32

2021 Words

"Mark!" Rosa berteriak histeris sembari mengguncang tubuh Mark yang sudah terbujur kaku dengan kepala bersimbah darah. Johnny dan Daniel langsung mendekati anak laki-laki itu. Mata dan mulut Mark sedikit terbuka, dengan pistol di tangannya. Sekujur tubuh Johnny lemas, tidak seharusnya ia membiarkan Mark sendirian. Mark pasti malah ambil kesempatan dengan dibiarkan merenung sendiri. Tristan menatap tidak percaya anak laki-laki yang akhirnya benar-benar nekat membunuh dirinya sendiri. "Mark! Apa yang kau lakukan?!" Seru Rosa dengan air mata yang tidak bisa ia tahan. Kehilangan satu anggota dari timnya adalah mimpi terburuk yang pernah ada. Tiba-tiba terdengar suara tarikan nafas panjang dan seseorang yang terduduk dari posisi berbaringnya. Semua mengalihkan perhatian mereka pada seseoran

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD