BAB 1 Dia Menyebut Namaku

1038 Words
"Bu Rina ya," sambil menjabat tanganku pak Andreas, pengawas SMP, teman akrab kepala sekolah, menyebut namaku 'Kok heran dari mana dia tahu namaku' bati2nku.Yahh tanpa menyombongkan diri, walaupun aku sudah hampir setengah abad tapi aku mempunyai wajah masih cantik, rambut ombak sebahu, tinggi di atas rata-rata wanita Indonesia dengan kulit kuning langsat yang mulus dikaruniai kaki yang jenjang dengan pribadi yang berwibawa dan suka senyum. Puji diri sendiri sekali-sekali nggak apa-apa 'kan? " Iya Pak" jawabku sambil tersenyum. Kami sudah beberapa orang berada di ruang guru pada pagi pukul tujuh. Dia terus ke belakang menyalami pak Leo dan lainnya. Pak Andreas usianya juga sudah setengah abad masih ganteng, tubuh berisi, tinggi, rambut ombak dicukur pendek, suara berat, dengan penampilan yang berwibawa , tatapan mata setajam elang. Tanda bel berbunyi untuk pelajaran jam pertama. Aku mengambil tas, spidol. Tak lama kemudian ketua kelas XI Penjualan bersama dua orang temannya masuk ruang guru mengambil Buku Paket Bahasa Inggris. Ruang kelas yang kutempati mengajar pas berhadapan dengan balkon lantai dua tempat ruangan kepala sekolah. Aku melihat ke atas balkon tampak pak kepal sekolah dan pak Andreas masuk ke dalam ruangan. 'Yahh pemimpin ketemu pemimpin pasti membahas berita hangat dan penting 'batinku. . *** Seperti biasanya aku cepat datang sebelum jam masuk berbunyi.Di dalam ruang guru baru aku dan pak Leo. Tak lama kemudian pak kepsek datang. "Bu Rina, ayo ke ruangan Bapak sebentar" "Iya Pak" sambil tersenyum kepada pak Leo aku mengikuti pak kepsek dari belakang. 'Ada apa ya?' tanyaku dalam hati. Karena kalau pak kepsek memanggil seseorang pasti ada yang penting. "Silahkan duduk Bu" sambil pak kepsek berjalan menuju ke mejanya. "Terima kasih Pak"jawabku sambil duduk di sebuah sofa. "Kalau hubungan Ibu dengan pak Wawan sudah putus secara pengadilan ya", kata pak kepsek melihat saya " Iya sudah Pak" Aku menjawab seadanya.Aku belum menebak kenapa aku dipanggil. "Begini Bu ehm ... Ada orang titip salam. Saya kira dia baik. Kemarin saya mengajar di Universitas Terbuka, dia, pak Andreas juga mengajar: Selesai pelajaran saya keluar, pak Andreas masih ada. Kami ngobrol-ngobrol tentang tugas di kampus kemudian dia menyampaikan salam sama bu Rina". Olalaa klasik habis. "Kembali salam Pak. Ya wajarlah Pak menyambung silaturahmi" "Serius ini Bu, katanya sudah lama dia mau sampaikan tapi tidak ada kesempatan" "Teeima kasih informasinya Pak" " Ok Bu, saya bisa berikan nomor HP Ibu ya" " Yang mana baiknya Pak. Saya permisi sudah lonceng Pak". Aku ke luar dan turun ke ruang guru untuk mengambil tas untuk perlengkapan mengajar. Setelah memberi tugas kepada siswa, saya duduk dan merenung tentang apa yang dikatakan pak kepsek Dibandingkan dengan ibu Lely yang sangat akrab dengan Windy, menantu pak Andreas, aku bukan siapa-siapa. Ahh terserahlah, biarkan hidup terus berjalan. Tak seorang temanpun tahu tentang hal ini. Setelah mandi sore aku duduk santai membaca buku paket yang akan kuajarkan besok, tak lama kemudian hpku gemetar ada panggilan masuk, nomor baru. "Selamat sore, dari mana?" "Sore juga, dari Andre, pak Andreas" "Thanks salamnya sudah disampaikan pak kepsek. Cuma kayaknya salam Bapak salah alamat deh" "Sudah umur segini masa bisa salah. Rin, kita keluar nanti ya, keliling-keliling saja" "Saya belum masak. Agnes lama baru pulang karena ada les tambahan". Kami berdua tinggal di rumah kontrakan dekat sekolah. "Nanti kita bungkuskan. Kita makan malam di Rumah Makan Bosqu. Siap-siap jam tujuh, saya jemput ya" Tanpa meminta persetujuan dia menutup telpon. Aku melihat jam dinding pukul enam berarti lagi satu jam dia datang. Ya ndak apa- apa anggap saja refreshing.. Aku berganti baju kaos oblong luaran jaket dengan celana levis warna biru. Sebelum pak Andreas datang, Agnes sudah ada. " Nak, kita pergi makan di luar sama pak Andreas teman mama" "Malas ah. Bungkuskan saja apa yang mamah makan", katanya kemudian langsung masuk kamar. Pukul tujuh pak Andreas datang dengan jaket putih berleher hitam dan celana levis berwarna hitam. Setelah pamit sama Agnes kami naik ke mobil. Dalam perjalanan yang lebih banyak cerita adalah pak Andre.Tanpa diminta dia cerita ada tujuh sekolah binaannya termasuk di kampungku . Menjadi pendengar saat ini adalah yang terbaik sambil menjawab 'oh iya yah' atau 'ahh tidak'. Mobil berhenti di Rumah Makan Bosqu. Kami turun dan masuk ke dalam. Pak Andre memberi tahu pelayan kami mau di lantai dua. Sudah ada beberapa orang di atas yang kayaknya dua keluarga bersama anak-anak mereka. Pelayan datang menyodorkan menu. "Saya ikan baronang bakar dengan jus alpokad",kata pak Andre "Saya juga sama" ,kataku pada pelayan "Kalau begitu bungkus baronang bakar dua dan satu jus alpukad" Pelayanpun berlalu, aku memandang ke bawah Kerlip lampu begitu indahnya kembang-kembang pucuk merah yang sebagai pembatas jalan. "Rin, lihat kemari dong, jangan lihat terus ke bawah" Pak Andre memainkan hpnya di atas meja sambil menatapku. "Ok bos, kita mau cerita apa nih". Kedua tangan menopang daguku. 'Ganteng juga nih orang' bisikku dalam hati. Pesanan jus alpukad sudah datang. Kami asik dengan minuman masing. Segar dan nyaman. Tak lama kemudian makanan datang dengan bungkusan yang akan dibawa pulang. Kami tak lupa bersyukur atas berkatNya. Kami terus ke kolam di tengah kota, kerlap kerlip lampu di sekeliling kolam di atas kembang bougenvil yg beraneka warna. Kami duduk di atas bangku menghadap kolam. Agak jauh duduk sepasang muda mudi. "Rin, kalau orang seusia kita jatuh cinta, cinta apa namanya?" Andre mempermainkan jemariku. "Yah cinta nenek gorilla lah" jawabku sambil tertawa. Di atas langit tampak gemintang berkelap kelip. Hati ini damai dan tenang ataukah mungkin juga karena hati lagi kasmaran ya. Satu yang pasti mengagumi ciptaan Tuhan. "Salah. Cinta Andre dan Rina", kata Andre sambil memegang daguku dan memagut bibirku. Aku diam saja. Andre melepas pelukannya. Kami naik ke atas mobil dan saling berdiam diri. Anganku melayang memikirkan apa yang terjadi di masa depan. 'Lelaki tua dengan tiga orang anak dua cucu, perempuan tua dengan tujuh putra putri. Apakah bisa bersatu. Anganku tinggi melintasi kerlap-kerlip lampu sepanjang jalan, aku berharap tujuh anugerahku dan tiga anugerah Andre akan menyempurnakan kebersamaan kami menjalani hari-hari tua. Aku toh tidak mengharapkan kehadiran permata hati di antara kami. Sudah sangat bersyukur keberadaan anakku dan anaknya Andre. Kerukunan yang tercipta di anrara mereka akan menghasilkan kebahagiaan yang tiara tara. Tapi mungkinkah terwujud mimpi-mimpi itu atau hanya tinggal sebatas mimpi? Ahh Hujan mulai rintik-rintik. Sepasang lelaki dan perempuan berpapasan dengan mobil Andre. Lelaki yang mengendarai motor berhenti. Dia mendekati mobilAndre.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD