"Nggak, ini nggak mungkin. Alea, kumohon jangan bercanda, Sayang." "Alea. Alea bangun! Alea," teriak Kendra. "Alea aku tahu aku salah. Kamu bisa marahin aku, memukulku atau apapun itu, tapi jangan seperti ini. Kumohon, Alea!" "Ken!" "Kendra!" "Ken, bangun!" Kendra terbangun dengan napas tersengal, keringat membasahi dahinya. Suara Alea terdengar panik. “Kendra, kamu baik-baik saja? Kamu teriak-teriak tadi,” tanya Alea, wajahnya penuh kekhawatiran. Kendra menoleh, melihat istrinya yang menatapnya dengan cemas. Ia segera mengangguk, berusaha menenangkan dirinya sendiri. “Aku baik-baik saja, Sayang. Hanya mimpi buruk.” “Mimpi apa? Teriakanmu bikin aku takut.” Kendra menggeleng. “Tidak ada apa-apa. Aku hanya... mimpi buruk. Tidak penting.” Alea menatapnya curiga, tapi memilih ti

