Bab 5 penasaran

1159 Words
Demi mendengar sapaan suara dingin itu, dan menatap sosok kurus tinggi yang entah dari mana datatang nya tiba - tiba telah berdiri persis di depan ku, aku berseru tertahan, kaget, kehilangan keseimbangan, refleks berusaha meraih pegangan di dinding kelas. Saat telapak tangan ku terlepas dari wajah ku, tubih ku otomatis kembali terlihat. Kejadian itu cepat sekali. Saat aku berhasil menyeimbangkan tubuh, mendongak, kembali menatap kedepan, memastikan siapa yang tiba - tiba menyapaku, sosok tinggi kurus itu telah lenyap, menyisakan hujan deras sejauh mata memandang. Angin kencang membuat bendera di lapangan sekolah berkelepak. Tempias air mengenai lorong lantai dua dan terpercik ke wajah ku yang setengah pucat. Jantung ku berdetak kencang. Astaga, aku yakin sekali melihat sosok itu. Wajah nya yang tirus dan senyuman nya yang tipis, bahkan aku ingat sekali bola mata nya yang hitam mempesona. Ke mana dia sekarang? Mataku menyapu sepanjang lorong, memastikan, memeriksa semua kemungkinan. Aku hendak beranjak mendekati tepi lorong tidak peduli percikan air lebih banyak mengenai seragam sekolah ku. " Hei, Mega, apa yang barusan kamu lakukan!" Seru Ridwan yang membuat kaki ku berhenti melangkah. Aku menoleh, baru menyadari bahwa Ridwan berdiri pucat di belakang ku, menatap ku yang ku yakin juga pucat. Bedanya, ekspresi wajah Ridwan seakan baru saja melihat sesuatu yang menarik sekali. Sedangkan ekapresi wajahku pasti sebaliknya. " Bagaimana cara nya kamu tiba - tiba muncul di sini?" Ridwan medekat, wajahnya meyelidik. Aku mengeluh dalam hati, melangkah mundur ke dinding lorong. Kenaoa pula urusan ini harus terjadi dalam waktu bersamaan? Kenpa pula si biang kerok ini ada di sini saat aku masih penasaran setengah mati siapa sosok tinggi kurus tadi? Aku bahkan sempat berpikir, jangan - jangan sosok itu hanya bisa kulihat jika aku mebakupkan kedua telapak tangan ku ke wajah. Aku hendak begegas kembali menutup wajah ku dengan kedua telapak tangan ku sebelum sosok itu pergi, tapi itu tidak mungkin kulakukan dengan adanya tatapan mata Ridwan yang penuh rasa ingin tau. " Apa yang kamu lakukan barusan, Mega?" Ridwan bahkan sekarang menyelidiki seluruh tubuh ku. "Aku yakin sekali, kamu tadi tidak ada di sini. Lorong ini kosong, kamu tiba - tiba muncul di sini. Iya, kan? Ini menarik sekali." " Apa nya yang menarik?" Aku membalas tatapan meyelidik Ridwan, ber pura - pura tidak mengerti. " Kamu jangan pura - pura tidak mengerti, Mega," Ridwan tidak mudah percaya. " Aku dari tadi memang di sini. Apanya yang pura - pura?" Aku akhirnya berseru ketus. " Kamu tidak bisa membohongiku." Ridwan tersenyum lebar. "Aku memang pemalas, tapi aku tidak bodoh. Bahkan sebenarnya, kamu tahu, sebagian kecil para pemalas di dunia ini adalah orang - orang genius. Aku yakin seratus persen kamu tadi tidak ada di sana. Tidak ada siapa pul di lorong. Lantas petir menyambar, kamu tiba - tiba ada di sana. Tiba - tiba muncul, aku yakin sekali." Aku mengeluh dalam hati, masih berusaha membalas tatapn Ridwan dengan pura - pura tidak paham. Urusan ini bisa panjang. Ridwan benar. Dia memang terlihat pemalas, urakan, suka bertengkar, tapi dalam pelajaran tertentu dia bisa membuat guru - guru terdiam haya karena pertanyaan masa bodohnya. " Bagaimana kamu melakukan nya?" Ucap Ridwan yang masih sangat penasaran. " Aku tidak melakukan apa pun." Balas ku masih ber pura - pura tidak mengerti. " Kamu jangan bohong, Mega." Ridwan menatap ku seperti sedang menatap anak kecil yang tertangkap basah mencuri permen, tidak bisa menghindar. " Siapa yang berbohong!" Aku berseru ketus, sebenarnya separuh suara ku terdengar cemas. " Ridwan, Mega!" Suara tegas Miss Rania meyelamatkan ku. Kami serempak menoleh ke arah asal sumber suara. " Suara percakapan superpenting kalian menggangu pelajaran Ibu." Miss Rania melotot kepada ku dan kepada Ridwan, sambil berdiri di bawah bingkai pintu kelas, tangan nya memegang penggaris kayu yang panjang sekali. "Sekali lagi kalian bercakap - cakap terlau kencang, Ibu kirim kalian ke ruang BP, dan semoga ada yang meyelamatkan kalian dari pemanggilan orang tua ke sekolah." Mulut Ridwan yang hendak mencecarku dengan bayak pertanyaan terpaksa bungkam. Dia menunduk, mengusap rambut nya yang berantakan. Aku juga menunduk. " Benar - benar brilian. Sudah tidak membuat PR, berteriak - teriak pula di lorong kelas. Pasangan paling serasi di pagi ini." Miss Rania kembali masuk setelah memastikan kami diam beberapa detik. Teman - teman sekelas kami yang ikut melihat ke luar tertawa saat melihat kami ber dua di marahi, lalu mereka diam saat Miss Rania kembali masuk ke dalam kelas. Suara Miss Rania terdengar samar di antara suara hujan yang sangat deras yang sedang mengguyur sekolah. Aku masih penasaran siapa sosok tinggi kurus yang tiba - tiba muncul di depan ku tadi. Aku memeriksa sekitar, berusaha mengabaikan Ridwan yang terus menatap ku. Namun tidak ada sosok itu benar - benar sudah pergi. Mungkin aku bisa pura - pura ke toilet sebentar, meningalkan Ridwan, menutup wajah di sana, lantas berjalan kembali ke lorong lantai dua. Dengan begitu aku bisa mencari sosok kurus tinggi itu, sekaligus aku juga bisa menghilang dari si biang kerok ini. Tetapi itu ide yang sangat buruk. Ridwan yang sangat penasaran, bahkan sangat penasaran, pasti dia akan mengikuti ku kemana pun aku pergi, dan dia bisa mengacaukan leboh banyak hal. Miss Rania, dengan kejadian keributan barusan, bisa kapan saja memeriksa lorong untuk memastikan kami patuh pada hukuman nya. Aku mendongak, menatap siluet petir - petir yang kembali menyambar di langit pagi ini. Suara guntur bergemuruh kencang. Sepertinya pagi ini aku akan menghabiskan dua jam ini bersama si biang kerok ini. Baiklah, aku pun memustukan untuk duduk bersandar di dinding tembok kelas, berusaha untuk lebih santai, dan menghela napas pelan. " Hei, Mega?" Ridwan berbisik pada ku. Aku haya melirik nya dengan ujung mata, dia ternyata ikut duduk, hanya berjarak tiga langkah dari ku. " Kamu bisa menghilang, ya?" Ridwan berbisik lagi, berusaha untuk tidak membuat keributan baru, mata nya berbinar oleh rasa ingin tahu. Aku mengabaikan Ridwan dan kembali menatap hujan. " Ini hebat, Mega. Dari dulu aku selau yakin ada orang yang bisa melakukan itu. Tidak hanya di filem - filem dan di novel - novel saja." Ridwan bahkan tidak merasa perlu menunggu jawaban ku. " Kamu gila," aku kembali menoleh, melotot, membalas dia sambil berbisik. " Apa yang gila?" " Tidak ada yang bisa menghilang?" " Banyak yang bisa menghilang, Mega. Banyak yang tidak terlihat oleh mata, tetapi sebenar nya ada." Ridwan mengangkat bahu. " Tidak ada yang tidak terlihat oleh mata," aku bersikukuh mulai sebal kepada dia. "Kecuali yang kamu maksud itu hantu - hantu, cerita - cerita seram itu." " Kata siapa tidak ada?" Ridwan menyengir. "Dan jelas maksud ku bukan hantu - hantu itu. Coba, lihat." Tangan Ridwan menggapai ke depan sambil berkata. "Setiap hari, setiap detik, kita selalu hidup dengan sesuatu yang tidak terlihat oleh mata kita, contohnya, udara, kamu bernapas dengan nya, tanpa pernah berpikir seperti apa wujud asli udara itu. Apakah udara itu seperti kabut? Seperti uap? Apa itu oksigen? Bentuk nya seperti apa? Apakah kotak? Lonjong? Atau seperti apa lah?" Aku mengeluh pelan, semua orang juga tahu, Ridwan pendebat yang sangat baik.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD