Bab 7 si Hitam hilang

1114 Words
Nah, saat penerimaan sekolah baru kemarin, banyak SMA yang menolak menerimanya. Katanya sih bukan semata - mata karena dia sering berkelahi. Tapi seram saja." Andin menyeka keringat di dahi nya. " Seram apa nya?" Jawab ku sedikit penasaran. " Seram kan kalau kamu harus menerima murid sepintar dia? Guru-guru kita saja sering grogi di kelas kalau dia mulai bertanya yang aneh - aneh. Kalau kamu dalam posisi itu harus mengajar anak sepintar dia, pasti kamu salah tingkah. Horor dalam arti berbeda. Hanya Miss Rania yang tidak peduli, bahkan tidak menghukumnya." Andin nyengir lebar. Aku ber"oh" pelan. Aku lebih tertarik menhabisakan bakso ku. " Sebenar nya sih… eh, tapi kamu jangan marah ya?" Andin tiba - tiba terlihat seperti sedang menahan tawa. " Ada lagi ini?" Tangan ku menyendok bakso terhenti. " Tapi kamu jangan marah ya, Mega…," Andin mengulangi perkataan nya. Aku menggeleng. " Kenapa aku harus marah? Aku tidak peduli kamu carita tentang si biang kerok itu." " Ridwan itu termasuk gwi yeo wun …" Andin kini sungguhan tertawa. " Gwi yeo wun?" Dahiku terlipat. " Cuet, Mega. Nggak usah jadi lebih rapi, sikapnya lebih manis, rambutnya di urus, pasti mirip bintang serial korea yang aku tonton. Serasi sekali dengan Mega yang manis dan berambut panjang." Kali ini aku sungguh menimpuk Andin dengan bola bakso. Andin tertawa dan cekatan menghindar. Tapi gawat! Bakso ku mengenai kepala anak kelas dua belas kami terpaksa bergegas kabur dari kantin, sambil berteriak ke tukang bakso bahwa bayarnya nanti - nanti. " Kamu cari masalah, Mega cewek itu ketua geng cheerleander." Andien berlari - lari kecil menarik ku, berbisik sebal aku patah - patah mengikuti langkah kaki Andin. Melewati keramaian kantin. Tadi itu jelas-jelas bukan salah ku. Sasaranku kepala Andin, dan salah siapa mereka duduk persis di belakang Andin? " Semoga mereka tidak tahu kita yang melemparnya." Andin menyengir. "Bakso yang kamu lempar tadi mengenai kepalanya. Mereka pasti lagi marah - marah mencari tahu siapa yang melempar nya." Kami bergegas kembali ke kelas. Ruangan kelas X masih kosong, hanya ada Ridwan yang entah kenapa sedang berada di meja kami, seperti habis melakukan sesuatu. Andin melotot, lalu mengusir nya. Ridwan hanya mengangkat bahu, merasa tidak bersalah. " Sejak kapan orang dilarang duduk di kursi mana saja saat istirahat?" dalihnya. Dia bersikap mengajak bertengkar. Aku menyikut Andin menyuruh tidak menanggapi Ridwan. Setidaknya, hingga besok sekolah berbunyi, tidak ada kejadian yang membuat tambah jengkel. Pelajaran bahasa, aku suka. Aku memasang wajah sumringah selama pelajaran berlangsung. Sepertinya hampir seluruh teman kelas menyukai guru bahasa kami. Dia persis seperti tutor acara berbahasa yang baik dan benar di siaran televisi nasional, pintar, tampan, dan pandai bergurau. Hanya Ridwan yang tanpa kusut, dengan wajah tertekuk di pojok kelas. Aku tertawa dalam hati, meliriknya, mengingat cerita Andin kantin tadi, yang entah betul atau tidak, mungkinkah Ridwan benci pelajaran ini karena tidak tahu bagai mana yang bisa diledakkannya. Bel pulang sekolah berbunyi kencang, dengung gaduh memenuhi seluruh bangunan sekolah. Aku pulang naik angkutan umum bersama Andin. Sayangnya, saat tiba di rumah aku menemukan masalah baru. Masalahnya dengan kedua kucingku. Dan itu lebih serius dibandingkan kejadian tadi pagi di sekolah dengan sosok tinggi kudus yang mendadak muncul kemudian hilang di depan mata ku. Hujan sepanjang pagi sudah menguap di jalanan saat angkotnya ke tubangi merapat di depan rumah. Andin bilang nanti dia yang bayar. Aku pun mengangguk, lalu turun dari angkot. Aku berlari - lari di rumput halaman, membuka pintu depan berteriak mengucapkan salam, suara Mama terdengar menjawab dari dapur. Aku naik lantai dua, menuju kamar ku, melemparkan tas sekolah sembarangan ke atas kasur. Mama yang sedang memasak di dapur meneriaki ku agar bergegas ganti baju, untuk makan siang, dan bersiap - siap. Karena pukul tiga nanti kami harus berangkat ke toko elektronik. Aku membalas berteriak, "Siap,Ma!" Aku tertawa riang. Jalan bersama Mama selalu menyenangkan. Hal pertama yang kulakukan kemudian dalam melong kesana kemari. Ini aneh sekali biasanya dua kucing ku sudah riang menyambut saat aku masuk ke dalam rumah. Tapi tadi yang loncat dari balik pintu hanya si putih. Si hitam tidak kelihatan sama sekali. " Hei, si Hitam mana Put?" Tanya ku kepada si Putih Si putih seperti biasa hanya menyundul - menyundul manja di betis ku, mengeong pelan. " Kamu lihat di mana si Hitam, Put?" Aku lembut mengangkat nya dengan kedua telapak tangan, memeluknya, terus memeriksa kamar sambil menggendong si Putih. Aduh ke mana pula kucingku yang satu lagi? Tidak ada di kamar ku. Juga tidak ada di kamar lain lantai dua Aku beranjak menurut tetangga, boleh jadi si Hitam sedang malas - malasan di dapur menghabiskan makanan. " Kamu belum beganti pakaian, Mega?" Mam menegur ku. Aku menggelang, masih sibuk mecari. Si hitam tidak ada di dapur. Tidak ada juga di bawah meja makan, di sebelah lemari, atau di tempat favoritnya selama ini. Aku menghela nafas. Ini jarang sekali terjadi, bahkan saya ingatku tidak pernah terjadi. Dua kucing "kembar ku" ini selalu bersama - sama menyambut ku. Selalu berdua kemana - mana bermain berdua, kompak. " Apa si Hitam sakit,Put?" Si putih yang sedang kugendong hanya mengeong. Mata bulatnya berkedip - kedip. Baiklah, aku beranjak memeriksa ruangan tengah, ruangan tamu, kamar mandi, bahkan garasi, apa pun tempat yang mungkin. Lima menit sia - sia aku kembali masuk ke dapur. "Kamu belum berganti pakaian, Mega ayo bbergegas,kita tidak bisa lama - lama di toko elektronik. Mama harus menyiapkan makan malam, Papamu pulang lebih awal malam ini," Mama menatapku tidak mengerti. Gerakan tangannya yang sibuk membereskan peralatan masak terhenti sejenak, memperhatikanku yang sedang mencari sesuatu. Aku menggeleng. " Kamu mencari apa sih, Mega?" " Ma, lihat si Hitam?" " Si Hitam? bukannya kamu sedang menggendong kucing kesayanganmu itu?" " Bukan yang ini, Ma. Yang satunya lagi." " Satunya lagi apa?" " Iya, kucing Mega yang satunya lagi, Mama nggak lihat?" " Aduh, Mama nggak ngerti deh. Kamu jangan aneh - aneh lagi kayak waktu SD dulu. Jelas - jelas sejak dulu hanya ada satu kucing di rumah ini." Mama melotot, lantas sedetik kemudian tangannya kembali membereskan peralatan. "Ayo cepat ganti seragammu, lalu makan siang. Jangan sering menggoda Mama seperti yang sering Papa mu lakukan, Mega." Aku menelan ludah. Sebenarnya aku ingin mengeluh, karena Mama terlihat santai - santai saja padahal kucingku hilang satu, tapi aku langsung mengurungkan nya. Aku seketika tertegun. " Eh, Mama barusan bilang apa? Satu ekor?" Aku benar - benar baru menyadari hal itu sekarang, detik ini. Seperti ada yang melemparkan pemikiran itu di kepala. Di tambah dengan kejadian tadi pagi, melihat sosok tinggi kurus di sekolah, tiba - tiba membuatku berpikir ada yang benar - benar keliru dengan dua ekor kucing "kembar" kesayanganku selama ini. Setelah enam tahun punya kucing, aku pikir itu semuanya gurauan Mama dan Papa. Jangan - jangan…
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD