Bayu melirik istrinya yang berdandan rapi sepagi itu ketika dia juga mulai bersiap diri untuk pergi bekerja.
“Jadi, kamu serius sama apa yang kamu bilang kemarin itu?” tanya Bayu.
Jujur saja, kemarin malam dia tidak terlalu memperdulikan ucapan sang istri yang mengatakan niatnya untuk bekerja, di samping karena mereka sedang bertengkar. Melihat penampilan Fara pagi itu, Bayu menyadari apa yang dikatakan istrinya semalam sepertinya bukan hanya ancaman maupun candaan.
“Iya,” sahut Fara singkat, sambil mengunyah roti selainya.
Biasanya Fara akan sibuk mempersiapkan sayur yang dia beli, tapi kali ini di depan Bayu hanya ada sepotong roti dan selai.
“Mau kerja di mana?” tanya Bayu, tidak berselera memakan roti itu.
“Nanti kalo aku jelas mendapatkan gaji, kamu bakalan tau, Mas. Untuk sekarang, belum bisa kujelasin, yang penting kerjaan aku halal, Mas.”
Bayu mengerutkan dahi mendengar istrinya berteka-teki. Dia ingin bertanya lebih banyak, tapi sikap buru-buru Fara membuatnya harus menunda pertanyaan-pertanyaan di benak.
“Aku berangkat dulu, Mas. Nanti kamu hati-hati di jalan, ya?”
“I—“
Baru mau menjawab, Fara sudah tidak tampak lagi dari pandangan Bayu. Menawari tumpangan pun tidak sempat dia katakan. Saat langkah Bayu sampai di teras, Fara sudah menaiki taksinya pergi dari depan rumah.
“Kerja apa dia, semangat gitu.”
Namun, karena waktu juga mendesak Bayu untuk segera berangkat, dia menepis pikirannya tentang Fara. Dia berharap bahwa pekerjaan Fara bisa mengangkat derajat wanita itu di mata keluarganya.
***
Fara tampak ngos-ngosan berlari usai keluar dari taksi. Dia celingukan di depan gerbang yang sesuai dengan alamat yang tertera di kartu nama di tangan. Tidak tampak seorang pun di sana. Fara berdecak dan mulai ragu dengan tawaran pria asing kemarin.
“Apa dia menipuku ya? Kenapa rumahnya seperti nggak berpenghuni gini?” gumam Fara, melipat bibir.
Namun, keraguannya berubah ketika melihat pria semalam berdiri di depan gerbang dengan melipat kedua tangan menatap Fara dengan sorot mata tajam.
“Terlambat.”
Fara meringis. Ada sedikit ketakjuban melihat pria yang ternyata lebih tampan terlihat dari pada semalam karena minim cahaya lampu. Sekarang, dia bisa melihat jelas wajah pria berkulit bersih, dengan hidung mancung, rahang kokoh, dan bibir yang pas dengan wajahnya. Kedua manik mata coklat pria itu cukup menegaskan bahwa dia adalah keturunan blasteran.
“M-Maaf, Tuan Sagara,” desis Fara, kikuk dengan ketampanan lelaki itu.
Sungguh di luar nalar, biasanya Fara bersikap cuek, bahkan dengan suaminya sendiri. Namun, kali ini dia merasakan lain dalam dirinya menghadapi lelaki itu. Ada aura tegas, berbeda dengan dia temui semalam. Mungkinkah semalam karena dirinya sedang diselimuti amarah hingga tidak menyadari aura pria itu? Entahlah.
“Masuk! Banyak hal yang harus kamu kerjakan di dalam. Aku mau melihat pekerjaanmu dulu, jadi karena itu aku menggajimu di akhir bulan, menyesuaikan kemampuanmu.”
Fara sampai tergesa mengikuti langkah kaki pria yang berjalan cepat melewati halaman rumahnya yang cukup luas sembari memasang telinga untuk mendengarkan ucapan lelaki itu.
“Iya, Tuan. Saya akan berusaha,” ucap Fara meski dia sendiri tidak yakin, karena ada hal yang dia tidak bisa lakukan.
“Bagus. Sekarang, ganti baju.”
“Hah?” tanya Fara memegang d**a.
“Nggak usah ngeres. Aku mau kamu ke sini, untuk membantuku mengurus rumah, jadi kamu nggak bisa pake blazer seperti itu,” sungut Sagara, melirik ke arah Fara.
Fara terkekeh kecil menyadari itu. Memang benar, dia tidak mungkin melakukan pekerjaan rumah tangga dengan baju kantoran yang sedang dia pakai sekarang.
“Nih,” ujar Sagara menyerahkan satu baju seragam berwarna biru tua pada Fara.
“Sebelum itu, aku mau jelaskan isi rumah ini.”
“Baik, Tuan Sagara.”
Sambil mendekap seragam barunya, Fara mengikuti langkah kaki Sagara menelusuri setiap ruangan di rumah itu. Fara merekam dengan otak setiap mendengarkan penjelasan dari Sagara.
“Kamu boleh membersihkan seluruh ruangan, kecuali ruang kerjaku. Mengerti?” tegas Sagara melipat kedua tangan ketika mereka berada di depan pintu ruang kerja yang berwarna coklat tua.
“Baik, noted.”
Sagara mendengkus mendengar sahutan Fara. Dia menunjuk ke ruang bawah.
“Itu, kamu bisa masuk ke ruang itu kalo mau ganti baju. Kamu bisa bekerja mulai sekarang.”
“Baik, Tuan.”
Fara berlari kecil menuruni anak tangga dan berjalan ke ruangan yang ditunjukkan oleh Sagara. Pria itu diam-diam mengawasinya dari atas, lalu tersenyum tipis melihat Fara telah masuk ke dalam kamar pembantu yang telah dia siapkan.
Sagara pun turun dan berdiri di depan ruang makan. Fara keluar dari kamar dengan seragamnya. Dia menggulung rambut ke atas agar rapi. Sagara melirik Fara lalu berdeham.
“Hal pertama yang kamu harus lakukan adalah ... memasak.”
Fara membelalakkan kedua mata mendengar tugas pertama. Itulah hal yang tidak bisa dia lakukan. Selama ini, dia hanya mengandalkan warung makan jika waktunya menyediakan makan untuknya dan Bayu.
“Kenapa?” tanya Sagara, memasukkan kedua tangan ke dalam saku celananya.
“Emmm ... saya—“
Fara meringis, menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
“Nggak usah mengulur waktu. Kamu perempuan, pasti bisa masak. Perutku udah lapar, tadi karena menunggumu, aku jadi belum makan pagi. Cepat, siapkan makanku,” titah Sagara, meninggalkan Fara sendiri.
Fara memutar kedua bola matanya. Kenapa dengan pria itu, dia tidak bisa menolak, bahkan sesuatu yang tidak dia sukai yaitu memasak harus dia lakukan?
“Aku kesirep di sini,” gerutu Fara berjalan ke dapur dan membuka lemari pendingin yang menyediakan semua bahan dengan cukup lengkap.
“Duh, Gusti, mau masak apa aku?” gumam Fara, memegang dahinya. Padahal bahan makanan tinggal memilih di dalamnya.
Fara membuka ponsel, lalu mencari resep-resep masakan. Dia mulai menayangkan tutorial memasak sambil ikut menyiapkan bahan masakan sesuai dengan video itu.
Sagara nyaris terkekeh melihat kegaduhan Fara di dapur. Perempuan itu tidak sadar jika Sagara mengawasinya dari kejauhan.
“Masa perempuan nggak bisa masak?” desis Sagara, menggelengkan kepala dengan perilaku Fara.
“Cepat, aku mau buru-buru berangkat ke kantor!” teriak Sagara dari jauh, sengaja membuat Fara tambah gugup menyiapkan semuanya. Padahal, melihat video itu saja dia harus mengulang-ulang. Hanya sup jagung membuatnya kelabakan.
“Iya, Tuan. Tunggu sebentar,” sahut Fara sambil mengaduk sup yang sudah hampir jadi.
Fara memijat kepalanya usai mencicipi sup itu. Nggak buruk menurutnya, hanya agak hambar, lalu dia masukkan sesendok garam ke dalam panci berisi sup itu. Setelah matang, ia segera memindahkan ke mangkuk dan membawanya dengan nampan ke ruang makan.
“Sumpah, ini kedua kali aku masak setelah dulu masakanku nggak disentuh sama sekali oleh mas Bayu,” gumam Fara teringat sakit hatinya ketika mencoba menyiapkan masakan, tapi Bayu hanya mencicipnya sedikit dan tidak lagi dia sentuh sampai seharian.
Asap tipis mengepul dari mangkuk. Sagara mengambil sendoknya lalu mengaduk dan meneliti isian sup itu. Degup jantung Fara berdetak tak beraturan, bagai menunggu komentar dari juri master chef.
“Kenapa kamu iris wortelnya terlalu kecil? Ini juga, daging ayamnya bisa kamu potong nggak usah terlalu kecil,” oceh Sagara.
Ya Tuhan, makan tinggal makan. Fara membatin.
Fara deg-degan juga ketika Sagara mulai mengambil sup dengan sendok dan mulai memasukkan ke mulutnya tanpa mengoceh lagi. Raut wajah pria itu juga tampak datar dan tidak menunjukkan ekspresi tidak suka. Hal itu malah membuat Fara gelisah. Sikap yang tidak bisa ditebak dari pria itu, membuat Fara mati gaya. Dia hanya berdiri menunggu reaksi pria itu.
Fara memilih untuk mencicipi sendiri agar tidak penasaran. Dia pun berjalan ke dapur meninggalkan Sagara yang sedang menikmati masakannya. Fara mengambil satu mangkuk kecil dan menuang sup ke dalam mangkuk kosong itu. Kemudian, dia mengaduk seperti yang dilakukan oleh Sagara, lalu mengambil sesendok untuk dia masukkan ke mulut.
Cepat-cepat Fara berlari ke wastafel menumpahkan isi mulutnya.
“Asin, keasinan,” gumamya dengan wajah pias, tidak berani menatap ke arah ruang makan.
“b**o banget,” gerutu Fara pada diriya sendiri.
Sagara keluar dari ruang makan, lalu menatap Fara yang kelimpungan sendiri.
“T-Tuan, maaf ya? Tadi supnya pasti keasinan.”
Dengan memberanikan diri, dia mengakui kesalahannya. Sagara hanya menghela napas.
“Udah aku habiskan. Lain kali, kurangi garamnya. Aku nggak mau darah tinggi gara-gara makan makanan keasinan terus.”
Pria itu berjalan ke ruang tengah mengambil tasnya dan keluar dari rumah membawa kunci mobil. Fara penasaran, lalu berjalan cepat ke ruang makan. Dia meringis. Ternyata benar, mangkuk itu sudah tandas isinya.
“Aku jadi merasa bersalah sama Tuan Sagara,” lirih Fara, duduk di tempat yang baru saja ditinggalkan pemiliknya, sambil menatap mangkuk kosong itu, penuh penyesalan.