motor Han Rae, Yongtae baru menyadari bagaimana bentuk tubuh Han Rae. Dia punya bahu lebar serta pinggang yang ramping. Bentuk tubuh ideal dan nyaman menurut Yongtae untuk seorang gadis.
Yongtae tanpa permisi melingkarkan kedua tangannya pada pinggang Han Rae, membuat Han Rae sontak menolehkan kepalanya ke belakang.
"Aku mengantuk." Kata Yongtae sambil menyandarkan kepalanya pada punggung Han Rae, seolah apa yang dia lakukan adalah hal yang biasa.
Han Rae menggelengkan kepalanya, dan mulai menjalankan motornya.
"Lalu bagaimana caranya aku tahu rumahmu bodoh?!" teriak Han Rae.
"Aku bisa memberimu alamatnya." Balas Yongtae.
•••
Setelah mengantarkan Yongtae pulang, Han Rae langsung pergi ke bengkel tempatnya bekerja.
Begitu sampai di bengkel, ia langsung disambut pria bertubuh besar, dengan bahu lebar, bermata kecil dan bergigi kelinci. Dibanding menyambut, pria itu malah menghalangi jalan Han Rae, karena berdiri di depan pintu masuk bengkel.
Han Rae berdecak sambil menatap malas pria yang semalam mengalahkannya di balapan.
Han Rae menggeser tubuhnya untuk mencari celah agar ia bisa masuk bengkel, tapi pria itu ikut menggeser tubuhnya.
"Daniel, biarkan aku masuk." Kata Han Rae sambil menatap tajam pria yang ternyata memiliki nama Daniel itu.
"Aku mau mengembalikan uangmu. Semalam itu hanya agar kau terlihat sportif, dan tidak jadi bahan olok anak-anak." Kata Daniel sambil menyodorkan amplop coklat berisi uang pada Han Rae.
Han Rae menghela nafas. "Tidak usah. Aku benar-benar mau sportif, bukan akting."
Daniel meraih tangan kanan Han Rae, kemudian meletakan amplop tersebut diatas telapak tangan Han Rae.
"Aku tahu kau membutuhkannya." Kata Daniel.
"Oke, trims." Ucap Han Rae sembari akan menerobos masuk ke bengkel, tapi lagi-lagi Daniel mencekalnya, membuat Han Rae menatap Daniel dengan kening mengkerut.
"Apa lagi?" tanya Han Rae kesal.
Daniel tanpa aba-aba mencium pipi Han Rae membuat Han Rae terkejut, sedangkan Daniel malah terkekeh. Ia dengan cepat mendorong tubuh Daniel, kemudian menampar pria itu, sebelum benar-benar masuk ke dalam bengkel.
Daniel itu teman Han Rae sejak SMA. Daniel tingkahnya sedikit bar-bar dan frontal memang, atau melakukan segala sesuatu sesuai dengan yang ia inginkan tanpa berpikir dulu, seperti saat mencium Han Rae.
Bukan sekali dua kali Daniel melakukan hal itu, bahkan ciuman pertama Han Rae pun Daniel yang mengambilnya. Bukan hanya tamparan yang pernah Daniel terima dari Han Rae, tendangan, pukulan, bahkan Daniel pernah masuk rumah sakit karena rahangnya yang bermasalah setelah dipukul Han Rae.
Tapi pria itu tidak pernah jera.
•••
Oli mengotori wajah serta tangan Han Rae. Setelah mencuci tangan dan wajahnya, Han Rae mengambil handuk kecil untuk mengeringkan tangan dan wajahnya.
Setelah selesai, Han Rae menyampirkan handuk kecil tersebut di bahunya. Ia kemudian duduk pada anak tangga paling bawah sambil mengambil ponselnya yang ada di saku celananya. Ada pesan masuk dari Yongtae, setelah mengantar Yongtae ke rumahnya, mereka memang sempat bertukar nomor.
From: Yongtae
Nanti malam kita ketemu orang tuaku, kita akan makan malam bersama. Aku sudah bilang kalau aku sudah punya calon istri.
To: Yongtae
HAH?! MENDADAK SEKALI!
From: Yongtae
Aku tahu, tapi mau bagaimana lagi?
To: Yongtae
Aduh, yang benar saja? Ini benar-benar mendadak.
From: Yongtae
Tapi kan kau sudah terima tawaran ku.
To: Yongtae
Aku kira kau batal meminta bantuanku untuk pura-pura jadi istrimu, setelah tahu aku pernah menipu orang untuk beli motor.
From: Yongtae
Kalau aku ingin batal, aku tidak akan minta kita bertukar nomor telfon.
To: Yongtae
Kau benar-benar percaya pada ku nih?
From: Yongtae
Iya, aku percaya. Nanti sore jam 5 aku jemput ya, jangan lupa untuk tampil anggun.
Han Rae berdecih, ia mengambil sebatang rokoknya, kemudian membakar ujungnya sebelum menghisapnya.
"Anggun bagaimana?" gumam Han Rae, ia kemudian melirik pekerja bengkel lain yang sedang makan siang, sebelum menyeletuk.
“Hei, caranya jadi anggun bagaimana sih?” tanya Han Rae.
Semuanya terhenyak mendengar pertanyaan Han Rae, dan langsung menatap gadis itu yang balik menatap mereka dengan tatapan dingin khasnya. Dan tak lama, bengkel dipenuhi suara gelak tawa, yang membuat Han Rae mendengus.
"Apa?! Apa yang salah?!" seru Han Rae.
"Cara jadi anggun kau tanyakan pada kami? Kami pria semua bodoh, lagi pula kau tidak cocok menjadi seperti itu." Sahut salah satu dari mereka.
Han Rae berdecak sambil membuang puntung rokoknya ke lantai, kemudian menginjaknya agar apinya mati.
"Panggil istri kalian, pacar kalian, dan suruh ajarkan aku! Nanti aku traktir pizza."
Kembali seisi bengkel heboh, termasuk Daniel.
"Wow, wowww!!! Kesempatan yang tidak boleh dilewatkan! Baiklah kalau begitu, aku akan menghubungi istriku."
Han Rae mendengus. Teman laknat itu ya begini, kalau ada untungnya baru mau.Yah, dia sendiri begitu sih.
•••
Yongtae menjemput Han Rae, sesuai jam yang sudah ditentukan. Han Rae langsung memasuki mobil Yongtae begitu Yongtae datang. Motornya ia titipkan di bengkel.
Daniel mengernyitkan keningnya melihat itu.
"Dia pacar Han Rae?" celetuk seseorang yang tiba-tiba sudah berdiri di samping Daniel.
"Mana mungkin? Siapa yang mau berkencan dengan gadis seperti Han Rae?" balas Daniel.
"Kau."
"Ck, ya... hanya aku. Apa lagi pria tadi terlihat berkelas, mana mungkin mau mengencani gadis seperti Han Rae." Kata Daniel.
“Memangnya dia tidak bilang apapun pada mu sebelum pergi?”
Daniel menggelengkan kepalanya. “Dia hanya izin mau pulang lebih awal, karena ada acara.”
“Kenapa kau tidak tanya dengan detail?”
“Diakan tadi fokus latihan jadi ‘anggun’, mana sempat aku tanya-tanya lebih detail? Aku juga banyak kerjaan.”
“Bagaimana pun Han Rae itu cantik, dan punya kepribadian unik. Pasti adalah pria yang tipenya sama seperti mu.”
Daniel berdecak. “Tapi tidak mungkin dia berkencan dengan orang itu, aku yakin.”
“Terus yakinkan diri mu bro, sampai akhirnya dia benar-benar akan direbut orang. Kau itu terlalu santai dan banyak berpikir, jadi tidak kunjung memacari Han Rae, ckck. Sudah aku bilang, Han Rae itu cantik, dan kepribadiannya unik, jadi tidak menutup kemungkinan ada orang lain yang terpikat dengannya.”
Daniel menggigit kuku ibu jarinya. Hah, dia jadi gelisah sendiri mendengar penuturan salah satu pegawai serta temannya itu.
•••
Yongtae membawa Han Rae ke salon serta ke butik. Han Rae menurut saja, selagi bukan ia yang membayar biayanya.
"Kau terlihat cantik kalau berpenampilan begini." Komentar Yongtae saat Han Rae baru selesai mengganti bajunya dengan dress lace berwarna peach. Roknya selutut, dan bagian kerahnya sedikit turun hingga menampakan bahunya yang tajam.
"Aku memang cantik." Ucap Han Rae sambil mengibaskan rambutnya yang digerai.
Yongtae memutar kedua bola matanya sambil melipat kedua tangannya di depan d**a.
"Narsis juga kau ya?” cibir Yongtae.
“Tapi memang kenyataan kan?” Han Rae berdiri di depan cermin besar yang disediakan butik, untuk melihat penampilannya. Baru kali ini Han Rae merasa dia sangat cantik, bersih dan wangi.
“Cantik tapi tidak pandai merawat diri, untuk apa?” celetuk Yongtae.
“Aku pintar merawat diri ku, tapi kan menyesuaikan dengan budget yang ku punya.” Balas Han Rae.
“Apaan? Rambut mu bahkan kusut sekali, sampai tukang salonnya tadi marah-marah. Memangnya harga sisir semahal apa?”
“Aku hanya sering lupa untuk sisiran, yang penting aku tidak lupa keramas. Ya sudahlah, ayo kita pergi sekarang, aku sudah lapar.”
Yongtae langsung keluar duluan dari butik, tanpa mengatakan apapun pada Han Rae, membuat Han Rae harus menyusulnya dengan setengah berlari, karena takut ditinggal. Jujur, Han Rae merasa kurang nyaman di sini, karena ini tempat elit. Dan Han Rae sadar, dia tidak cocok ada di sini.
•••
Han Rae sebenarnya merasa gugup saat ini, ia terus memainkan kukunya di tengah perjalanan menuju rumah Yongtae. Atau lebih tepatnya rumah orang tua Yongtae, karena Yongtae sudah memiliki rumah sendiri meski belum menikah.
“Orang tua mu tidak galak- kan?” tanya Han Rae.
“Tidaklah, mereka sangat, sangat, baik. Hanya saja Ayah ku agak keras sih.” Balas Yongtae, yang membuat Han Rae menelan ludah.
“Aku merasa ini terlalu buru-buru, aku kira kita akan menjalankan rencana ini nanti, setelah ada pembicaraan lebih lanjut di antara kita. Kau tahu? Ini sangat mendadak.” Kata Han Rae.
“Maaf, aku tahu ini sangat mendadak. Tapi tadi pagi orang tua ku kembali membombardir ku, soal kapan aku nikah. Padahal hal itu belum lama dibicarakan, tapi hari ini dibicarakan lagi. Jadi aku keceplosan bilang kalau sebenarnya aku sudah punya pacar, dan yah, mereka langsung menyuruh ku untuk mengajaknya makan malam.”
Han Rae menghela napas, sembari memegangi kepalanya. “Aku tidak yakin bisa bersikap sesuai keinginan mu dan orang tua mu. Bahkan aku latihan bicara dengan lembut, tidak sampai satu jam, ya ampun, aku tidak yakin bisa! Kau tahukan? Bicara ku kasar, dan suara ku keras.”
“Sekarang coba tenangkan diri, kalau kau panik begitu, malah nanti jadinya kacau.” Kata Yongtae.
“Tidak bisakah aku jadi diri ku sendiri saja?” dengus Han Rae.
“Tidak bisalah! Kau mau dicincang?! Aku akan membayar mahal atas jasa mu malam ini, sungguh.”
Han Rae akhirnya menutup mulut, dan berhenti mengeluh. Dia berusaha menenangkan diri, dan mengingat-ngingat apa yang tadi dipelajarinya. Dimulai dari cara jalan, bicara, dan sopan santun.
Sesampainya di rumah orang tua Yongtae, Han Rae bergegas turun dari mobil tanpa menunggu Yongtae membukakan pintu untuknya. Untungnya Yongtae tidak menyuruhnya menggunakan sepatu high heels, Han Rae hanya pakai flat shoes yang membuatnya tetap mudah berjalan. Ini sedikit membantu meringankan beban Han Rae, yang juga tidak nyaman pakai rok pendek.
Han Rae berdiam sejenak di depan pintu mobil, menunggu Yongtae keluar dari mobil.
Mata Han Rae menatap takjub rumah di depannya yang menurutnya bagai istana. Tempatnya tinggal mungkin, bahkan lebih kecil dari kamar mandi di rumah ini.
"Ayo," ucap Yongtae sesaat setelah ia keluar dari mobil.
Han Rae menganggukan kepalanya, dan segera mengikuti Yongtae yang berjalan duluan.
•••
Han Rae panas dingin begitu ia menginjakan kakinya di dalam rumah besar tersebut. Sedangkan Ayah dan Ibu Yongtae langsung menghampirinya dan menyambutnya dengan ramah.
Ketegangan Han Rae langsung berkurang, ia pun balik menyapa dengan sopan dan anggun, sesuai dengan apa yang sudah ia pelajari.
Rasanya Han Rae mual dengan sikapnya sendiri.
"Bu, kenapa ada motor Jinhyun?" tanya Yongtae kemudian, setelah acara sapa menyapa Han Rae dan kedua orang tua Yongtae selesai.
"Jinhyun memang kemari, dia penasaran dengan calon istri mu. Sebentar, Ibu panggilkan dulu, Jinhyun! Kylie Jenner!"
"Aish Bibi! Jangan panggil aku Kylie Jenner!" sahut sebuah suara entah di bagian rumah yang mana.
"Jinhyun siapa?" tanya Han Rae dengan nada berbisik pada Yongtae.
"Sepupu." Balas Yongtae.
Tak lama seorang pria jangkung dengan mata kecil dan bibir tebalnya muncul.
"Oohh... jadi ini calon istri Yongtae? Cantik ya, aku kira Yongtae tidak akan laku." Hidung Jinhyun langsung dicubit oleh Ayah Yongtae.
"Seperti kau punya pacar saja." Ucap Ayah.
“Halo, aku Jinhyun, sepupu Yongtae.” Kata Jinhyun sambil mengulurkan tangannya pada Han Rae, untuk memperkenalkan diri. Han Rae membalas jabatan tangan Jinhyun, sembari tersenyum kikuk.
“Han Rae,” ucap Han Rae.
"Ya sudah, ayo kita makan malam. Makanannya sudah siap dari tadi." Kata Ibu.
•••
"Jadi kapan rencananya kalian akan menikah?" tanya Ayah ditengah acara makan.
"Secepatnya Yah." Balas Yongtae.
"Kalian itu sebenarnya sudah berkencan berapa lama?" kini Ibu yang bertanya.
Han Rae dan Yongtae sama-sama terdiam untuk beberapa saat karena bingung, sama sekali belum ada rencana untuk itu, makan malam ini saja dadakan sekali.
Han Rae akhirnya menendang kaki Yongtae dari bawah meja, menyuruhnya untuk menjawab pertanyaan orng tuanya.
"4 bulan." Ucap Yongtae pada akhirnya, setelah lama berpikir.
"Belum terlalu lama, tapi tidak sebentar juga. Kenapa kau baru bilang sekarang, kalau sudah punya pacar?” ujar Ibu.
"Aku waktu itu masih belum punya komitmen, jadi masih pikir-pikir untuk memperkenalkannya pada kalian.” Dusta Yongtae.
"Jadi pria itu harus berkomitmen." Celetuk Jinhyun tiba-tiba.
"Diam kau bocah." Sahut Yongtae.
Han Rae banyak diam. Bagaimanapun ia merasa canggung dan malu dengan orang baru, apa lagi orang tua.
Dimana kalau berbicara dengan mereka harus hati-hati sekali. Yang pentingkan Han Rae terlihat anggun dan sopan, tidak perlu akrab dengan mereka sepertinya tidak masalah.
•••
Acara makan malam selesai. Han Rae berbisik pada Yongtae ingin cepat-cepat pulang, tapi Yongtae menyuruh Han Rae untuk bersabar sedikit.
Ibu Yongtae tiba-tiba mengajak Han Rae mengobrol, dia bertanya apa yang Han Rae sukai, kegiatan Han Rae dan yang jelas tentang keluarga Han Rae.
Han Rae tidak bisa bohong masalah itu semua.
"Aku suka yang berhubungan dengan otomotif." Ucap Han Rae saat Ibu Yongtae bertanya apa yang ia sukai.
Ibu Yongtae terlihat terkejut mendengarnya. "Wah benarkah? Itu keren, jarang ada wanita suka dengan hal-hal yang berbau otomotif."
"Aku juga suka!" timpal Jinhyun tiba-tiba.
"Memangnya kau wanita?" sahut Ibu.
"Bukan begitu Biii... maksudku kesukaanku berarti sama dengan kesukaan Han Rae." Kata Jinhyun.
Han Rae juga tanpa ragu menceritakan ia yang yatim piatu, awalnya Han Rae pikir Ibu Yongtae akan jadi berubah pikiran tentangnya, tapi justru ia merasa prihatin, dan berkata. "Yongtae bisa menjagamu dengan baik."
Obrolan Han Rae dengan Ibu Yongtae tanpa sadar jadi mulai merambat kemana-mana, Han Rae agak terkejut, karena ternyata Ibu Yongtae nyambung bicara dengannya. Meskipun Han Rae pendiam, dan malas bicara, kalau ada topik yang ia sukai dan orang itu paham dengan topik yang ia bawa, Han Rae tidak akan berhenti bicara. Topik yang Ibu Yongtae bawakan pun dapat Han Rae terima dan mengerti. Sementara Yongtae mengobrol dengan Ayahnya soal pekerjaan, dan Jinhyun hanya sesekali nimbrung di antara obrolan Ibu Yongtae dan Han Rae, atau Yongtae dengan Ayahnya.[]