BAB 3 Anakku Marah

1242 Words
"Sekarang waktunya saya bicara, sepulang dari kampung mengantar kalian saya bicara dengan Simon dan istrinya setelah selesai makan malam: "Mengapa kalian tidak bersalaman dengan Ibu Rina dan anaknya?" "Saya capek berjalan jadi tinggal saja di motor Pak",jawab Windy "Bapak sudah terlalu tua untuk nikah lagi. Apa lagi ibu Rina mempunyai anak-anak yamg masih kuliah, pasti butuh biaya. Lebih baik Bapak main-main saja dengan cucuya", kata Simon ketus. "Atau cari ibu guru lain yang tidak ada lagi tamggungannya misalnya ibu Leli Pak", Windy menambahkan. "Kamu tiga orang sudah sarjana, kamu Simon, Novi, Lala, dan sudah nikah semua. Saatnya Bapak mencari pendamping hidup. Semua ibu guru di sekolahmu baik Windy, tapi itu bukan berarti kamu yang carikan bapak jodoh, anaknya ibu Rina pintar-pintar, mereka dapat bea siswa dari kampusnya dan kakaknya yang sudah ada yang kerja",kataku pada mereka. "Kalau begitu kita tdak bisa lagi tinggal sama-sama di sini Pak",Simon berkata dengan wajah yang masih ketus. " Ok Bapak yang mengalah. Kalian tinggal di sini nanti bapak buat rumah k ecil di tanah kosong di sebelah atas rumah ini. Rumah bapak di kampung nenek perempuanmu masih dikontrak orang jadi biar bapak buat saja. "Begitu Bu Rina ceritanya,"kata Andre padaku sambil memegang tangankiu. Ada rasa sedih dan geli terasa mendengar ceritanya. Hati yang sudah kukemas rapih untuk tidak membina hubungan lebih jauh meleleh tentang rencana Andre untuk tinggal sendiri demi keberlangsungan hubungan kami. "Rin, kita keluar makan mie kuah ayam dekat pinggir sungai, enak loh" "Takut Pak, nanti ketemu Simon" "Kita pura-pura tidak lihat dia" "Ihh Bapak, kayak main petak umpet" "Mau diapa kalau dia yang bertingkah, ayo kita pergi" "Tunggu Pak, saya pakai sweater dulu sekalian pamit sama Agnes" Sesampai di tempat yang dituju sudah banyak pengunjung, kami mengambil tempat di sudut yang masih kosong. Pelayan datang membawa menu, kami pilih dua porsi mie kuah dan dua jus alpukad untuk dimakan di tempat dan satu untuk dibungkus. Aku menikmati makanan dan minuman tersebut, begitu juga nampaknya Andre. 'Ahh syukuri berkat Tuhan. Lupakan sejenak masalah' Kalau cinta di hati anak Adam dan Hawa sedang bersemi mangga muda kecutpun rasanya gurih. Itulah yang kurasakan saat ini begitupun tergambar dari gerak gerik Andre Aku merasakan tenang dengan perlindungan Andre terhadap kelakuan Simon. Walaupun Simon adalah anak Andre yang tidak menyukaiku akupun berhak merasakan bahagia dengan bapaknya yang juga ingin berbagi kasih sayang denganku. Sore ini Andre datang di kontrakanku, meyampaikan bahwa rumah yang kecil telah selesai dikerjakan tukang yang terdiri dari ruang tamu, dua kamae tidur, kamar makan, kamar mandi, dan.dapur, yang terbuat dari kayu. Sekitarnya tumbuh bambu dan pohon enau yang diambil airnya atau balloknya kalau sore hari. Besok Andre rencana pindah bersama Daniel ponakannya. Ahh gerakan Andre untuk memberi rasa tenang padaku kuanggap gerakan refleks. "Kalau saya dengan Daniel sudah pindah, kita pergi ke kampung ketemu mamak dan keluargamu untuk minta restu". "Apakah tidak terlalu cepat pak?" "Makin cepat makin baik Rin.Peneguhan nikah dan catatan sipil nanti kita adakan di kampung mamak saya, kebetulan akan ada syukuran panen", Andre menjelaskan rencana pernikahan kami dengan gamblang tanpa memikirkan reakasi anak-,anak kami. "Apa sebaiknya kita minta pendapat kepada anak kita?" "Kalau saya tidak perlu, terserah kamu". Akupun mengambil jalan yang sama yakni tidak memberi tahu anak-anak tentang pernikahan kami. Andre chat bahwa lusa kami akan ke kampugku, jadi malam ini aku memberi tahu mamakku tentang maksud kedatangan kami. Kami berangkat ke kampung jam empat pagi dan sesampainya di sana keluarga telah berkumpul di rumah tongkonan bersama beberapa pengawas dan kepala.sekolah teman Andre.Acara perkenalan dengan keluargaku yang bahasa kerennya melamar berlangsung singkat. Andre memberitahu keluargaku bahwa pemberkatan nikah dan pendaftaran di catatan sipil di kampungnya Andre. Selesai makan kamipun pulang, tak lupa Andre memberi dana konsumai untuk hari ini kepada mamakku. Pengucapan syukur panen di kampung Andre bertepatan dengan hari Minggu lusa. Andre datang menjemputku hari ini untuk menemui ibu pendeta yang akan meneguhkan kami dan beliau bertanya tentang status perkawinan kami masing-masing. Pas hari Minggu jam sembilan pagi kami menuju ke kampung Andre bersama dua ibu guru temanku dari sekolah. Pukul sepuluh pagi pemberkatan nikahpun dilaksanakan disambung dengan pencatatan sipil yang dilaksanakan di konsistori gereja..Tak seorangpun anak kami yang hadir. Agnes lebih memilih pergi dengan temannya bergereja karena memang akupun tidak memberitahu dia. Setelah pulang dari pemberkatan nikah, malamnya aku dan Agnes pergi ke Makassar menghadiri wisuda Tamar anak ketigaku di Fakultas Pertambangan. Aku tinggal di rumah tanteku, tante Ningsih, karena di kontrakan Tamar cs sudah ada Wawan, bapak kandung Mada cs. Malam ini tujuh anakku datang di rumah tante Ningsih. Kami berkumpul di satu kamar tidur. "Ma, katanya mama sudah nikah dengan om.Andre?",tanya Jose.Semua anakku melihatku dan menunggu jawabanku. *** "Iya Nak, minta maaf mama tidak beri tahu kalian, takutnya kalian marah", kataku. "Mengapa mama tidak beri tahu saya?" Agnes menangis melihat padaku. "Mama takut menganggu kau Nak,"jawabku sekenanya. "Sedih waktu wisuda mama tidak ada",kata Tamar sambil matanya berkaca-kaca. Aku memang tidak masuk ke ruang wisuda, karena undangan hanya dua orang jadi aku membiarkan tantenya dan bapaknya Tamar yang masuk ruang wisuda, aku menunggu di luar, selesai acara wisuda Tamar menemuiku, kupeluk dan.kucium dia dengan bahagia, sambil berfoto ria dengan saudaranya. Ketika Tamar mengungkapkan perasaanya waktu wisuda langsung Mada menangis keras-keras. Aku beringsut memeluk Mada dan Agnes yang duduk berdekatan. Jisan berdiri mengambil air putih. Mada dan Agnes meminumya. Aku menatap mereka bergantian. Sudah mulai ada sesungging senyum tipis di bibir kedua putriku., si sulung dan sibungsu.Kurentang kedua tanganku merengkuh mereka. Ku cium rambut mereka. Besoknya kami kembali ke tempat tugas. Teman-temanku di sekolah memberi selamat atas selesainya studi Tamar, ada juga teman menyalami aku resmi menjadi nyonya Andre. Aku tak memberi tahu secara langsung teman-temanku, Windypun aku tak tahu apakah diberi tahu Andre atau tidak. Aku pikir itu urusan mereka. Kehidupan berumah tangga kujalani apa adanya. Aku tinggal di rumah kontrakan, Andre tinggal di rumah kecilnya yang biasa aku sebut villa bersama kemenakannya,Daniel. Biasa hari Rabu dan Sabtu dia datang bermalam di rumah kontrakaku.Masuk tahun kedua pernikahanku baik-baik saja. Setiap keadaan kukondisikan sebaik mungkin.Kadang-kadang aku pergi bermalam di villa Andre kalau ada ponakanku datang bermalam menemani Agnes, karena Agnes tidak mau ke rumah Andre. Masuk tahun kelima pernikahan kami aku jatuh di kamar mandi. Anakku semua panik. Andre membawaku ke rumah sakit dan diopname satu minggu. Setelah jatuh di kamar mandi bagian tubuhku sebelah kiri sangat susah digerakkan. Tangan dan kaki kiri menjadi loyo. Ternyata aku terserang stroke, karena tensiku yang tinggi membuat kepalaku pusing sehingga jatuh di kamar mandi. Setelah menjadi penyintas stroke duniaku terasa hampa, Apa yang biasa kulakukan sendiri harus dibantu. Pemulihan dampak stroke sangat lama. Setelah aku tergeletak enam bulan, aku tidak berhak lagi mendapat tunjangan sertifikasi pendidik yang masih sangat kubutuhkan untuk pemulihan dan biaya kuliah anakku. Tapi ya sudahlah. Stroke ini mengharuskanku mengikhlaskan semua yang berharga lepas begitu saja, sertifikasi dan kebebasan beraktifitas. Pemulihan stroke sangat lamaa. Bukan hanya hari, minggu, bulan, bahkan bertahun.Yang merawat harus yang punya perhatian dan kasih sayang tingkat dewa. Ketika sudah terserang stroke Andre masih banyak menghabiskan wakrunya di villanya dengan alasan memelihara kerbau.Jose yang rencana pergi cari kerja malah tinggal merawatku. Dio juga pindah universitas yang ada dikotaku untuk merawatku. Ahh stroke ini datangnya cepat perginya sangat lamaa. Karena cagiver stroker sejatinya berhati setengah malaikat maka di dunia nyata penyintas stroke tak sedikit ditinggalkan pasangannya. Hadeww menyedihkan. Tapi satu yang pasti Tuhan tidak membiarkan kita tergeletak ketika kita percaya ada Tuhan bersama kita. Kita tak pernah tahu kapan raga berpisah dengan roh kita biarkanlah tetap menciptakan rasa bahagia di tengah masalah stroke. . .
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD