BAB 2 Pertemuan Yang Menyesakkan

1411 Words
Liburan Natal telah tiba. Aku selalu menyempatkan diri pulang kampung. Kampung yang dingin dikelilingi pegunungan, mata pencaharian penduduknya kebanyakan bertani disamping ada jadi guru dan tenaga kesehatan, dan beberapa pendeta. Masih ada ibuku, ditemani kakakku, ayahku telah meninggal beberapa tahun yang lalu. Tadi pagi Mada,anak pertamaku, Berdi, anak kelimaku, dan Jisan anak keenamku tiba di rumah karena mereka libur kuliah. Kami rencana pergi ke kampung enam orang. Kue natal kering dan kue tolban telah terpacking. Aku memberi tahu Andre bahwa kami akan pulang kampung. "Rencana kapan berangkat" "Kalau Tuhan berkenan besok Pak" "Kalau begitu kita sama-sama ya. Kebetulan ada monitoring di sekolahnya pak Markus di kampung. Lumayan irit ongkos mobil" "Ok Pak.Jam berapa kami tunggu?" "Sekitar jam sembilan. Nanti saya pesan nasi kotak untuk makan siang di perjalanan. Kita berapa orang?" "Enam orang Pak" "Ok sampai ketemu besok sayang" Pak Andre pulang ke rumahnya. Aku memberitahu Mada, Berdi, Jisan dan Agnes bahwa kita naik mobilnya pak Andre. Mereka kayaknya keberatan. Merekaa lebih suka naik mobil penumpang. "Yah terserah kalian, nanti mama beri tahu om Andre" ,kataku pada mereka. Mereka berbisik-bisik dan tertawa. "Begini mama sayang kita naik mobilnya om Andre tapi kalau pulang kita naik mobil penumpang, bagaimana saudara-saudara?", Berdi yang jadi juru bicara mereka melihat saudara-saudaranya. " Ok. Deal" kata mereka serentak sambil mengangkat jempol. Akhirnya kami sepakat naik mobil pak Andreas. Pukul setengah sepuluh kami meninggalkan rumah kontrakan. Semilir angin pesawahan berhembus seiring dingin terasa menerpa wajah. Mada cs terdengar cerita diselingi tawa kecil mereka. Tiap libur Natal selalu ada agenda pulang kampung. Andreas memutar lagu Natal dari tape mobilnya dengan volume moderat dengan telinga. Mobil menapak melewati perkampungan dengan tetumbuhan bambu di sebelah kiri kanan.Rumah tradisional Toraja atau Tongkonan yang kebanyakan berhadap-hadapan dengan lumbung. 'Sungguh indah ciptaanMu Tuhan' bisikku dalam hati. Pas pukul dua belas ada lumbung dekat pinggir jalam maka aku memberi tahu Andre dan anak-anak untuk singgah makan siang. Andre meminggirkan mobilnya, Mada cs turun membawa tas yang berisi makan siang dalam kotak. Tuan rumah, seorang ibu baru pulang dari kebun masih lengkap dengan peralatan taninya senyum ramah kepada kami dan langsung naik ke atas rumahnya. Mada naik ke atas rumah membawakan sebungkus nasi kotak. Kami makan dengan lahap ditemani angin pegunungan dan sawah yang berisi padi yang telah menguning menambah indahnya pemandangan. Acara makan telah selesai kami meneruskan perjalanan. Langit mulai mendung, satu dua kendaraam bermotor berpapasan dengan kami. Tiba-tiba Andre menghentikan mobilnya sambil bicara sendiri "Simon" Andre menyebut nama anaknya yang biasa dia sebut kalau bercerita denganku. Simon datang mendekati Andre sambil ekor matanya melihatku dengan wajah yang tanpa senyum, sementara seorang perempuan yang dibonceng Simon hanya berdiri dekat motor mereka. "Simon, kenalkan ini ibu Rina teman Windy di sekolah", boro-boro mengulurkan tangan Simon malah pura-pura bicara lain, aku hanya mengukir semyum tanpa bicara sepatah kata. Simon kembali ke motornya, Andre pun menjalankan mobilnya. 'Untung sudah makan baru berpapasan dengan mereka' bisikku dalam hati. Pukul lima sore kami tiba di rumah. Aku memeluk mamakku, kakakku dan menciumnya begitu juga anak-anakku. Setelah minum kopi dan makan talas Andre minta pamit untuk bermalam di rumah pak kepsek yang akan diperiksa besok. Dia juga memberitahu bahwa dia tifak akan singgah lagi karena ada sekolah yang akan dikunjungi yang tidak sejalur dengan rumahku. Lauk untuk makan malam Berdi dan Jisan dibantu Agnes menangkap ikan mas di kolam kecil dekat rumah, kolam yang dibuat almarhum bapakku waktu masih aktif bertugas sebagai kepala sekolah SD, karena pasar hanya sekali seminggu maka bila ada tamu sekolah seperti pengawas tidak pusing-pusing lagi mencari lauk. Jisan juga mengambil daun pisang pengganti piring untuk makan. Ikan-ikan itu dibakar dengan api dan ikannya ditusuk menggunakam sepotong kayu yang diruncingkan salah satu ujungnya untuk dimasukkan ke dalam mulut ikan. Kakakku juga sibuk memasak sayur rebus di atas kompor gas. Aku dan Mada duduk manis di atas bangku panjang dengan perlengkapan pengusir dingin seperti sarung panjang, sweater, dan tutup kepala. Mamakku juga sibuk menumbuk lombok di tempat tumbuk lombok dari kayu yang dilubangi besar di tengahnya. Lombok dengan tomat ditumbuk kasar kemudian mamakku menaruh satu ikan untuk ditumbuk pelan-pelan. Ikan bakar, sayur rebus yaitu daun labu siam dengam buahnya, lombok sudah siap, waktunya makan. Mamakku memimpin doa makan atas penyertaan Tuhan hari ini. Nasi ditaruh di daun pisang yang masih utuh disendokkan nasi sebanyak orang yang mau makan. Lauk, sayur, dan lombok diambil masing-masing. Maknyuss. Enakk. Bahagia itu sederhana kita tinggal yang ciptakan. Setelah selesai makan, Mada cs masuk le ruang tengah nonton TV bersama mamakku. Rumah kami rumah panggung terdiri dari dapur yang dibuat tersendiri lengkap dengan tempat makan dan bangunan induk terdiri dari ruang tamu, ruang keluarga dan empat ruang tidur. Rumah Toraja kami atau tongkonan ditempati oleh tanteku sekeluarga. Kalau ada acara duka dan acara nikahan maka ditempatkan di rumah, tongkonan, tradisional. Setelah selesai membersihkan peralatan dapur aku dan kakakku gabung menonton TV. Mamakku sudah tidur tinggal.Mada cs. "Ma, yang kita ketemu di jalan tadi anaknya om Andre ya. Arogan sekali", Berdi membuka diskusi tentang pertemuan dengan Simon. "Iya wajahmya tegang seperti muka kuda yang diikat dengan tali" Jisan menambahkan. "Istrinya juga sok acuh beibi" Agnes tak mau kalah memberi pendapat. "Sebaiknya jangan beri hati om Andre ma" kata Mada sambil memelukku. "Anaknya om Andre cuma heran sejak kapan bapaknya punya istri cantik dan anak ganteng dan cantik. Ayo tidur, jangan lupa pake kaos kaki Nak ya" "Okay ma selamat tidur" "Mimpi yang indah Nak" Aku naik ke tempat tidur, membungkus tubuhku dangan selimut tebal.Aku merenungkan tanggapan anak-anakku tentang sikap Simon.sambil terbaring. 'Yah bapaknya baik tapi anaknya? olalaa ngeri aku membayangkan anak tiri yang jutek seperti itu' gumanku dalam hati. Libur Natal usai sudah, kami kembali ke kota, ke tempat mengajar, kuliah, dan sekolah. Pertama hari sekolah biasanya ramai cerita masing- masing pengalaman selama libur. Aku cerita dengan ibu Klaudia yang berada depan kursi tempat dudukku, mengenai libur kami bersama anak-anak. "Ibu berteman dengan ibu Windy di f*******:?" tanya bu Klaudia "Iya, tapi selama libur aku tidak buka sss karena jaringan jelek di kampung,"jawabku. Hatiku rasa tidak enak. 'Jangan-jangan ...' Bel lonceng untuk pulang berbunyi. Memang jam kedelapam aku free mengajar begitu juga ibu Klaudia jadi kami punya wakru untuk cerita. "Ok Bu duluan" "Daag. Aku juga mau pulang". Setelah makan siang aku browsing di sss memcari Windy Saja nama akun menantu pak Andre. Pada tanggal dua puluh Desember ada postingan Simon yang tag Windy Saja. Simon Jangan mencoba masuk di keluarga saya. Kami tidak membutuhkanmu. Pergilah sejauh-jauhmya Postingan Simon pas saat kami berpapasan di jalan yang dikomentari banyak teman guru, di antaranya Ibu Ratna "Kenapa status papanya Eka marah- marah? Windy Papanya Eka lagi galau kak Hatiku menciut membaca postingan itu. Tadi malam ada nomor baru menelpon, aku angkat tanpa basa basi dia, suara laki-laki, angsung dia nyerocos "Jangan dekat-dekat bapa,k saya" Saya langsung jawab Maaf Pak, bapak.salah sambung" saya matikan handphone dan bertanya dalam hati siapa lagi gerangan ini. 'Ahh! sudah tua begini masih ada juga yang seenakmya.telpon' bisikku dalam. hati. .Ketika masih muda mencari pasangan hidup sejatinya minta isin kepada orang tua, ini sudah tua harus pintar-pintar mengambil hati anaknya. Aku meunfriend Windy Saja. Untuk apa berteman di medsos kalau menimbulkan rasa nyesek. Anak muda yang memegang kendali orang tuanya Biarlah dia dan suaminya berkoar-koar. Sikapku kepada Windy biasa-biasa saja. Windy satu ruang dengan ibu Lely, karena ruang guru ada dua. Windy dimasukkan kepala sekolah atas permintaan Andre, sebagai guru honorer yang mengampu pelajaran Bahasa Indonesia. Menurut Andre mereka tinggal berlima di rumah tongkonan Andre: Andre, Simon, Windy Daniel,kemenakannya, dan Eka,cucunya. Di sekolah Windy akrab sekali dengam ibu Leli seorang single parent juga. Ibu Leli adalah guru Sejarah. Windy seringkali memposting kebersamaan Leli dengan beberapa orang di rumah Andre membuat acara makan-makan cuma tak nampak ada Andre di postimgan Windy. Kini setelah aku unfriend Windy, aku merasa lega, terserah apapun yang mereka buat aku tak perduli. Setelah aku melihat postingan Simon dan tingkah laku Windy yang acuh tak acuh terhadapku, aku putuskan untuk tidak membina hubungan dengan Andre apalagi anakku juga tidak suka tingkah laku Simon terhadapku. Pukul empat sore Andre datang di kotrakanku. Aku bersikap setenang mungkin.menghadapi pak Andre. "Begini Pak, terima kasih atas kebersamaan kita selama ini. Saya tahu Bapak baik, tapi kita sudah mempunyai anak yang harus kita perhitungkan. Simon sudah pernah bertemu saya dan anak-anak saya, sepintas memang Simon tidak menyukai saya, kemudian dia posting kata-kata tidak enak di sss istrinya. Pernah juga ada nomor baru masuk di hp saya meminta untuk menjauhi bapaknya", aku bicara tanpa stop mengungkapkan uneg-unegku. Pak Andre memperhatikan setiap kata yang kuucapkan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD