BAB 7 Rina PoV

1042 Words
Hidup terus berlanjut tanpa peduli apakah kita siap menjalaninya atau tidak. Hari-hariku berjalan cukup juga sibuk dengan terapi mandiri yang kuciptakan sendiri dengan melihat gerakan-gerakan stroker di group penyintas stroke. Kemajuan dari laihanku berjalan sangat lambat tapi dengan semangat aku terus berlatih. "Kita ke Makassar kalau Mama sudah bisa mandiri, bisa ke WC, ke dapur, ke halaman walaupun masih pake tongkat," kata Jose ketika melihatku berlatih memakai sepeda statis. "Semoga kaki Mama semakin ringan Nak,"jawabku. "Sekalian periksa di dokter Ahli Saraf," "Siip lah". Anak-anakku yang sudah bekerja menyicil sebuah rumah di dekat kampus Jisan kuliah, jadi Jisan dan Agnes tidak perlu lagi kontrak rumah tiap tahun. Rumah itu juga tempat persinggahan Mada, Tamar, dan Berdi kalu cuti baru terus mengunjunguku. 'Anak-anak yang baik,' batinku. Pagi ini ada chat dari Wawan kepada Jose bahwa dia tidak bisa tidur semalaman karena sesak. Ada kekuatiiran tergambar jelas di wajah Jose. Aku mengusulkan Jose untuk membesuk Wawan di rumahnya, karena setelah kami pisah dia tinggal sendiri tanpa mencari penggantiku. Dia tetap memberi berkat kepada anak-anakku ketika dia gajian.Wawan adalah guru SMP dan sekalian Operator di sekolahnya. Jose langsung ke rumah bapaknya. Aku memberi tahu Jose untuk membawa bapaknya ke rumah sakit. Aku tidak bisa berkomunikasi dengan Wawan setelah kami resmi bercerai secara pengadilan. Aku menangis setelah mendengar kabar bahwa Wawan sakit. Tentu yang paling repot adalah anak-anaku yang merawat mama dan bapaknya.. Setelah aku digantikan popokku dan memberi sarapan oleh Dio, Diopun pergi ke rumah bapaknya. Hari itu juga Jose dan Dio membawa bapaknya ke rumah sakit untuk diopname. Jose memberi tahu saudara-saudara bapaknya bahwa Wawan masuk rumah sakit. Saudara-saudara Wawan bertempat tinggal di Makassar. Jadj yang menjaga Wawan di rumah sakit bergantian Jose dan Dio. 'Anak-anakku betapa berat beban yang kalian tanggung. Mama sakit, menyusul lagj bapakmu sakt,' batinku sedih. Aku memberi tahu Jose untuk membawa bapaknya ke rumah sakit. Pada mulanya Wawan menolak tapi akhitnya dia mau. Jose dan Dio gantian menjaga bapaknya di rumah sakit. Aku pasrah saja melihat anakku membagi waktu. *** Andre masih sah sebagai suamiku tidak datang juga merawatku walaupun dia tahu Wawan dijaga oleh Jose dan Dio, tetapi Andre malah lebih suka membagi kebahagiannya dengan teman-temannya. Jose menjaga bapaknya pada malam hari dan Dio pada siang hari. Kesehatan Wawan semakin menurun, rasa sesak tak bisa bernapas, mengharuskan pemasangan tabung oksigen. Walaupun kami telah berpisah dan aku 'sudah menjadi istri orang' tapi aku tetap ikut prihatin dengan keadaannya karena berimbas juga dengan anak-anakku. Jose seringkali berkata padaku bahwa seandainya badannya bisa dibagi dua mska dia akan membagi satu bagian untuk bapaknya dan satu bagian untuk mamanya. Ahh! keadaan sulit yang harus dijalani. Setelah melalui pemeriksaan dokter Ahli Paru-paru maka dilaksanakan penyedotan air dari bagian dalam tubuh Wawan. Dokter memanggil Jose karena cairan yang disedot ternyata bercampur dengan darah yang mengharuskan Wawan di rujuk ke rumah sakit di propinsi. Jose berangkat dengan Teo sepupu Wawan naik ambulans. Dio tinggal merawatku. Sedih memikirkan beban anak-anakku. Aku terus memonitor kesehatan Wawan dengan Chat kepada Jose. Sekitar satu minggu dirawat Jose mengabarkan Wawan semakin kurang kesadarannya dan sukar sekali tidur. Mada lansung menemui bapaknya, akupun memanggil kakakku,Ika, untuk menjagaku karena aku menyarankan Dio untuk pergi juga menemui bapaknya. Hari ini Jose mengabarkan Wawan sudah dipindahkan ke ruang ICU, enam orang anaknya sudah berkumpul tinggal Mada yang kembali ke tempat kerjanya setelah datang menjenguk bapaknya. Ada perasaan sedih walaupun kami telah memilih hidup masing-masing tapi hati inipun merasa pedih. Wawan memilih hidup sendiri tanpa pendamping walaupin aku yakin ada pasti rekan kerjanya yang siap mendampinginya apa lagi dia pintar tapi dia tetap sendiri. Lain dengan diriku yang menerima Andre mendampingiku, walaupun pada kenyataanya Andre juga tidak peduli ketika aku sakit. Perhatian Wawan kepada anak-anakku setelah kami pisah luar biasa terutama menyangkut keuangan. Setiap awal bulan anak-anakku yang masih sekolah mendapat jatah masing-masing. Kini menurut Jose Wawan sudah kurang kesadarannya dan foto yang dikirim Jose penuh alat kesehatan mulai dari bagian mulut sampai ke kaki. Aku tak tahu alat-alat apa semua itu. Wawan hanya memakai kaos singlet dalam keadaam tidur terlentang. Beberapa tusukan alat yang diperban terdapat di bagian perut dan d**a Wawan. Sedih lihatnya. Sekitar pukul sepuluh pagi ada telpon dari Jose: "Ma, bisa bicara dengan Bapak?" "Bisa Nak" "Oke,, saya loudspeaker dulu Ma, mudah-mudahan Bapak masih ingat suaranya Mama". Jose memasang video call sehingga aku bisa melihat keberadaan di ruangan ICU Wawan. Ada anakku enam orang duduk tertunduk lesu bersama kakak dan adik Wawan. Dengan suara gemetar sambil menangis aku berbicara kepada Wawan, "Wan, kamu harus kuat, lihat anak kita yang masih membutuhkan kamu. Mada akan segera datang. Lihat sudah ada Jose, Tamar, Dio Berdi, Jisan, dan Agnes anak-anak kita. Maafkan dosa dan kesalahan saya Wan. Ini Rina yang kamu sayangi. Rina ibu dari anak-anakmu," Hp Jose di taruh dekat telinga Wawan. Dia hanya mampu menggerakkan kepalanya dengan mata tertutup. Di pelupuk matanya tampak air matanya mengalir. "Bapak mendengar suara mama tapi tak mampu lagi menjawabnya Ma Berdoa Ma semoga ada mujizat. Mama harus kuat. Tuhan yang punya kuasa. Sudah ya Ma."Jose dengan suara gemetar dan parau menjawab telponku dsn memutusnya. Aku hanya menangis meradakan.kesedihan yang dialami anak-,anakku. Aku memutar kembali ingatanku tentang masa-masa kebersamaanku dengan Wawan. Kami kuliah di universitas yang sama di Fakultas Keguruan, aku mengambil Jurusan Bahasa Inggris dan Wawan mrngambil Jurusan Fisika. Kebersamaan kami mulai dari semester tiga. Wawan memang posesif dan egois tetapi pintar. Saat Wawan semester tiga dia sudah menjadi Asisten di Fakultasnya. Pintar memang dia. Sikap posesif dengan rasa cemburu mewarnai hubungan kami sampai aku sering memutuskan hubungan kami. Tapi itulah yang sering kudengar orang berkata bahwa jodoh Tuhan yang atur. Setelah selesai kuliah kami nikah dan dikaruniai anak tujuh orang, malah delapan tapi Tuhan mengambilnya ketika masih di perut. Ketika ansk-anakku mulai kuliah aku memutuskan pergi dari rumah meninggalkan Wawan karena sikap egois dan rasa cemburu yang bagiku sudah melewati batas. Kini Wawan berjuang melawan maut aku tetap berdoa semogar dia menang. Namun pukul satu siang group WA ku dengan anakku masuk pesan dengan emoticon menangis. Jose Bapak telah pergi Tamar Sabar Mama Dio Sedih ... Berdi Mengapa bapak begitu cepat pergi Jisan Sedih Pak Agnes Sedih Pak Aku membaca chat anak-anakku sambil menangis. Wawan telah pergi lebih dulu. Padahal aku berharap aku yang seharusnya pergi karena Wawan bisa berjalan, bisa melindungi anak-anakku. Ohh takdir.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD