BAB 6 Andre PoV

1073 Words
Ketika aku mendapat surat dari kantor Pengadilan Tinggi Negeri untuk menghadiri gugatan percersian dari Rina, seribu macam rasa berkecamuk dalam hatiku. Aku memgambil keputusan untuk tidak menandatangani surat tersebut. 'Mengapa Rin, kamu melakukan hal itu? Aku masih sayang kamu.' Bisikku dalam hati. Rina tetaplah Rina yang telah kurencanakan menemaniku sampai maut memisahkan kami. Aku sengaja minta tolong kepada kepala sekolah untuk memasukkan Windy di sekolah tempat Rina mengajar supaya mereka akrab malah diluar ekpektasiku. Windy tak mau berteman akrab dengan Rina malah mencari ibu guru yang lain untuk menjodohkanku. Rumah yang telah kupersiapkan tinggal bersama dengan Rina kini tinggal kenangan. Ketika Rina masih sehat sering pada hari Minggu aku membawanya bergereja di tempat kami mengikrar janji di hadapan Tuhan disaksikan anggota jemaat gereja. Kini Rina telah dijaga ketat anak-anaknya seperti bodyguard. Surat cerai telah berada di tanganku..Aku melihatnya dalam hati yang gamang. 'Tentu anak-anaknya Rina telah mengumpulkan rejeki membayar pengacara untuk mengurus perceraian kami', bisikku dalam hati, ' .Memang pernah aku tidak ke rumah kontrakam Rina yang ditempati sekarang sekitar dua bulan karena sakit dan sibuk di sekolah binaanku. Ketika aku datang di rumah kontrakan Rina yang memang dikontrakkan anaknya, aku memarkir mobilku di jalanan masuk ke halaman, rumah terkunci tapi aku melihat motor Jose dan Dio terparkir manis di tempatnya. Aku mengetuk pintu tidak ada yang membukakan. Aku mengelilingi rumah, datang di pintu dapur dan pintu samping semuanya terkunci. Aku mengintip dari kaca jendela tempat kamar Rina, cuma punggung Rina yang kulihat. Sekali lagj aku memanggil nama Jose dan Dìo bergantian, tetap tidak ada jawaban. Ini ketiga kalinya aku datang namun tidak dibukakan pintu. Daging kerbau yang kubawa bersama telur bebek satu rak, kutaruh di meja plastik di dekat pintu samping dan daging kerbau kugantung dekat jendela yang ada pakunya. Aku pulang dengan rasa kecewa. WhatApp ku juga.sudah diblokir Rina. Aku pulang ke villaku dengan perasaan sedih. 'Ya sudahlah yang penting Rina ada dalam perawatan anak-anak2nya dengan baik,' batinku. Hari ini Simon datang di villaku meminta aku pindah lagi untuk tinggal lagi bersama di rumah tongkonan. Akupun menuruti kemauannya. Aku dan Daniel ponakanku berkemas memindahkan barang-barangku. Ada rasa nyeri menjalar dalam urat-uratku mengingat Rina yang sering kubawa di tempat ini ketika dia masih sehat dengan perasaan nyaman dan bahagia. Saat itu rona bahagia terpancar dari mata indahnya dan senyum manis memandangku ketika kami makan bersama. 'Rina mengapa kau sakit stroke yang tidak ku tahu kapan sembuhnya. Membuatku tak mempumyai ruang untuk bersamamu dan anak-anakmu memagarimu yang tak bisa kutembus. Ah sedih Rin', jeritku dalam hati. Aku berjalan gontai menuruti Simon dari belakang. Sesampai di rumah tongkonan aku melihat Eka bermain dengan Tiara ,sepupunya, di halaman. Dia berlari menghampiriku, aku duduk dan Eka melingkarkan tangannya di leherku. "Nenek tinggal di sini ya sama Eka. Jangan pelgi-pelgi lagi," kata Eka sambil terus memeluk leherku. "Iya sayang," jawabku sambil mencium pipinya yang menggemaskan. Aku terus memonitor keadaan Rina ysng ternyata sudah dihentikan Tunjangan Sertifikasinya. Aku berkunjung ke rumahnya kepala sekolah dan kepada pengawas sekolah, tapi aku mendapat jawaban yang sama yaitu Keputusan Rapat Dewan Guru. Aku bisa membayangkan keadaan Rina pada saat ini, walaupun secara pengadilan aku tidak punya hak mencampuri urusan Rina namun hati kecilku tetap peduli dengannya. *** Ketika aku sakit karena ada kecelakaan sedikit saat aku dan teman pengawasku pergi rekreasi mengharuskan aku diopname di rumah sakit. Anakku Novj dan Lala datang menjagaku yang membuat ibu Lely bertemu mereka. Windy pergi mengajar di sekolah dan pulangnya bersama ibu Lely. Novi dan Lala cepat akrab dengan ibu Lely, lain dengan Rina yang belum pernah bertemu Novi dan Lala. Simon baru satu kali bertemu Rina dan itu sudah meninggalkan sakit pada anak-anak Rina. Aku ikut tertawa ketika Novi cerita suatu hal yang lucu. Windy sibuk memotret kami dengan handphone secara otomatis hingga Windypun ikut ada di foto.Tanpa berusaha membuat prasangka buruk tentang goto tersebut aku mengirimkannya ke Rina. Ekspressi aku, Simon, Novi, Lala, windy, dan bu Nely penuh dengan senyuman. Ketika Jose dan Dio masih membukakan pintu bila aku ke kontrakan Rina, ada kegalauan di wajah Rina tatkala menyinggung foto yang kukirimkan waktu aku di rumah sakit. Aku memang mengatakan kepada Rina bahwa biarlah kita dirawat oleh anak-anak masing-masing, karena aku juga seringkali batuk dan tensiku tinggi. Aku berharap bila Rina sudah pulih aku akan tetap menjadi suaminya. Rumah yang kubangun di kampung dari pihak dari ibuku yang terdri dari dua tingkat tidak kukontrakkan yang tingkat duanya, pemandangan dari balkon sangat indah, sejauh mata memandang ada hamparan sawah yang bila musim panen tiba alangkah menakjubkan. Rina dan Agnes si bungsu seringkali menghabiskan waktunya bila kami ke sana. Setelah kontrakan di dekat sekolah yang disewa Rina akan diperbaiki yang punya, walaupun Rina sudah stroke aku bermaksux membawa Rina ke rumahku yang sering kali kami kunjungi, kalau Agnes berhalangan maka kami pergia. berdua dari pagi sampai sore. Kami membeli ikan segar yang dijual bapak Ridwan yang kontrak rumahku yang tingkat satunya. Tetapi Mada telah mencarikan rumah kontrakan untuk Rina secara online. Jose pergi melihat rumah tersebut akhirnys Rina pindah ke rumah itu. Rumah yang kusiapkan untuk kutempati bersama Rina dan Dio yang sementara kuliah pupus sudah untuk hitungan satu tahun. Aku tetap pergi ke rumah Rina dan menyaksikan perawatan Jose dan Dio sungguh luar biasa. Aku bermalam tapi ada rasa malu karena aku tidak bisa memberikan tempat berteduh bagi istriku. Rumah yang sudah kusiapkan saat ini kosong, jadi Windy sering ke sana santai-santai dan memposting fotonya di sosial media dengan tertawa sumringah. Kehidupan berumah tanggaku bagaikan layang-layang yang tersangkut pada sebuah ranting pohon, mau ditarik takutnya talinya bisa putus, mau naik ke pohon melepaskan layang-layangnya terlalu tinggi dan ranting sangat kecil. 'Ah kasihan rumah tanggaku saat ini,' batinku. Akhirnya anak-anak kami menariknya keras hingga putus. Akte cerai bukti bahws aku bukanlaj laki-laki seutuhmya bagi Rina, yang kutimggalkan ketika dia mengharapkan kehadiranku. Anak-anal Rina begitu melindungi sosok yang trlsh menghadirkannya ke dunia ini. Aku tak rela Simon ataupun Windy menjadikan Rina.seperti sesuatu orang yang tak berhargs bagi mereka. Aku membiarkan anak-anak Rina mengurus perceraian kami agar namaku tidak lagi yang mrngurus urusan-urusan administrasi tentang Rina nantinya Hidup terus berlanjut tanpa peduli apakah kita siap menjalaninya atau tidak. Hari-hari Rina berjalan cukup juga sibuk dengan terapi mandiri yang dia ciptakan sendiri dengan melihat gerakan-gerakan stroker di group penyintas stroke. Kemajuan dari laihan berjalan sangat lambat tapi dengan semangat Rina terus berlatih. "Kita ke Makassar kalau Mama sudah bisa mandiri, bisa ke WC, ke dapur, ke halaman walaupun masih pake tongkat," kata Jose ketika melihat Rina berlatih memakai sepeda
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD