Bab 4 lupa membawa PR

1081 Words
Aku menyikut Andin, memberikan kode, cueki saja. Pertama, karena sudah bel, teman-teman lain juga terhambat naik, karena berdiri menonton di lorong lantai satu. Kedua, yang kebih penting lagi, kami tidak akan merusak mood pagi yang menyenang kan dengan bertengkar dengan Ridwan, dia adalah teman satu kelas kami yang sangat terkenal sekali suka mencari masalah. Lihatlah, Ridwan hanya cengar-cengir, tidak peduli dengan Andin yang marah. Dan dia sama sekali tidak merasa berasalah. " Dia selalu saja menabrak orang lain, mengajak bertengkar. Jangan - jangan matanya di taruh si dengkul." Andin mengomel pelan, menepuk lengan nya yang terhantam dinding, beranjak ikut naik tangga. Keributan di anak tangga mencair. Guru - guru sudah keluar dari ruang guru, menuju kelas masing - masing. Tidak ada yang ingin terlambat saat pelajaran di mulai. " Kayanya sih Ridwan matanya bukan di dengkul, Din," aku berbisik menahan tawa. " Memang di mana." Jawab Andin yang penasaran. " Di p****t kayanya." Aku pun ketawa pelan. Andin menatap ku sejenak, lantas ikut tertawa. Kami pun berlari - lari melintasi lorong di lantai dua, lalu segera masuk ke kelas, lalu mecari meja kami. Anak - anak lain sudah membongkar tas nya. Ridwan yang duduk di pojokan terlihat menggaruk kepala nya. Srperti biasa, baju seragam nya berantakan, di masukan separuh nya. Aku haya melihat selintas ke arah nya, paling juga si biang kerok itu sedang mencari buku PR-nya. Suara sepatu Miss Rania terdengar bahkan sebelum dia tiba di pintu kelas kami. Dalam waktu kurun dari sebulan seluruh murid baru di sekolah ini tahu di adalah guru yang paling galak si sekolah ini. Wajahnya cantik namun dia jarang tersenyum, suaranya yang sangat tegas, dan hukuman nya yang selalu membuat murid merasa malu. Aku sebenarnya tidak punya masalah dengan guru Miss Rania, tapi itu juga tetap bukan kabar baik bagiku, karena Miss Rania mengajar Matematika, pelajaran yang tidak terlalu ku kuasai. " Pagi, anak - anak," sapa Miss Rania yang memecah suara hujan. Kami pun menjawab, tidak lupa membaca do'a dan menjawab salam. " Keluarkan buku PR kalian. Sekarang." Kalimat standar pembuka pelajaran Miss Rania. Kelas bising sejenak, teman - teman sibuk mengambil buku PR nya masing - masing. Aku seketika tertegun." Di mana buku PR matematika ku? Aduh, ini sepertinya akan menjadi pagi yang sangat buruk," ucap ku di dalam hati. Aku menumpahkan semua buku dari dalam tas ku. " Ada apa, Mega?" Andin bertanya. Aku tidak menjawab nya, lalu berpikir cepat. Aku pun ingat kalau buku PR itu tertinggal di kamar. Aku pun menyeka dahi ku karena gerah dan panik. Aku ingat sekali tadi malam sudah mengerjakan PR itu, meletakan buku PR di atas meja belajarku. Tadi pagi, saat Papa meminta buru - buru berangkat, aku lupa memasukan nya. " Yang tidak mengerjakan PR, bersukarela maju kedepan, sebelum ibu periksa." Suara tegas Miss Rania yang membuatku menghela napas tertahan. " Ayo maju sekarang!" Miss Rania menyapu wajah - wajah kami dengan tatapan yang sangat tegas. Aku pun memnggitit bibir. Mau apa lagi? Aku pun melangkah ke depan. " Mega?" Andin menatap ku kebingungan. Aku tidak penjawab nya, terus melangkah ke depan di bawah tatapan semua teman - teman sekelas ku. " Kamu tidak mengerjakan PR, Mega?" Miss Rania menatap ku dengan tatapan tajam. " Saya mengerjakan PR, Bu." Jawab ku. " Lantas kenapa maju ke depan?" Tanya Miss Rania yang kebingungan. Aku pun menjawab dengan sedkit gugup " Saya lupa membawa bukunya bu." Teman - teman sekelas ku pun tertawa. Satu - dua orang menepuk meja, lalu seketika diam saat Miss Rania mengangkat tangan nya. Miss Rania pun menatapku dengan tatapan yang tegas. " Itu sama saja dengan tidak mengerjakan PR. Dengan amat menyesal, kamu terpakasa Ibu keluarkan dari kelas. Kamu menunggu di lorong selama pelajaran ibu berlangsung. Paham?" Suara Miss Rania yang sebenarnya tidak menunjukan intonasi, "menyesal," karena sedetik kemudian, saat aku mengangguk pelan, dia kembali sibuk menatap teman - teman yang lain, tidak peduli dengan ku lagi, membiarkanku beranjak gontai ke luar pintu kelas. Petir menyambar terang. Suara guntur mulai terdengar mengelelegar. Hujan turun semakin deras. Udara terasa lebih dingin dan lembap. Aku melangkah malas, mencari lokasi menunggu yang baik di lorong itu. Nasib, aku menghela napas sebal. Padahal aku sudah susah payah mengerjakan PR itu. Aku melirik jam di tangan ku, masih ada waktu dua jam lima belas menit lagi hingga pelajaran Miss Rania selsai. Aku sendirian di lorong yang tempias basah. Itu bukan hukuman yang mentenangkan, meskipun di banding harus berdiri di depan kelas di tonton teman - teman sekelas ku. Aku mendongak menatap langit. Petir untuk kesekian kalinya menyambar, membuat gumpalan awan hitam terlihat memerah sepersekian detik, seperti ada gumpalan api memenuhi awan - awan hitam itu. Guntur begemuruh membuat ngilu telingaku. Aku menghela napas, suasan hujan pagi ini terlihat berbeda sekali. Lebih kelam dari pada biasanya. Ternyata kabar buruk itu belum berakhir. Di iringi sorakan ramai teman - teman sekelas, Ridwan juga di keluarkan oleh Miss Rania. Ridwan bertahan beberapa menit, dan mengaku sudah mengerjakan PR, tetapi belum selesai. Dia memperlihatkan bukunya yang hanya berisi separuh halaman saja. Miss Rania tanpa ampun juga "mengusir nya". Aku mengeluh melihat Ridwan melangkah keluar kelas, hendak begabung di lorong lantai dua yang lengang. Kenapa pula aku harus menghabiskan dua jam bersamanya di lorong? Aku menyeka dahi yang berkeringat, yang membuat ku melupakan sesuatu, kenpa aku terus berkeringat sejak tadi, padahal dinggin udara terasa menusuk ke kulit ku. Sial, aku tidak akan menghabiskan waktu bersam si biang kerok itu. Itu situasi yang tidak menarik, memyebalkan malah. Baiklah, sebelum Ridwan melihatku, aku memutuskan mengangkat kedua telapak tangan ku, meletakan nya di wajah. Petir mendadak meyambar terang sekali, yanv membuat ku terperanja, mendongak ke atas, meski tidak mengurungkan gerakan tangan ku menutup mata. Suara guntur terdengar membahana, panjang dan suram. Hujan deras mulai di sertai angin kencang, membuat bedera di lapangan sekolah berkelepak laksana kemari yang hendak robek. Tubuh ku segera menghilang sempurna saat kedua telapak tangan ku menutup wajah ku. Ridwan melangkah di lorong. Aku melihatnya dari sela jari, memperhatikan wajah nya yang tidak peduli menatap ke sekitar, mungkin sedang mencari ku. Ridwan menyeka rambutnya yang berantakan. Dia mengomel sendirian, melintasiku. "Dasar guru sok galak. Tidak tahu apa, bahwa mukanya sangat jelek saat dia marah - marah." Aku menahan tawa terlihat tampang sebal anak lelaki itu. Aku hendak iseng menmbahi kekesal nya dengan mengait kakinya. "Halo, Gadis kecil." Suara dingin itu lebih dulu mengagetkan ku. Petir memyambar terang sekali. Sosok tinggi kurus itu entah dari mana datang nya telah berdiri di depan ku. Mata nya menatap ku membuat ku sedikit terpesona.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD