BAB 4 Senyum Mereka Berbicara

1116 Words
Andre telpon tadi pagi bahwa dia akan pergi ke tenpat wisata dengan teman-temannya. Menurut Andre setelah aku sakit, Simon memanggilnya untuk tinggal lagi bersama. Andre sering memgajak teman-teman pengawasnya acara makan-makan di rumahnya yang dimasakkan menantunya bersama seorang ibu guru janda dekat rumahnya. Biarlah janji hidup bersama terbang dibawa angin senja Sebenarnya aku malas mendengar aktifitasmya di luar sana, buat apa, dengan siapa, tapi Andre senang cerita hari-harinya yang menyenangkan. Hati sesak mengikuti alur ceritanya yang terpulas dengan canda ria. Sedang aku? Bergulat dengan waktu, kapan mandi, makan, minum obat, latihan, ganti popok.Kadang terlihat rasa capek di wajah Jose dan Dio.Jose biar capek atau moodnya jelek tetap melayaniku agak 'kasar' sampai biasa aku cuma bisa menangis. Tapi setelah itu Jose bertingkah yang bisa membuatku tertawa. Ahhh perawatan yang menyita waktu dan tenaga.Kalau Dio lain lagi, kalau capek atau moodnya jelek, maka dia akan diam saja atau sekalian tidak kerja sama sekali; tapi selang beberaoa lama dia kerja lagi dengan gembira. Aku kadang sedih dan menangis diam-diam melihat dua cowok gantengku tanpa jijik ganti.popokku, kayak bayi yang tak berdaya. Sedihh hati ini. Aku hanya berpesan pada Andre agar baik-baik .Jalanan ke atas cukup berliku apalagi hujan deras tadi malam. "Saya pergi refreshing dengan pemgawas malas tinggal di rumah ma". " Jaga diri baik-baik, apalagi musim hujan sekarang Pak," Pukul empat sore Daniel kemenakannya telpon, Andre kecelakaan, tiga orang luka-luka termasuk Andre. Aku hanya mampu berdoa semoga dia baik-baik saja. 'Kau masih kuat pergi ke sana sini. Kita pisah tempat agar kau terurus seperti yang selalu kau katakan. Tanganmu terlalu bersih untuk merawatku. Waktumu terlalu percuma untuk menemaniku. Rasa cintamu tak cukup kuat melindungiku. Menyenangkan diri sendiri mengalahkan tanggung jawabmu, kini kau terkapar juga akhirnya'bisikku dalam hati. Aku tal bisa mengunjungi Andre yang mungkin sudah di rumah sakit. Aku hanya bisa menangis. Aduhh sedih rasanya, tak berdaya, jangankan merawat orang lain diri sendiripun jadi beban. Pukul lima sore Andre mengirim chat Andre Sore ma, saya sekarang di rumah sakit puji Tuhan lukanya ringan, kami berjalan kaki baru turun dari mobil tiba-tiba ada mobil menyerempet kami, saya, pak Nico, dan pak Malik jatuh, kaki dan tangan saya yang luka. Tapi sudah diobati Aku Syukurlah pak, saya sampai terguncang mendengarnya, jangan-jangan lukanya parah. Daniel telpon bapak kecelakaan. Minum obatnya pak yah, maaf tidak bisa merawat bapak Andre Kamu juga baik-baik di situ. Terus latihan, semoga kamu cepat pulih ma Aku Doa yang sama pak semoga cepat pulih. Kami hanya mampu chat satu sama lain. Bergantian anak Andre menemaninya. Novi dan Lala juga datang menjaga bapaknya. Kami akhirnya kembali dirawat anak masing-masing. Setelah empat hari Andre dirawat di rumah sakit, hari ini ada dua foto melalui w******p. Andre terbaring dengan infus di tangan kanannya, perban membalut tangan kiri dan kaki kirinya. Ada Simon sedang menyuapinya yang di sebelah kanannya berdiri Windy. Foto yang satunya ada ibu muda dua orang, Windy, Lely, dan Simon berjejer mengelilingi ranjang tempat Andre berbaring. Ada tawa terukir di wajah mereka. Begitupun di wajah Andre. Aku tak perlu berburuk sangka dengan kehadiran ibu Lely. Yang ibu muda dua orang aku perkirakan Novi dan Lala anak Andre. Aku belum pernah bertemu mereka secara langsung, fotonya saja aku pernah lihat. Satu minggu Andre dirawat di rumah sakit, siang ini sudah bisa pulang ke rumah. Andre Ma, siang ini saya sudah boleh pulang ke rumah,minggu depan baru kontrol. Aku Syukurlah pak, tetap makan obat jangan terlalu gerak.dulu Andre Ok Ma, sudah mau kemas-kemas ini Aku Ok Pak, baik-baik di jalan Sepulang dari rumah sakit Andre hanya datang berkunjung ke rumah kontrakanku kalau hari Minggu, itupun paling lama satu jam. Luka di tangan dan kaki kirinya sudah pulih. Melihat perubahan itu aku bertanya dengan hati-hati, "Mengapa cepat sekali pulang kalau datang Pak?" "Saya sekarang sibuk sekali antar Windy ke tempat temannya, apalagi Simon biasa malam baru pulang kerja" "Tapi 'kan Bapak mempunyai istri yang sakit. Untung ada Jose sama Dio merawatku". Hatiku bergolak perih. "Itulah, sekarang kita kembali ke anak masing-masing untuk dirawat. Novi dan Lala sudah ketemu ibu Leli dan kayaknya mereka cepat akrab", ada sakit teramat sakit menembus ulu hatiku" "Ya sudah.Aku tahu diri Pak.Silahkan Bapak perbuat apa yang Bapak suka". Andre pulang meninggalkan luka yang sangat perih. Saat ku stroke begini, begitu entengnya Andre menyatakan anaknya 'akrab' dengan bu Leli yang disuka juga Windy. *** Secara tak langsung Andre sudah menolakku, sudah mulai memasukkan orang ketiga di antara kami. Pada mulanya aku sudah tak mempunyai tempat di hati Simon dan menantunya, ditambah ketika Andre sakit aku tak berdaya merawatnya. Ahh sudahlah stroke ini mengajarkanku untuk tetap ikhlas menerima segala sesuatu betapapun sakitnya. Pukul dua belas siang hari ini, aku bersiap untuk makan, Jose mengambilkan nasi, lauk ,pisang yang dia taruh di atas meja kecil dekat tempat tidurku. Aku hanya bisa makan di kamar tidur karena tidak bisa ke meja makan. Dari jendela kamar aku melihat ada mobil berhenti, tak lama kemudian ibu Ratna, wakasek humas, ibu Marta, bagian kesra, dan pak Yoko masuk ke halaman rumah.Jose membukakan pintu dan langsung menuju kamarku. Tapi karena mereka melihat aku makan mereka ngobrol di ruang tamu. Aku telah selesai makan, temanku masuk ke kamarku membawa jeruk dan apel. Kami berforo ria dengan poseku ala kadarnya dan ngobrol tentang keadaan di sekolah, mereka nenyampaikan juga bahwa biasa siswa tanya tentang keadaanku. Memang setelah aku stroke tidak pergi mengajar secara tatap muka, aku meminta kebijakan kepala sekolah untuk mengajar secara on line tapi tidak diperkenankan lagi. Maka aku minta tolong kepada teman guru honor untuk menggantikanku dan aku akan membayar honor beliau dari tunjangan sertifikasi aku. Setelah ibu Ratna cs pulang Jose memberitahuku bahwa mereka datang diutus kepala sekolah membawa dua opsi yaitu aku tidak mengajar karena cuti berarti gaji dan tunjangan sertifikasi pendidik tidak dibayarkan, opsi karena sakit berarti gaji dibayarkan tetapi tunjangan sertifikasi tidak dibayarkan. Aku berunding dengan anakku dan memilih opsi kedua yakni sakit. Jose menemui kepala sekolah menyampaikan opsi yang kami pilih yakni opsi ke dua yakni sakir. Secara garis besar hati kecilku tak ingin juga makan gaji tanpa mengajar namun upaya untuk mengajar on line tidak diterima. Yahh sudahlah, ikuti saja kemauan pak kepsek. Miris!!! nasib seorang ibu guru harus kehilangan hal yang berharga baginya; kebebasan beraktifitas, suami yang keberadaanya tinggal hanya di atas kertas, dan kini tertutupnya saluran berkat. Itulah dampak stroke yang merupakan mahluk misterius bagi orang yang dihinggapinya Hidup terus berjalan selagi jiwa dan raga masih menyatu apapun keadaanku, maka sejatinya aku beradaptasi dengan diri sendiri. Semangat untuk bisa pulih tetap berkobar dalam hatiku. Kini aku memakai standing walker tetapi kaki masih gemetar. Berharap ada mujizat. Berharap masih bisa menatap siswa-siswa melakukan proses belajarnya. Keinginan sangat sederhana saat ini yakni bisa mandiri, tidak membebani anak-anakku. Bisa mandi sendiri, stroke ini misterius. . . . .
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD