Yongtae mengernyitkan, seraya menumpukan keningnya pada kepalan tangannya. Ia hanya menghabiskan dua gelas kecil alkohol, tapi kepalanya sudah sangat pusing.
Perkataan orang tuanya berkicau dibenaknya.
"Kau tidak akan mendapat sepeserpun warisan apa lagi perusahaan kalau belum menikah."
Dengan gusar, Yongtae menuangkan kembali birnya ke dalam gelas kecil dan meneguknya dengan cepat.
Diusianya yang ke 28. Seharusnya Yongtae masih bisa merasakan yang namanya sendiri, kalau sudah 30 tahun, baru boleh lah jika orang tuanya mau khawatir ia belum kunjung menikah.
Tapi hei, usianya masih 28 tahun. Di zaman sekarang, menikah dibawah usia 30? Apa lagi ia seorang pria, sendirian sampai usia 40 pun rasanya tidak masalah. Masalah kebutuhan biologis sudah terpenuhi kok.
Yongtae mendengus. Ia malas berurusan dengan yang namanya wanita, menurutnya merepotkan, membuang uang dan waktu. Ia lebih senang berada dibalik meja kerjanya, berkutat dengan bertumpuk pekerjaan, kemudian mendapat gaji.
Itu alasan Yongtae hampir tidak pernah berurusan dengan wanita, kecuali malam-malam tertentu. Jika kalian berfikir Yongtae tidak pernah berkencan, jawaban ya. Dia sama sekali tidak pernah berkencan.
Itu sebabnya banyak yang mengira Yongtae menyimpang. Yongtae tidak terlalu menanggapi rumor itu, karena yang terpenting, ia tidak seperti yang orang bilang.
Orang tuanya menyuruh dirinya cepat-cepat menikah, mungkin karena rumor itu. Takut rumornya semakin membesar dan tersebar luas. Atau bisa juga karena Ayah dan Ibunya yang sudah semakin tua, ingin segera menimang cucu dan mewarisi perusahaan mereka.
Yongtae mengusap kasar wajahnya. Ia beranjak berdiri, setelah merasa dirinya tidak sanggup untuk minum lagi. Setelah membayar, Yongtae bergegas keluar dari club malam. Yongtae tidak punya teman, jadi dia kemana-mana sendiri termasuk minum.
Sebenarnya punya, tapi hanya dua orang, dan mereka orang luar negeri, jadi jarang berada disisinya.
Menyadari dirinya tidak bisa membawa mobil dalam kondisi setengah mabuk begini, akhirnya Yongtae memilih berjalan kaki untuk pulang, atau kalau beruntung ada taxi lewat. Tapi sepertinya itu hanya khayalan, mana ada taxi tengah malam?
Yongtae membiarkan mobilnya pada parkiran klub, karena besok ia bisa datang lagi dan mengambil mobilnya.
Ditengah jalan, dengan kondisinya yang jalan tak tentu arah, dan langkah gontai. Yongtae tidak memperhatikan jalan saat akan menyeberang, dari ujung jalan sebuah lampu orange menyorotinya. Membuat Yongtae memberhentikan langkahnya, ia malah diam di tempat sambil menutupi setengah wajahnya menggunakan lengan kanannya.
Hingga akhirnya tubuhnya terhantam cukup keras, oleh sebuah motor.
•••
Han Rae mendengus karena lagi-lagi ia kalah, dan harus membayar pada lawan balap motor nya. Dengan kesal, Han Rae menyerahkan uang yang ada di saku jaketnya. Padahal itu uang terakhirnya, untuk biaya sewa rumah.
"Tumben kau tidak berhutang." Ujar lawannya sambil menyeringai.
Han Rae hanya berdecak sambil menatap sinis pria bertubuh besar, dengan bahu lebar, mata kecil dan bergigi kelinci itu. Senyumnya memang lucu, tapi dia sebenarnya sedikit mengerikan.
Han Rae kemudian kembali menaiki motornya, dan tanpa berkata apapun ia melesat pergi dari arena balapan.
"Besok kalau kau kalah! Hadiahnya kau harus berkencan denganku!" teriak pria itu, yang Han Rae tanggapi hanya dengan kepalan tangan.
Han Rae mulai memasuki arena jalanan yang sepi dan gelap, ia melajukan motornya lebih kencang lagi karena tidak suka suasana yang terasa mencekam ini.
Namun matanya seketika melebar, saat lampu motornya, menyoroti seseorang yang tampak mabuk di tengah jalan. Han Rae sudah berusaha untuk memberhentikan motornya, tapi laju motornya terlalu kencang hingga akhirnya, motornya menghantam tubuh pria itu.
"Sial!" sungut Han Rae.
Han Rae dengan panik turun dari motornya setelah melepas helmnya. Ia berlari dengan panik menghampiri pria itu, untuk menge cek kondisinya. Dia tidak sadarkan diri, untungnya masih bernapas, yang terluka hanya bagian kening, dan hidungnya mimisan.
"Aish, apa yang harus aku lakukan?" dengus Han Rae gusar.
Han Rae berdecak sambil mengacak rambutnya yang sudah kusut. Ia terdiam sesaat untuk mencari ide mengatasi semua ini. Dan akhirnya yang terpikir hanya satu, membawa pria ini bersamanya. Matanya melirik dasi yang dikenakan pria itu, sebelum melepasnya.
Han Rae kemudian membopong tubuh pria itu menuju motornya. Tubuh pria itu sangat ringan, jadi mudah baginya untuk membopongnya. Pria itu ia dudukkan di jok belakang, sementara ia naik ke depan, dengan memegangi kedua tangan pria itu agar tidak jatuh.
Setelah merasa posisi aman, Han Rae melingkarkan kedua tangan pria itu di pinggangnya, dan mengikat pergelangannya dengan dasi yang tadi ia lepas dari kerah baju pria itu.
Han Rae kembali mengenakan helmnya, lalu bergegas pergi, meninggalkan jalanan sepi itu.
•••
Han Rae mengobati pria itu sambil merokok. Dia agak stress melihat darah, jadi cara membuatnya tenang adalah dengan menyesap rokok. Meskipun sesekali ia harus menjauh dari pria itu, agar abunya tidak mengenai pria itu.
Saat Han Rae hendak membuka jas pria itu, karena melihat kemeja putihnya dibagian bahu kiri berubah menjadi merah. Han Rae malah menemukan sebuah kartu nama di dalam saku jas yang membuatnya memberhentikan sejenak aktifitasnya mengobati pria itu. Han Rae mengambil kartu nama tersebut, kemudian membacanya.
"Kim Yongtae, Direktur utama? Wow. Kalau begitu seharusnya tadi aku membawanya ke rumah sakit saja dan meninggalkannya, dia pasti mampu membiayai pengobatannya sendiri. Tapi aku rasa aku bisa memanfaatkannya." Monolog Han Rae sambil menyesap rokoknya, kemudian membuang abunya pada asbak yang berada di sampingnya.
Han Rae meletakan kartu nama itu di sembarang tempat, kemudian melanjutkan acaranya mengobati pria pemilik nama Kim Yongtae itu.
Saat sedang menempelkan kain kasa yang sudah diberi obat merah pada kening Yongtae, alis Yongtae tiba-tiba bertaut, dengan mata yang bergerak-gerak perlahan, menandakan pria itu hendak bangun. Han Rae tidak menunjukkan reaksi apapun, mengetahui pria itu akan bangun, dia tetap melanjutkan aktifitasnya dengan tenang. Selang beberapa detik, akhirnya mata Yongtae terbuka perlahan, dan sedikit-sedikit untuk menyesuaikan cahaya yang masuk ke indra penglihatannya.
Setelah matanya bisa menyesuaikan dengan cahaya, Yongtae hanya terdiam sambil menatap langit-langit dengan pandangan kosong dan bibir sedikit terbuka, untuk beberapa saat.
Tentu saja ia sedang kebingungan, dan bertanya-tanya apa yang terjadi. Sampai akhirnya dia menyadari, jika dia ada di tempat asing saat ini. Matanya melirik seorang gadis yang duduk di sebelahnya yang tengah berbaring, gadis berkulit putih pucat, dengan rambut kemerahan yang digulung ke atas, balik menatapnya dengan mata sayu dan tajamnya, sambil menghembuskan asap rokoknya.
"Kau siapa? Aku dimana?" tanya Yongtae.
"Kau di neraka, dan aku malaikat yang akan menyiksamu." Balas Han Rae dengan nada suara datar, dan tampang watados.
Yongtae seketika melebarkan matanya dan beranjak duduk, sampai membuat Han Rae terkejut karena reaksinya.
"Apa?! Aku di neraka, kenapa aku di neraka, kenapa?! Apa salahku?! Apa karena aku tidak menikah-menikah, apa yang terjadi?! Aku belum siap mati, aku belum punya anak, nanti siapa yang mewarisi wajah tampanku?!"
Han Rae memutar kedua bola matanya sebelum tergelak kecil. Pria aneh, batinnya.
"Direktur tapi bodoh ya?" gumam Han Rae kemudian mematikan rokoknya yang hampir habis di atas asbak. "Kau ada di rumahku. Aku orang yang menabrakmu." Ucap Han Rae enteng, tanpa merasa bersalah. Tidak ada gurat takut di wajahnya, padahal bisa saja dia dituntut karena hal ini.
Kening Yongtae mengernyit, ia tidak ingat kapan ia ditabrak kendaraan, kendaraan apa pula? Yongtae melirik bahunya yang terasa sakit. Bahunya sudah diperban dengan rapih, ia kemudian memegangi kepalanya yang terasa seperti dililit sesuatu.
"Kau Dokter?" tanya Yongtae.
"Bukan." Balas Han Rae.
"Tapi kau bisa ya mengobati ku." Gumam Yongtae.
"Ya itu karena aku sering terluka." Kata Han Rae.
"Omong-omong kenapa aku tidak dibawa ke rumah sakit saja?" Yongtae kembali bertanya.
"Malas dihakimi." Balas Han Rae.
"Eungg... aku tidak ingat tadi ditabrak. Mungkin karena aku mabuk." Kata Yongtae, yang tidak direspon oleh Han Rae.
"Tidur saja lagi, besok kau bisa pergi dari sini." Kata Han Rae sambil berbaring di atas lantai kayu, di samping kasur tipis yang jadi tempat berbaring Yongtae.
"Kenapa kau tidur disitu? Kamarmu dimana?" tanya Yongtae.
"Kamarku di sini. Ini ruang tengah, tamu dan kamar." Han Rae berujar sambil menutup matanya.
Yongtae mengerjapkan matanya. Ia seketika mengedarkan pandangannya ke penjuru ruang. Baru menyadari kalau ruangan ini hanya sepetak, dengan dapur kecil dan kamar mandi di sudut ruangan.
"Kau miskin ya?" celetuk Yongtae, yang membuat Han Rae sontak membuka mata kembali, dan menatap sinis serta tajam pria itu. Pria ini frontal sekali, batin Han Rae. Apa efek mabuk? Atau dia memang dasarnya sombong dan kurang ajar?
"Kalau iya kenapa?" respon Han Rae.
"Kasihan." Gumam Yongtae dengan tampang tak berdosa.
“Hei! Kau mau aku usir ya?! Tidak tahu terimakasih sama sekali sudah aku tolong!” seru Han Rae sambil beranjak duduk. Ia memelototi Yongtae, sambil ambil ancang-ancang untuk menghajar pria itu, tidak peduli dia terluka karenanya. Tapi Yongtae tampak santai saja dengan Han Rae yang padahal bisa saja menendang tubuh kurusnya sampai ke langit.
Dan Yongtae malah melontarkan kalimat yang tidak terduga, membuat Han Rae mengurungkan rencananya untuk menghabisi Yongtae, ah, lagi pula dia tidak punya kuasa kalau menyakiti pria ini. Bisa-bisa dia dituntut, apa lagi dia sudah menabrak pria ini.
“Siapa nama mu?” tanya Yongtae.
"Kang Han Rae." Balas Han Rae ketus.
"Hhhmmm... lalu di mana keluargamu?" Yongtae bertanya lagi, yang membuat kening Han Rae mengernyit.
“Untuk apa kau tanya-tanya, ingin tahu sekali kehidupan orang lain.” Kata Han Rae sambil kembali merebahkan tubuhnya di lantai. Dia lelah, mau tidur, tapi pria ini malah mewawancarainya.
“Jawab saja, aku ini orang terhormat loh.” Kata Yongtae.
“Ya, aku tidak peduli.” Kata Han Rae.
“Jawab pertanyaan ku, atau aku akan melaporkan mu ke pihak berwajib, karena sudah menabrak ku. Dan bukannya membawa ku ke rumah sakit, malah merawat ku di rumah kumuh begini, yang belum terjamin kebersihannya.”
Han Rae menggerutu di dalam hati, rasanya benar-benar sial sudah bertemu dengan Yongtae. Padahal awalnya dia yang mau memanfaatkan Yongtae, kenapa malah sebaliknya?
Akhirnya dengan terpaksa dan malas, Han Rae membalas pertanyaan Yongtae. "Aku anak keluaran panti asuhan."
"Oh, maaf." Ucap Yongtae. Han Rae hanya bergumam sebagai respon. Dia kira setelah ini Yongtae langsung akan berhenti bertanya, ternyata tidak, dia masih mengoceh.
"Berapa usiamu?"
"23 tahun."
"Uummhhh... single?"
"Ya."
Yongtae terdiam sejenak, sembari meletakan jari telunjuknya di bawah dagu, sebelum berucap hal yang membuat bola mata serta jantung Han Rae, mungkin akan melompat dari tempatnya.
"Menikah dengan ku yuk." Kata Yongtae dengan raut wajah polos.
Han Rae membelalakan mata, ia kembali memelototi Yongtae. "Kau pasti masih mabuk!" tuding Han Rae sambil bergidik.
"Tidak, aku tidak mabuk, sungguh." Tukas Yongtae.
"Sudahlah, tidur sana! aku lelah tahu. Aku yakin kau juga begitu, makanya bicara mu ngaco!” kata Han Rae sambil memejamkan matanya.
"Aku serius Nona Han Rae. Kau pernah nonton dramakan? Film, baca komik dan novel juga, yang temanya pernikahan kontrak, jadi nikah bohongan. Hanya untuk mengambil keuntungan yang hanya bisa didapat dengan cara menikah.” Kata Yongtae.
“Aduh, bicara mu makin ngelantur. Itu kan jelas hanya fiksi. Kau mau merealisasikannya ke kehidupan nyata huh?” respon Han Rae, yang malah diangguki oleh Yongtae.
"Nona, ini ide brilian tahu. Kita sama saja berbisnis. Aku punya warisan melimpah, tapi orang tua ku mau mewariskannya pada ku, hanya kalau aku sudah menikah. Aku akan membayar mu, memberi fasilitas, dan lain sebagainya. Kau harus memikirkan penawaran ku ini, ini penawaran yang tidak datang dua kali.” Kata Yongtae.
“Aduh, jangan bercanda. Kau pikir nikah itu permainan?” jawab Han Rae.
“Aku tidak bercanda Nona. Tolong pikirkan. Kau mau apa? Apartemen, rumah, kendaraan? Aku bisa kasih. Selain untuk warisan, aku itu dirumorkan gay. Jadi orang tua ku gelisah sekali, makanya aku harus menikah secepatnya. Aku sudah benar-benar putus asa.”
Han Rae kembali membuka matanya, dan menatap Yongtae yang sedang menatapnya dengan tatapan memelas dan memohon.
“Kenapa tidak cari wanita lain saja?” tanya Han Rae. “Atau cari wanita untuk benar-benar kau nikahi lah! Bukannya malah mau nikah pura-pura! Gila apa?!”
“Aku tidak punya teman wanita yang dekat, aku selama ini sibuk bekerja. Lagi pula susah mencari yang tulus zaman sekarang, apa lagi aku tampan dan kaya. Bisa jadi mereka menyukai ku karena mau sesuatu dari ku.” Tutur Yongtae.
“Kalau kau tidak berguna, siapa juga yang akan menyukai mu? Namanya manusia maunya mencari manfaat dari manusia lainnya lah.” Kata Han Rae.
“Yah aku tahu, tapi maksud ku bukan begitu. Kau mengertilah maksud ku. Aku melihat kondisi mu yang begini, rumah mu sempit, miskin, ini kesempatan yang baguskan, agar kau punya kehidupan lebih baik? Aku tidak bermaksud merendahkan mu, maksud ku justru membawa keberuntungan untuk mu.”
Han Rae menatap datar Yongtae. “Kau ini narsis sekali ya? Iya, memang, aku akui. Aku sangat kesusahan ekonomi, rumah ku juga tidak nyaman. Tapi ajakan nikah mu itu sangat tidak masuk akal.”
“Buat saja itu jadi masuk akal, demi uang ini. Banyak orang yang melakukan hal lebih gila untuk uang.” Kata Yongtae.
“Kita bicarakan lagi saja besok, aku ngantuk, sungguh. Tolong izinkan aku tidur.” Kata Han Rae sambil berdecak.
"Oke, aku juga mengantuk sih.”
Han Rae terus membatin kalau pria yang ada di sebelahnya ini benar-benar aneh, bahkan gila. Meskipun ia sadar, ia juga tidak normal. Tawaran Yongtae sangat bagus, apa lagi sebentar lagi sewa rumahnya sudah mau habis. Tidak, bukan sebentar lagi, tapi besok pagi pasti Ibu pemilik rumah sepetak ini akan datang menemuinya dan marah-marah minta uang sewa. Aduh, pusing. Dengan bodohnya dia malah menggunakan uang itu untuk taruhan saat balap motor tadi.
•••
Han Rae terbangun karena mendengar bunyi gedoran pintu rumahnya yang tidak main-main kencangnya. Dengan malas ia beranjak duduk, lalu menoleh ke sebelahnya, tempat di mana seharusnya Yongtae ada di sana. Keningnya mengernyit melihat Yongtae tidur di lantai, dengan alas selimut yang dilipat dua, padahal seingatnya semalam dia yang tidur di lantai.
"Han Rae! Buka pintunya!" suara Ibu pemilik kontrakan menyadarkan Han Rae dari lamunannya.
Han Rae mendengus seraya bangkit berdiri, kemudian berjalan ke arah pintu yang tingginya tidak jauh dari tinggi badannya. Saat ia baru membuka pintu seorang Ibu paruh baya dengan kelebihan lemak di dagu dan perut, langsung tertampil di depannya. Ia menatap Han Rae dengan tajam, dan salah satu tangan menengadah ke arahnya.
"Tidak lupa kan ini hari apa?" tanya Ibu-Ibu itu.
"Hari rabu." Balas Han Rae datar, seolah hari yang ia sebutkan itu tidak ada sesuatu.
"HEI!” gertak si Ibu, yang membuat Han Rae terperanjat.
"Iya, iya! Aku tahu! Hari ini aku harus bayar sewa. Tapi aku belum ambil uang di atm, nanti aku ambil uangnya dulu. Lagian Ibu sih, tidak punya rekening. Kalau punya rekeningkan bisa aku transfer.” Alibi Han Rae.
"Boleh juga ya alibi mu, huh.” Kata Ibu itu sambil melipat kedua tangannya di depan d**a, dan menatap Han Rae semakin garang.
"Astaga, apa wajah ku menunjukan aku ini sedang berbohong?" Han Rae masih berusaha membela diri, sambil menunjuk ke arah wajahnya sendiri.
"Kau tidak memiliki ekspresi bodoh." Balas si Ibu.
Han Rae menghela napasnya. “Pokoknya hari ini aku akan bayar, Ibu tenang saja.”
"Awas kalau bohong, akan aku usir kau dari sini." Ancam si Ibu.
"Iya, iyaa..." respon Han Rae. Ibu pemilik kontrakan itu pun akhirnya pergi, membuat Han Rae bisa bernapas lega.
Ia kembali memasuki rumahnya dan tak lupa menutup pintu. Saat ia membalikan tubuhnya, ia melihat pria dengan surai dirty brownnya sudah bangun.
"Eummm... tadi siapa?" tanya Yongtae dengan nada suara serak, khas orang baru bangun tidur.
"Ibu-Ibu yang menyewakan rumah ini." Balas Han Rae sambil berjalan ke dapur hendak menyiapkan sarapan.
"Lalu kau sudah mambayarnya?" Yongtae kembali bertanya, sambil beranjak berdiri dan membututi Han Rae ke dapur.
"Tidak, belum. Aku belum ada uang." Jawab Han Rae sambil menyiapkan bahan-bahan makanan seadanya.
"Kalau begitu pas kan tawaran ku? Kau saat ini sangat butuh uang untuk bayar sewa, atau malah lebih bagus kalau kau pindah tempat tinggal.” Kata Yongtae. “Tapi kau harus pintar berakting sih, dan harus tampil feminine serta anggun, karena orang tua ku suka gadis yang seperti itu. Aku rasa kau juga kurang sopan orangnya, jadi itu harus diubah. Hanya di depan orang tua ku juga tidak apa-apa.”
Han Rae mendesis, sembari menatap Yongtae malas. “Kau ngotot sekali ya? Sudah ngotot, blak-blak-an pula.”
"Karena aku juga sangat butuh bantuan mu, dan masalah aku yang blak-blak-an, aku memang begini. Maaf deh kalau ada kata-kata ku yang menyakiti mu.” Kata Yongtae.
“Kenapa kau tidak cari gadis lain? Iya, kau memang tidak punya kenalan wanita, tapi dicari dulu pasti banyak yang mau. Aku ini orang yang sangat baru kau kenal, terlebih kau bisa lihat sendiri, aku tidak terlihat sebagai gadis baik-baik-an? Bagaimana kalau aku ternyata orang jahat, yang bisa merampok atau membunuh mu? pikirkan itu.”
Yongtae mengerjapkan matanya sejenak, lalu menganggukan kepalanya. "Aku percaya pada mu, kalau kau orang jahat, seharusnya kau meninggalkan aku di jalanan saat baru menabrak ku, dan tidak membiarkan aku tidur di kasur mu. Lalu kalau kau memang mau membunuh dan merampok ku, seharusnya sudah kau lakukan sejak semalam, saat kondisi ku tidak sadar.” Tutur Yongtae.
Han Rae mendengus. "Aku mau saja menolongmu, dan ber akting di depan orang tuamu, tapi ada syaratnya." Kata Han Rae.
"Apa?" tanya Yongtae.
"Seperti yang kau tawarkan pertama kali, membelikanku apartemen, dan membayarku setiap bulan, seperti digaji saat bekerja pada umumnya saja. Tidak ada ketentuan untuk menjalani kewajiban sebagai istri, begitu pun sebaliknya. Kita tetap menjalani hidup masing-masing, seperti tidak pernah ada pernikahan di antara kita, jadi aku bisa bebas kencan dengan pria lain, begitu pun sebaliknya." Kata Han Rae.
“Tidak masalah, asal orang tua ku tidak mengetahuinya, saat kau berkencan dengan orang lain. Kita harus benar-benar pintar berakting di depan mereka.” Balas Yongtae.
Han Rae menganggukan kepala, kemudian menolehkan kepalanya dari Yongtae, ke arah sayur-sayuran yang hendak ia masak. Yongtae masih tetap berdiri di tempatnya, memperhatikan aktifitas Han Rae, dimulai dari mencuci sayur, dan sekarang hendak memotong-motongnya. Tapi baru saja Han Rae memotong salah satu sayur jadi beberapa potong, Yongtae sudah menyela aktifitasnya.
"Caranya salah, biar aku saja yang memasak. Sepertinya aku jauh lebih handal darimu soal masak memasak." Kata Yongtae sambil mendekati Han Rae.
“Tidak usah, kau kan Tuan rumah di sini.” Tukas Han Rae.
“Aku tidak bisa makan makanan yang tidak benar cara masaknya.” Kata Yongtae.
"Hah, ya sudahlah, bagus kalau begitu, aku sebenarnya juga malas memasak sih. Aku mau mandi dan bersiap-siap kerja." Kata Han Rae sambil meletakan pisau dan sayur yang ada di tangannya.
"Kau kerja apa?" tanya Yongtae.
"Aku montir." Balas Han Rae.
"Ouhh..." gumam Yongtae sambil menganggukan kepalanya.
•••
Selesai mandi, Han Rae membereskan kasur dan selimut, lalu menggantinya dengan meja duduk yang terbuat dari kayu, serta dua buah bantal duduk di kedua sisi meja.
Yongtae masih sibuk memasak, padahal Han Rae sudah selesai mandi. Han Rae memang cepat sih kalau mandi. Selesai mengoleskan sunscreen ke wajah dan kedua tangannnya, juga lipblam, Han Rae duduk manis di atas bantal duduk sambil memainkan ponselnya, menunggu Yongtae selesai membuat sarapan.
Tak lama Yongtae akhirnya muncul dari dapur, dengan membawa nampan, berisi dua mangkuk nasi dan satu mangkuk lagi berisi lauk.
"Kau cocok jadi pemilik rumah ini, dan aku sebagai tamunya.” Canda Han Rae, yang dibalas Yongtae dengan decihan.
Yongtae pun meletakan makanan yang dibawanya ke atas meja, lalu ia duduk di atas bantal yang sudah Han Rae sediakan.
"Kau terlihat bagus setelah mandi dan berpakaian rapih." Komentar Yongtae sambil memperhatikan Han Rae yang memakai skinny jeans hitam serta atasan tanpa lengan berwarna putih, rambutnya digulung ke atas dengan lebih niat dari semalam.
"Apanya yang rapih bodoh?" respon Han Rae sambil mulai makan.
"Mulutmu tidak pernah di filter ya? Aku ini orang yang baru kau kenal loh.” Kata Yongtae.
“Tolong lihat cermin dong, kau sama saja, bahkan lebih parah.” Timpal Han Rae.
“Kata-kata mu itu kasar, kalau itu aku itu memang dasarnya suka bicara blak-blakan. Beda dong.”
"Ya, tapi kau kan calon suami ku, tidak masalah dong aku agak santai dengan mu. Maaf ya, aku sehari-hari bicaranya memang agak kasar." Balas Han Rae sambil tersenyum miring, sementara Yongtae tertegun karena mendengar Han Rae baru menyebutnya sebagai ‘Calon suami’.
“Wah, ada yang salah tingkah sepertinya.” Goda Han Rae, yang membuat Yongtae tersadar dia sudah bersikap bodoh.
“Salah tingkah?! Yang benar saja!” seru Yongtae tidak terima. Han Rae hanya tergelak sebagai respon.
“Sudahlah, cepat makan makanan mu, nanti keburu dingin. Aku harus segera bekerja.” Kata Han Rae.
“Aku juga sama tahu, harus segera ke kantor.” Sungut Yongtae.[]