BAB 18 Aku Juga Pernah Kuat

1144 Words
Aku memperhatikan orang yang mulai memasuki ruang tamu.Om Paul berjabat tangann denganku, disusul tante Ana yang jabat tangan sambil cium pipi kiri kanan atau cipikika. Tamu seterusnya ya cukup jabat tangan tak terkecuali dengan menantuku. 'Tenang, ritual pertemuan dengan seseorang biasanya merupakankebiasaan dari kecil di rumah masing-masing. Jangan baper kalau cara bertemu beda dengan yang lain,' bisikku dalam hati.. Setelah semua duduk, Arni dan tante Ana beringsut ke dapur mengambil kue dan kopi yang sudah dibuat Yeti. Kue bolu dan kue basah ditaruh di piring ceper. Kopi ditaruh di cangkir merek sango. Tidak ada yang minum teh karena ponakan Arni tetap memegang botol minum tuperware berisi air putih. Arni membawa air kopi diikuti tante Ana dan Yeti membawa kue bolu di satu piring ceper dan kue basah di piring ceper yang lain. Aku memperhatikan ibunya Arni. Rambutnya lurus dipotong sebatas bahu, memakai baju kain berwarna coklat dengan celana panjang sewarna. 'Enak ya kalau masih sehat biar sudah berumur masih bisa pergi-pergi.' aku membatin. Ayahnya Arni berbadan gemuk, rambut dicukur pendek memakai baju kaos putih celana panjang warna hitam. Kakaknya Arni tinggi besar memakai baju kaos warna biru dipadukan celana pendek warna biru juga. Merela duduk berdekatan kemudian tante Ana dan suaminya. Aku duduk diapit oleh Jose dan Tamar. Dio belum pulang setelah pamit dia akan ke rumah temannya. "Ayo, kopinya dimimum," kataku melihat ke arah tamuku sambil senyum. " Terima kasih," kata ibu Adol, ibunya Arni. Semua tamuku pelan-pelan meraih cangkir yang ada di depannya dan meneguknya. Orang tua Arni menurutku baik.Tidak ada yang aneh-aneh. Walaupun mereka orang berada tapi sikapnya normal-normal saja terhadapku Malah aku yang agak canggung karena tidak mampu melayani mereka dengan baik. Menyiapkan kopi dan kue adalah Yeti dan Arni dibantu tante Ana. Aku hanya bisa duduk tanpa bisa leluasa bergerak. Aku pernah membayangkan dulu, untuk membawa cucuku pergi menerima pensiunku di bank. Tapi sekarang? Jose dan Tamar menikah malah aku tak berdaya mendampingi mereka. Ahh. Kuperhatikan lagi ibu Adol sambil membayangkan kalau nanti Arni mempunyai bayi, ibu Adol masih bisa menemani Arni.' Semoga beliau sehat-sehat saja sampai kami dikaruniai Tuhan cucu yang sehat,' batinku. Aku tak mau membiarkan pikiranku mengembara ke mana-mana. Kalau toh nanti Tamar menghentikan pengiriman dana untuk membeli obat Non BPJS hatiku ikhlas. Sementara tamuku makan kue dan minum kopi ada mobil berhenti di depan rumah. Ternyata mobil Andre. Andre lewat pintu samping langsung ke dapur. Ada plastik kresek dia bawa yang diterima oleh Yeti keponakannya. Andre langsung ke ruang tamu bergabung. Dia menyalami semua orang di situ. Tiba di hadapanku diia memegang tanganku. Msnatapku tanpa berkata apa-apa.Kerinduan terpancar dari matanya, sekilas aku melihatnya langsung kualihkan pandanganku ke tempat lain. Walaupun kami telah putus secara hukum namun sebagai orang yang pernah hidup denganku yang hanya singkat bak waktu tumbuhnya jagung,laki-laki itu meninggalkan kenangan indah maupun sedih. Ketika berjuang untuk bersatu, Andre begitu memperjuangkannya begitu rupa, mulai membangun rumah mungil yang akan kami tempati pisah dari tinggal bersama anak cucunya, bersama merenda hari-hari indah walaupun umur kami tidak muda lagi. Begitupun diriku yang berjalan sendiri tanpa peduli lagi apakah anakku turut bahagia atau malah sebaliknya menderita dengan kehadiran orang asing di tengah keluargaku. Ahh Mimpi indahku untuk hidup bersama Andre sampai maut memisahkan kami sirna seketika tatkala aku terpuruk karena keterbatasan gerak pasca stroke. Aku tak bisa lagi mendampingi Andre. Aku hanya tergeletak di pembaringan, menunggu orang lain menolongku. Hari berganti hari kesehatanku masih begitu-begitu saja, tak ada tanda-tanda untuk membaik dari ketidakmampuan gerak. Andre hanya datang sekali-sekali sehingga anakkulah yang merawatku laksana bayi. Dengan dana yang pas pasan pisah secara hukum terpaksa aku jalani.Andre bersikeras tidak bercerai secara pengadilan katanya malu tapi dia juga tidak tinggal merawatku. Aku tak ubahnya seperti istri yang disembunyikan, tinggal di rumah kontrakan suaminys bebas ke sana ke mari. Pisah secara hukum sudah dibuktikan dangan adanya secarik akte cerai yang dipegang Andre dan aku. Kini setelah perpisahan secara hukum terjadi, anak-anakku malah menyambung tali pertemuan dengan nikah kepada ponakan Andre, tanpa mereka ketahui sebelumnya. Pas acara lamarab baru Andre muncul. Hati sepasang muda mudi tak akan dipisahkan oleh pihak keluarga seperti omnya. Ataukah menang suratan takdir anak-anakku berada di lingkaran Andre?. Entahkah Ya lihat sekarang Andre bebas langsung pergi ke dapur karena ada ponakannya di sana yaitu Yeti. Aku hanya melihat Andre dengan tatapan datar tanpa diiringi gemuruh d**a seperti dulu saat aku masih merindukannya. Kini biasa dan biasa saja. Andre duduk di sebelah kiri ayahnya Arni yang merupakan sepupu Andre. Ibu dari ayahnya Tinus, ayahnya Arni adalah adik kandung dari ayahnya Andre. Kalau ayahnya Yeti adalah ponakan dari ibunya Andre. Jadi Yeti maupun Arni mempunyai ikatan darah dengan Andre. Yeti ikatan darahnya dengan Andre adalah dari ibunya Andre Arni ikatan darahnya dengan adlah dari ayahnya Andre. Hadew. Setelah mereka minum dan makan kue, mereka pulang bersamaan. Sebelum pulang Andre masuk ke kamar mandi dan berhenti sejenak di dekat pintu kamarku tanpa berkata apa-apa. Kamar sebelum kami pisah adalah tempat kami menghabiskan waktu ketika Andre datang. Kamar beberapa waktu yang lalu tempat Andre melepas lelah sambil bercerita kepadaku apa yang dia lakukan hari itu, kini kamar itu hanyalah sebuah ruang yang tak bedanya dengan ruang-ruang yang lain. "Saya pulang dulu Rin, ada ikàn baronang bakar di plastik kamu bisa makan ya," kata Andre keoadaku. "Mengapa repot-repot Pak. Terima kasih ya," jawabku sekenanya. Andre masih ingat makanan apa yang biasa aku pesan kalau dia datang. Kedatangannya kali ini bukan untukku. Ada Arni bersama orangtuanya yang menyebabkan Andre datang.Tapi dia masih menyempatkan diri membeli makanan kesukaanku. Ahh Aku masih ingat setelah putusan hakim sudah final putus, Andre memberi tahu seorang Satpam yang bekerja di sebuah SMP binaannya dulu yang merupakan tetanggaku. Sekitar pukul empat sore Dio masuk di kamarku, "Mana itu cincin kawin yang dibelikan om Andre, Ma ," kata Dio tanpa senyum. "Ini, mengapakah?" tanyaku sambil melepaskan cincin itu dari jari manisku. "Itu kalung, cincin yang satunya, anting-anting, arloji apakah semua pembelian om Andre, Ma? "Tidak ini saja arloji dengan cincin kawin, dan TV." jawabku. "Itu om Markus tetangga kita katanya ditelpon om Andre untuk mengeluarkan barang-barang yang dia beli ditaruh saja di teras samping nanti katanya dia datang ambil." Kenangan kebersamaanku dengan Andre berkelebat lagi dalam benakku saat ini. Hal tang telah terjadi pada waktu yang lalu satu satu muncul karena kedatangan Andre, seperti eksekusi TVnya yang berukuran 32 inci. "Ini TV, arloji, cincin di letakkan saja di atas meja plastik di pintu samping ya Ma," "Iya Nak, biar dia datang ambil Malu kita pada tetangga seperti saja om Andre tukang sita barang. Untung cuma itu yang dia beli, kalau dia yang beli kompor, kulkas aduhh mama malu dilihat tetangga. Ya sudahlah tutup saja pintu Nak," "Oke Ma." Sekitar pukul empat sore Browni menggonggong di dekat pintu samping. Browni memang sengaja dikunci dalam rumah oleh Jose agar ada tanda bila ada orang di luar rumah. Ketukan pintu terdengar namun Jose tidak membukanya. Ya sudahlah barang Andre sudah di luar juga. .
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD