BAB 1 — (Arc 1) Hari Pertama yang Langsung Kacau
Jam tujuh pagi, gerbang Akademi Arunika sudah terlihat seperti pintu masuk hotel bintang lima.
Mobil-mobil mewah berjejer rapi. Siswa berseragam mahal berjalan sambil membawa tablet. Bahkan satpamnya terlihat lebih elegan daripada manager minimarket dekat kos Kevin.
Kevin berdiri beberapa detik di depan gerbang sambil menatap plang besar bertuliskan:
AKADEMI ARUNIKA
"Membangun Generasi Masa Depan."
“Kenapa slogan sekolah elite selalu terdengar seperti perusahaan teknologi...” gumamnya pelan.
Ia menarik napas panjang lalu melangkah masuk.
Hari pertama.
Guru BK baru.
Dan entah kenapa... ia sudah ingin pulang.
---
“Maaf, kartu siswa mana?”
Kevin menoleh.
Seorang petugas keamanan menghentikannya.
“Oh, saya guru baru.”
Petugas itu terdiam.
Matanya naik turun memperhatikan wajah Kevin.
“...Serius?”
Kevin sudah mendengar kalimat itu dua kali pagi ini.
Lima menit kemudian, setelah menunjukkan kartu identitas guru, ia akhirnya dipersilakan masuk sambil menerima tatapan curiga dari dua satpam sekaligus.
Belum juga sampai ruang guru, seorang siswi berhijab yang membawa tumpukan buku tiba-tiba menghampirinya.
“Kak, ruang OSIS pindah ke gedung timur ya sekarang.”
Kevin berkedip.
“Saya guru BK baru.”
Siswi itu membeku.
Lalu wajahnya berubah merah.
“Oh— maaf! Soalnya Kakak terlalu— maksud saya— wajahnya masih— bukan! Aduh!”
Siswi itu langsung kabur seperti habis salah kirim chat ke grup keluarga.
Kevin menghela napas pelan.
“Baru juga mulai...”
---
Ruang guru ternyata jauh lebih tenang daripada yang ia bayangkan.
Wangi kopi mahal memenuhi ruangan. Pendingin ruangan bekerja terlalu dingin. Dan sebagian guru tampak sibuk dengan laptop masing-masing.
Namun ketenangan itu hanya bertahan tiga menit.
BRAK!
Pintu ruang guru terbuka.
Seorang guru perempuan masuk tergesa-gesa.
“Bu Rani! Pak Dimas! Ada keributan di kantin!”
Beberapa guru langsung menoleh.
“Keributan apa?”
“Katanya Alya nyiram jus ke Rio!”
Ruangan langsung hening.
Kevin yang baru duduk perlahan mengangkat kepala.
Nama itu tampaknya punya efek besar.
Bahkan guru matematika yang tadi tidur di meja langsung bangun.
“ALYA?”
“Yang ranking satu itu?”
“Dia berantem?”
Guru perempuan tadi mengangguk cepat.
“Sekantin lihat!”
Kevin bahkan belum sempat membuka tas ketika seseorang menunjuknya.
“Oh iya! Pak Kevin kan guru BK baru!”
Semua mata langsung mengarah padanya.
Kevin mendadak ingin pura-pura pingsan.
---
Kantin Akademi Arunika lebih mirip food court mall premium.
Dan sekarang... isinya penuh penonton.
Puluhan siswa berdiri melingkar sambil berbisik-bisik heboh.
“Serius Alya nyiram jus?”
“Rio sampai diem loh.”
“Gila...”
Di tengah kerumunan, seorang cowok tinggi berseragam rapi berdiri dengan noda jus jeruk di blazer putihnya.
Ekspresinya masih kosong.
Sementara di depannya—
seorang siswi cantik berdiri santai sambil memegang gelas plastik kosong.
Alya.
Rambut panjang rapi. Seragam sempurna. Wajah tenang.
Terlalu tenang malah.
“Permisi.”
Kevin mencoba masuk ke tengah kerumunan.
Beberapa siswi langsung saling bisik.
“Itu siapa?”
“Siswa baru?”
“Cakep banget jir.”
“Bukan, katanya guru BK baru.”
“HAH?”
Kevin pura-pura tidak dengar.
Ia menatap Rio.
“Kamu tidak apa-apa?”
Rio mengangguk pelan.
“...Saya cuma bingung, Pak.”
“Saya juga,” sahut Kevin jujur.
Lalu ia menoleh ke Alya.
“Bisa ikut saya ke ruang BK?”
Alya menatap Kevin beberapa detik.
Tatapannya datar. Sulit dibaca.
Lalu ia mengangguk kecil.
“Oke, Pak.”
Yang membuat suasana makin aneh—
Alya sama sekali tidak terlihat menyesal.
---
Perjalanan menuju ruang BK terasa seperti jalan kaki di tengah siaran gosip nasional.
Bisikan siswa terdengar di mana-mana.
“Itu Alya?”
“Pertama kali dia dipanggil BK.”
“Pak BK baru ganteng banget sumpah.”
“Fokus woy.”
“Gak bisa.”
Kevin mulai paham. Sekolah ini punya dua hal: prestasi tinggi dan siswa yang terlalu suka bergosip.
---
Ruang BK ternyata cukup nyaman.
Sofa abu-abu. Rak buku. Tanaman kecil di sudut ruangan.
Kevin duduk perlahan sambil membuka map kosong.
Masalahnya... ia belum tahu harus mulai dari mana.
Alya duduk di depannya dengan ekspresi santai.
Tidak gugup. Tidak takut.
Malah terlihat seperti sedang menunggu acara dimulai.
Kevin berdeham kecil.
“Jadi... kamu mau cerita kenapa nyiram jus ke Rio?”
“Karena saya ingin.”
Jawaban tercepat yang pernah ia dengar.
Kevin mengusap pelan dahinya.
“Biasanya ada alasan.”
“Ada.”
“Apa?”
“Saya ingin melakukannya.”
“...”
Oke. Siswi ini sulit.
Kevin memperhatikan wajah Alya lebih lama.
Dan di situlah ia mulai merasa aneh.
Karena senyum Alya terlihat sempurna.
Terlalu sempurna.
Seperti orang yang sengaja memastikan tidak ada celah emosinya terlihat.
“Rio bikin masalah sama kamu?” tanya Kevin lagi.
“Enggak.”
“Berantem sebelumnya?”
“Enggak.”
“Kamu marah sama dia?”
“Enggak juga.”
Kevin terdiam.
Lalu kenapa?
Beberapa detik hening.
Alya menyandarkan tubuhnya ke sofa lalu menatap Kevin.
Untuk pertama kalinya sejak tadi, ekspresinya berubah sedikit.
Bukan marah.
Bukan sedih.
Lebih seperti... lelah.
“Pak Kevin.”
“Iya?”
Alya tersenyum kecil.
“Menurut Bapak...”
“Seseorang harus terlihat seburuk apa supaya akhirnya ditinggalkan?”
Ruangan mendadak terasa jauh lebih sunyi.
Dan untuk pertama kalinya hari itu—
Kevin merasa: hari pertamanya di Akademi Arunika mungkin tidak akan normal sama sekali.