Bab 6

1068 Words
"Baiklah, kamu tidak perlu jadi setipis udara untuk tidak terlihat."Ridwan menatapku antusias, merapikan rambut berantakan yang mengenai ujung mata nya. "Jika kamu terlalu kecil atau sebaliknya terlalu besar dari yang melihat, kamu bisa menghilang dalam definisi yang berbeda. Semut, misalnya, kamu coba saja lihat semut yang ada di lapangan sekolah dan lantai dua ini, dia menghilang karena terlalu kecil untuk dilihat. Sebaliknya, Bumi, misalnya, karena bola Bumi terlalu besar tidak ada yang bisa melihat nya benar - benar mengambang mengitari matahari. Kita hanya tahu dia mengembang lewat gambar, televisi, tapi tidak pernah melihat dengan mata kepala sendiri. Tidak terlihat dalam definisi lain." "Sok tahu," aku berbisik ketus. Ridwan hanya tertawa pelan, tidak tersinggung seperti biasanya, tepatnya tidak tertarik bertengkar seperti biasanya. Aku tahu sekali, Mega. Internet. Aku membaca lebih banyak di banding siapa pun di sekolah ini. Termasuk Miss Rania dengan semua PR menyebalkannya. Pelajaran matematika penting katanya, puh, itu mudah saja. Bahkan kalau sekarang masih di sekolah dasar, aku bisa mengerjakan PR itu. Kamu sungguh bisa menghilang ya, Mega?" Aku hampir berseru jengkel bilang tidak, tapi itu bisa memancing Miss Rania keluar dari kelas. Aku segera menurunkan volume suara ku, menjawab datar. "T-i-d-a-k." " Kamu justru sedang menjawab sebaliknya, Mega. Iya kamu bisa menghilang." Ridwan menggempalkan tangannya, bersorak dengan bahasa tubuh. Terima kasih, Mega. Itu berarti aku tidak aneh yang sering orang tuaku katakan." Aku menghembuskan nafas sebel. Sudah aku jawab tidak, menganggap aku menjawab iya. Aku kembali menatap hujan, memutuskan menyerah menanggapi rasa ingin tahu Ridwan. Aku sepertinya telah keliru, bukan hanya dua jam pagi ini saja aku menghabiskan waktu bersama si biang kerok ini. Kemungkinan seharian ini, bahkan besok-besoknya tinggi dia akan terus tertarik mengikutiku, memastikan aku bisa menghilang atau tidak. Hujan deras terus mengguyur sekolah, Andin dan teman-teman yang lain pasti sedang pusing mengikuti pelajaran Miss Rania di dalam kelas yang kering, sama pusing nya dengan aku menghadapi Ridwan di lorong yang yang tempias basah. Setelah menunggu sekitar dua jam akhirnya bel istirahat pertama pun terdengar. "Pasangan serasi." Andin memajukan bibir, menahan tawa. Aku tidak menanggapi nya, hanya mengangkat sedotan dari gelas. Awas saja kalau ketulusan, akam aku lempar dengan sedotan ini. "Bercanda, Mega." Wajah Andin memerah, separuh karena kepedasan, separuh masih menahan tawa. "Miss Rania memang sok galak, menyebalkan, banyak ngasih PR, tapi itu yang aku suka darinya. Dia selalu telah menyindir orang. Pasangan paling serasi pagi ini. Hehehe. Eh, lagian kenapa pula kalian harus berteriak - teriak di lorong membuat semua teman sekelasmu mengenai ingin tahu,"Andin membela diri, berusaha berlindung dari lemparan sedotan ku. Beristirahat pertama ini sudah berbunyi sekitar lima menit lalu. Hujan deras sudah reda, menyisakan rintik kecil yang bisa dilewati tanpa terlalu membuat basah baju seragam. Udara dingin dan lembab. Andin mengajak ku kantin, menghabiskan semangkuk bakso dan segelas air jeruk hangat, pilihan yang baik dalam suasana seperti ini. Andin bilang dia yang terakhir. Aku awalnya tidak tertarik. Setelah dua jam lebih saling ngotot menghabiskan waktu bersama Ridwan, yang membuat modd- ku hilang, aku sebenarnya lebih tertarik menghabiskan waktu sendirian di kelas, duduk di kursi, memikirkan siapa sih tinggi kurus itu. Apakah itu hanya imajinasiku karena belasan tahun menyimpan rahasia? Tetapi melirik gelagat Ridwan yang juga akan ikut menghabiskan waktu di kelas, menyelidiki ku, aku pun menirama tawaran Andin. " Kalian sebenarnya membicarakan apa sih? sampai bertengkar begitu?" Sayang nya Andin yang sambil ber huhah kepedasan menghabiskan semangkuk baksonya seperti kehabisan ide percakapan selain tentang kajian kejadian di lorong kelas. " Tidak membicarakan apa pun." Aku malas menanggapi nya. " Masa iya?" Andin menyelidiki ku. "Sampai bertengkar begitu." " Siapa yang bertengkar? Dia saja yang selalu menyebalkan mencari masalah," aku mengarang jawaban. " Eh, kalian tidak saling membicarakan PR matematika, kan? Mengerjakan PR di lorong tadi?" Andin tertawa dengan kalimatnya sendiri. Aku melotot, mengancam Andin dengan bola bakso yang ku pegang di garpu. " Bercanda, Mega. Kamu sensitif sekali pagi ini. Aku saja ditabrak tadi di anak tangga nggak ilfil, biasa saja." Andin nyengir tanpa dosa. Semangkuk bakso kanin ini lumayan lezat, apa lagi saat udara dingin, tapi topik pembicaraan ini mempengaruhi lidah ku. Apalagi menatap wajah jahil Andin. " Kamu tahu, Mega," Andin tiba - tiba berbisik menurunkan volume suara, di tengah ingar - bingar kantin yang udah penuh itu teman - teman sekolah, yang cepat karena mereka merasa keroncongan saat udara dingin begini. " Tahu apanya?" Aku tidak semangat menatap wajah penuh rahasia Andin. " Ridwan pernah ikut seleksi Olimpiade Fisika," Andin masih bebisik. " Terus apa penting nya bagi ku?" Aku mengangkat bahu tidak peduli. " Dia peserta seleksi olimpiade paling muda sepanjang sejarah, Mega. Waktu itu dia masih kelas delapan. Dia nyaris masuk dalam tim yang dikirim ke tahapan nama negaranya, Uzbekistan kalau tidak salah. Dia termasuk enam siswa paling pintar, genius malah. Itu penting sekali, bukan?" Andin berhuhah kepedasan, meraih botol kecap. "Tapi si biang kerok itu batal dikirim. Pada minggu terakhir seleksi, dia meledakkan laboratorium fisika tempat karantina peserta seleksi. Iseng melakukan percobaan taha apa. Betul-betul meledak, Mega." " Dari mana kamu tahu itu?" Aku basa - basi menanggapi. " Perusahaan tempat papaku bekerja jadi seponsor utama tim olimpiade itu, Mega. Kejadian itu di rahasiakan, wartawan hanya tahu tim olimpiade pulang membawa beberapa emas dua minggu kemudian. Kata papaku, profesor pembimbing tim olimpiade tetap ngotot membawa Ridwan, bilang bahwa anak itu yang paling pintar. Dan menurut sang profesor, rasa ingin tahu kadang membuat seseorang nekat melakukan sesuatu, dan itu bisa dimaklumi, tapi panitia lokal menolaknya. Akhirnya Ridwan batal jadi peserta olimpiade fisika termuda sedunia." Melihat wajah Andin yang semangat bercerita, aku setengah tidak percaya, setengah hendak tertawa. Lihatlah Andin berbisik seperti sedang menceritakan kisah berkategori top secret Andin sepertinya terlalu banyak menonton serial korea. " Ridwan juga sudah empat kali pindah-pindah sekolah selama SMP." Andin mengambil sambal setengah sendok, tadi dia kebanyakan melupakan kecap, membuat bakso nya jadi terasa manis. " Empat kali, Mega. Itu rekor." " Kamu tahu dari mana?" Jawab ku sedikit penasaran. " Kalau kalau yang ini sih sudah rahasia umum." Adin berhuhah kepedasan lagi, volume suaranya kembali normal. "Semua anak di sekolah ini juga tahu. "Kalau saja yang tidak memperhatikan, lebih suka menyendiri di dalam kelas saat beristirahat. Ridwan dikeluarkan dari sekolah, katanya sih karena sering berkelahi." Aku tidak tertarik dengan cerita Andin. Aku sedang menatap kasihan teman ku itu. Lihatlah dia sekarang menumpahkan kecap lagi. Sudah empat kali Andin bolak - balik menambahkan sambal dan kecap di mangkuk baksonya, membuat kuah bakso yang bening tadinya berubah menjadi hitam.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD