Saat ini aku kembali menjadi duda. Bukan lagi duren atau duda keren melainkan duga atau duda gagal. Ya setelah aku mulai merangkai asa dengan Rina gelombang datang menghantam biduk kami dari anak2 kami.
Aku tak menyalahkan anak-anak Rina melindungi Rina dari perilaku anakku dan istrinya. Bukankah Simon menantang anak-anak Rina pada pertemuan pertama Simon dan Rina bersama anak-anaknya?.
Simon dengan sikap yang arogan disaksikan oleh anak-anak Rina? Bukankah Windy dengan sengaja memposting k********r di sosmednya?
Kini aku akan mengikuti kemauan Windy untuk menerima ibu Lely walaupun di dasar hatiku yang paling dalam masih ada Rina yang tak bisa kusingkirkan.
Tak apalah aku akan mengikuti permainan Simon dan Windy untuk menyatukan aku dan ibu Lely. Aku malu sendiri mengingat tempat Lely dan Rina satu sekolah.Kini aku akan melupakan Rina dan mendekati Lely olalaa malu rasanya.
Hari ini aku mampir di sekolah Windy mengajar yang sekaligus tempat Rina bertugas yang kini tak bisa lagi dikunjungi Rina karena tak bisa berjalan. Aku melongok ke ruang guru dan melihat kursi yang biasa ditempati Rina sudah diduduki seorang ibu guru yang lain. 'Apakah tempat Rina dihatiku akan digantikan juga oleh kehadiran ibu Lely,' rintihku.
Untuk memuaskan keinginan Windy, aku sengaja datang di sekolah bertemu ibu Lely, beberapa pasang mata menatapku tajam walaupu guru-guru tersebut memaksakan senyum terukir di bibirnya.
Aku melihat kursi tempat biasa Rina duduk kosong. Ada perih menjalari urat-urat nadiku. 'Maafkan aku Rin, aku terpaksa mengikuti Windy untuk menyatukan aku dengan Lely' rintihku.
.
"Cari bu Windy Pak ya," Lely tiba-tiba telah berdiri di depanku dengan senyum yang dibuat semanis munglin tapi tidak bisa mengalahkan senyum manis Rina.
"Ah tidak, saya cari kamu," jawabku dengan membuat senyum yang kubuat semanis mungkin.Untung tidak ada guru lain di ruang guru tersebut saat itu.
"Yang benar Pak," jawab Lely masih dengan senyum.
"Saya datang di rumahmu nanti sore ya, tunggu saya ya,'jawabku memberi tawaran.
Lely tersenyum sambil menunduk. Di wajahnya tergambar jelas rona bahagia yang Lely sendiri rasakan. Aku pulang tanpa bertemu Windy yang mungkin sedang mengajar.
Pukul empat sore aku ke rumah Lely. Aku mengetuk pintunys, tak lama kemudian Lely muncul membukakan pintu. dengan penampilan pakaian yang seperti mau keluar jalan-jalan.
"Bagaimana, kita keliling-keliling makan angin," kataku setelah duduk di kursi tamu.
"Oke, anak-anak juga pada sibuk kerja PRnya."Dengan rona bahagia di wajahnya Lely masuk ke dalam ruang keluarganya untuk pamit kepada anak-anaknya.
Aku menjalankan mobilku menuruti kata hatiku kemanapun akan menuju. Yang penting jalan saja tanpa beban, Lely di sampingkun kelihatan menikmati perjalanan kami dengan bahagia.
Satu yang tetap berkecamuk dalam hatiku adalah serpihan cinta Rina yang tetap kuat melekat tanpa bisa digantikan oleh kehadiran siapapun termasuk Lely.
Aku menghentikan mobilku pas di depan Rumah Makan Bosque. Aku memesan menu yang biasa dipesan Rina ketika kami mengunjungi tempat ini. Lely tampak menikmati makanannya. 'Biarlah kebersamaan ini aku nikmati dengan caraku sendiri. Tak perlu lagi ada cinta.
Nikmati saja,' bisikku dalam hati. Kami pulang dengan pikiran masing-masing.
***
Sampai di rumah, Windy masih asik menonton drama Korea favoritnya.
"Dari mana Pak?" Windy melihat ke arahku sambil bertanya
"Pulang jalan-jalan dengan bu Lely," jawabku. Windy diam lagi tanpa memberikan reaksi positif atas jawabannku. Tidak seperti biasanya Windy proaktif menyatukan kami.
Kini setelah aku terus terang memberitahu pendekatanku malah Windy memperlihatkan ketidaksenangannya. Aku diam saja.
Besok paginya Windy akan pergi ke sekolah untuk mengajar, kebetulan Windy, Eka, Simon dan aku pergi bermalam di rumahku yang dikontrakkan di lantai satunya. Windy menitip Eka ke istri sepupunya Simon, aku cuma tegur biar aku saja yamg jaga, Windy dengan muka sewot menggendong Eka ke tempat.Rani.
Aku diam saja, ya terserah dia. Sekitar pukul empat sore aku pulang sendiri naik mobilku Simon bersama Windy dan Eka naik motor pulang ke rumah tempat kami tinggal bersama. Windy yang tidak senang dengan teguranku memasang wajah datarnya tanpa senyum. Aku acuh saja, makan makanan yang telah dimasaknya.
Hari-hari kulalui dalam kesendirianku, Daniel tetap membantuku memberi makan kepada kerbau cantikku. Kabar Rina juga hilang bersama hpku yang diblokirnya. Aku malas lagj menjalin komunikasi sama ibu Lely. Sikap Windy yang tak kumengerti membuatku bertanya-tanya apa maksudnya. Seperti dia mengekang diriku untuk menjalin komunikasi dengan seorang perempuan
termasuk dengan ibu Lely.
Aku mengamati sikapnya yang berubah setelah aku pergi ke sekolahnya yang hanya bertemu ibu Lely, pulang sekolah dia mengatakan dia melihatku tadi dari jendela tempat dia mengajar.
"Iya, saya cuma bertemu dengan ibu Lely dan mengajaknya jalan-jalan"
"Apakah papanya Eka setuju kalau Bapak dekat dengan ibu Lely, jangan-jangan nanti dia malah marah kalau Bapak dekat lagi dengan dia"
"Kalīian ini bagaimana, ibu Rina sudah pergi, saya kira kalian suka pada ibu Lely. Mengapa lagi papanya Eka mau lagi mencampuri urusan saya lagi"
"Papanya Eka lebih senang kalau Bapak fokus saja sama cucunya. Ibu Lely juga masih ada anaknya masih SMP dan itu butuh biaya ke depan,"
"Saya kira kamu suka kalau saya dengan ibu Lely," aku mulai kesal dengan apa yang dikatakan Windy.
"Maksud saya Pak, berteman saja bukan membina hubungan untuk nikah,"Windy bicara seperti penasehatku.
"Ah sudah, saya capek. Mau tidur dulu,"kataku sambil berdiri meninggalkan Windy di meja makan . Setelah mulai pendekatanku kepada ibu Lely, sikap Windy pun berubah drastis. Dia tidak seperti dulu merangkul bahunya ibu Nely kalau ketemu tapi sekarang pura-pura tidak lihat. Aneh betul ini menantuku satu.
Simon biasanya pulang kerja jam tujuh malam seperti hari ini. Aku sengaja menunggunya di ruang tamu sambil nonton TV. Selesai makan Simon duduk bergabung denganku, Windy dan Eka ada di kamar mereka.
"Sini tangannya Pak, saya urut dengan minyak gosok," Simon mengambil minyak gosok sambil membukanya.
"Bapak sudah punya pacar baru ya"
"Katanya kamu tidak suka, maunya sih begitu sepi tak ada teman ngobrol"
"Saya tidak marah Pak, 'kan mamanya Eka juga sudah suka"
"Bagusnya Bapak berteman saja sama ibu Lely ribet kalau sampai mereka nikah. Ternyata bu Lely masih punya anak baru SMP Pa,"kata Windy sama suaminya.
'Tak terpahami sikap Windy ini. Dulu ketika aku begitu mendambakan kehidupan dengan Rina, Windy begitu bersemangat menyingkirkan Rina dari hidupku. Menawarkan Lely untuk menggantikan posisi Rina di sampingku.
Kini setelah aku membuka hati untuk Lely walaupun tempat Rina di hatiku masih tak bisa dilengserkan oleh Leliy Windy mençari alasan lagi untuk membuat Lely tak terterima. Kasihan diriku.
.