Aku memperhatikan foto yang dikirim oleh Andre. Ada kegembiraan terpantul dari wajah pemiliknya masing-masing. Ahhh terlepaslah semua yang kumiliki dalam keterpurukanku.'Semangat Rina!Hadapi hari-harimu dengan penuh syukur,'bisikku dalam.hati.
Sidang percerainku dengan Andre memasuki sidang ketiga, yakni penanggilan saksi dari penggugat yaitu aku. Harus menghadirkan dua orang saksi , bukan anak kandung. 'Aduhh mencari saksi siapa ya, 'batinku. Aku sudah tak punya keluarga dekat di sini. Tinggal satu orang yang selalu membantuku tapi dia mempunyai anak perempuan sudah TK yang harus diantar jemput ke sekolah karena suaminya kerja di kota lain.
Aku menghubungi Marta, ponakanku, untuk minta tolong sebagai saksi. Puji Tuhan malah dia memberi solusi memberi tahu Lusi ponakanku juga untuk pergi menjadi saksi. Saat yang ditentukan Penghadiran Saksi digelar, Marta dan Lusi datang ke rumah mengumpulkan informasi untuk menjawab pertanyaan hakim. Ahh penyintas stroke mempunyai berbagai ragam masalah untuk dicarikan solusinya. Setelah penghadiran saksi tinggal menunggu putusan hakim. Pak Topan pengacaraku memberi tahu unruk mengambil putusan hakim untuk dibawa ke kantor catatan sipil untuk dibuatkann akte cerai. Akte cerai sudah selesai kini membuat Kartu Keluarga tanpa nama Andre. Aku hanya bersama anak-anakku. Ketika aku tak berdaya satu alasan yang sangat manusiawi adalah tidak membebani Andre yang juga disayang anak-anaknya.
Andrepun sudah memblokir whatsAppku.Tidak apa-apa, aku malah tenang menjalani hati-hari pemulihanku setelah resmi berpisah. Biarkan dia menata hidupnya tanpa kehadiran penyintas stroke sepertiku. Sedih sih, 'mengapa pada saat aku dalam keadaan bugar Andre selalu memperlihatkan perhatiannya?', kenangku dalam diamku.
Tuhan maha baik bagiku. Anak yang Dia anugerahkan padaku tujuh orang berbagi tugas melayaniku. Ada yang memakai peluh keringatnya mengais rejeki untuk kebutuhanku, ada yang langsung terjun merawatku seperti bayi, dan ada adiknya yang sementara mengejar cita-citanya.
Walaupun kadang aku memikirkan Andre namun lebih banyak logika pikirku yang menarikku untuk melupakan dia. Pertama sikapnya yang begitu menjaga dirinya untuk tidak menjamah seluk beluk perawatanku, kedua selalu menyebut berulang-ulang untuk kembali dirawat anak masing-masing, dan masih banyak hal lainnya.
Perpisahan dengan Andre secara hukum.membuatku kembali kepada kehidupanku sebagai single parent setelah pisah dengan Wawan bapaknya anak-anakku. Yah aku akan tetap menatap ke depan, bersemangat untuk berlatih supaya pulih dari stroke. Anakku membelikan sepeda statis untuk aku pakai menguatkan kaki kiri yang lemah.Walker Standing dengan sepeda statis aku pakai berlatih secara bergantian, setiap hari jam tiga sore. Aku semangat berlatih di bimbing oleh Jose. Pukul enam sore Dio memasak air untuk kupakai merendam kaki. Dio mebambahkan garam dan sereh di rendaman kakiku. Setelah mau tidur Jose membuatkan s**u untuk saya minum. Ahh anak-anaku yang telah kurawat ketika aku masih kuat kini berganti merawatku. 'Terima kasih Nak' ucapku dalam hati tak putus-putusnya. Benar sekali apa yang selalu dikatakan orang tentang hukum 'tabur dan tuai', apa yang kita tabur itu yang kita tuai. Kalau kita menabur angin maka kita pasti menuai badai sebalikmya kalau kita menabur kebaikan semoga kita akan menuai kebahagiaan.
Hari ini Jose ke rumah sakit untuk.mengambil obat yang harus aku konsumsi setiap hari, Tamar yang selalu rutin mengirimkan dana untuk membeli obat yang lebih banyak tidak termasuk dalam obat yang ditanggung BPJS. Ketika aku masih kuat dan pernah mengajar di sebuah SMA favorit di kotaku, kini salah satu siswaku telah menjadi seorang Dokter Ahli Penyakit Dalam. Aku pernah bertemu beliau waktu pertama konsul di dokter ahli Penyakit Dalam karena dalam pemeriksaan laboratorium ada penyakit pengiring stroke yang kualami yaitu darah tinggi dan gula darah yang tinggi.Aku masuk di ruangannya sambil Jose mendorong kursi rodaku. Aku hanya meliha senyumnya karena telingaku juga bermasalah setelah terserang stroke. Joselah yang menjelaskan kepada dokter Barto mengenai keadaanku.Dokter sekalu-sekali melihat kearaku dengan pandangan menilai. Aku tidak ttahu apa yang ada di pikiran dokter saat ini. Dengan pemakaian masker aku ridak terlaly mengenalnya. Kare penampilanku waktu mengajar mereka dengan sekaramg sangat berbeda bagaikan langit dan bumi. Cuma tatapan matanya yang sangat bersahabat sehingga sepulang ke rumah aku tanya Jose siapa namanya dokter Ahli Penyakit Dalam tadi. Jose menjawab dokter Barto. Aku mengingat-ingat siswaku yang pernah kuajar dengan dokter pemilik senyum yang sangat bersahabat tadi. 'Oh iya Barto anak seorang dokter yang hanya membawa sebuah buku album tebal kalau masuk kelas dan bila bicara sangat cepat' bisikku merangkai ingatanku ke puluhan tahun yang lalu, kini telah menjadi dokter yang menangani obat-obatku. Kebanyakan dari obatku tidak ditanggung BPJS maka Tamar selalu menirimkan.uang setiap bulan untuk menebus obat. Berdi yang juga kerja di sebiah perusahaan ikut mensuplai dana untuk kebutuhanku. Tak henti-hentinya aku bersyukur atas nikmat dari Tuhan melalui anak,-,anakku.
Keberadaanku dengan Andre kini hanya meninggalkan serpihan luka yang harus aku sembuhkan sendiri dengan caraku sendiri. Penyakit stroke ini telah membuatku tak berdaya, kehilangan saluran berkat, kehilanhan kebebasan beraktifitas,kehilangan.pasangan.hidup, teman.bahlan saudara. Apakah aku harus putus asa? Apakah aku harus menangis?. Jawabannya adalah Tidak! Aku tak perlu putus asa karena kasih surgawi melalui anak-anakku begitu nyata dalam kehidupanku. Terkadang aku berpikir aku sudah terlslu egois membiarkan anak-anaku rela tinggal merawatku dan tidak pergi mencari masa depannya seperti anak muda lain.Tapi aku selalu yakin Tuhan tidak tinggal diam. Tuhan akan menyediakan berkat terindah kepada Jose dan Dio yang telah meràwatku tanpa mengenal lelah. Puji syukur, kebutuhan kami tiga orang selalu ada dan cukup untuk sehari. 'Betapa baiknya Engkau Tuhan.
Saat ini aku terus berlatih untuk mengaktifkan saraf-saraf yang tertidur karena olah stroke. Begitu banyak penyintas stroke di group media sosial yang setiap hari berjuang untuk pulih. Ada juga anggota group yang hanta memposting masalah kebutuhan sehari-hari yang jauh daru mencukupi. Apakah tidak salah alamat? Terpaksa tidak usah baca lewati saja. Kalau hanya ingin mengeluh mencari simpati kepada teman sesama stroke kayaknya sudah terlalu susah. Hadapi saja keàdaan stroke ini sambil tetap berserah kepada Pemilik Kehidupan. Kalau selalu hidup dalam halusinasi pada saat masih kuat betapa bidohmya kita. Aku menjakani hari-hariku dengan beradaptasi dengan keadaanku saat ini. Ketika sakit seperti ini sejatimya yang merawat adalah pasangan hidup yang telah berjanji di hadapan Tuhan untuk selalu bersama dalam suka dan duka. Namun yang kualami malah sebaliknya, di saat aku terbaring tak berdaya Andre malah menyenangkan dirinya membuat acara-acara makan bersama di rumahnya, pergi bertamasya membagi keceriaan tanpa memoerdulikanl
ku. Yah sudahlah . Kelegaan hatiku untuk menjalani hidup ini adalah ketika sudah ada Akte Perceraian.
Ketika Andre mendapat surat dari kantor Pengadilan Tinggi Negeri untuk menghadiri gugatan percersian dari Rina, seribu macam rasa berkecamuk dalam hatiku. Aku memgambil keputusan untuk tidak menandatangani surat tersebut. 'Mengapa Rin, kamu melakukan hal itu? Aku masih sayang kamu.' Bisikku dalam hati. Rina tetaplah Rina yang telah kurencanakan menemaniku sampai maut memisahkan kami. Aku sengaja minta tolong kepada kepala sekolah untuk memasukkan Windy di sekolah tempat Rina mengajar supaya mereka akrab malah diluar ekpektasiku. Windy tak mau berteman akrab dengan Rina malah mencari ibu guru yang lain untuk menjodohkanku. Rumah yang telah kupersiapkan tinggal bersama dengan Rina kini tinggal kenangan. Ketika Rina masih sehat sering pada hari Minggu aku membawanya bergereja di tempat kami mengikrar janji di hadapan Tuhan disaksikan anggota jemaat gereja. Kini Rina telah dijaga ketat anak-anaknya seperti bodyguard.