“Apa maksud kalian?” tanya Fara datar. Namun, gemuruh dalam dadanya sebenarnya sudah membuat sesak karena ucapan-ucapan beberapa manusia yang sekarang melengos akan kedatangannya itu.
“Fara, udah, kamu nggak usah ke sini—“
Fara mendorong d**a Bayu yang hendak mencegahnya masuk ke ruang tengah. Namun, kaki Fara sudah gatal ingin masuk dan bertanya apa yang sedang mereka bicarakan.
“Oh, jadi seperti ini kesopanan istri kamu, Yu?” tanya Putri menatap sinis, bergantian antara Bayu dan Fara.
“Maaf, Mbak. Mungkin Fara capek—“
“Aku nggak capek kalo aku nggak denger semua obrolan kalian tentang pendidikanku!” potong Fara kesal karena Bayu selalu lemah dan ingin agar dia pergi dari tempatnya berdiri sekarang.
“Jadi, kamu ke sini mau membela diri atas apa yang kami bicarakan tentang kamu itu, iya?” tanya Dela, berdiri karena merasa mulai terpancing emosi dengan kehadiran Fara yang serasa ingin menantangnya.
“Dela,” sergah Andi, tapi wanita itu tetap berdiri menepis tangan suami yang hendak menahannya.
Dia sekarang berdiri tepat beberapa inchi di depan Fara dengan kedua mata menatap Fara tidak suka. Tangannya dilipat di depan d**a dan pandangannya berubah sangat sinis.
Fara menghela napas dengan perlakuan keluarga itu. Satu orang mewakili sifat semuanya. Buktinya, tidak ada yang berniat untuk membelanya.
“Ya! Jangan merasa dengan pendidikan tinggi kalian boleh semena-mena menghina orang lain!” sahut Fara tegas, tidak berpindah pandangan dari kedua mata Dela yang lebih tinggi beberapa centi darinya karena wanita itu memakai high heels tujuh centimeter, sementara Fara hanya memakai sepatu flat.
“Pendidikan menentukan kualitas seseorang. Nggak ada dari keluarga kami yang berpendidikan lebih rendah daripada sarjana, meskipun hanya mengatur rumah tangga. Tapi, kamu? Apa nanti kalo kamu punya anak, kamu bisa memberi pendidikan layak kalo orang tuanya saja berpendidikan rendah? Juga soal kualitas management keuangan. Buktinya, Bayu di-PHK dari kerjaannya setelah satu bulan kalian menikah. Itu artinya, kamu sebagai lulusan sekolah menengah tidak mampu untuk membantunya mengurusi keuangan. Benar kan?” cecar Dela, lebih mendekat ke arah Fara dengan menunjuk d**a Fara menggunakan kuku jari telunjuknya yang diwarnai merah.
Fara membuang muka ke samping. Dia sempat melihat anggota keluarga Handoyo menatapnya dengan puas karena bisa dikalahkan oleh Dela.
“Aku nggak berpendidikan rendah. Aku ini lulusan—“
“S1? S2 atau S3? Hah?” potong Dela.
Fara menggeram lirih dengan kedua tangan mengepal erat di samping tubuh. Giginya menggertak kasar karena dia pastikan akan kalah berdebat dengan wanita di depannya karena tidak bisa membuktikan pendidikan tinggi yang dia ucapkan itu. Ijazahnya tertinggal di rumah, dan lagi tidak mungkin ayahnya akan mau mengijinkan dirinya mengambil barang itu.
Permintaan sang ayah, Bai Prijambodo, saat penolakannya atas perjodohan dengan anak teman ayahnya, agar dia pulang dengan kesuksesan atas usaha sendiri bersama sang suami pilihannya sendiri, membuat Fara menunda kepulangan karena malu jika belum bisa memenuhi permintaan sang ayah.
Terdengar tawa menggelegar dari mulut Dela karena Fara terdiam beberapa saat.
“Udah kuduga, kamu hanya tong kosong yang nyaring bunyinya. Modal apa masuk ke keluarga ini, kalo pendidikan saja rendah?” tukas Dela, kembali ke tempat duduknya.
Sedangkan semua anggota keluarga sesekali menatapnya dan tidak ada seorang pun yang menyuruhnya duduk.
“Udah kubilang, kamu itu di dapur aja, Fara.”
Bayu merasa gemas karena keras kepala istrinya itu. Sekarang, dia akan tambah menjadi bulan-bulanan keluarganya. Bayu tidak menyangka Fara akan senekat itu menghadapi keluarganya. Bibir Fara mengerucut, dan tanpa berpamitan, dia keluar dari ruangan itu.
“Udah mama bilang, Yu. Kalo memilih jodoh, harus memperhatikan bibit, bebet dan bobotnya.”
Sebelum Fara benar-benar pergi, ucapan ibu mertuanya menambah perih rasa hatinya.
“Sial,” gerutu Fara kesal.
“Fara, kamu bisa pulang sendiri? Aku mau bicara sama keluarga gara-gara ulahmu tadi,” sungut Bayu yang keluar dari ruang tengah menyusul istrinya, menatap Fara dengan jengkel.
“Aku baru mau bilang, aku akan pulang sendiri, Mas!” balas Fara, berbalik dan bergegas pergi dari rumah itu.
“Fara!”
Bayu menggelengkan kepala melihat kelakuan istrinya yang tidak mengindahkan panggilannya. Sungguh, dia tidak tahu lagi bagaimana harus menjelaskan semua pada keluarga. Dia ingin agar Fara lebih sedikit mengalah untuk menahan kekesalan keluarga, tapi beberapa menit lalu perempuan itu malah membuat keluarganya marah.
***
Fara menaiki taksi dan meminta sopir menurunkannya di sebuah tempat yang agak jauh. Dia memilih berjalan menelusuri jalan yang sepi agar kekesalan hatinya berkurang. Dia menahan kedua mata yang sudah menghangat, karena tidak pernah ada orang yang melecehkannya selama ini. Sekarang, baru dia merasakan keluarga Bayu merendahkannya hanya karena pendidikan.
“Aku nggak mau tinggal diam di rumah. Memangnya, tanpa ijasah, tanpa pengalaman, aku nggak bisa kerja? Aku bersumpah, aku bakal nerima pekerjaan apapun yang aku dengar malam ini!” lantangnya ke langit, seolah ada malaikat di sana yang mendengarnya.
Fara tidak menyadari adanya seorang lelaki yang berdiri dilewatinya. Pria itu bernama Sagara, yang sebenarnya hanya ingin berhenti di taman untuk menenangkan pikiran. Masalah di kantor, juga di rumah. Dia baru saja membeli rumah baru yang masih kosong karena rencana pernikahannya gagal.
“Bener kamu mau kerja?”
Suara pria di sampingnya membuat Fara terperanjat dan menoleh dengan cepat.
“Ah! S-sejak kapan Anda di situ?” tanya Fara dengan jantung berdetak cepat karena terkejut. Dia rasa, taman kota yang dia tuju itu sudah sepi pengunjung, tapi ternyata tidak. Ada seorang lelaki yang berdiri di sisi taman, menyalakan rokoknya.
“Sejak tadi, sejak kamu belum menginjakkan kakimu di situ,” sahutnya menunjuk tempat berpijak Fara dengan mata dan alisnya dengan sibuk menghisap rokok.
“Emmm, lupakan. Kata Anda tadi, saya mau kerjaan? Apa saya nggak salah denger?” tanya Fara, mengulang ucapan pria tampan itu setelah meredakan rasa kagetnya.
“Iya, kamu nggak salah denger. Aku memang lagi cari orang untuk kerja, dan sepertinya kamu masuk ke dalam kualifikasi. Tanpa pengalaman, tanpa ijasah.”
Fara meringis, tapi kedua matanya berbinar mendengar hal itu. Dia menarik napas dan menghadap ke pria yang berkaus biasa itu. Melihat tampilan sang pria, dia merasa ragu.
“Sebentar, apa Anda mau menjual saya?”
Sagara tertawa terkekeh mendengar pertanyaan Fara. Dia menoleh ke samping kanan dan kiri. Fara makin memicingkan sebelah matanya karena keraguannya makin besar.
“Buat apa aku menjualmu. Memangnya uangku kurang? Lagian, perempuan sepertimu kayak kurang pengalaman dalam hal melayani pria, kan?”
Fara melotot mendengarnya
“Apa, mau marah?” tanya Sagara menaikkan kedua alisnya.
Fara menahan diri dengan kesombongan lelaki itu dan tentu saja dia memang belum berpengalaman melayani pria. Jika marah, dia malah menunjukkan bahwa dia tidak terima dibilang wanita baik-baik yang full pengalaman dalam melayani pria.
“Oke, oke, nggak usah panjang-panjang lagi. Anda punya pekerjaan apa buat saya?” tanya Fara lagi.
“Sesuai dengan kualifikasi, ada lowongan kerja jadi pembantu di rumahku,” beber Sagara, membuat dua mata bening Fara terbelalak.