Alea beringsut dari kamar mereka setelah air matanya habis, membawa dirinya ke kamar tamu. Tangannya yang gemetar mengusap wajahnya, berharap semua ini hanya mimpi buruk yang akan segera berlalu. Namun, rasa sakit di dadanya terlalu nyata. Ia mengunci pintu dan merangkak ke atas ranjang, menarik selimut hingga menutupi tubuhnya. Tangisannya yang terisak-isak berangsur menjadi sesenggukan kecil. Namun, rasa kecewa dan marah pada Kendra tidak mau pergi begitu saja. “Kenapa dia tidak mengerti?” gumam Alea lirih, memeluk perutnya yang perlahan mulai terlihat membesar. “Aku hanya ingin kita menjadi keluarga yang utuh dan saling percaya...” bisiknya, air mata kembali mengalir membasahi bantal. Sementara itu, Kendra kembali ke apartemen setelah berjalan tanpa arah selama beberapa jam. Langkahn

