Orang Tua Asli

1339 Words
“Pembantu? Serius?” tanya Fara sampai mengulang ucapan Sagara yang masih tampak santai itu. Dia sendiri gagal merasa senang mendengar posisi yang ditawarkan. “Iya. Ya ... kalo kamu nggak mau, masih banyak sih orang yang mau,” tukas Sagara, seolah tidak membutuhkan, tapi dialah yang dibutuhkan orang banyak. Fara mendesah berat. Dia kira dia akan jadi pegawai kantoran atau sejenisnya, tapi ternyata Sagara menawarinya pekerjaan sebagai asisten rumah tangga. Dia kira lagi, dengan tampangnya, dia akan mendapat setidaknya pekerjaan yang lebih baik. Namun, ternyata tawaran pekerjaan pertama yang dia dengar adalah menjadi pembantu. “Tunggu, tawaran pekerjaan pertama yang aku dengar—“ Fara menepuk jidatnya. Masih segar dalam ingatannya kalau beberapa menit yang lalu dia bersumpah akan melakukan pekerjaan pertama yang dia dengar. “Astaga,” gumam Fara. Berkecak pinggang, dan memegang dahi sambil berpikir. Menyesal tiada guna, karena ucapan ngawur, dia harus menjalani sumpahnya itu. “Ya—“ Fara melongo ketika tidak melihat adanya pria tadi di pagar taman. Dia terkejut dan menggaruk kepalanya. “Aaarrgh, ke mana itu orang?” Fara berlari mencari Sagara dan menemukan pria itu sudah ada di dalam mobil mewahnya. Fara meringis ketika berhasil menahan Sagara pergi. “Tuan, saya mau jadi—“ “Ini, ambil kartu namaku. Besok kamu udah bisa mulai kerja.” Fara mendelik. Belum juga selesai bicara, Sagara sudah menangkap maksud perkataannya. Dia cepat-cepat mengambil kartu nama yang dijepit dengan dua jari Sagara yang sudah berada di dalam mobil itu karena takut Sagara akan berubah pikiran. “Ingat, aku nggak akan kasih kesempatan dua kali,” ujar Sagara dan berlalu bersama dengan mobil sportnya. Fara tercenung di tempatnya berdiri, menatap kepergian mobil itu. “Andai aku nggak bersumpah, aku nggak bakal nerima kerjaan dari pria songong itu,” gumam Fara, lalu menatap kartu yang dia pegang dengan dua tangan. “Sagara Kawindra.” Fara mengibaskan kartu itu dan mendesah. “Semoga orangnya nggak suka kawin.” *** Bayu telah menunggu Fara di rumah. Fara mengendap masuk, tapi nyala lampu yang seolah menyambutnya dengan wajah masam sang suami membuatnya lemas. “Dari mana kamu, lama sekali sampe rumah?” tanya Bayu. “Tadi dari taman, Mas. Aku kesel, jadi aku pergi ke taman buat nenangin pikiran.” “Duduk,” titah Bayu mengarahkan matanya ke samping sofa yang dia duduki. Fara menuruti perintah Bayu, berjalan menyeret langkahnya yang terasa berat lalu duduk perlahan di samping suaminya. “Fara, udah aku bilang kamu harus menuruti perintahku kalo kamu masih mau diterima di keluargaku.” Fara meremas sisi bajunya. Baru saja dia duduk, suaminya sudah mengajak bicara tentang sumber kekesalannya tadi. “Tapi Mas, apa aku harus diam aja kalo ada yang menghinaku? Kamu denger sendiri kan tadi, mereka ngomongin pendidikanku,” sungut Fara, menyandarkan tubuhnya ke sofa dengan hati yang dongkol. “Iya, membela diri boleh, tapi lihat sikon. Inilah yang akan kita dapatkan kalo melawan keluargaku, Fara. Selama ini memang aku menutupi karena keluargaku ingin aku mendapatkan wanita dari kalangan setara dengan mereka—“ “Jadi, aku nggak setara sama kalian, terus karena itu mereka selalu nyuruh-nyuruh aku jadi pembantu saat pesta-pesta yang mereka adakan? Oalah,” omel Fara menyingkap poni di wajahnya hingga tampak dahinya. “Fara, bukan gitu, tapi—“ Bayu menghentikan pembicaraan yang terasa mengesalkan untuk dilanjutkan itu. Namun, sepertinya Fara masih tidak terima dengan sikap keluarganya. “Aku heran sama keluargamu. Masih menilai seseorang dari pendidikan. Memang pendidikan penting, tapi belum tentu seseorang yang berpendidikan tinggi memiliki akhlak yang baik. Contohnya, kakak-kakakmu itu, Mas! Tadinya kupikir semakin tinggi pendidikan akan membawa seseorang ke sikap yang lebih sopan dan menghargai orang yang di bawahnya, tapi ternyata melihat kelakuan sombong kakak-kakakmu itu, jadi berubah pikiran aku,” sungut Fara, melipat kedua tangannya di d**a. “Fara, apa yang mereka lakukan ada maksudnya sendiri. Mereka ingin agar aku mendapatkan jodoh terbaik. Jangan salahkan mereka.” Fara melotot mendengar ucapan suaminya. “Ya? Mendapatkan jodoh terbaik? Jadi mendapatkan aku bukan yang terbaik kan, Mas? Bener, ini semua yang disalahin aku. Karena aku nggak bisa tunjukkan ijasah, karena aku dari panti asuhan, maka semua hal adalah salahku. Bahkan pas aku bener sekalipun, nggak boleh dibilang bener. Aku adalah kesalahan, iya, kan?” sungut Fara. “Udah deh, Fara! Bukan gitu! Ah, capek aku debat sama kamu. Aku mau tidur!” Bayu beranjak dari duduknya, meninggalkan Fara yang menatapnya dengan sorot tajam karena sisa-sisa kekesalan yang masih mengendap di d**a. “Besok aku mau kerja, Mas!” “Terserah!” gerutu Bayu yang sudah kepalang kesal dengan istrinya itu. Fara mengendikkan bahu dengan cepat karena kaget mendengar suara pintu kamar dibanting oleh Bayu. Fara makin membulatkan tekad, bahwa dia akan yakin bekerja di rumah lelaki tampan yang tadi dia temui. Fara kembali mengeluarkan benda pipih bertuliskan nama dan alamat orang tadi. “Pembantu juga nggak apa-apa, itu kan pekerjaan halal? Lagian, lelaki tadi sepertinya memang kaya raya. Jadi, aku bisa mendapatkan uang bukan dari hasil suamiku saja. Biar nggak direndahin kelurgamu, Mas,” gumam Fara menyipitkan kedua matanya menatap ke arah kamar mereka. *** Bai Prijambodo Firdaus, pria berusia 60 tahun dengan nama beken yang dikenal oleh para pebisnis yaitu Daus Bai, pebisnis handal kelas kakap yang memulai kariernya dari nol. Dimulai dengan bisnis property dan sekarang berkembang pesat bukan hanya di satu bisnis perumahan, tapi dia juga memiliki tambang emas dan memiliki puluhan toko emas yang tersebar di negeri itu. Tidak banyak orang tahu nama asli pria ini. Bersama dengan sang istri, Patricia Poland, wanita berdarah Indo-Jerman yang memiliki wajah cantik dan kulit yang mulus, bahkan sampai usianya menginjak 51 tahun. Mantan artis ini berdiam di rumah, mengakhiri karier usai dipinang oleh Bai, 26 tahun yang lalu, padahal dia sedang berada di puncak kariernya saat itu. Mereka memiliki seorang putri cantik yang memang disembunyikan dari awak media karena tidak mau mengganggu tumbuh kembangnya sejak kecil dengan penjagaan ketat. Namun, karena itu malah membuat putri mereka, Faradilla Terry Firdaus, menjadi tidak dikenal oleh masyarakat. Keduanya berpikir untuk mencarikan jodoh yang tepat untuk putri mereka karena usia anak itu sudah matang. Namun, nyatanya Terry malah pergi dari rumah dan menentang, mengatakan bahwa dia bisa mendapatkan jodohnya sendiri. Bai tidak habis pikir. Putrinya sangat keras kepala, menginap di panti asuhan yang dia dirikan selama berbulan-bulan, bahkan semua anak panti tidak mengetahui siapa putrinya itu karena dia mengaku bahwa namanya adalah ‘Fara’. Sampai-sampai, seorang anak pengusahan tertarik pada Terry alias Fara dan menikah di KUA karena Bai belum mengungkap identitas yang sebenarnya waktu menikahkan anaknya. Juga sewaktu Patricia bertanya kenapa tidak ada pesta setelah pernikahan, Bai mengatakan sesuai dengan ucapan Fara bahwa dia yang tidak menginginkan pesta-pesta. Ya sudah, hanya ijab kabul dengan wali dari Bayu Handoyo yang mengatakan orang tuanya sedang ada keperluan besar di luar negeri. Miris. Karena kelakuan Fara, semua orang terkena imbasnya. Patricia sempat sakit. Bai juga harus tutup mulut karena Fara ingin mengungkap identitasnya setelah bisa membuktikan pada kedua orang tuanya bahwa dia akan berhasil tanpa apapun yang dia bawa dari rumah. Benar-benar membingungkan, tapi Bai yakin putrinya bisa melakukan hal itu. Hari itu, Patricia tergopoh-gopoh mendatangi suaminya, membawa ponsel dengan case ungu bergambar kupu-kupu miliknya. “Sayang, anak kita—“ “Aku udah tau, Sayang. Dia pindah rumah, kan?” tebak Bai, menutup laptopnya dengan wajah santai. Tampak kecemasan seorang ibu dari wajah Patricia. Bai menarik tangan wanita cantiknya itu untuk duduk di sampingnya. “Biar saja, Ma. Dia dengan pilihannya sendiri. Mungkin itu yang terbaik untuknya. Asal dia bahagia dan tidak membahayakan dirinya. Keluarga Handoyo memiliki satu bisnis kecil dan kukira putra mereka akan mencukupi kebutuhan hidup anak kita. Meski begitu, kita harus diam dulu karena keluarga Handoyo belum tampak sifat aslinya. Jangan gegabah. Aku percaya anak kita bisa melalui kesulitannya. Aku pikir, membiarkannya dalam kesulitan akan mendewasakan dirinya yang manja dan keras kepala itu.” Patricia menghela napas. Putrinya agak keras dan akan melakukan apapun demi membela haknya, sesuai jalan kebenaran. Patricia tahu benar akan watak anaknya. Namun, dia juga tahu bahwa putrinya memiliki hati emas. “Semoga dia selalu dalam keadaan sehat untuk menjalani pembuktian dirinya.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD