Bab 3 sampai di sekolah

1141 Words
" Dan satu lagi, Mega. Urusan mesin cuci ini masih punya satu lagi yang hebat." " Oh ya?" Aku memperhatikan wajah Papa yang riang. " Coba kamu hitung. Jika setiap hari Mama mencuci lima potong pakaian mu, maka selama lima belas tahun terakhir, di hitung sejak kamu bayi, itu jumlahnya sekitar, eh, 30.000 potong pakaian lebih. Atau, untuk Papa, tujuh belas tahun sejak menikah, angka nya lebih banyak lagi. Bisa sekitar 40.000 potong pakaian. Papa lebih banyak ganti baju, bukan? Total 70.000 potong pakaian lebih dalam waktu tujuh belas tahun itu. Untung saja Mama tidak menarik uang laundry ke kita ya kan Mega? Kalau satu potong Mama tarik seribu perak saja, wuih, bayak sekali tagihan nya." Lalu Papa tertawa Aku ikut tertawa, karena di pikir-pikir benar yang Papa katakan, lalu aku mengangguk. Pembicaraan mesin cuci ini terus menjadi treanding topic hingga tak terasa mobil yang di kemudikan Papa telah tiba di depan gerbang sekolah. Hujan semakin deras, para siswa yang satu sekolah dengan ku berhamburan turun dari angkutan umum, mobil pribadi, motor, atau yang jalan kali. Mereka bergegas masuk menuju banguna sekolah agar baju mereka tidak basah oleh air hujan. " Kamu bawa saja payung nya, Mega." Papa menoleh, menujuk kebelakang ke tempat payung. "Tenang saja, dikantor nanti Papa bisa minta tolong satpam untuk membawakan payung ke parkiran. Atau menyuruh siapalah untuk memarkir kan mobil." Papa seakab mengerti yang sedang kupikir kan. Tanpa banyak bicara, aku meraih payung di belakang kursi, mencium tangan Papa, membuka pintu mobil, lalu beranjak turun sambil melambaikan tangan, "Dadah, Papa!" " Dadah, Mega belajar yang rajin ya!" Aku hanya memgangguk pelan sambil menutup pintu mobil, dua detik kemudian, mobil Papa kembali masuk ke jalanan bersama para pengendara lain. Petir menyambar selintas, disusul gemuruh guntur memenuhi langit pagi ini. Aku pun mendongak, sengaja belum mengembangkan payung ku karena hujan tidak terlalu besar. Awan hitam terlihat memenuhi atas kepala sejauh mata memandang. Bergumpal-gumpal awan hitam itu, tetlihat begitu suram dan sedikit menakut kan. Terlihat seperti menyembunyikan sesuatu. Tapi entah lah, Aku selalu suka hujan. Semakin lebat, seamakin seru. Aku membayangkan awan-awan gelap itu dan berdiri di antara nya, memang tidak mungkin tapi setidaknya aku masih bisa membayangkan nya. Dulu waktu usia ku masih sekitar empat - lima tahun, di setiap kali hujan aku selalu memaksa bermain di halaman. Sesekali Mama mengizinkan bahkan sampai menawari ku bermain hujan, karena Mama tahu aku suka bermain hujan. Itu lah permaina kedua yang kukenal setelah permainan petak umpet yang berakhir karena sangat membosan kan. Aku berlari melintasi rumput yang basah, menggoyang dahan pohon mangga yang menjatuhkan airnya dari daun nya, menduduki lumpur, melempar sesuatu, menendang sesuatu, dan terawa gembira. Itu selalu seru. Sayangnya, Mama memiliki definisi ketat soal main hujan- hujanan. "Masuk, Mega, sudah setengah jam lebih. Cukup main hujan nya." Aku menggelang, tidak mau. "Mega, tangan kamu sudah biru kedinginan. Masuk, besok kan masih bisa lagi." Mama melotot, Papa hanya mengamini agar besok datang hujan lagi, juga menyuruhku untuk masuk karena sudah terlalu lama. Aku kalah suara, dua banding satu bisa apa. Aku pun terpaksa berhenti bermain, aku menerima uluran handuk kering yang Mama berikan. Atau, "Aduh, Mega, kan baru kemarin kamu main hujan-hujanan?" Mama menggelang tegas. "Sebentar saja Ma. Kan kata Mama besok bisa main hujan lagi," jawab ku membela diri. Mama tetap menggeleng. "Aku pun berkata lima menit?" "Tidak". "Tiga menit?" "Tidak. Seberapa pun aku merajuk, menangis, jawban Mama tetap "Tidak" dan sekarang Papa juga setuju dengan mama. Aku kalah suara lagi, dan aku pun dikurung di dalam rumah agar tidak bermain hujan-hujanan lagi. Usia ku baru empat-lima tahun pada waktu itu. Rambut ku masih nampak lucu dengan gaya kepang dua yang di buat oleh Mama. Aku haya bisa protes dalam hati, bukan kah kemarin-krmarin Mama yang menyuruhku main hujan - hujanan. Aku berlari kesan kemari dan membujuk kedua kucingku agar ikut bermain air, tetapi kucingku malah mengeong panik, lati masuk kedalam rumah karena takut oleh air. Aku tertawa melihat kucingku yg lari ketakutan, aku membiarkan tubuhku kotor oleh lumpur. Akhirnya setelah lelah bermain lumpur, aku duduk di halaman rumah, mendongak menatap langit yang gelap. Awan hitam, aku membayangkan apa yang sedang berkecamuk di awan-awan itu. Tetesan air hujan deras menerpa wajah ku, aku meletakkan telapak tangan ku, berusaha melindungi mata ku agar tidak terkena tetesan air hujan itu. Saat utu aku belum tahu, aku masih kecil. Tepat saat kedua telapak tangan ku melidungi wajah ku, selueuh tubuhku pun menghilang begitu saja. Tubuhku menjadi lebih beding di bandinggkan keristal air, dan menjadi lebih transparan di bandingkan tetesan air hujan. Aku asyik mendongak menatap langit, belum sadar kalau jutaan tetes air hujan itu haya melwati tuhuhku tanpa membasahi tubuh ku, air itu tidak pecah saat mengenai wajah ku melainkan langsung jatuh di atas tanah. Ini adalah main hujan yang sangat menyenangkan, melamun menatap langit langsung dari bawah jutaan tetesan air, dan yang lebih penting lagi, setiap kali aku duduk besipuh di rumpur yang ada di halaman rumah, mendongak melindungi wajah dengan kedua telapak tangan ku, entah bagaimna carnya, aku bisa bermain hujan lebih lama. Mamadi dalam rumah haya sibuk mengomel sambil mecariku, bukannya meneriaki ku agar segera bergegas masuk ke rumah. " Pagi, Mega," sapa Andin teman satu meja ku, yang membuyarkan lamunan ku. Aku haya mendongak menoleh pada nya. " Kenapa kamu bengong di sini sih, Mega?" Andin tertawa riang. Dia baru turun dari mobil yang mengantarnya, mengenbangkan payung yang berwarna pink. " Eh, tidak apa-apa. Pagi juga Din." Andin sudah berlari-lari kecil melintasi gerbang sekolah. Aku pun ikut mengembangkan payung ku, lalu menyusul langkah Andin, menyajajarinya. " Kamu sudah mengerjakan PR dari Miss Rania?" Andin menoleh kepadaku, wajah nya seperti sedang membayangkan sebuah bencana jika aku menjawab tidak. Aku tertawa sambil berkata. "Sudah dong." " Oh, syukur lah kalo sudah." Andin ikut menghela napas lega. "Aku baru tadi subuh mengerjakan nya. Semalam aku lupa kalu ada PR dari Miss Rania, aku malah asyik nonton serial derama korea. Miss Rania bisa mengamuk kalau ada yang tidak mengerjakan PR- nya lagi. Iya kalau cuma dimarahi, ini kalau di suruh berdiri di dekat papan tulis selama pelajara? Itu sungguh memalukan bukan?" Aku tidak berkomentar, aku menutup payung ku. Karan kami sudah tiba di bangunan sekolah, kami pun berjalan di lorong menuju anak tangga. Karena kelas sepuluh terletak di lantai dua bangunan sekolah ini. Bel berdering persis saat kami hendak naik ke tangga, seketika membuyar kan dengungan suara keramaian anak-anak bercampur dengan suara gemercik gerimis. Sialnya, saat begegas menaiki anak tangga, Andin bertabrakan dengan teman lain yang juga sama bergegas menuju ruangan kelas nya. " Heh, liat-liat dong kalo jalan!" Andin berseru ketus. " Kamu yang seharusnya lihat!" Jawab orang yang di tabrak membalas dengan berseru ketus. "Jelas-jelas kami duluan. Sabar sedikit kenapa?" Andin melotot. "Duluan dari mana nya? Aku lebih cepat." " Semua orang juga tahu kamu yang menabrak ku dari belakang!" Jawab Andin dengan suara yang melengking karena sudah emosi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD