01
Seorang Profesor gila telah membuat virus zombie, yang bisa menyerang melalui luka yang masih basah. Sebelumnya virus itu terjaga dengan baik, sampai akhirnya virus itu menyebar tanpa terduga. Menghancurkan separuh dunia. Hanya beberapa orang yang bisa selamat. Termasuk penjaga keamanan, para Dokter, Profesor, dan beberapa pemuda dari berbagai negara. Mereka membuat misi untuk menyelamatkan dunia mereka kembali, dengan mencari si Profesor gila untuk meminta penawar virus mengerikan ini. Profesor gila itu telah menghilang sejak awal virus menyebar. Para Dokter dan Profesor hanya mampu membuat penawar virus untuk orang-orang yang baru terkena virus dan belum menyebar, tidak bisa untuk menyembuhkan zombie sesungguhnya.
Rosa menatap remaja seusianya juga pemuda yang jauh lebih dewasa, berlalu lalang pada sebuah ruangan bertembok tebal dan sangat kokoh.
Mereka memakai pakaian-pakaian sederhana dengan warna-warna dan model senada. Abu-abu dan hijau untuk para anak laki-laki, pink pucat dan merah marun untuk anak perempuan.
Dan sekarang Rosa sendiri dalam balutan kaos berwarna merah marun. Seperti mereka memakai seragam sekolah.
Rosa menarik kebelakang rambut pendeknya, sebelum akhirnya bergabung dengan para remaja juga pemuda yang lain untuk mencari teman atau yang lainnya.
Perempuan sangat sedikit di sini, setahu Rosa. Memang banyak perempuan yang menjadi korban virus mengerikan itu. Virus zombie, yang ada secara tak terduga.
Rosa benci memikirkannya. Ia berharap bertemu saudaranya yang mungkin selamat, atau temannya. Tapi dia sama sekali tidak menemukan orang yang dikenalnya. Keluarga... entahlah. Rosa tidak mau memikirkannya karna itu terlalu menyakitkan.
Orang-orang di sini dari berbagai negara, suku, ras dan agama. Tapi tidak ada yang bersikap rasis atau saling menganggu. Karna sejak awal mereka sudah diberitahukan peraturan utama.
Dilarang saling memusuhi atau kau akan dilemparkan ke para zombie kanibal yang kelaparan.
Zombie kanibal adalah tingkatan paling buruk seseorang terkena virus. Dia bukan saling menyebar virus lagi, melainkan saling memangsa.
Meskipun mereka dari berbagai negara yang berbeda bahasa, mereka mengerti bahasa satu sama lain. Tidak sempat untuk belajar bahasa Inggris hingga fasih.
Mereka diberikan earphone yang selalu terpasang di telinga kanan, untuk menerjemahkan bahasa lain yang tidak dimengerti.
Rosa baru tiga hari disini, dia mengalami koma selama dua hari sebelum akhirnya sadar dipagi hari ke tiga, namun dia baru keluar kamar inapnya pertengahan hari. Dari cerita yang ia dapatkan dari Dokter, ia mendapat gigitan cukup banyak pada leher, lengan dan kakinya, karna terus memeluk adik-adiknya dan tidak mau dibawa pergi.
Beruntung dia langsung mendapat pertolongan pertama, sebuah penawar yang hanya mampu menolong orang yang mendapat gigitan diawal, dan virusnya belum menyebar kemana-mana.
Kabarnya adik-adik Rosa sudah diamankan, dan akan sembuh jika penawar utamanya berhasil ditemukan. Entah itu sungguhan, atau hanya untuk membuat Rosa tenang dan mau keluar dari kamar inapnya.
Yang jelas sekarang pikiran Rosa kosong dan dia tidak tahu harus bagaimana. Rosa bisa melihat sekumpulan anak laki-laki dengan wajah oriental dan memiliki surai warna-warni tengah mengobrol di sebuah meja, dengan berbagai cemilan dan minuman bersoda dihadapan mereka.
Rosa bisa menebak mereka berasal dari mana.
Ia heran melihat bagaimana mereka bisa bergurau seolah di dunia luar baik-baik saja, dan mereka di sini hanya untuk sekolah atau asrama.
Rosa segera mengalihkan pandangannya ke arah lain, saat salah satu dari mereka tiba-tiba memutar kepala ke arahnya, dan tepat menatapnya. Tak disangka, akhirnya salah satu anak laki-laki dari mereka berdiri, dan berjalan menghampirinya.
"Baru ya? Aku baru melihatmu," Rosa hanya menatap dingin anak laki-laki yang baru bertanya padanya.
Namun dia tetap tersenyum, sembari memasukkan beberapa biji kacang ke dalam mulutnya.
Ia tak lama mengulurkan tangannya pada Rosa.
"Jovin. Bisa kau panggil Vin, atau hanya Jovin. Tapi jangan Iqbal. Aku muak dipanggil seperti itu oleh anak-anak dari Indonesia, dan akhirnya anak-anak dari negara lain sering memanggilku begitu, aneh." Anak laki-laki itu berceloteh panjang. Rosa menatap ragu tangan yang masih setia terulur padanya, sebelum akhirnya dia menjabat tangan tersebut. Merasa tidak enak.
"Rosa." Kata super singkat keluar dari mulut Rosa, membuat anak laki-laki bernama Jovin itu terpaku untuk beberapa saat, sebelum akhirnya menaikan alisnya, untuk menghilangkan ketegangan pada wajahnya sendiri.
"Rosa? Nama yang bagus. Hanya Rosa?"
"Rosa Adelina."
"Oke. Butuh pemandu? Untuk melihat-lihat tempat ini. Benteng pelindung kita."
Rosa terdiam sejenak, sembari mengedarkan pandangannya sejenak. Sebelum akhirnya fokusnya kembali pada Jovin.
"Ya, aku ingin tahu."
-- -- --
"Jadi kau dari Indonesia?" Tanya Jovin. "Ya," balas Rosa singkat.
Matanya sedari tadi terus menatap lurus ke depan. Sepanjang mereka menelusuri lorong kosong.
"Kau tidak terlalu tampak seperti orang Indonesia. Hanya sedikit." Komentar Jovin sembari memperhatikan Rosa dari bawah ke atas.
"Orang Indonesia kebanyakan darahnya sudah bercampur dengan negara atau suku lain yang berbeda ras. Menghasilkan generasi yang selalu indah dan beragam." Balas Rosa sembari tersenyum miring.
"Ya kau cantik. Beberapa gadis dari sana juga begitu. Tapi kebanyakan mereka pendiam. Sebenarnya kebanyakan anak begitu, terutama perempuan. Termasuk kau."
"Jadi..... ini adalah tempat teraman di dunia sekarang?" Rosa lebih memilih membahas mereka berada di mana sekarang. Dibanding membicarakan perihal fisik yang tidak penting menurutnya.
"Ya." Balas Jovin singkat ditambah anggukan kepala.
"Ada di negara mana?" Jovin menggendikan bahu mendengar pertanyaan Rosa selanjutnya.
"Aku tidak tahu. Tidak ada yang tahu, bahkan pembangun benteng ini, juga sistem-sistemnya. Yang kami semua tahu, kami hanya berada di tempat yang aman."
Rosa menatap Jovin dengan tatapan datar. Merasa tidak puas dengan jawabannya, tapi... memang kenyataannya tidak ada yang tahu mereka berada di negara apa. Jadi mau bagaimana lagi?
Yang terpenting sekarang mereka aman dari serangan zombie mengerikan.
"Kau masih dapat bersenang-senang ya dengan temanmu? Meskipun kondisi kita begini." Jovin tersenyum sejenak mendengar pertanyaan Rosa.
Dan mengajaknya berbelok pada lorong yang lain. Lorong itu memiliki banyak ruangan dan tampak ramai. Pintu-pintu terbuat dari kaca, sehingga mereka bisa melihat aktifitas yang ada di dalam.
Dari yang Rosa lihat. Ini seperti lorong tempat khusus menyalurkan hobi. Tampak menyenangkan.
"Aku berada di sini sudah cukup lama. Awalnya aku tertekan juga. Tapi lama-lama aku berpikir, untuk apa terlalu berlarut dalam kesedihan? Semua akan ada jalan dan penyelesaiannya. Mungkin."
"Kenapa kau sebut mungkin?"
Jovin hanya menatap sejenak Rosa, sebelum akhirnya malah mengalihkan pembicaraan.
"Ini tempat kau bisa bersenang-senang dengan menyalurkan hobimu. Yah seperti yang kau lihat." Keterangan singkat yang sama sekali tidak Rosa perlukan, karna ia sudah bisa menebak tempat apa ini.
"Sekarang kita ke tempat lain." Jovin pun membawa Rosa ke lorong yang lain.
Kembali banyak ruangan yang tertutup pintu kaca.
"Ini tempat pelatihan." Ucap Jovin dengan nada rendah. Dari nada suaranya terdengar ia kurang menyukai tempat ini.
"Tempat pelatihan?" Rosa bertanya.
"Ya, ruangan ini, tempat latihan memanah, pasti terlihat dari luar. Itu namanya Lee Tristan, dia jago sekali memanah, padahal baru seminggu disini." Rosa hanya diam selagi Jovin menjelaskan. Namun mata Rosa tidak dapat lepas dari seorang pria berahang tajam dengan surai kecoklatan. Rambutnya tampak rusak.
"Ini tempat latihan menembak, latihan karate-" Rosa tidak terlalu mendengarkan Jovin yang sedang menjelaskan ruangan-ruangan apa saja disini.
Yang ada dibenaknya sekarang, mereka semua latihan untuk apa?
Apa latihan jika sewaktu-waktu zombie menyerang dan benteng ini tidak bisa melindungi mereka lagi?
"Kenapa mereka semua berlatih hal-hal ini?" Tanya Rosa.
"Jadi kau belum tahu?" Jovin malah balik bertanya.
Rosa menatap Jovin serius.
"Apa?"
Jovin menghela nafasnya sejenak.
"Setiap bulan, akan dibentuk satu kelompok berisi beberapa orang. Kelompok itu kemudian akan dilepas ke dunia luar. Mereka diperintahkan pergi menelusuri dunia. Untuk mencari orang gila."
"Orang gila?"
"Kau tahu? Virus abnormal yang menjadikan dunia hancur ini. Virus itu bukan datang alami dari Tuhan, Tuhan tidak mungkin sekejam itu. Virus itu buatan, buatan profesor gila. Yang sekarang menghilang entah kemana setelah virus menyebar. Dia pasti punya penawar virus itu, yang bisa mengembalikan seseorang yang sudah menjadi zombie seutuhnya, kembali seperti semula. Para profesor lain dan dokter tidak bisa menemukan formulanya. Jadi kita harus mencari profesor itu. Gila memang, sudah hampir setahun setiap kelompok di lepaskan tapi profesor itu belum ditemukan juga."
Rosa terdiam sejenak.
"Bagaimana jika profesor gila itu ternyata tidak punya penawarnya juga?" Tanya Rosa.
"Tidak, dia punya. Profesor Sam, dia teman kerja profesor gila itu, dia tahu profesor gila itu punya penawarnya."
-- -- --
Mereka sampai ke lorong yang lain, di mana rupanya anak-anak diamankan. Mereka belajar, bermain dan beberapa dalam pengawasan psikolog. Jovin bilang, itu karna mental mereka down juga trauma berat.
"Seandainya adik-adikku ada di sini." Gumam Rosa.
"Jadikan itu motivasi untuk mencari profesor gila itu. Remaja-remaja seperti kita, akan dikeluarkan ke dunia nyata untuk mencarinya. Termasuk kau dan aku." Kata Jovin.
"Para penolong datang terlambat. Seandainya tidak, adik-adikku bisa selamat." Jovin memutar kedua bola matanya malas mendengar ocehan Rosa berikutnya.
"Ini takdir. Oke? Sudah digariskan oleh Tuhan. Dia selalu punya rencana baik."
"Bagaimana dengan keluargamu?"
Jovin seketika terdiam. Terkejut Rosa akan menanyakan tentang dirinya.
"Mereka... baik-baik saja."
"Aku sekarang tahu kenapa kau baik-baik saja."
"Tidak, bukan begitu." Jovin menggelengkan kepalanya frustasi sembari menggeram pelan. "Ayahku sudah di surga. Aku percaya. Dia-," Jovin menjeda sejenak ucapannya.
"Dia menjadi zombie, yah... tak lama baru penyelamat datang. Penyelamat mencoba menyelamatkan aku dan ibu, tapi ibu tergigit Ayahku saat mencoba naik helikopter. Ibu tidak tega melawannya, jadi dia hanya menangis. Sampai akhirnya ayah di tembak mati, di depanku dan ibu. ibu berhasil selamat, tapi virusnya sudah menyebar di kakinya. Itu tidak bisa diselamatkan dengan penawar, jadi terpaksa para dokter mengamputasi kakinya. Sekarang dia masih koma." Rosa tercengang untuk beberapa saat mendengar cerita Jovin.
Seharusnya Rosa tahu kondisi orang-orang di sini tidak ada yang baik-baik saja.
"Bagaimana orang tuamu?" Tanya Jovin kemudian.
Rosa mencoba tersenyum kecut.
"Mereka bunuh diri, saat sadar tergigit. Mereka mencium anak-anaknya sambil menangis, sebelum akhirnya pergi. Selamanya." Rosa bercerita dengan singkat, namun matanya sudah dipenuhi air mata yang siap tumpah.
"Kau pasti dari keluarga yang hangat." Komentar Jovin mencoba membuat Rosa tak terlalu sedih.
"Eum, ya," balas Rosa dengan nada bergetar.
"Orang tuamu pasti sudah tenang di surga. Karna mereka berhasil membangun keluarga yang hangat. Orang tuaku sering bertengkar dulu, karna Ibu seorang pemabuk."
Rosa hanya diam tidak membalas perkataan Jovin.
"Apa seseorang yang terkena virus dan virusnya sudah menyebar sedikit, tidak bisa disembuhkan dengan penawar yang ada?" Tanya Rosa mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Tidak bisa. Aku sudah bilang. Terpaksa bagian tubuhnya yang terkena gigitan diamputasi, untuk memberhentikan penyebaran virus. Virus itu paling berbahaya saat terkena langsung dengan otak." Jovin tiba-tiba menepuk bahu Rosa, dan menunjuk seorang pria berkulit pucat dengan senyuman manis dan lesung pipi.
Pria itu tengah menyapa anak-anak.
"Namanya David. Dia tampankan? Hampir semua gadis dekat dengannya, karna cara bicaranya yang lembut, dia juga ramah. Dia pendengar yang baik. Perhatikan tangan kanannya." Rosa mengikuti apa yang Jovin perintahkan padanya. Dan Rosa akhirnya baru menyadari, jika pria tampan itu tidak memiliki tangan kanannya.
"Virusnya menyebar sampai ke siku. Jadi... tangannya dipotong dari siku." Ucap Jovin. "Dia digigit saat sedang bertugas mencari Profesor gila. Dia memang orang lama. Sedangkan saat itu penawar yang dibekali untuk kelompoknya sudah habis. Jadi helikopter segera di panggil, sayangnya... virus sudah menyebar."
"Jadi setiap kelompok yang bertugas dibekali penawar?"
"Tentu saja. Kita bisa digigit setiap saat kalau sudah berada di luar. David tidak akan bertugas lagi karna cedera. Melegakan."
Rosa kemudian hanya terdiam.
-- -- --
Waktunya makan malam. Semua orang berkumpul di ruangan khusus untuk menyantap makan malam mereka. Suasana cukup gaduh, dan penjaga tidak berniat menenangkan mereka.
Mereka sudah terlalu lelah mengucapkan kalimat yang sama berulang, agar para bocah remaja dan pemuda tenang. Tapi tidak berhasil.
Rosa tidak tahu harus duduk di mana, sampai sebuah meja dengan kumpulan para gadis memanggilnya. Rosa melangkah ragu-ragu ke sana. Cengkramannya pada nampan berisi makanan jadi menguat.
Dengan ragu ia duduk di kursi yang kosong.
"Anak baru ya?" Tanya seorang gadis berambut blonde. Iris abu-abunya tampak sangat indah.
Mungkin dia primadona disini.
"Eum ya." Gumam Rosa.
"Jangan khawatir, disini orang-orangnya menyenangkan dan menerima satu sama lain. Jangan terlalu gugup. Namaku Angel."
"Aku Rosa."
Rosa pun mulai berkenalan dengan para gadis yang lain. Semuanya menyenangkan, termasuk gadis berambut pirang itu.
"Besok katanya akan diumumkan anggota untuk dua kelompok yang akan di kirim mencari profesor gila." Seketika seluruh raut wajah para gadis yang berada di meja tempat Rosa duduk menegang.
"Benarkah? Aku harap itu bukan aku." Timpal seorang gadis bernama Lily. Menyahuti ucapan Mutia yang tadi baru saja memberi pengumuman.
"Jangan jadi pengecut." Ucap Britney.
"Bukan begitu. Aku hanya merasa belum siap." Balas Lily.
"Yang jelas, nama Tristan dan Daniel pasti akan disebutkan."
Mereka kemudian melirik para pemuda lelaki yang berasal dari Korea.
"Aku jadi ingat saat Tristan dipukul oleh Jennie karna menyatakan cinta. Dia gila, menyatakan cinta disaat dunia sedang seperti ini."
"Ya. Dan Tristan tidak mau makan seharian, saat Jennie di kirim ke dunia luar. Bagaimana kabar Jennie sekarang? Mungkin sudah pacaran dengan Rio."
Dan gelak tawa seketika menghiasi meja makan. Rosa heran, apa yang lucu dari perbincangan ini.
Rosa memilih bicara dengan Angel yang sedari tadi tidak ikut bergosip.
"Aku mau tanya." Rosa mulai mengawali pembicaraan.
"Ya?" Sahut Angel yang mulutnya penuh.
"Apa begitu pemilihan anggota untuk membuat sebuah kelompok baru, mereka langsung di kirim keluar?" Tanya Rosa.
"Tidak. Mereka akan menjalani pelatihan dulu selama beberapa bulan, sebelum akhirnya siap. Dan kalau ada salah satu anggota yang cedera atau... belum mumpuni untuk terjun ke dunia luar. Anggota akan diganti." Jelas Angel.
"Ooh..." gumam Rosa disertai anggukan. "Aku ingin segera ke dunia luar."
Semua orang yang berada di meja tiba-tiba tersedak.
"Apa? Kau gila?"
"Aku ingin berkumpul dengan adik-adikku lagi."