BAB 17 Kuingin Seperti Dulu

1052 Words
Pak pendeta mulai memimpin ibadah dengan sebuah lagu rohani. Tempat duduk sudah terisi hampir semua kursi.Keluarga dari Arni lebih banyak di dalam rumah. Hanya bapak-bapak yang lebih suka duduk di luar berlindung tenda berwarna hijau. Di situlah duduk Andre bersama beberapa bapak. Jose mengirim chat bahwa om Andre juga ada. Aku hanya berpesan agar Jose dan Tamar bersikap biasa saja. Andre ada di sana bukan karena aku melainkan ikatan darah dengan orang tuanya Arni. Ibadah syukur berlangsung dengan hikmat. item per item dipimpin oleh bapak Pendeta Yan dari gereja tempaf Arni sekeluarga bergereja. Masuk dalam doa syafaat, doa permohonan akan yang perlu didoakan mulai dari rencana keberangkatan Tamar ke tempat kerja yang akan membopong Arni, kakak Arni yang akan pulang juga ke tempat kerja, omnya Arni yang sementara diopname di Kalimantan, bapak, ibu dan saudara-saudara Arni dalam kehidupan sehari-bari-hari. Doa diakhiri dengan Doa Bapa Kami. Tak ada satupun pokok doa syafaat menyinggung tentang keberadaan keluarga Tamar, kecuali Tamar yang akan membawa Arni ke tempat kerjanya. Padahal syukuran adalah untuk pasangan pengantin baru Tamar dan Arni. Mungkin dana yang dipakai syukuran adalah dana dari orangtuanya Arni. Emtahlah. Habis Amin pada Doa Syafaat Jose langsung berdiri. " Oh kenapa Jos," tanya tante Ana yang duduk di samping kirinya "Mau pulang Tante, masa mamanya Tamar yang sakit stroke tidak pernah didoakan, mulai doa Syafaat Pemberkatan Nikah di gereja sampai saat Ibadah Syukuran Tamar seperti tidak tahu atau pura-pura tidak tahu keadaan mama," Jose langsung keluar dari deretan orang duduk dikursi, mendorong motornya ke jalan raya. Pulang. Tamar yang duduk di sebelah kanannya hanya diam. Hanya matanya yang merah berkaca-kaca. Tidak ada lagi saudara kandungnya yang menemani. Pak pendeta berhenti sejenak melihat Jose yang telah meninggalkan ibadah yang belum selesai. Tante Ana yang membaca rasa heran pak pendeta langsung berdiri. "Maaf Pak Pendeta ,Jose kakaknya Tamar, pulang karena katanya mulai dari kemarin pada Doa Syafaat Pemberkatan Nikah sampai hari ini, tidak pernah didoakan mamanya Tamar yang sementara dalam masa pemulihan pasca stroke. Terima kasih." Tante Ana duduk kembali, Tamar hanya menunduk tak mampu berkata sepata katapun. Hadirin saling berbisik sambil memandang Tamar Ada beberapa ibu meneteskan air mata setelah nengetahui mamanya Tamar dalam tahap pemulihan pasca stroke dan bapaknya sudah meniggal. Orang tuanya Arni hanya tertunduk merenung, tidak sampai di situ pemikirannya kalau ada Tamar yang mereka jadikan menantu saat ini tentu ada bapak dan ibunya yang telah berjuang hingga Tamar bisa kuliah dan akhirnya kerja. "Bapak Ibu yang kekasih, saya selaku Pendeta yang telah memberkati Tamar dan Arni minta maaf tidak bertanya dulu pada Tamar tentang keberadaan Ibu terkasih, sehingga didampingi oleh wali bukan ibu kandung. Untuk itu secara khusus kita berdoa untuk keadaan beliau." Pak Pendeta mengajak seluruh hadirin untuk menghadap Tuhan semoga mamanya Tamar disembuhkan dan dipulihkan. Andre yang menyaksikan Jose pulang sebelum Acara Syukuran selesai hatinya juga ikut bersama Jose. "Rin, kau masih sakit. Anakmu memperjuangkan kamu di manapun mereka. Anakmu tak ingin kau diacuhkan dalam acara apapun. Berbahagialah engkau Rin,"Andre membatin. Sekitar lima belas menit naik motor dari rumahnya Arni Jose tiba di runah. "Loh cepat sekali acaranya," kataku "Saya tidak enak di sana, Ma. Masa pas Doa Syafaat hampir semua semua pihak keluarga Arni didoakan, yang sakitlah, yang mau pulanglah sedangkan Mama, Tamar tak ingat lagi," Jose bicara sambil menangis. "Kalau dia datang kuncikan saja pintu, jangan dia masuk," kataku terbawa emosi. Belum beberapa lama masuk dalam keluarganya Arni sudah tega meninggalkan akarnya, walaupun akar itu rapuh tapi tak sampai putus tempatnya bertumpuh selama ini. Ahh sudahlah. Setelah Jose menceritakan keadaan di rumah Arni, kami kembali tenang . Aku menganggap hal itu di luar jangkauan pikiran keluarga Arni. Aku tak ingin pusing sikap dan tingkah laku mereka. Anakku sudah kubekali ilmu untuk masa depannya bukan harta atau barang yang kelihatan tapi otaknya agar bisa melangkah di manapun dia berada. Sekitar pukul tujuh malam Tamar dan Arni masuk di kamarku. Ternyata pesanku tadi untuk tidak membukakan pintu untuk Tamar tidak tinggal di hati Jose, syukurlah anakku ya tetap anakku apapun yang dia lakukan padaku, pintu maafku terus terbuka. Rangkaian acara pernikahan Tamar lebih didominasi pihak keluarga Arni. Kadang aku berpikir negatif bahwa anakku Tamar seperti direbut seketika tanpa memperdulikan di mana pada saat dia tumbuh, saat tertatih-tatih, merangkak, berjuang secara fisik maupun mengisi kompetensinya dengan kuliah. Ada ibu yang kini sudah tak dianggap, dulu menggunakan tenaga super dahsyat mengais rejeki agar anak-anaknya mendapat bekal yang cukup untuk menghidupi siapapun wanita yang diperkenankan Tuhan mendampinginya. Aku belum pernah bertemu dengan orang tua Arni. Memang sih sebagai orang tua laki-laki sejatinya akulah yang mesti pergi ke rumahnya Arni meperkenalkan diri sebagai orangtua Tamar. Itupun kerinduanku mulai saat Jose mau menikah sampai Tamar lagi menikah. Tapi jangankan pergi ke rumah lain ke ruang tamupun aku tak mampu.Ahh. Semua berjalan di luar kendaliku. Hanya satu yang kusyukuri Tamar sudah mampu memberi hasil tetesan keringatnya kepada istrinya yang akan melahirkan anugerah terindah bagi keluargaku. Cucu yang cantik dan ganteng. Semoga.. Tamar bermalam terus di runahnya Arni, pagi ini dia datang di rumah. "Ma, sebentar sekitar pukul sebelas nanti siang orang tuanya Arni mau datang. Kita belikan saja cake dan kue basah ya Ma," "Beli saja Nak, nanti Yeti dan Arni yang layani. Kira-kira berapa orang?" "Katanya tante Ana dan suaminya akan datang juga, kakaknya Arni." " Ya kita terina apa adanya Nak. Mama tidak bisa bergerak leluasa seperti pada saat sehat. Ini baru pertama kali mama ketemu , apapun penilaian mereka tentang mama tidak mengubah keadaan karena kalian sudah nikah. Begitupun penilaiam mama terhadap mereka ya tidak merubah apa-apa juga." " Iya Ma," Pas pukul sebelas siang aku didorong Jose dan Tamar ke ruang tamu memakai kursi plastik berwarna hijau muda. Tak lupa mengganti bajuku dengan blus batik lengan pendek warna coklat bermotif bunga, dipasangkan dengan celana panjang warna hitam. Menurut Tamar mertuanya adalah pensiun PNS dua-duanya dari kantor pemerintah di kota ini. Mereka terpandang mempunyai mobil dan rumah yang besar karena kakaknya Arni bekerja sebagai salah satu kapten kapal rute luar negeri. Sebuah mobil mwrek fortuner warna hitam berhenti pinggir jalan dekat halaman rumah diikuti mobil rush warna putih. Penumpang mobil fortuner lima orang yakni Arni, anak laki-laki berumur empat tahun dalam gendongan Arni, orang tua laki-laki, orang tua perempuan, dan laki-laki yang agak tua dari Tamar dengan tubuh berisi dan tinggi. Mobil rush adalah milik tante Ana yang turun bersama suaminya, om Paul. .
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD