BAB 19 Selalu Ada Jalan Keluar

1151 Words
Tidak lama kemudian Brownipun diam. Jose masuk ke kamarku, "Barang-barang om Andre sudah tak ada di luar, ada mobilnya masuk halaman pintu samping, Ma" " Ya sudah, kita tak perlu lagi berurusan dengan dia, Nak" Itulah terakhir kalinya.Andre datang di kontrakanku. Kini setelah anak'anakku, Jose dan Tamar menikah dengan ponakannya Andre sebebasnya- bebasnya masuk di rumah yang dikontrak anakku untuk kutempati dengan tenang. *** Tamar telah kembali ke tempat kerjanya sendiri belum membawa Arni. Arni masih tinggal bersama orang tuanya. Arnipun tidak datang ke tempatku, tapi kutanggapi positif saja. Lima hari setelah Tamar berangkat sendiri, pagi ini pukul sembilan Arni chat Arni .Selamat pagi Ma, maaf saya tidak sempat lagi ke situ, nanti jam sepuluh saya berangkat ke Makassar, besok kalau Tuhan berkenan terus ke Papua. Baik-baik di rumah ya mama. Aku Pagi juga Nak, semoga tiba dengan selamat. Salam saja pada Tamar. Arni tinggal terus di rumah orang tuanya padahal jarak kontrakanku dan rumahnya hanya membutuhkan sepuluh menit naik motor. Sampai hari keberangkatannya dia hanya sampaikan melalui pesan singkat, tanpa ada kerinduan untuk menemuiku. "Menantu mama nggak pernah datang lihat Mama ya," Jose memandangku datar "Ah ... berpikir positif sajalah. Dia pasti sibuk," "Iyalah bawa santai saja, Ma," kata Jose sambil keluar dari kamarku. Menjenguk mertua seperti tidak terlalu penting bahkan hanya membuang waktu dan tenaga saja. Apalagi mertua dalam segala keterbatasan dengan kata lain sakit. Hadeww Arni telan tiba di Makkaassar sore ini.Dia chat besok pagi pukul sepuluh pesawatnya berangkat ke Papua ke tempat Tamar. Arni tidak sempat lagi menemui Jisan dan Agnes di rumah yang dikredit Mada, Tamar, dan Berdi. Arni tinggal dirumahnya yang dibeli orang tuanya. Ya sudahlah. Aku chat Jisan dan Agnes pagi-pagi sebelum mereka berañgkat kuliah. Aku Pagi Nak, kak Arti datang di situ ya Agnes Nggak Ma, mungkin dia tinggal di rumahnya Aku Ya udah, baik-baik kalian di situ. Salam sama Jisan ya. *** Agnes mengirim foto Jisan yang memakai baju dan topi toga malam ini. Hatiku sangat bahagia diliputi perasaan haru yang menghasilkan tetesan bening mengaliri kedua pipiku. Menangis? Ya aku menangis bahagia melihat Jisan dibalut baju toganya. "Wah ... puji Tuhan Jisan udah pake baju toga ya," kata Dio yang duduk di kursi dekat tempat tidurku "Syukurlah Nak, satu tahao selesai. Semoga lancar sampai meraih gelar dokternya "Amin," Menurut Jisan hari wisuda lagi tiga hari, akupun memberitahu mungkin aku tak akan ke Makassar karena keterbatasan biaya. Dengan santainya Jisan menjawab melalui video call "Tidak apa-apa Ma, wisuda akan disiarkan lewat You Tube jadi mama bisa nonton di situ" "Apa kamu tidak sedih kalau sudah selesai wisuda tidak ada keluargamu menunggumu di luar Nak," " Ah biasa itu,Ma" "Mama tidak bisa bayangkan betapa sedihnya kalau semua teman-temanmu disambut keluarnya di luar gedung diberi percel bunga, tertawa bersama, berfoto bersama dengan gonta ganti pose, tak seorangpun mengenal kamu, kamu hanya berdiri bengong menggigit kalung fakultsmu sambil air matamu turun mengairi pipimu tanpa kamu sadari, dokter muda," "Ah seperti saja sinetron,Ma" Jisan tertawa lepas saat video call dengan dia. Aku ingin sekali ke Makassar walaupun cuma menyaksikan Jisan berangkat dari rumah hasil keringat kakak-kakaknya. "Aduh ... mama ingin sekali ke Makass ar. Melihat rumah cicilan hasil keringat anak-anak mama," kataku bicara setelah makan siang kepada Dio " Ya ... mudah-mudahan ada berkat di waktu dekat,Ma" Aku ingin sekali menyaksikan Jisan melangkah dari rumah dengan pakaian kebesaran seorang Wisudawan. Bukankah waktu Mada, Jose, Tamar, Berdi wisuda aku selalu hadir mengembangkan senyum terindahku mengantar mereka mengikuti hari indah tersebut. Masih ada waktu untuk mengumpulkan biaya perjalanan. Aku menghitung uang ada di dompetku tinggal dua juta. ATM ku juga sudah habis saldonya. Carter mobil biayanya satu juta lima ratus ribu rupiah, Berarti cuma untuk perginya dan uang untuk beli air mineral, oleh-oleh dodol yang disuka Agnes tinggal lima ratus ribu rupiah. Duh. . Aku memberanikan diri chat Mada untuk minta masukannya, sekaligus minta tambahan biaya. Setidaknya ada uang merah terselip di dompetku apalagi pada saat hari sakral seperti wisuda, mungkin saja Jisan akan meminta uang bensin atau uang apalah ketika melihatku ada di sampingnya. Ahh Mada sudah membaca chatku dan dia menjawab dia cuma punya uang satu juta rupiah. Tidak apa-apa 'kan minta berkat kepada anak kita yang sudah bekerja to wajar-wajar saja yang penting minta dengan lemah lembut. Aku chat Tamar walaupun aku tahu dia barusan membelanjakan uang untuk acara pernikahannya. Ya! Tamar mengirim lima ratus ribu rupiah. Sekarang Berdi. Harap-harap cemas chat yang kukirim pada Tamar untuk meminta budget kuteruskan kepada Berdi, puji Tuhan dia mengirim satu juta lima ratus ribu rupiah. Dengan penuh rasa syukur dan bagagia aku membalas chat mereka mengucap terima kasih banyak. Aku memberi tahu Jose, Yeti, Dio kalau besok sore rencana berangkat ke Makassar kalau Tuhan berkenan. Jose menghubungi sopir yang menyediakan jasa carteran. Yeti melipat pakaianku dan memasukkannya ke dalam tas. Dio sibuk mengemas beras merah, rice cooker yang biasa dipakai memasak beras merah untukku, setelah aku stroke anak-anakku menyediakan rice cooker untuk memasak nasi berukuran satu liter nasi. Semua sibuk, tinggal aku yang cuma rebahan menyaksikan Yeti memasukkan celana dalam, bra, dan pempers ke dalam tas semi kopor yang selalu kupakai ketika aku masih sehat kalau ikut pelatihan dari sekolah. Aku menunggu waktu keberangkatan kami pukul lima sore. Jose mengambilkan aku makan malamku. Mengganti bajuku dan memakaikan selendang penutup kepala. Ya puji Tuhan akhirnya aku bisa berangkat ke Makassat melihat dokter mudaku seperti saudara-saudaranya diwisuda. Perasaan gembira untuk bisa menyaksikan dokter mudaku, Jisan melangkah pasti keluar rumah amatlah memberi perasaan yang dipenuhi bintang-bintang bersinar terang dalam diriku. Keluar dari rumah yang dibeli dengan keringat saudara-saudaranya. Betapa menyenangkan bukan? dokter mudaku akan keluar dari pintu rumah yang didapatkan dengan uang dari keringat anak-anakku. Mada, Tamar, dan Berdi telah menyicil perumahan yang kini ditempati Jisan dan Agnes menuntut ilmu tanpa perlu lagi ngontrak rumah. Kalau aku berangkat ke Makassar, berarti dua misi yang kuemban yakni melihat Jisan secara langsung memakai baju wisudanya dan melihat rumah yang sudah dibeli anakku. Misi yang indah bukan?. Ketika Mada, Jose, Tamar, Berdi wisuda aku masih bisa bernapas lega, tunjangan sertifikasi pendidik yang dibayarkan setiap tiga bulan akan kusisihkan untuk keperluan wisuda. Akupun masih kuat, masih leluasa bergerak. Tapi sekarang? duhh kalau aku menuruti perasaan cengengku, mataku akan tiap hari bengkak tak beraturan. Bayangkan saja sudah sakit malah saluran berkat ditutup karena alasan tak mampu berdiri mengajar di depan kelas.. Apakah aku pemain bola yang pekerjaannya harus mempergunakan kaki. Apakah aku harus dihukum tak diberi kesejahteraan karena aku sakit stroke yang imbasnys tidak bisa aktif bergerak? tidak bisa berdiri di depan kelas mengajar, walaupun aku masih berani mengatakan 'iya' mentransfer ilmuku kepada siswaku. Duh duh nasibku kini seperti peribahasa sudah jatuh tertimpah tangga pula, sudah sakit saluran berkatpun disumbat. Ya itulah hidup kawan. Sekitar pukul lima subuh mobil carteran membelok ke sebelah kiri dari jalan.propinsi. Sudah masuk ke kawasan perumahan. Aku hanya melihat deretan perumahan yang diterangi lampu taman berwarna warni.. "Sepertinya Jisan nggak di rumah, Ma" kata Jose berbicara memunculkan wajahnya di jendela mobil. .
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD